Logo
  • Desert Pavilion – Expo 2015 Milan

    25 August 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Architect Does!

    Desert Pavilion – Expo 2015 Milan

    Rafael Arsono – Uros Stojadinovic – Guido Tesio

    Politecnico di Milano – Architecture and Urban Landscape 2010

    Professors: Remo Dorigati, Giancarlo Floridi


    Abstraksi

    Arsitektur yang berpuing.

    Gurun tidak berskala.

    Ukuran menjadi tidak relevan.

    Di Gurun tidak ada referensi arsitektural.

    Dalam ketidakpastian yang menyeluruh ini,

    arsitektur membenarkan dirinya hanya dalam aktivitas ritual,

    sebagai perluasan dari lansekap.

    Di Gurun, di tengah kesendirian,

    arsitektur langsung berdiri sebagai tengara,

    melebihi keabsahan fungsi itu sendiri.

    Di Gurun, arsitektur mau tidak mau muncul monumental.

    Di tengah Gurun, arsitektur berfungsi sebagai naungan,

    sebagai pelindung, dan sebagai ruang kosong,

    yang lantas mengingatkan pada ‘kehampaan’ Gurun.

    Sebagai naungan, arsitektur muncul karena kebutuhan keseharian.

    Arsitektur lantas menjadi ritual.

    Ritual tersebut merubah kehampaan menjadi ruang yang berarti.

    Dan akhir dari hidup arsitektur harus kembali ke kekosongan yang murni.

    Mitos yang bersiklus.

    Di tengah Gurun, arsitektur tidak memiliki ambisi untuk ‘berubah’.

    Karena Gurun adalah gurun, tidak pernah berubah.

    Gurun hanya bisa ‘berkembang’.

    Gurun sangat anti-modern.

    Bagi mitos modern dari “paviliun”,

    Ide ‘bongkar-pasang’ adalah ideal.

    Bagi kami, ide ‘berpuing’ adalah yang paling sesuai.

    Keduanya merupakan ide dari kesementaraan.

    Jika yang pertama cenderung ‘diluar konteks’,

    memaksakan ide memindahkan dari satu tempat ke tempat lain,

    yang kedua sangat mengakar dan spesifik pada lansekap.

    Puing adalah lansekap itu sendiri.

    Puing sangat kontekstual dan lokal.

    Arsitektur yang mampu bertahan melewati reruntuhan bentuknya.

    Paviliun ini adalah arsitektur yang berpuing.

    Merencanakan menjadi puing akan hidup dari ke-tidak digunakan-nya,

    melewati kesementaraan fungsinya.

    Sadar akan kesementaraannya, dan kegentingan hidupnya,

    arsitektur ini didominasi oleh perasaan ‘mati’ yang mendalam.

    Bentuk lebih tidak penting ketimbang puing yang tersisa.

    Arsitektur yang berpuing,

    akan menihilkan dirinya sendiri.

    Dia akan mati dengan sendirinya

    secara pasti dalam lingkup alamnya:

    Gurun. Read more

    {No comments}
     

    CS8 Semarang : imagination

    8 August 2010 by Admin.
    Categories: News and Updates

    bersamaan dengan gempita kemerdekaan dan damainya bulan ramadhan marilah kita saling berbagi.
    berbagi imajinasi, berbagi ide, berbagi inspirasi, berbagi visi serta semangat juang, dan juga… berbagi kreatifitas.

    imag!nation : pameran karya desain dan arsitektur.
    16 – 22 Agustus 2010

    {No comments}

    bungus mentelah : Pemenang 1 sayembara Metamorfosa Arsitektur

    29 July 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Brilliant!, News and Updates

    Sayembara desain rumah hunian dengan tema penerapan unsur lokal dan modern

    Bungus mentelah sederhana ditafsirkan sebagai “atap untuk istirahat” atau juga dapat didefinisikan sebagai rumah tinggal. Desain ini merupakan kolaborasi antara rumah vernakular adat Lombok dengan arsitektur kontemporer. Desain rumah ini menganut paham bergaya modern tetapi dibalik desain itu mengacu dan memetik filosofi-filosofi kehidupan maupun filosofi-filosofi rumah adat Lombok.

    Selain itu, rumah adat yang kita kenal pada umumnya identik dengan pemakaian material alam, tetapi kenyataannya pemakaian material alam yang dipakai terus-menerus tanpa dilandasi dengan tanggung jawab akan semakin menimbulkan kerusakan lingkungan. Maka kami membuat suatu solusi yaitu dengan sebagian besar material yang kami gunakan adalah material sintetis.

    Metamorphosa 2010
    View more presentations from jong arsitek.

    lokasi tapak
    Lokasi tapak terletak di daerah grogol, pemilihan lokasi ini ditetapkan bedasarkan kondisi daerah grogol yang cukup padat dan merupakan daerah pemukiman yang “hommy” untuk rumah tinggal. Kondisi lingkungan di lokasi cukup berpolusi dan menggenang apabila pada musim hujan, maka desain yang kami tawarkan mengambil prinsip-prinsip yang dapat menjadi solusi dari permasalahan tadi.

    tanaman
    Tanaman yang digunakan sebagai atap adalah Monstera yang dapat menyerap polusi di udara, dan juga dapat menyerap air yang cukup banyak. Maka dapat menjadi buffer yang baik dalam memfilter udara dan cahaya matahari.
    Untuk tanaman rambat pada dinding, tanaman yang digunakan adalah ficus pumila, tanaman ini juga berfungsi sebagai penyerap polusi yang terdapat diudara.


    inovasi desain

    Pemakaian kaca nako sebagai dinding karena material ini adalah material yang praktis, jika udara panas dibuka dan jika udara dingin ditutup. Pemakaian nako ini juga mencerminkan dinding anyaman bamboo pada rumah adat yang fungsional.(gambar dinding nako)

    Pemakaian bantalan gempa sebagai pencegah terjadinya gaya horizontal maupun vertical yang ditimbulkan gempa. (gambar bantalan gempa)

    Secondary skin untuk meminimalisir masuknya cahaya dan bayangan yang dihasilkan merupakan nilai estetika. Dengan inovasi desain bamboo yang menambah estetika rumah tinggal ini. (gambar secondary skin)

    Lantai kaca untuk melihat kolam (gambar lantai kaca)

    filosofi
    Rumah dan kamar orang tua yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari bagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mandapat ridha Allah diantaranya melalui shalat.

    timur

    Area orang tua dan ruang kerja berada di lantai 3, area anak berada di lantai 2, area bersama (bale) berada di lantai 1. Orang tua berada di tingkat paling tinggi disusul anak yang berada di tingkat bawahnya. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa orang tua dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan anaknya.
    Angka “3” simbol daur hidup manusia yaitu, lahir, berkembang, dan mati. Pada desain kami terlihat dari 3 lantai dan 3 modular kubus.

    Berugak yang ada di depan rumah, disamping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat control bagi warga sekitar. Misalnya, kalau sampai pukul 9 pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja, mungkin dia sakit.

    Atap bangunan berupa gunungan karena gunung merupakan pencerminan kesucian dan kesempurnaan.
    Atap lumbung padi Lombok, dengan jarak 2 meter dari permukaan tanah dan relative tertutup.

    Rumah berbentuk panggung sekaligus memaksimalkan resapan air.

    Tamupun harus merunduk saat memasuki pintu rumah yang relative pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.

    Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan system geser. Pintu geser merupakan cirri khas dari pintu arsitektur adat Lombok.

    [View with PicLens]
    11
    2
    3
    4
    5
    6
    7
    8.
    9
    1
    10
    {2 comments}

    LABO | Pemenang 1 sayembara Penataan : Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung

    27 July 2010 by Admin.
    Categories: Brilliant!

    New Museum diangkat sebagai tema yang menumbuhkan semangat baru untuk menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari beragam kalangan. Museum
    selayaknya tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah namun juga harus menjadi tempat yang menarik, aksesibel untuk seluruh ragam komunitas dan menjadi tempat alternatif berkumpulnya masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi kotanya secara berkelanjutan.

    Membangun kembali ruh kompleks MKAA (Museum Konperensi Asia Afrika) tidak dapat terlepas dari upaya mengenang spirit kebangkitan yang lekat dengan peristiwa KAA itu sendiri. Peristiwa KAA bukan sekedar peristiwa berskala Kota Bandung, namun peristiwa yang mengharumkan nama Indonesia sebagai sebuah negara yang berpengaruh secara internasional terutama di dalam membangun kekuatan poros baru yang menggabungkan kekuatan Asia dan Afrika pada masanya. Membangkitkan kembali kawasan museum KAA menuntut kita berpijak pada sejarah gemilang tersebut untuk diwariskan dan terus terjaga hingga ke generasi mendatang.

    Tujuan dari perancangan kompleks kawasan ini adalah :
    1. Tersusunnya konsep perencanaan dan perancangan kompleks MKAA yang tanggap terhadap ‘konteks sejarah (heritage-context)’.
    2. Tersusunnya program aktifitas bagi kegiatan revitalisasi bangunan-bangunan penting dalam kawasan sesuai prinsip perancangan dalam kawasan cagar budaya. sedangkan Sasaran dari perencanaan antara lain :
    1. Rumusan masalah-masalah spesifik dalam tapak seperti polusi, intensitas kegiatan masyarakat, kepadatan lalu lintas, bantaran air sungai (Cikapundung), dan permasalahan lainnya.
    2. Rumusan konsep pengembangan Kompleks MKAA/ Gedung Merdeka dan sekitarnya
    3. Rancangan lingkungan yang memperhatikan tautan (linkages), koridor, ruang antar bangunan, dan atau ruang publik pada kawasan secara komprehensif

    Figure ground dari blok MKAA, warna merah adalah bangunan yang dikonservasi. Keberadaan sungai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari museum. Permasalahan dari kawasan ini antara lain :
    - matinya fungsi beberapa bangunan
    - kurangnya ruang terbuka hijau
    - munculnya lost space (ruang mati yg tidak dikelola)
    - masalah kemacetan dan parkir
    - kurangnya street furniture dan fasilitas umum
    - kualitas sungai cikapundung yang tidak terawat dengan baik.
    Ditengah penurunan vitalitas kawasan Braga, makna museum menghilang seiring dengan menghilangnya fungsifungsi penunjang museum di sekitarnya.

    Pada dasarnya blok MKAA yang dilalui sungai cikapundung memiliki potensi dalam menyediakan waterfront dan promenade bagi kawasan , ditambah dengan konteks historis di dalamnya serta bangunan-bangunan bersejarahnya,maka pengembangan museum yang lebih luas dan dinamis dapat dimaksimalkan.

    Konsep oase menjadi pilihan di saat kawasan kekurangan ruang terbuka hijau dan ruang publik yang memadai. Alun alun di sisi selatan kompleks MKAA yang dahulu merupakan ruang terbuka publik beralih fungsi menjadi halaman masjid dan ruang parkir. Kerinduan akan suasana kota Bandung yang sejuk dan rindang menjadi salah satu inspirasi pengembangan museum yang baru. Ketimbang membuat sebuah massa baru yang kontras dengan bangunan lama,desain museum baru dibuat menyerupai taman,dengan sekuen-sekuen yang terjaga.

    Museum baru dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar, multi entry, berinteraksi dengan masyarakat,sungai, jalur-jalur pedestrian, taman, dan memberi sekuen pengalaman diantara bangunan lama, bangunan baru, dan alam. Ia akan lebih terbuka, melebur dalam kehidupan kota sehari hari.

    Strategi pengembangan museum baru dan penataan kawasan antara lain :

    URBAN OASE
    Penciptaan sebuah plaza dengan bermacam vegetasi dan fasilitas selain sebagai area resapan juga berfungsi sebagai simpul jalur pedestrian dan pusat orientasi sekaligus generator aktifitas.

    PENATAAN TAMAN DAN SUNGAI
    Bantaran sungai Cikapundung akan difasilitasi dengan pengolahan sampah sederhana dan
    menjadi ruang hijau untuk mengembalikan keseimbangan ekologi dan menerus masuk ke
    dalam plasa, menyatu pada atap-atap hijau bangunan baru

    IMAGE BRANDING
    Feature street furniture yang khas akan menjadi brand image baru yang mengingatkan masyarakat
    tentang museum KAA

    PENATAAN FUNGSI BANGUNAN DAN LINKAGE
    Fungsi-fungsi bangunan pada kompleks Museum
    KAA akan diprioritaskan pada fungsi museum dan fungsi penunjangnya, dengan sebuah jalur yang
    saling terhubung sehingga menyediakan pilihanpilihan tujuan.

    PEMANFAATAN LORONG BAWAH TANAH DAN PENCIPTAAN BASEMENT
    Museum KAA akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung baru dan pemanfatan lorong bawah
    tanah sebagai bagian dari sekuen perjalanan museum.

    PERAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN
    Masyarakat dilibatkan dalam pengembangan museum yang dikemas dalam suatu event. (penanaman bunga,pohon,pengolahan sampah,

    MASSA BANGUNAN

    Beberapa massa bangunan eksisting dirobohkan untuk mendapatkan skyline kawasan yang terjaga dan persentase ruang terbuka yang lebih banyak. Massa-massa baru dibuat terpecah sesuai dengan kapling kapling eksisting sehingga proses pentahapan pembangunan lebih mudah. Ketinggian dibatasi hingga 3 lantai sehingga bangunan-bangunan sekitar masih dapat
    terlihat dari arah taman.Jarak antar massa disesuaikan untuk mendapatkan skala yang beragam. Sedangkan untuk daerah sungai tidak dibangun massa baru untuk memaksimalkan unsur alami di blok tersebut. Area sungai kemudian dihubungkan dengan area museum melalui sebuah taman terbuka yang sekaligus menjadi simpul kawasan serta, di sini pengunjung dapat memilih aktifitas dan tujuan sesuai keingunan.

    Penataan area sungai dilakukan dengan membuat fasilitas pengolahan sampah yang dioperasikan bersama masyarakat setempat.Di tepian sungai ditanam pohon-pohon peneduh untuk kenyamanan pejalan kaki dan mengembalikan ekosistem sungai. Area promenade menjadi ruang multifngsi sebagai bagian dari ekstensi museum.


    SIRKULASI

    Tidak ada akses jalan yang ditutup pada sirkulasi baru .Sirkulasi pejalan kaki diperbanyak dengan jalur-jalur baru dalam blok museum,jembatan penghubung,basemen,dan menerus menuju museum. Akses masuk museum di area taman terhubung dengan akses basemen. Blok dibuat lebih permeabel dengan menambah beberapa pintu masuk. Di setiap tepi massa terdapat selasar di dalam dan luar blok sehingga aktifitas window shopping dapat terjadi di kedua sisi bangunan.

    Sirkulasi kendaraan menuju parkir basemen diletakkan pada jalan Braga selatan,dengan memanfaatkan perbedaan kontur yang miring ke arah sungai ,maka pembuatan basemen dapat lebih mudah. Basemen dibuat pada sebagian lahan sehingga masih menyisakan area resapan dan pohon pohon yang besar. Keberadaan ruang bawah tanah eksisting dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai alternatif galeri dan sirkulasi pengunjung. Sebuah sunken gallery berbentuk lingkaran diletakkan di tengah taman,memberi komunikasi visual pada pengunjung diatas taman . Sirkulasi baru dibuat untuk menghubungkan fungsifungsi penunjang museum dan memberikan pilihan tujuan yang beragam pada pengunjung.

    SEKUEN KAWASAN

    Aktifitas awal yang sudah terbentuk akan memudahkan penciptaan sekuen visual kawasan. Dari arah braga,pengunjung dapat masuk melalui pintu masuk utara,menuju ke museum melewati taman dan pepohonan. Dari sisi barat dapat melalui jembatan penghubung,di sini bangunan lama dan baru terlihat kontras namun memiliki ketinggian yang sejajar. Bangunan perpustakaan menjadi fokus utama area belakang museum,dengan fasad transparan untuk memperlihatkan aktifitas di dalamnya.

    [View with PicLens]
    mkaa_labo01
    mkaa_labo02
    mkaa_labo03
    mkaa_labo04
    mkaa_labo05
    mkaa_labo06
    mkaa_labo07
    mkaa_labo08
    mkaa_labo09
    mkaa_labo10
    mkaa_labo11
    mkaa_labo12
    {No comments}

    Aradnagna | Entry sayembara Penataan : Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung

    27 July 2010 by Admin.
    Categories: Brilliant!

    MKAA Expo oleh Aradnagna

    Ini adalah salah satu karya Sayembara Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) untuk merevitalisasi kompleks museum/Gedung Merdeka, Bandung, yang merupakan bagian dari rangkaian acara dua tahunan Arte-Polis. Sebuah sayembara gagasan bertema New Museum yang diangkat untuk menumbuhkan semangat baru dan menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari beragam kalangan, aksesibel untuk seluruh ragam komunitas, dan menjadi tempat alternatif berkumpulnya masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi kotanya secara berkelanjutan.

    Tugas yang diberikan adalah mengusulkan konsep perencanaan dan perancangan yang tanggap terhadap konteks sejarah MKAA dan menyusun program aktifitas bagi kegiatan revitalisasi bangunan-bangunan penting dalam kompleks sesuai prinsip perancangan dalam kawasan cagar budaya.

    Skema dasar dari tema New Museum adalah menginterpretasikan kembali konsep museum yang ada agar tidak lagi dingin/angker sehingga identik dengan suasana formal/akademik dan terbatas bagi kalangan tertentu saja (siswa, peneliti, sejarawan), melainkan agar menjadi lebih dinamis dan selalu segar dengan membuka lebih banyak kesempatan pada karya-karya baru/kontemporer untuk masuk dan dipamerkan di dalam kompleks ini. Tidak hanya sebatas karya untuk dipamerkan, yang paling penting adalah untuk mampu menyerap masuk berbagai macam kegiatan yang berpotensi menghidupkan kompleks baik secara ragam kegiatan maupun secara ekonomi, sekaligus meningkatkan rasa kepemilikan warga terhadap kompleks museum ini karena telah berpartisipasi di dalamnya. Sebuah Expo; MKAA Expo.

    Strategi yang ditawarkan adalah bagaimana ‘menghidupkan kembali daya tarik kompleks MKAA/Gedung Merdeka yang pernah menjadi magnet di tahun 1955’ dengan proyeksi untuk menjadi sebuah icon dan simpul aktifitas bagi lingkungan di sekitarnya, pada khususnya bagi Jalan Braga. Sebuah alun-alun baru; Alun-Alun MKAA. Kemudian massa melayang terhubung dengan massa MKAA lama dengan menyuntikkan sebuah Galeri Penguhubung ke dalam MKAA lama yang berujung pada sebuah travelator yang membawa pengunjung ke atas ke galeri kontemporer baru tadi

    1. Langkah pertama adalah menyusun sebuah kalender acara tahunan yang dapat memfasilitasi acara-acara akbar berskala lokal/nasional/internasional untuk dilaksanakan pada tiap-tiap bulannya.
    2. Memperbesar galeri karya temporer yang kini ukurannya terlalu kecil untuk dapat menggelar acara pameran yang berdampak signifikan terhadap keseluruhan kompleks.
    3. Menyuntikkan program ruang yang dapat mendatangkan pemasukan seperti kafe, toko, ruang pertemuan/auditorium, dan hotel, sehingga secara ekonomi kompleks ini dapat memenuhi kebutuhannya sendiri (self-sustained).
    4. Menyerap aktifitas informal di sekitar kompleks yang kini kurang tertata agar menjadi lebih tertib, terutama masalah parkir.
    Langkah-langkah ini dilakukan dengan memaksimalkan kesempatan yang diberikan oleh pemberi tugas untuk mengganti seluruh bangunan non-konservasi yang tidak tertata dan tumbuh tanpa pertimbangan terhadap keseluruhan kompleks dengan infiltrasi bangunan baru yang lebih terintegrasi dengan konsep New Museum.

    Keadaan kompleks yang kini masih dipisahkan oleh Jalan Cikapundung Timur dipersatukan kembali dengan menutup jalan tersebut dari arus kendaraan publik menjadi salah satu fasilitas untuk agenda kegiatan tahunan. Pembebasan ini juga memungkinkan pengolahan bantaran sungai agar menjadi lebih menarik dan fungsional. Lalu-lintas yang kemudian dialihkan ke Jalan Cikapundung Barat menjauhkan sumber polusi disaat kemacetan keluar dari kompleks ini, dan dengan begitu Jalan Cikapundung Barat yang memiliki potensi ekonomi namun selama ini sepi akan menjadi lebih bergairah berkat limpahan lalu-lintas yang lebih ramai.

    Kebutuhan ruang yang terbentuk dari kalender acara tahunan pada lahan yang telah dibebaskan dari bangunan-bangunan non-konservasi kemudian dikelompokkan menjadi tiga zoning utama (secara vertikal), yaitu basement/semi-basement (parkir), lantai dasar terbuka yang ternaungi/tidak ternaungi (plaza/alun-alun), dan sebuah massa melayang yang menaungi sebagian plaza tadi (infiltrasi massa baru di dalam kompleks : auditorium, perpustakaan & kafe, galeri kontemporer). Bentukan massa baru mengisyaratkan sesuatu yang menjembatani dua potensi yang ada pada dan di sekitar site, yaitu badan air Sungai Cikapundung dan Jalan Braga. Plaza ternaungi yang terbentuk di bagian bawahnya dapat digunakan sepanjang waktu untuk kegiatan seperti bazaar dan sebagainya, dimana luasan massa yang menaungi adalah sama dengan KDB/luasan lantai dasar bangunan-bangunan yang digantikan. Seolah massa ini adalah kumpulan bangunan existing yang dikonfigurasikan ulang kemudian diangkat levelnya hingga menyisakan plaza multi-fungsi di bawahnya.
    Plaza yang tidak ternaungi oleh massa melayang terbentuk dari penambahan platform pada sebagian badan sungai yang menciptakan tempat dimana warga bisa berkumpul untuk menyaksikan panggung kesenian terbuka, konser musik, layar tancap, ataupun video-mapping. Sebuah platform yang merupakan miniatur dari alun-alun yang sebenarnya yang berada di sekitar kompleks ini.

    Platform tersebut berada pada level yang sama dengan lapis pertama area parkir yang berada pada level semi-basement terhadap Jalan Braga. Lahan parkir ini didesain untuk dapat memuat sebanyak 402 mobil dan 228 motor. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan parkir program ruang-program ruang baru, angka ini diharapkan dapat menyerap kebutuhan parkir yang selama ini kurang tertib dengan menggunakan bahu jalan sehingga menambah kemacetan pada Jalan Cikapundung dan sekitarnya.

    MKAA Expo dikonsep sebagai sebuah perwakilan dari jamannya, untuk memperkaya nilai historis kompleks ini dengan menampilkan semangat yang berlangsung pada saat bangunan ini dirancang. Tanpa berusaha mengimitasi langgam dari tahun-tahun yang telah berlalu diharapkan justru membuat kompleks ini menjadi lebih lengkap merekam perjalanan sejarah pada umumnya, dan sejarah arsitektur pada khususnya.

    Aradnagna Architects
    Juli 2010

    [View with PicLens]
    aradnagna_malabar05
    aradnagna_malabar08
    aradnagna_malabar09
    aradnagna_malabar10
    aradnagna_malabar11
    {No comments}

    DEMAYA : Bedah karya Andyrahman Architect

    26 July 2010 by Admin.
    Categories: News and Updates

    DEMAYA mempersembahkan

    Bedah Karya Andyrahman Architect, Ira Residence @ SukoLilo Park Regency Blok F/7 Surabaya, turut pula presentasi karya tugas akhir terbaik dari Institut Teknologi Sepuluh November, Presentasi “Shop House at Kendang Sari” oleh ARA Studio, dan Karya d_Pavillion ole Edwin Nafarin

    [View with PicLens]
    oh_demaya_ar_2010_02
    oh_demaya_ar_2010_03
    oh_demaya_ar_2010_04
    oh_demaya_ar_2010_05
    oh_demaya_ar_2010_06
    oh_demaya_ar_2010_07
    oh_demaya_ar_2010_08
    oh_demaya_ar_2010_09
    {No comments}

    Reportase Open House : Achmad Tardiyana

    26 July 2010 by Admin.
    Categories: Brilliant!

    Rumah itu berbeda dari deretan rumah yang lainnya, sosoknya temaram di tengah malam yang cukup gulita itu. Pemilik rumah sekaligus arsitek rumah ini, Achmad Tardiyana, membangun rumah ini dengan berawal dari keinginannya untuk membangun rumah murah. Rumah yang dikatakan murah belum tentu tidak estetik, ketika memasuki pekarangan rumah suasana yang terbangun dari kombinasi bentuk, material, dan keadaan lingkungan sekitar keunikan local yang baik.

    Dari arah jalan, fasad rumah sangat mengundang, area bukaan mendominasi tampak depan rumah, menciptakan akses visual langsung ke bagian dalam rumah terutama lantai tingkat 1. Rak buku terjajar rapi di suatu sudut, sementara di sudut lainnya sebuah ampiteather mini memanfaatkan kemiringan lahan. Letak rumah yang bersebalahan dengan taman kanak-kanak memberikan dorongan kepada sang arsitek untuk membangun sebuah ruang yang dapat mewadahi kegiatan positif bagi warga sekitar

    Hal yang menarik ketika memasuki lantai dua adalah akses langsung dari amphitheater menuju ruang keluarga menciptakan sebuah aliran pergerakan yang menerus dengan bantuan selasar belakang. Selasar belakang tampil seperti perpanjangan ruang keluarga, dengan bangku panjang yang digunakan juga sebagai pembatas. Terdapat juga akses utama yang menghubungkan tingkat 1 sampai dengan tingkat 3 yang berada di sisi lain amphiteather.

    Lantai dua berisi kamar mandi, dapur, ruang makan dan ruang keluarga sedangkan lantai tiga bersifat lebih privat berisi ruang kerja dan ruang tidur. Dari lantai atas ini, semua ruang dapat dilihat, memberikan pemilik rumah untuk dapat mengawasi setiap ruangnya.

    Konektivitas ruang yang terjadi di dalam bangunan sama seperti ketika kita melihat tampak muka bangunan, akses visual menerus dan hubungan ruang yang menerus, seakan mengundang kita untuk terus bergerak menjelajahi detail setiap ruangnya. Keindahan yang diciptakan bangunan ini adalah dari permainan detail setiap elemennya, sambungan satu material bahan ke material lain dan sambungan-sambungan kabel yang diekspose.

    Open house tidak saja diisi dengan jalan-jalan malam di dalam bangunan rumah, kali ini bersamaan dengan launching buku seri rumah ide oleh Imelda Akmal dan presentasi beberapa proyek rumah yang masuk pada buku tersebut. Pada sesi akhir, diskusi juga membahas mengenai perlombaan desain rumah yang diadakan seri rumah ide. Diskusi malam itu berakhir dengan pesan, “Jangan lupa mengikuti perlombaan seri rumah ide. Tuangkan ide-ide segar dari para mahasiswa arsitektur, dan arsitek-arsitek muda sampaikan arsitektur kepada masyarakat.” Semuapun tersenyum simpul menikmati suasana diskusi yang berlangsung di area amphiteather yang terbuat dari papan kayu dan beton.

    desain menginspirasi!

    Putri Kusumawardhani

    [View with PicLens]
    oh_apep01
    oh_apep02
    oh_apep03
    oh_apep04
    oh_apep05
    oh_apep06
    oh_apep07
    oh_apep08
    oh_apep09
    oh_apep10
    oh_apep11

    foto foto oleh Andhang Rakhmat Trihamdani

    {7 comments}

    Summary: Bogor Botanical Gardens International Workshop 2010, 3-10 Juli 2010 (English version, updated)

    26 July 2010 by Admin.
    Categories: Brilliant!, News and Updates

    Press Release: English Version
    Bogor Botanical Gardens International Workshop 2010, 3-10 Juli 2010

    The workshop was initiated by Bogor100. Bogor100 community is consisted by individuals who care about Bogor’s urban development and heritage preservation. For this workshop, Bogor100 works together with several institutions and non-govermental communities; Bogor Botanical Gardens, P4W – LPPM IPB, Landscape Department IPB, and Kampoeng Bogor community and mAAN. The event was held for 7 (seven) days in the Botanical Garden; in the historic Guest House (former director’s residence) and the historic Treub Laboratory.

    The workshop was inspired by similar ones held by modern Asian Architecture Network (mAAN) in Shanghai (2004) and Padang (2007); which were always involving students from various international universities and engaging local participants and international experts (academicians and practicioners) as unit masters. Each unit master was responsible as facilitator for 6-7 participants. Participants had to choose the masters according to their interests. The workshop is a collaborative, voluntary, and non-commercial event. The organizer invited 6 experts as unit masters: Prof. Lai Chee Kien (National University of Singapore), Prof. Yahaya Ahmad (University of Malaya, Malaysia), Adi Purnomo (professional architect, Bogor-Jakarta), Dr. Widjaja Martokusumo (Bandung Institute of Technology), Avianti Armand (professional architect/ writer, Jakarta), Rahman Andra Wijaya (professional landscape architect, Bogor). Overall, there were more than 30 participants coming from the National University of Singapore, the University of Malaya, Bogor Institute of Agriculture, Bandung Institute of Technology, Pelita Harapan University, Petra Christian University and young fresh graduates and local volunteers.

    Several speakers were invited to share revelant information for the participants; Prof. Johannes Widodo (National University of Singapore) spoke about World Heritage and UNESCO Asia Pacific Heritage Awards, accompanied by several good preservation practices; Prof. Lai Chee Kien (NUS) discussed the role and history of the botanical gardens around Southeast Asia; Prof. Yahaya Ahmad (UM) shared his experience dealing with Penang and Malacca maintaining their World Heritage Site status; Dr. Ernan Rustiadi (P4W IPB) shared his research on Bogor current economic development and urban/ regional planning; Setiadi Sopandi illustrated Bogor’s urban morphology and architecture; Dr. Kuswata Kartawinata (Bogor Botanical Garden, UNESCO) shared his knowledge about the history of Bogor Botanical Gardens; Dr. Siti Nurisyah (Landscape Dept. IPB) talked about landscape architecture documentation and survey; and Dr. Dedy Darnaedi (Bogor Botanical Gardens) discussed the garden’s role as nature conservation site.

    The aim of the workshop is to map problems and potentials surrounding urban physical/ environmental development and urban social management, and to relate those problems/ potentials with the existence of Bogor Botanical Gardens as the natural core of the city. The workshop tries to highlight those aspects and proposes creative solutions and improvements which lead to specific aims. Bogor100’s intention is to have the public informed about the importance of the Garden for Bogor’s urban ecosystem and also for the communities. Bogor100 also acts as an open forum that enables stakeholders, institutions and communities, to discuss current problems and ideas for Bogor’s development.

    Few results produced by units;

    Unit Lai Chee Kien:
    Bogor urban planning and development had been against the nature that its physical structure had been developed without addressing the characteristic of the site and its riverine/ hydrological system. This had caused enormous problems and pollution, not only in Bogor, but spread into the Jabodetabek area. The unit proposes a stricter zoning regulation; the northern part is to be dedicated for physical development, while the southern part is best to be dedicated for conservation area. Industries should be put carefully not to pollute the rivers. This would benefit the fresh clean water supplies to the Botanical Garden. The unit propose a development plan to open up public spaces/ parks along the Ciliwung river banks, especially the one connecting the Botanical Garden with the CIFOR forest, and the one leading to the Garden. The students designed a multi-platform ‘bridge’ and a dam functioning as a public open space (as communal space for the dense population) connecting Pulo Geulis and the river bank. The bridge is multi-function: reducing the flood speed when needed, trapping garbage, flood indicator, and some element might function as water catchments devices.

    Unit Yahaya Ahmad:
    The unit did several assessments to the role of the Garden as usually done to identify a heritage site. As a natural and man-made heritage site, located in the middle of a city, it is important to be able to identify risks and threats to the Garden. It becomes a necessity if the citizen would like to promote the Garden as a World Heritage Site. Among all things can be done, firstly the protection from risks and threats should be done by regulations. One important thing that can effectively protect a heritage site is to have a buffer zone. The unit proposes a buffer zone surrounding the Botanical Garden that also recognizes public activities, historic/ distinctive buildings, facilities. The decision to impose a buffer zone requires total awareness to our own living environment; it might be concerning identification of historic buildings and districts, important environmental elements and systems, important and unique cultural values and customs, local ecosystems as well as economic activities. The zoning decision is often very sensitive since it involves various disciplines and institutions as well as many people’s livelihood; therefore the unit understands time and more effort are needed to have a good buffer zone.

    Unit Adi Purnomo:
    The unit highlights the problem of water: the amount of water needed by the inhabitants and the supplies. Assumed from figures of annual precipitation record, the unit asserts that it is actually possible to supply the household water usage from rain water collection system. If this system works, there is no need for people living in Bogor to collect ground water – which is harmful to the environment. The results are creative ways to collect rain water using existing public facilities as well as new visually-interesting public facilities; water catchments umbrellas, using road structures as ground reservoirs; public transportation as moving water catchments devices.

    I don-t-care-bogor-botanical-garden
    View more presentations from jong arsitek.

    Unit Avianti Armand:
    The master specifically encourages the participants to do observation to the periphery of the Botanical Garden, and to give their evaluation of the existing ‘spatial quality’ based on sensory perception. The sensory perception observation involves the visual qualities of a segment, the noises produced by the traffic or visitors/ pedestrians, the smells produced by flowers, leaves or public transportation, and the surface of the pedestrian walks or walls. The observation was interestingly translated into information graphics, and considered as references for physical improvements. The unit’s achievement is to introduce a creative parameter that is usually overlooked in conventional statistics and assessments which are usually problematic if being converted into policies and plans.

    Unit Widjaja Martokusumo:
    One of the intricate problem in Indonesian cities is the lack of coordination within the urban management practice. The results are contradicting and superimposing policies made by different institutions and bodies. It had been contra productive and inefficient. Administrative islands governed by different institutions are often not related to the physical condition and local ecosystem; i.e. the problem of riverine system and water catchments area of Jabodetabek had cause major annual flood, droughts, and salt water penetration. The Garden is also having problem with its offical role as nature conservation site while at the same time being a popular recreational public park, and as a nature education center. The problem occurs when people were not well informed about the facility. The unit, therefore, focuses on providing good information and orientation for the public when approaching the Garden. By reusing old structures and introducing minor improvements at the southern end of the Garden, the unit confidently thinks that the Garden might be understood better by the people.

    Unit Rahman Wijaya:
    The unit specifically upholds several efforts by the Municipality and the Garden to improve visitors’ facilities. So far, the problems had been caused by piece meal improvements which were not well coordinated and did not put local potentials into attention. The improvements were also still encouraging the use of private transportations, and neglecting the use of more-environmental-friendly public transportations such as trains and busses. Therefore the unit focusses on improving the existing trail of visitor from the Bogor Main Train Station to the Bogor Botanical Garden main entrance. The trail creates unique walking experience by engaging existing historic/ heritage buildings and urban elements as visitor information centers and facilities (as museums, eating-places, sight seeing shelters, and some panoramic spots). The trail starts from the station itself, Taman Topi park, Kapten Muslihat street, Cathedral complex, Herbarium building, Zebaoth Church, Post Office building, historic office buildings and research centers) up to the main entrance. The route design improves the standard of public facilities such as the pedestrian walks, crossings and pedestrian connections, street furnitures, dividers/ fences/ walls, the management of street vendors, and introducing more green elements.

    …

    Workshop ini merupakan prakarsa komunitas Bogor100, yang terdiri dari berbagai individu yang peduli terhadap warisan sejarah dan perkembangan kota Bogor. Untuk pelaksanaan workshop ini, Bogor100 bekerja sama dengan beberapa institusi/ komunitas diantaranya: Kebun Raya Bogor, P4W – LPPM IPB, Jurusan Lansekap IPB; dan didukung oleh komunitas Kampoeng Bogor dan mAAN. Workshop selama 7 (tujuh) hari ini dilaksanakan di dalam Kebun Raya Bogor, tepatnya di 2 gedung bersejarah: Guest House (bekas rumah direktur Kebun Raya Bogor) dan Laboratorium Treub.

    Workshop ini diinspirasikan oleh workshop serupa yang pernah dilaksanakan oleh modern Asian Architecture Network (mAAN) di Shanghai (2004) dan Padang (2009), yaitu dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi luar dan dalam negeri, serta melibatkan peserta lokal; dan mengundang para pakar (praktisi maupun pengajar) sesuai dengan bidangnya sebagai unit master. Setiap unit master bertanggungjawab sebagai fasilitator unit yang terdiri dari 6-7 peserta. Peserta dapat memilih unit master yang mereka pilih sesuai dengan minat konsentrasi. Sifat kegiatan workshop ini adalah kolaboratif, suka rela dan non-komersil. Panitia mendatangkan 6 orang pakar sebagai unit master, antara lain: Prof. Lai Chee Kien (National University of Singapore), Prof. Yahaya Ahmad (University of Malaya, Malaysia), Adi Purnomo (Arsitek, Bogor-Jakarta), Dr. Widjaja Martokusumo (Institut Teknologi Bandung), Avianti Armand (Arsitek/ Penulis, Jakarta), Rahman Andra Wijaya (Arsitek Landsekap, Bogor). Secara keseluruhan terdapat lebih dari 30 peserta yang berasal dari National University of Singapore, University of Malaya, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Pelita Harapan, dari kalangan profesional muda dan peserta/ relawan lokal.

    Beberapa nara sumber juga diundang memaparkan berbagai informasi yang relevan bagi para peserta; diantaranya: Prof. Johannes Widodo mengenai World Heritage dan Unesco Asia Pacific Heritage Awards serta beberapa contoh praktek pelestarian yang baik, Prof. Lai Chee Kien mengenai peran dan sejarah kebun-kebun raya di Asia Tenggara, Prof. Yahaya Ahmad mengenai pengalaman usaha pelestarian Penang dan Malaka sebagai situs warisan dunia, Dr. Ernan Rustiadi mengenai berbagai informasi perkembangan Bogor lewat data statistik, Setiadi Sopandi mengenai morfologi dan arsitektur pecinan Bogor, Dr. Kuswata Kartawinata mengenai sejarah Kebun Raya Bogor, Dr. Siti Nurisyah mengenai teknik pendokumentasian landsekap, dan Dr. Dedy Darnaedi mengenai peran kebun raya sebagai pusat konservasi alam.

    Tujuan workshop ini adalah untuk memetakan permasalah penataan fisik lingkungan dan sosial dan manajerial perkotaan yang selama ini beriringan dengan perkembangan pusat kota Bogor dan berbagai dampaknya terhadap Kebun Raya Bogor, sekaligus mengusulkan berbagai solusi kreatifnya dari berbagai sudut pandang, namun berujung pada beberapa tujuan spesifik. Komunitas Bogor100 secara khusus mengangkat isu ini untuk kembali menegaskan pentingnya peran Kebun Raya Bogor bagi lingkungan dan masyarakat Bogor, dan perlunya sebuah wadah bersama untuk menjembatani pulau-pulau administrasi yang terisolasi.

    Beberapa yang berhasil dipetakan selama workshop adalah:

    Unit Lai Chee Kien:
    Perencanaan dan perkembangan kota Bogor selama ini telah ’melawan’ alam bahwa perkembangan fisik dilakukan tanpa mengindahkan kondisi tapak dan jalur air, sehingga mengakibatkan permasalahan dan pencemaran air tidak hanya di Bogor namun meluas di area Jabodetabek. Usulan unit adalah untuk melakukan zonasi yang lebih tegas bahwa perkembangan fisik kota seharusnya dikonsentrasikan pada bagian utara serta memperlakukan area selatan sebagai area konservasi. Zona industri harus diletakkan dengan lebih hati-hati agar tidak mencemari sungai-sungai. Hal ini bila dilakukan dapat membantu kualitas pasokan air terhadap Kebun Raya Bogor. Usulan praktis untuk mengusung ide ini adalah membuka ruang-ruang publik di titik-titik tertentu di sepanjang aliran sungai Ciliwung, menghubungkan Kebun Raya Bogor dengan hutan CIFOR (ke arah utara) dan ke arah selatan. Unit ini merancang sebuah ’jembatan’ multi-platform dan ’dam’ yang berfungsi sebagai ruang terbuka publik di Pulo Geulis sekaligus sebagai peredam kecepatan air di kala pasang, penyaring sampah, indikator banjir, dan teras penyerapan air hujan.

    Unit Yahaya Ahmad:
    Unit ini melakukan beberapa assesment terhadap peran Kebun Raya Bogor sesuai dengan praktek yang dilakukan dalam mengidentifikasi sebuah benda warisan alam dan budaya. Sebagai sebuah entitas alam yang juga hasil binaan, terlebih terletak di tengah sebuah kota, menjadi sangat penting untuk dapat mengidentifikasi berbagai resiko dan ancaman bagi Kebun Raya Bogor, apalagi bila hendak dipromosikan sebagai sebuah warisan dunia (World Heritage). Usaha perlindungan dari berbagai resiko dan ancaman ini harus diwujudkan melalui kebijakan-kebijakan pembangunan dan pelestarian, diantaranya lewat penentuan zona penyangga (buffer zone). Penentuan zona ini melibatkan banyak hal, diantaranya mencakup pengidentifikasian kawasan/ bangunan bersejarah, elemen-elemen dan sistem-sistem lingkungan penting, potensi-potensi budaya, keberadaan ekosistem, dan lain sebagainya. Proses penentuan zona ini sangat sensitif karena menyangkut banyak hal, termasuk harkat hidup orang banyak, maka dari itu unit ini menyadari usulan mengenai zona penyangga ini masih mungkin diperdebatkan dan dipikirkan lebih lanjut.

    Unit Adi Purnomo:
    Unit ini menyoroti permasalahan dan potensi Bogor dalam hal pasokan dan aliran air. Berangkat dari data statistik mengenai curah hujan, pasokan air, dan kebutuhan pemakaian air penduduk kota Bogor; unit ini menemukan terdapat potensi luar biasa apabila masyarakat Bogor dapat memanfaatkan air hujan bagi kegiatan sehari-hari. Jumlah pasokan air bersih (dari air hujan) sangat melimpah bila dibandingkan dengan kebutuhan air warga, sehingga sebenarnya warga Bogor tidak perlu menyedot air tanah untuk keperluan mereka. Maka dari itu unit ini mengusulkan berbagai hal yang mungkin (maupun yang saat ini belum dapat diwujudkan) atas usaha memanfaatkan curah hujan; diantaranya adalah dengan membangun payung-payung tadah hujan yang fungsional sekaligus secara visual menarik, pemanfaatan kolong jalan sebagai struktur penampung air, dan pemanfaatan angkot sebagai alat penangkap hujan.

    Unit Avianti Armand:
    Unit master Avianti mengajak peserta untuk melakukan pengamatan sensoris terhadap periphery/ batas luar Kebun Raya Bogor dan memberikan ‘penilaian terhadap kualitas ruang’ yang terjadi. Pengamatan sensoris ini melibatkan kualitas visual, suara, sentuhan, dan penciuman; yang diterjemahkan dalam seperangkat infografis yang kemudian dijadikan referensi bagi usulan pengembangan perencanaan fisik batas luar Kebun Raya Bogor. Yang paling menarik dari pendekatan ini adalah pengumpulan informasi yang sifatnya memberikan ilustrasi kualitas ruang kota lewat pengindraan langsung; informasi yang tidak berupa angka-angka statistik ataupun ilustrasi verbal yang kadang sulit diterjemahkan ke dalam usulan-usulan kebijakan maupun perencanaan.

    Unit Widjaja Martokusumo:
    Persoalan besar yang dialami berbagai kota di Indonesia adalah ketiadaan koordinasi manajemen pengelolaan kota yang terpadu, sehingga banyak dari berbagai kebijakan dan usaha perencanaan yang tumpang tindih dan saling bertentangan. Hal ini sangat kontraproduktif terhadap usaha pengelolaan kota yang baik. Pulau-pulau administratif tersebut juga tidak sinkron dengan kondisi fisik dan ekosistem lingkungan kota, sehingga persoalan seperti aliran sungai dan penentuan daerah resapan menjadi masalah yang tidak kunjung selesai hingga kini. Tumpang tindih peran juga terjadi pada Kebun Raya Bogor, selain fungsi resminya sebagai sebuah pusat konservasi tanaman, KRB juga ternyata berfungsi sebagai ruang terbuka hijau publik, sebagai sebuah pusat aktivitas masyarakat dan juga pusat informasi dan pendidikan. Permasalahannya adalah ketika masyarakat sulit membedakan fungsi ini dan mengalami disorientasi sehingga sulit memahami dan memperlakukan fasilitas ini sesuai dengan fungsinya. Unit ini, maka dari itu, mengusulkan perencanaan fisik yang bisa menjembatani disorientasi, yaitu dengan merancang kembali titik-titik tertentu yang dianggap bermasalah dan mengusulkan pemanfaatan kembali fasilitas gedung-gedung pada bagian selatan Kebun Raya Bogor untuk menampung kegiatan pusat informasi publik.

    Unit Rahman Wijaya:
    Unit ini secara spesifik mendukung beberapa upaya yang sudah dirintis oleh Pemerintah Kota maupun Kebun Raya Bogor sendiri untuk memberikan fasilitas bagi pengunjung Kebun Raya Bogor. Permasalahan yang timbul selama ini adalah penataan alur pengunjung yang tidak terkoordinasi dengan baik dan tidak mengakomodasi berbagai potensi pariwisata dan informasi publik yang ada di Bogor. Keberpihakan pada pengguna transportasi publik juga tidak terdukung dengan baik, dan masih didominasi oleh keinginan untuk mengakomodasi pengguna kendaraan pribadi. Maka dari itu unit Rahman Wijaya merancang ulang rute pengunjung dari Stasiun Kereta Api Bogor menuju Pintu Masuk 1 Kebun Raya Bogor sebagai sebuah ’trail’ yang menyajikan pengalaman menarik, termasuk memberikan pengetahuan mengenai potensi-potensi sejarah lokal dan informasi mengenai Kebun Raya Bogor dan pengetahuan lingkungan. Rancangan rute ini mencakup penataan gedung dan pedestrian di Stasiun Kota Bogor, Taman Topi, jalan Kapten Muslihat, komplek Gereja Katedral, gedung Herbarium, Gereja Zebaoth, pertigaan di depan BTM, gedung-gedung perkantoran/ penelitian, museum-museum, gerbang utama Kebun Raya Bogor. Rancangan rute ini juga memberikan elemen-elemen yang membantu meningkatkan kualitas ruang kota, seperti memberikan ruang lebih pada pejalan kaki (konektivitas pejalan kaki), memberikan lebih banyak ruang bagi elemen-elemen hijau kota, sehingga dapat meningkatkan faktor kenyamanan dan keamanan, sekaligus menata-ulang manajemen ruang kota sehingga tetap dapat menikmati hasil dari potensi ekonomi sektor informal.

    Penulis: Setiadi Sopandi

    PS:
    This note is also a press release and abstract for the publication.

    {No comments}

    KAMAR#03 : Mimpi Rumah Murah dan Perumahan Sosial

    21 July 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Brilliant!, News and Updates

    Kami baru saja mendapat sebuah slide dan reportase foto dari Willy Samoel di Makasar tentang Komunitas Arsitek Muda Makasar yang baru saja mengadakan presentasi dan diskusi dengan Yu sing, tentang Mimpi Rumah Murah dan Perumahan Sosial. Beberapa terlampir slide tentang Mimpi Rumah Murah dan Perumahan Sosial oleh Yu sing, Selamat terinpirasi!

    [View with PicLens]
    a mimpi rumah murah & perumahan sosial copy
    b diskusi copy
    c buat apa hidup copy
    d kisah pengusaha petani copy
    e apa itu sukses copy
    f sukses adalah copy
    g intisari hidup copy
    h arsitektur kepada rakyat copy
    i desain rumah murah copy
    j awal mula desain rumah murah copy
    k tahun pertama copy
    l tdk henti2nya copy
    m jaim copy
    n workshop ami copy
    o ruang mimpi copy
    p rekonstruksi pasca bencana copy
    w penutup

    Foto foto teman teman Arsitek Muda di Makasar

    [View with PicLens]
    kamar_03_001
    kamar_03_002
    kamar_03_003
    kamar_03_004
    kamar_03_005
    kamar_03_006
    kamar_03_007
    kamar_03_008
    kamar_03_009
    kamar_03_010
    kamar_03_011
    kamar_03_012
    kamar_03_013
    kamar_03_014
    kamar_03_015
    kamar_03_016
    kamar_03_017
    kamar_03_018
    kamar_03_019
    kamar_03_020
    kamar_03_021
    kamar_03_022
    kamar_03_023
    kamar_03_024
    kamar_03_025
    kamar_03_026
    {3 comments}

    PNAM 2010 : Diskusi

    19 July 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Brilliant!

    Beberapa Video diskusi Pameran Nasional Arsitek Muda 2010, beberapa video akan diunggah segera. Video diskusi dan presentasi lainnya bisa di buka di tautan jongBincang! rekaman rekaman ini dibantu melalui kamera sederhana Errik Irwan Wibowo.

    Diskusi : Peran Lintas Komunitas dalam budaya kreatif

    architerian

    Lintas Komunitas dalam Budaya Kreatif – architerian from jongArsitek! on Vimeo.

    {No comments}
    Page 1 of 1112345»10...Last
    • Home
    • We are the Jongs!
    • jongIndonesia!
    • Grab a magz!
    • jongBincang!
    • Meet and Greet :)
    • Need to Contact Us?
    • Shop!
    • News and Updates
    • We Proudly Present..
      • We are Architects
      • Brilliant!
      • Architect Does!
    • digiMove
    • Follow Us On

    • Recent Posts

      • Desert Pavilion – Expo 2015 Milan
      • CS8 Semarang : imagination
      • bungus mentelah : Pemenang 1 sayembara Metamorfosa Arsitektur
    • Recent Comments

      • zoel on Integrated Tropical City; Core dari Kota-Kota Masa Depan Indonesia (Essay Pemenang Urbane Fellowship Program #3)
      • didot bima on bungus mentelah : Pemenang 1 sayembara Metamorfosa Arsitektur
      • ricky firman putra on bungus mentelah : Pemenang 1 sayembara Metamorfosa Arsitektur
    • architerian-160-60-1
     
    Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
    Wordpress, theme design by Infochel.