Adakalanya datang ke acara presentasi desain itu membosankan. Suara presenter yang kecil, lampu yang redup dan pembicaraan yang berkepanjangan adalah kombinasi mematikan yang biasanya akan diikuti oleh dengkuran peserta, atau suara percakapan dari orang-orang yang berdiri di barisan paling belakang. Sang presenter pun dengan tidak mau kalah, akan terus berbicara untuk membela integritasnya. Sedangkan pirsawan sekalian sudah terlalu jenuh. Pemikiran jadi tidak tersampaikan, tanya jawab menjadi seadanya, dan akhirnya diskusi membangun pun patah sebelum sempat terbangun tinggi. Jadi seringkali acara seperti itu kemudian hanya menjadi ajang kumpul2 bagi sebagian orang. Setidaknya itu sampai akhirnya Pecha Kucha di ciptakan.
Jangan pernah berpikir bahwa anda telah melakukan hal yang paling kreatif jika anda belum pernah menghadiri atau ambil bagian di Malam Pecha Kucha. Disitulah istilah “diatas langit masih ada langit” benar-benar bisa dirasakan. Pecha Kucha adalah sebuah acara presentasi insan kreatif yang sangat unik. Siapa saja yang mengaku kreatif, dapat berpresentasi dengan menggunakan 20 slide (dan hanya 20 slide) dimana tiap slide harus berdurasi 20 detik, sebelum di ganti gambar berikutnya. Dengan begitu setiap presenter hanya diberikan waktu 6 menit dan 40 detik untuk menjadi terkenal. Jika di kebanyakan presentasi para pembicara kemudian berbicara berputar-putar dan berkepanjangan, maka di acara ini, semua orang dipaksa untuk berbicara dengan cepat dan efektif. 20 detik perslide benar-benar merubah cara para pesertanya berpresentasi.
Pecha Kucha digagas oleh Astrid Klein dan Mark Dytham, mereka ini adalah sepasang arsitek yang berpraktek di Jepang dengan reputasi yang sudah mendunia. Di gagas dan di adakan pertama kali di Jepang pada tahun 2003, Pecha Kucha adalah acara yang bereaksi terhadap “penyakit” presentasi para arsitek dan desainer. Acara ini bertujuan untuk mempertemukan desainer2 muda dalam sebuah acara yang santai tapi terkendali. Istilah Pecha Kucha yang diambil dari bahasa jepang, adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan suara yang di hasilkan dalam percakapan. Rupanya setelah berjalan beberapa saat, acara ini mengundang banyak perhatian dan review yang baik. Nama besar dalam dunia arsitektur dan desain yang pernah menjadi peserta acara ini seperti, Rem Koolhas, Ben van Berkel, dan Ron Arad, ternyata membangkitkan gengsi, pamor dan kualitas acara ini. Kini setelah 5 tahun, Pecha Kucha adalah sebuah franchise dan telah diadakan di 168 kota di dunia. Dan Indonesia cukup beruntung untuk memiliki satu malam kreatif ini.
Di Indonesia, Bandung adalah satu-satunya kota yang mengadakan acara Malam Pecha Kucha. Di gagas oleh Deddy Wahjudi dari LABO, acara ini sudah diadakan 3 kali, itu berarti 3 malam penuh kreatifitas dan inspirasi. Bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, malam Pecha Kucha Bandung ke-3 ini menghadirkan 16 insan kreatif yang mempresentasikan apa yang telah mereka kerjakan dan hasilkan selama ini.
Presentasi malam itu dibuka oleh monolog indonesia menggugat yang dibawakan oleh Wawan Sofyan. Lantang, keras dan membahana, Wawan Sofyan membacakan pidato pembelaan Bung Karno ketika di adili di gedung tempat acara Pecha Kucha malam itu berlangsung. Pembukaan yang tepat untuk malam yang rasanya sangat menggugah rasa kebangsaan para pengunjung yang datang malam itu. Selesai monolog, berturut Adi Dharma, JongArsitek, dan Manuel Heischel menjadi 3 presenter pertama malam itu.
Adi Dharma adalah seorang artis grafiti dari komunitas grafis bandung FAB. Dia bercerita tentang grafiti dan apa saja yang telah dia lakukan selama ini. Ia menunjukkan beberapa karya grafiti nya, baik yang di tembok maupun yang disepatu. Beberapa desain grafiti baik yang di tembok dan di sepatu.
JongArsitek! adalah sebuah publikasi arsitektur cuma-cuma, yang disebar melalui internet. Kegelisahan atas kualitas publikasi arsitektur di indonesia dan semangat untuk membagi pengetahuan arsitektur kepada khalayak yang lebih luas dengan cara yang terjangkau, melatar belakangi berdirinya publikasi gratisan ini.
Manuel Heischel adalah seorang seniman grafis asal Jerman yang telah tinggal di bandung selama 3 tahun. Malam itu dia mempresentasikan desain-desainnya, beberapa ada yang berkolaborasi dengan beberapa seniman bandung.
Kemudian setelah ketiga orang diatas, berturut-turut Rizky Adiwilaga, Erick Soelaiman, Vitorini dan Aat Soelaiman maju dan mempresentasikan pemikiran mereka, sebelum break setengah waktu.
Rizky Adiwilaga adalah seorang pengacara. Walau profesinya “nyeleneh” (dalam konteks acara loh ya…) tapi presentasinya sangat vital. Rizky mempresentasikan tentang undang-undang HAKI. Walaupun berprofesi sebagai pengacara, tapi presentasinya sangat kreatif dan hidup. Kocak dan bersemangat, ga ada yang ngalahin slid
Cicadas Kiaracondong. Cintaku kandas, bete dong…”
Erick Sulaiman adalah seorang komikus, dengan karya-karya yang menyindir situasi kehidupan dan pemerintahan baik di Indonesia maupun di dunia sekarang. Kepeduliannya terhadap situasi sekitar dituangkannya lewat komik-komik yang, dengan sensitivitas yang sangat tinggi. Cara yang sangat ringan untuk menggugah kesadaran hidup.
Vitorini mungkin tidak akan suka jika dibilang unik, tapi sikapnya untuk berdiri membela hak-hak kaum wanita demi dunia yang lebih ramah bagi wanita, patut dihargai tinggi. Ada yang bilang arsitektur adalah profesi yang maskulin, tapi dia membuat sebuah biro arsitektur yang hanya menerima arsitek wanita. Hanya ada satu pria di kantornya, sang office boy.
Ada 13.000 lebih pulau di indonesia. Tapi saya yakin 99% penduduk Indonesia tidak ada yang mengetahui dimana letak pasti pulau2 itu, apalagi letak pulau2 terluar Indonesia, yang jika hilang atau terebut maka hilang pulalah sebagian luas wilayah Indonesia. Aat Soelaiman dari Garis Depan Nusantara, bersama rekan-rekannya, melakukan ekspedisi ke pulau-pulau terluar di wilayah barat Indonesia. Sebagian besar yang hadir benar-benar di buat terbuai dan terpesona oleh keindahan alam yang kita miliki, yang tidak banyak diketahui oleh sebagian besar penduduk bangsa ini.
Setelah istirahat singkat, babak kedua presentasi malam itu kembali diisi oleh 7 presentasi. And it was started with a bang!, Slamet Rahardjo maju pertama.
Saya arsitek, bukan orang film, jadi jarang bagi saya untuk melihat cerita dari seorang pelaku film, tapi malam itu saya merasa beruntung karena malam itu adalah kali pertama saya melihat seorang aktor, Slamet Rahardjo, berbagi hidupnya sebagai aktor papan atas indonesia. Presentasi 6,5 menitnya memberikan sebuah semangat kematangan kepada rekan-rekan muda yang datang. Menyegarkan… kutipan malam itu yang terus terngiang : “Klo cinta Indonesia, jangan bikin film judulnya mas suka, masukin aja!” dan semua orang bertepuk tangan meriah.
Phaerly Maviec Musadi maju sebagai orang kedua setelah Slamet Rahardjo, untuk mempresentasikan The Neverland, sebuah supervised playground project atau sebuah proyek bermain yang di awasi. Terdengar sangat janggal? itu jika anda tidak menyaksikan presentasinya. Tapi jika ada ada disana malam itu, maka anda akan sadar, bahwa ini adalah salah satu presentasi yang paling menginspirasi. Program ini dibuat untuk anak-anak jalanan agar mereka dapat terus bermain dan menikmati masa kecil mereka. Mereka memanfaatkan skateboarding untuk melakukan perubahan pada mental anak. Slogan “Jangan buang sampah sembarangan, Jaga antrian, dan jangan ngomong anjing” termasuk salah satu yang paling menohok!
Aldo Khalid dan Dwinita Larasati maju berturut-turut. Aldo bercerita tentang bagaimana dia kecanduan mainan lalu membuat sebuah museum mainan, dan kemudian dia mempresentasikan bagaimana cara mengubah kecanduannya itu menjadi sesuatu yang menguntungkan pecandu-pecandu mainan lainnya. Lewat museum mainan yang didirikannya Aldo menggunakan koleksinya untuk kebaikan penggila mainan lainnya. Sedangkan Tita mempresentasikan diary nya yang di tuangkan dalam bentuk komik. Keseharian yang di gambar ini telah dimulai sejak dirinya masih muda, kini graphic diary ini telah beredar di internet lewat situs multiply nya dan telah di terbitkan kedalam beberapa seri.
Pembaca mungkin pernah mendengar sebuah restoran baru di Grand Indonesia, namanya Social House. Secara harga, restoran itu aga berat buat kantong saya, tapi secara desain, saya harus katakan itu adalah salah satu desain interior restoran terbaik di Jakarta. Arsiteknya, Willis Kusuma, malam itu mempresentasikan desainnya ini. Kemampuannya untuk mengolah layout ruang dan ketelitiannya dalam mengolah detil-detil kecil di paparkannya dalam gambar2 detil yang terlihat kompleks, namun sangat informatif.
Dendy unkl/347 maju sebelum malam itu dipamungkasi oleh duet URBANE Reko Tomo dan Angga Latief. Dendy bercerita tentang awal dia mendirikan (mungkin) salah satu clothing line paling ternama di kota bandung, unkl/347. Kegigihannya untuk membuat sebuah clothing line yang dimulai dari dalam kamar kos, kini telah menjadi inspirasi bagi banyak distro di kota bandung. Malam itu, pionir ini berpresentasi dengan sangat santai, dengan gayanya yang khas.
Duet pemenang Urbane Employee of the year tahun 2007 dan 2008, Reko dan Angga kemudian mempresentasikan beberapa project URBANE dan bagaimana kehidupan kerja di salah satu biro yang meroket paling cepat dalam 5 tahun terakhir ini.
Pecha Kucha mengkomunikasikan karya nyata insan kreatif yang ada di Indonesia, paling tidak mereka yang bermukim di Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Malam itu saya tersadar akan 2 hal, yang pertama adalah, bahwa saya masih belum melakukan apa-apa, masih banyak kemungkinan yang bisa dan harus saya lakukan. Yang kedua adalah, bahwa ternyata ada banyak potensi kreatif di negara ini (dan saya yakin masih banyak lagi diluar sana), yang jika di manfaatkan dan di wadahi dengan layak, akan dapat menaikkan harkat derajat dan martabat bangsa ini. Di acara ini saya melihat kualitas nyata pemikiran-pemikiran kreatif manusia indonesia, dan yang membanggakan, sangat terasa sekali bahwa latar belakang semua yang mereka lakukan adalah hasrat yang dalam atas bidang yang mereka geluti, bukan motif ekonomi. Ini adalah inspirasi terbesar yang harusnya di bagi kepada masyarakat lebih luas. Sempatkanlah untuk datang di acara 2 bulan sekali ini. Temukan mereka di Facebook atau di
http://pechakuchabdg.blogspot.com/
Danny Wicaksono








