
Arsitek manapun di seluruh dunia pasti akan merasa sangat terhormat dan tersanjung jika mendapatkan kabar bahwa mereka dipilih langsung oleh Jacques Herzog untuk mendesain sebuah rumah bersama dengan 99 arsitek lainnya dari seluruh dunia. Sebagai arsitek, Jacques Herzog adalah salah satu dari 2 principal biro arsitektur Herzog&DeMeuron. Sebuah biro arsitektur yang, jika bukan yang terbaik, berada diantara 2 atau 3 biro arsitektur terbaik di dunia. Dunia mengenal mereka lewat beberapa karya mereka seperti Museum Of Modern Art San Francisco, Tate Museum London, dan yang sekarang masih sangat hangat adalah Beijing International Stadium, The Bird’s Nest. Jika diibaratkan dunia musik, bayangkan Bono dari U2, atau Paul McCartney memilih anda untuk menyanyikan sebuah lagu bersama 99 musisi muda lainnya dari seluruh dunia. Kurang lebih begitulah rasanya.
Kesempatan dan kehormatan inilah yang didapatkan oleh 2 orang arsitek indonesia, Adi Purnomo dan Zenin Adrian. mereka dipilih langsung oleh Jacques Herzog untuk turut ambil bagian dalam proyek yang belum pernah terpresedenkan dalam sejarah manusia modern, Ordos100. Proyek ini adalah sebuah proyek ambisius di kota Ordos, Inner Mongolia, Cina. Investornya, Jiang Yuan Cultural & Creative Industrial Development Ltd. and Jiang Yuan Water Engineering Ltd, mengumpulkan 100 arsitek dari 29 negara untuk mendesain 100 rumah tinggal sebagai bagian dari sebuah distrik seni dan budaya, di sebuah kota baru yang terletak 30 menit di luar kota Ordos. Seniman/Arsitek Cina Ai-Weiwei (FAKE Design) menjadi kurator sekaligus mendesain masterplan untuk kompleks perumahan ini.
Sedangkan untuk nama yang terpilih dari indonesia, rasanya 2 nama itu bisa mewakili 2 kutub dari lingkaran terbaik arsitektur indonesia. Adi Purnomo adalah arsitek yang telah banyak mendapatkan penghargaan, dan karya-karyanya sudah terpublikasi di dalam dan diluar negeri. Beberapa orang menganggapnya sebagai salah satu arsitek terbaik yang dimiliki bangsa ini, dan rasanya hal ini tidak berlebihan jika melihat beberapa karyanya seperti Rumah Ciganjur dan Rumah Tangkuban Perahu. Sedangkan Zenin Adrian adalah arsitek muda dengan kualitas karya yang sangat terjaga. Tidak perlu diragukan lagi, dalam beberapa tahun kedepan dia akan ada diantara arsitek-arsitek terbaik bangsa ini.
Terpilihnya kedua arsitek ini adalah sebuah angin segar bagi dunia arsitektur Indonesia. Mengapa angin segar? karena begini; di bangsa ini, dalam beberapa dekade belakangan, arsitektur adalah sesuatu yang tidak mendapatkan tempat dan penghargaan yang semestinya. Di banyak bangsa lain di dunia ini, arsitektur adalah sebuah alat untuk mencapai tujuan-tujuan paling mulia dalam berbangsa dan bernegara. Kemegahan yang di dapat dari kehadiran sebuah karya arsitektural, di jadikan sebagai sebuah cara untuk menaikkan harga diri bangsa. Keindahan yang dibawa oleh sebuah karya arsitektural dijadikan sebagai sebuah cara untuk meng-inspirasi siapa saja yang melihat dan datang kepadanya. Kecermelangan pemikiran terbangun manusia atas ruang yang kemudian di bangun, adalah sesuatu yang sangat di hargai dan mendapat kan tempat yang tinggi.
Di bangsa ini semua yang terjadi tentang budaya bangun adalah kebalikannya. Setelah bangunan-bangunan yang dibangun pada masa Bung Karno, hampir tidak ada lagi bangunan yang bisa memberikan nilai arsitektural yang cukup untuk memberi kebanggaan dan inspirasi bagi warga bangsa ini. Pembangunan mall dan apartemen-apartemen yang melebihi kebutuhan pasar dan kemampuan beli masyarakat, justru lebih mendominasi hanya karena mereka dianggap lebih menguntungkan secara finansial, tapi dari sisi kebudayaan, bangunan-bangunan itu tidak memberikan sumbangan apa-apa kecuali memperkuat budaya konsumtif masyarakat Indonesia. Gelora Bung Karno, Mesjid Istiqlal, dan gedung DPR/MPR adalah sebagian kecil diantara bangunan-bangunan dengan kualitas arsitektur terbaik di bangsa ini, yang sampai sekarang masih berdiri tanpa sahabat.
Karena itulah, ditengah stagnasi budaya bangun kita, dan minimnya publikasi internasional tentang arsitektur Indonesia yang berkualitas, berita tentang diundangnya Adi Purnomo dan Zenin Adrian adalah sesuatu yang sangat menyegarkan dan seharusnya dapat menginspirasi siapa saja masyarakat indonesia yang mendengarnya. Semua hal yang kita nikmati di kehidupan ini adalah buah pemikiran manusia, pemikiran adalah hal utama yang dihargai paling tinggi di hidup ini. Dan undangan kepada 2 orang arsitek indonesia untuk berpartisipasi dalam salah satu proyek paling menarik dalam sejarah modern umat manusia, adalah bukti bahwa dibalik carut-marut dan semua kekerdilan pemikiran yang terjadi di bangsa ini, masih ada pemikiran-pemikiran anak bangsa yang mendapatkan tempat diatas panggung pemikiran terbaik di dunia.
Mayoritas penduduk di bangsa ini memiliki sebuah kebiasaan buruk. Kebiasaan untuk menganggap mereka yang datangnya dari luar selalu lebih baik dari diri mereka sendiri. Keyakinan bahwa mereka superior dan kita inferior, bahwa mereka diatas dan kita dibawah. 2 arsitek indonesia itu telah membuktikan, bahwa dengan kerja keras, ketekunan dan kesungguhan, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai sebuah kebesaran hidup yang sama besarnya, tidak perduli mereka datang dari barat, timur, utara atau selatan.
Yakinlah, gelombang besar arsitektur indonesia akan segera datang. Jika anda adalah seorang arsitek, pastikan anda ikut berselancar di atasnya, namun jika anda bukan arsitek, nikmatilah debur kebesarannya.
danny wicaksono








