Logo

Bengkel Kerja . workshop ruang tinggal dalam kota .

17 October 2009 - 10:29 by Admin.
Categories: We Proudly Present..

moble_Page_01

Saya akan mulai dengan sekumpulan fakta:

Pembangunan kota jadi makin cepat dan nyaris tak terkendali, gempita – namun tunggang langgang. Ada kepadatan yang menyesakkan – di saat yang bersamaan, tak merata. Komodifikasi dari hampir segala hal membuat harga tanah di tengah kota tak terjangkau. Terpinggirnya masyarakat menengah ke luar kota. Suburbanisasi kian menjadi. Jarak antara rumah dan tempat kerja makin jauh. Kemacetan yang bertambah mengakibatkan pemborosan energi, waktu dan tenaga. Tingginya tingkat stres. Sistem angkutan umum yang buruk. Jumlah kendaraan pribadi bertambah secara drastis. Bertambahnya ruas jalan yang tak menyelesaikan apa-apa. Berkurangnya ruang hijau di dalam kota dengan kecepatan yang mencemaskan. Berkurangnya resapan kota. Terjadi perluasan daerah reklamasi yang mengikis hutan bakau dan memprivatisasi pesisir. Intrusi air laut ke tengah kota. Polusi yang makin parah. Banjir tahunan makin lama makin tinggi. Kurangnya pasokan air bersih untuk semua. Pemukiman kumuh dalam lipatan-lipatan kota: pinggir rel kereta api, bawah jembatan, pinggir sungai, dan lahan-lahan tidur. Penggusuran yang sewenang-wenang dan tak manusiawi. Ketiadaan fasilitas sosial yang memadai. Sampah kota tidak tertangani dengan baik. Bertambahnya jumlah kaum miskin kota. Gerak modal dan barang yang makin cepat. Kota yang terus bergerak dan tak pernah tidur. Kita, yang bangun pagi dengan mata cemas. Selalu.

Kota, dengan segala kegairahan dan permasalahannya, kini menjadi begitu hadir. Ia menderas masuk, kita tak lagi bisa mengelaknya. Ruang tinggal, tak bisa dilepas dari konteksnya, dipagari dan dilabeli dengan sekedar ‘rumah’ atau ‘apartemen’. Begitu banyak hal dan makna telanjur terlekat padanya. Ia, juga arsitektur, tak dapat dipandang sebagai satu entitas yang berdiri sendiri, melainkan terajut dalam lapis demi lapis jaringan majemuk yang menyusun kota, bahkan lebih luas lagi: dunia.

Sekarang, semenjak lebih dari 50 % populasi manusia bermukim di kota, apa yang terjadi dalamnya adalah gambaran dari apa yang terjadi di planet ini. Kita, juga umat manusia di seluruh dunia, tiba-tiba dilanda kegelisahan yang sama. Kita pelahan mengalami hal dan masalah-masalah yang sama yang menuntut penyelesaian bersama. Tanpa itu, kita akan bersama-sama pula menuju ke kepunahan yang cepat dari ras manusia. Apakah kita peduli?

Ya. Tentu dalam kapasitas kita masing-masing. Tentu dalam cakupan ruang gerak dan dengan keunikan masalah masing-masing. Dalam konteks ini: arsitek Indonesia – kota-kota di Indonesia. Ruang tinggal dalam kota telah masuk sebagai hal yang tak terhindarkan dalam kesadaran kita. Hal itu tak bisa lagi dipandang sebagai masalah pemerintah, penyelenggara kota, developer, atau institusi lain. Ia atelah menjadi masalah kita  bersama.

Karena itu, bukan suatu hal yang mengherankan apabila workshop, atau lebih baik kita sebut bengkel kerja, yang diselenggarakan dalam rangka merayakan ulang tahun kelompok Arsitek Muda Indonesia yang ke 20, dengan tema Ruang Tinggal Dalam Kota, mendapat animo yang baik sekali. Pada tengat pengumpulan, ada sekitar 40 proposal yang masuk. Sayang sekali, karena keterbatasan waktu, tempat, dan juga tenaga reviewer, penyelenggara harus memilih 17 saja dari antaranya.

Menarik melihat bagaimana para arsitek muda dan mahasiswa-mahasiswa arsitektur ini menanggapi tema yang cukup luas itu. Ada kepekaan yang mengagumkan,  hal penting yang dibutuhkan oleh seorang arsitek untuk dapat menghasilkan karya yang berjiwa. Ada keberanian untuk keluar dari paradigma lama. Dari situ lalu tercetus beragam cara pandang terhadap ‘ruang tinggal’ dan terhadap ‘kota’. Juga cara memaknainya. Pendekatan yang ditempuh, walau tidak selalu baru, pun bermacam-macam dan menawarkan terobosan untuk perbaikan kualitas ruang tinggal dalam kota.

Salah satunya adalah tentang waktu – yang dirasakan sebagai unsur yang begitu kuat bekerja dalam ruang. Dalam proposal “ruang. waktu. tinggal.”, waktu digunakan untuk mendefinisi penggunaan ruang, dari situ luasan dan bentuknya. Ruang terasa begitu hidup, ketika waktu dihayati sebagai sebuah fenomena perubahan. Ruang menjadi sangat sementara dan fleksibel. Suatu kualitas yang sering diabaikan praktek professional arsitektur di dunia yang malas bergerak – karena itu besaran ruang menjadi bengkak. Suatu kualitas yang sering dipendam di mana arsitektur dituntut untuk jadi sesuatu yang abadi – karena itu: mati.

Hampir tak pernah terlibat dalam bengkel kerja, proposal “ruang kembali” mengikat ruang tinggal pada satu waktu di masa lalu sebagai tempat ‘pulang’. Sebuah memori yang membuat betah. Waktu diterjemahkan ke dalam lorong serupa spiral yang merentang ‘kini’ dan ‘dulu’. Mungkin juga ‘nanti’. Sama seperti ruang, waktu lalu tidak diperlakukan linear, melainkan parallel – bahkan acak.

Dengan perhatian yang sama terhadap waktu, kelompok “didedikasikan untuk komuter” meniadakan waktu tempuh yang melelahkan, juga ruang kosong yang membentang antara kota dan area suburban. Jalan tol, sebagai media penghubung, tapi juga pemisah antar ruang di dalam kota, lalu diokupasi dengan beragam kegiatan yang mengembalikan ikatan antar kepingan-kepingan kota, mengembalikan ruang-ruang premium kota kepada publik dan, yang terutama, mengembalikan para komuter ke dalam kota.

Masalah waktu tempuh, yang secara drastis mengurangi waktu yang berkualitas dari banyak sekali keluarga yang bermukim di area suburban, juga menjadi hal yang melandasi proposal “mobile house”.  Kelompok ini lalu memisahkan hunian menjadi ‘kepompong’ dan ‘inang’nya, atau yang mereka sebut core. Secara sporadis, core disebar di berbagai tempat yang potensial untuk menjadi magnet. Kepompong memiliki kebebasan untuk melekat di mana saja tergantung pada pilihan kegiatannya. Dengan demikian, hunian bergeser dari makna konvensionalnya, tidak lagi terikat oleh tempat, melainkan program.

Kesementaraan dan fleksibilitas ruang dicerna kelompok “topical capsul bungalow” dengan cara yang sedikit berbeda. Di sini hunian benar-benar dilepas dari anasirnya, jadi satu badan yang kompak dan lengkap hingga tak perlu terikat tidak saja tempat, tapi juga program. Ia bisa hinggap di mana saja dalam kondisi apa saja. Karena itu, material penyusun dan utilitas pendukungnya menjadi sangat penting untuk mempertahankan keberlanjutannya.

Dalam skala luas, masalah keberlanjutan diangkat oleh kelompok “linear city”. Kelompok ini mengkonversi gelar kota dari horizontal menjadi vertikal. Seluruh fungsi ditumpuk dan dijajarkan secara linear pada jalur utama, sehingga tercipta bentang hijau yang cukup luas di daerah yang ditinggalkan, yang bisa dimanfaatkan sebagai area resapan, lahan pertanian, peternakan, rekreasi, hutan lindung, dan fungsi-fungsi lain yang bisa menjadikan kota satu lembaga yang mampu menghidupi diri sendiri.

Kegagalan kota menyediakan ruang tinggal untuk semua, ditanggapi dengan simpatik oleh kelompok “ruang mimpi”. Merefleksi kondisi masyarakat marjinal, usulan yang diajukan sama sekali tidak konfrontatif terhadap kesewenang-wenangan yang biasa terjadi – melainkan adaptif. Dengan rumah siap gusur, mereka menanggapi penggusuran dengan desain rumah beroda yang ringan dan murah. Dengan tak terjangkaunya harga rumah permanen di tengah kota oleh masyarakat marjinal, kelompok ini mengusulkan pemanfaatan  tepi rel kereta untuk jadi rumah sewa manusiawi yang dikelola oleh Jawatan Kereta Api. Mungkin takkan lagi jadi mimpi untuk punya hunian, di pinggir rel sekalipun.

Selain rel kereta api, kota penuh dengan “ruang bayangan” – ruang-ruang sisa yang nyaris dianggap tak ada: kolong jembatan, tepi sungai, belakang gedung tinggi. Ruang bayangan selalu bersifat ambigu. Terabaikan oleh pengelola kota, ruang-ruang ini selalu dilihat sebagai peluang oleh masyarakat pinggiran. Proposal ini mencermati beberapa titik di dalam kota dan mencoba mengolahnya untuk dimanfaatkan sebagai hunian yang layak. Bambu digunakan sebagai katalis yang memungkinkan simbiose mutualisma antara ruang dan program yang ditawarkan.

Kemampuan manusia untuk beradaptasi, terutama pada bencana, dijadikan ide dasar oleh kelompok “nenek moyangku seorang pelaut” untuk menelurkan gagasan mereka tentang rumah apung. Di sini, banjir tidak lagi dilihat sebagai satu bencana yang menyedihkan, tapi ‘musim’ yang akan terus menerus datang. Rumah apung, yang bisa mengakomodasi satu atau lebih keluarga selama beberapa hari adalah usulan mereka. Air, diakrabi – seperti nenek moyang kita dulu ketika pertama datang ke kepulauan ini.

Kota, mungkin akan jadi ruang tinggal yang lebih baik jika segalanya dikembalikan pada tubuh – sebagai subyek – dalam mengalami ruang. Kurang lebih begitu yang diimplikasikan oleh kelompok “kota skala kita” dan “black out architecture”.

Bandung, khususnya daerah Dago ditelaah dengan seksama, menggunakan tubuh sebagai parameter, untuk mendeteksi masalah-masalahnya. Kesemrawutan, keberagaman fungsi yang terkotak-kotak dan tidak saling berhubungan, mobil yang menciptakan jarak antara manusia dengan kotanya, ditera sebagai masalah di daerah ini. Kota lalu dipecah menjadi serangkaian pengalaman sensorik yang menerus dan simultan dengan membagi dan menjalinnya ke dalam lapis demi lapis ruang. Dago lalu menjadi sehimpunan ruang yang kaya, dengan sequence yang tak pernah sama.

Proposal “black out architecture”, secara sederhana mengingatkan kita pada satu fakta yang sangat purba, bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak hanya untuk ‘melihat’ tapi juga ‘mengalami’. Dalam melihat, selamanya ada ‘jarak’. Mungkin itu yang mengakibatkan kegagalan penataan kota kita. Mungkin itu alasan kenapa ruang tinggal kita menjadi begitu asing. Mungkin itu sebabnya kita, sebagai arsitek dan calon arsitek, harus belajar untuk menjadi lebih peka. Dengan instalasinya, kelompok ini mengajak kita menajamkan indera dan menghayati pengalaman ruang.

Mengambil ‘tubuh’ sebagai analogi, kelompok “metabolisme kota Jakarta” mencermati Jakarta sebagai sebuah tubuh yang sakit. Masalah di petakan ke dalam titik-titik, alur-alur, dan pergerakan. Seperti dokter, kelompok ini mengusulkan penguraian jaringan yang kusut,  relokasi, dan rehabilitasi lingkungan yang bermasalah. Sehat? Tak ada jaminan. Kita cuma ditantang untuk mencobanya.

Masih menggunakan ‘tubuh’ sebagai parameter yang unik, kelompok “rumah ini tidak untuk dijual” menolak komodifikasi dari hampir segala sesuatu. Rumah, diretas jadi satu entitas yang sangat personal, tapi juga sangat fleksibel, hingga tak bisa dijual – sebelum dikembalikan ke kondisi generiknya. Ia bisa berdiri sebagai satu unit tunggal, maupun majemuk, dengan penyelenggaraan yang sangat mudah – hampir seperti permainan anak-anak yang menyenangkan. Proposal ini menjadikan ruang tinggal sebagai satu domain yang unik, dan  pengalaman yang asyik.

Fashion, juga digunakan sebagai satu bahasa untuk mendekati arsitektur. Dalam “fashion, Bandung, arsitektur”, Dago, sekali lagi, ditelaah sebagai satu area yang mengalami perubahan fungsi, dari hunian ke komersial. Perubahan yang parsial mengakibatkan pengalaman ruang yang terpenggal-penggal. Kelompok ini berusaha mengaitkannya dengan fungsi-fungsi kecil yang diibaratkan sebagai aksesori dalam fashion.

Dari 17 proposal yang terjaring, pada akhirnya memang tinggal 14 yang tersisa. Dalam bengkel kerja ini telah terjadi pergulatan pemikiran, kritik-kritik tajam dari reviewer tetap dan reviewer tamu, ide yang dikunyah dan diperdalam lagi, masalah yang dipersempit, niat dan kesiapan yang maju mundur, namun semangat yang tak pernah kendur. Bangkel kerja yang diselenggarakan dengan tanpa biaya (terima kasih untuk Komunitas Salihara yang dengan murah hati menyediakan tempat dan segala sarana kerja yang kami butuhkan) akhirnya berujung di pameran ini. Saya berani berkata bahwa bengkel kerja ini, pilot project dalam tradisi Arsitek Muda Indonesia, telah berjalan dengan baik. Apa yang telah terjadi mungkin bisa dikemas dalam beberapa kalimat.

Kita memiliki generasi arsitek muda yang berpikiran terbuka, penuh semangat, berani mendobrak paradigma lama dan mengeksplorasi ide-ide baru – yang radikal sekalipun. Antusiasme mereka menunjukkan kepedulian, bukan cuma untuk menguji diri, tapi untuk berbuat sesuatu bagi orang lain. Kota, bisa saja telah membuat kita menjadi sehimpunan orang yang skeptis. Tapi workshop ini, mudah-mudahan, adalah sebutir garam dunia.

avianti armand

all

 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
« Arsitektur? Propaganda Sosial?
Grey House »

Leave comments

Click here to cancel reply.








  • Home
  • We are the Jongs!
  • Grab a magz!
  • jongBincang!
  • Meet and Greet :)
  • Need to Contact Us?
  • Shop!
  • News and Updates
  • We Proudly Present..
    • We are Architects
    • Brilliant!
    • Architect Does!
  • digiMove
  • Follow Us On

  • Recent Posts

    • jongBincang! Julien de Smedt by Vidour
    • #KelasInspirasi : Mari Berbagi Mimpi!
    • Panel Diskusi : Metode Masa Kini Konservasi Bangunan
  • Recent Comments

    • irma rachmasari on VIDOUR : Arsitektur Rumah Indonesia?
    • cung on jongJelajah! Singapura
    • frumensius rosman leku on vidour : Wae Rebo Series – Ngole Wae Rebo | Wae Rebo Journey
  • architerian-160-60-1
  • vidour
 
Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
Wordpress, theme design by Infochel. Hosting by Raxdata Networks.