Logo

Akar

18 October 2009 - 22:21 by Admin.
Categories: Brilliant!

banner-akar

Ada yang lebih kuat dari air, ketika sungai Cijulang membelah dataran Batu Karas selama berpuluh – mungkin bahkan beratus – tahun. Ada yang tetap kukuh ketika badan air hijau gelap berkekuatan besar itu menoreh permukaan, mengikis tepian, melepaskan batu-batu raksasa dari tempatnya dan menghanyutkannya begitu saja seperti perahu kertas. Perjalanan dengan sampan bermesin tempel dari dermaga Ciseureuh ke hulu menunjukkan hal itu. Bukan tebing-tebing tinggi yang jadi dinding-dinding di kiri-kanan sungai yang perkasa. Bukan gua besar dengan stalagtit dan stalagmit gelap yang menyerupai geligi naga raksasa. Tidak juga air terjun Palatar yang gemuruh di mulutnya. Melainkan: akar.

Cukang Taneuh, atau lebih dikenal oleh turis asing dan lokal dengan nama yang sama sekali tidak inspiratif – ‘Green Canyon’, terbentuk oleh dua hal. Air, yang bergerak dengan kekuatan destruktif, dan akar yang bertahan – mecengkeram tanah dan karang hingga tak hilang digerus arus. Sulur-sulur itu muncul ke permukaan, menjulur seperti tangan-tangan gurita, menggenggam kuat, lalu menghunjam lagi dalam-dalam. Seberapa dalam dan jauh, kita tak tahu. Tapi akar tak cuma memegang tanah. Ia tidak saja menyusun alas yang kuat bagi pokok-pokok untuk bertumbuh, tapi juga menghidupi mereka dengan segala unsur hara hingga menjadi pohon-pohon besar dengan dahan dan cecabang yang melangit. Seperti beringin dan waru itu. Juga kersen dan ketapang. Di sepanjang Cijulang, tiap kali kita tengadah, selalu ada hijau yang menahan matahari.

****

Kata ‘arsitektur’ – selamanya asing di tanah ini. Ia adalah istilah yang sebetulnya miskin, tapi sudah telanjur populer. Berasal dari kata yunani arche – yang berarti yang asli, yang utama, yang awal, dan tektoon – yang menunjuk pada sesuatu yang berdiri kokoh, tidak roboh, dan stabil, arsitektur seolah adalah teknik statika bangunan belaka. Lagi pula, modernitas memang telah melepaskannya dari penghayatan kosmis, magis, mitologis dan meletakkannya dalam kerangka penghayatan estetik yang otonom. Fungsional dan rasional.

Pendidikan formal arsitektur di Indonesia dimulai dengan landasan tersebut – sebuah pemikiran yang datang bersama kolonialisasi dari ‘barat’ . Awalnya, di masa penjajahan Belanda, mata kuliah arsitektur diajarkan sebagai bagian dari pendidikan insinyur sipil. Namun pada Oktober 1950, secara resmi didirikan sekolah arsitektur yang pertama, Institut Teknologi Bandung (dulu bernama Bandoeng Technische Hoogeschool, 1923). Dimulai dengan 20 mahasiswa dengan 3 pengajar berkebangsaan Belanda, dasar pengajarannya meniru sistem pendidikan tempat asalnya yaitu Technische Universiteit Delft di Belanda. Pendidikan arsitektur diarahkan ke penguasaan keahlian merancang bangunan, dengan fokus pada parameter yang teraga, yaitu fungsi, iklim, konstruksi, dan bahan bangunan. Hingga kini.

Padahal, sebuah rumah di Bali tidak hanya dibangun mengikuti mekanika teknik untuk dapat berdiri dan rumus-rumus dalam fisika bangunan yang dapat mengkalkulasi lebar tiap bukaan dan jumlahnya, untuk menghasilkan respons yang positif terhadap iklim. Dibantu oleh seorang undagi, pembangunan sebuah rumah selalu adalah sebuah ikhtiar untuk menegaskan kedudukan manusia dalam semestanya dan hubungan-hubungan yang tercipta antaranya. Ia adalah keseimbangan yang rumit antara asta kosala-kosali yang memuat aturan-aturan anthropometric, di mana sebuah rumah harus mengikuti anatomi dan ukuran tubuh si empunya, dan ketepatan tata sembilan arah mata angin yang tidak hanya menandai arah – kaja, kelod, kangin, kaluh – tapi juga kekuatan-kekuatan kosmis yang menyertainya: Wisnu di Utara, Brahma di Selatan, Iswara di Timur dan Mahadewa di Barat.

Sementara di Wae Rebo, sebuah desa di dataran tinggi Manggarai selatan, Flores, pembangunan sebuah rumah harus melibatkan banyak upacara. Wae Rebo adalah satu-satunya desa yang mempertahankan contoh asli rumah bundar beratap jerami (mbaru niang) di seluruh Manggarai. Kedatangan tiang tengah (ngando), sebatang kayu raksasa berukuran panjang sekitar 40 meter, akan disambut pesta meriah – dengan permainan gong, dan barisan wanita berpakaian adat lengkap yang indah. Tiang rumah itu, yang diambil dari hutan di gunung, dianggap sebagai ‘pengantin’, yang ruhnya harus dipulangkan – dengan berbagai ritual – kembali ke gunung, begitu tiba di tanah desa.

Tanah, juga tak dapat sembarangan diolah. Peletakan pondasi yang digali tanpa upacara yang sesuai, akan menyebabkan ia ‘menjerit’. Tanah dianggap sesosok manusia, dengan pikiran dan emosi sendiri. Ia memiliki: nafsu.Nafsu atau kehendak tanah inilah yang terkait dengan kebutuhan mengadakan ritual, terutama ritual pertanian berskala besar yang sering digambarkan sebagai ‘yang diinginkan tanah’. Nafsu ini juga terkait dengan semacam ‘energi tanah’ misterius yang dapat menyebabkan penyakit atau musibah.

Warga Wae Rebo juga mempunyai kisah tentang bagaimana beberapa panggung batu raksasa yang ada di desa ini dibangun dengan bantuan penunggu hutan atau jin. Jin ini mirip manusia cantik, memiliki rambut hitam yang sangat panjang, tetapi berjari enam di setiap tangan dan kaki.

Lepas dari kemajuan teknologi yang mampu mendatarkan dunia, masyarakat Baduy tetap membangun rumah dengan cara yang sama dengan leluhur mereka beratus-ratus tahun yang lalu – hanya menggunakan material setempat dan peralatan sederhana. Terikat pada kepercayaan spiritual purba mereka, Sunda Wiwitan – perpaduan antara Animisme dan Hindu, masyarakat Baduy menolak penggunaan segala penemuan modern, termasuk uang, irigasi, listrik, mobil, bahkan gunting kuku, sabun, dan cermin. Gubuk mereka tak memiliki perabot, dan hanya sedikit peralatan dapur dan baju seadanya. Sebagian besar orang Baduy tak dapat membaca – agama mereka melarang pendidikan. Pelanggaran yang berat terhadap tabu dapat mengakibatkan pembuangan dan pengasingan selamanya. Di sekeliling kampung, hutan dijaga, dan sebaliknya ganti menjaga kemurnian dan kelangsungan hidup mereka.

Sayang, rumah Bali, Wae Rebo, Baduy, juga banyak lagi di seluruh Nusantara, pelahan menghilang, makin lama makin sedikit jumlahnya. Mungkin memang ada yang tercerabut, saat ‘arsitektur’ masuk ke Indonesia. Kita tiba-tiba melompat dari ‘tradisi’ ke ‘modern’ tanpa runtutan proses yang seharusnya terjadi – sehingga pemahaman makna dan nilai-nilai berhenti di situ – di satu titik di masa lalu. Rumah tiba-tiba dilepaskan dari anasir kosmisnya menjadi sekedar ruang yang diterjemahkan dalam geometri – ruang yang telah jadi satuan kuantitatif, agar dapat dipergunakan buat segala hal, dari toilet sampai dengan rumah sakit, dari diskotik, sampai dengan masjid.

Mungkin tak ada yang salah, karena jaman toh memang berubah. 2009 telah jadi satu tempat yang asing untuk, bukan cuma arsitektur – tapi juga, segala yang ‘tradisional’. Tapi di dunia yang datar, di mana semua hal cenderung menjadi sama dan serupa, kita dengan mudah akan tersapu oleh apapun, gelombang demi gelombang. Kecuali jika kita ber’akar’.

Karena itu, ‘arsitektur’ tidak cukup. YB Mangunwijaya, biasa dipanggil Romo Mangun, paderi yang arsitek itu, mengusulkan ‘wastu’, sebuah istilah yang lebih kaya makna. Wastu – menyentuh apa yang juga disentuh oleh alam – dalam keindahan ikan-ikan tropika Laut Banda, bangunan-bangunan koral atau rumah siput, dan struktur jejari daun kelapa. Sesuatu yang mengatasi kegunaan dan material belaka, yang disebut dengan kata penuh pertanyaan: citra.

Citra menunjuk kepada yang transenden, yang memberi makna, yang mampu menghadirkan sesuatu di balik ‘yang di sini’. Maka ia bukan ‘tiruan’. Ia hadir dari permenungan dan pergulatan yang panjang, kesediaan untuk lepas dari kebiasaan dan tak lelah bertanya dan keberanian untuk berjalan di luar arus besar. Sendiri.

Arsitektur Indonesia, mungkin sebuah tema yang sudah agak basi untuk dibicarakan. Tapi ‘wastu’ dan ‘citra’ akan mengikat satu karya dengan tempat. Seperti Mexico yang mengendap dalam karya Luis Barragan – debu dan panas dari kota-kotanya, juga aroma bubuk cabainya yang pedas. Seperti prairie – padang-padang luas, di mana bentang alam dan kaki langit sejajar, yang tercatat di arsitektur awal Frank Lloyd Wright. Juga pada bangunan-bangunan Tadao Ando, di mana cahaya dan bayang-bayang sama sayu – seolah tersaring lewat dinding-dinding shoji. Seperti karya-karya Andra Matin, yang oleh Yoshio Futugawa, editor dari GA Document – publikasi arsitektur internasional terbitan Jepang – disebut sebagai sebuah paradox – “Andra Matin’s work seems to have more implications going beyond politely practicing modern architecture within the bounds of Indonesia.”

Kita boleh berharap banyak.

Avianti Armand
Pernah dimuat di U Mag

 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
« Matering Material
HelarFest09, Riuh Rendah 65 events!!! Ramaikan Bandung Kota Kreatif! »

Leave comments

Click here to cancel reply.








  • Home
  • We are the Jongs!
  • jongIndonesia!
  • Grab a magz!
  • jongBincang!
  • Meet and Greet :)
  • Need to Contact Us?
  • Shop!
  • News and Updates
  • We Proudly Present..
    • We are Architects
    • Brilliant!
    • Architect Does!
  • digiMove
  • Follow Us On

  • Recent Posts

    • Diskusi “Ruang Alternatif anak dalam Berkreasi dan Belajar”
    • Open House Exhibition : AFAIR 2012 “Play with Your Surrounding”
    • ARCHWORX oleh Himpunan Arsitektur Bina Nusantara
  • Recent Comments

    • cung on jongJelajah! Singapura
    • frumensius rosman leku on vidour : Wae Rebo Series – Ngole Wae Rebo | Wae Rebo Journey
    • Benzz on Indonesian Dream_0357 (2nd winner of the 2010 Skyscraper Competition)
  • architerian-160-60-1
  • vidour
 
Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
Wordpress, theme design by Infochel. Hosting by Raxdata Networks.