
Praktek moderen dalam merancang arsitektur rumah tinggal pribadi seringkali dihadapkan pada dua kekuatan bertentangan: antara memenuhi permintaan-permintaan spesifik klien atau pemilik dan sekaligus memenuhi ìkepantasanî. kriteria-kriteria ìkepantasanî diantara lain dipijakkan pada logika ekonomi, bahwa rumah dan tanah adalah ìpropertiî yang senantiasa diperjualbelikan. Lebih lanjut diterjemahkan sebagai ìasetî dan ditelaah kualitas-kualitasnya berdasarkan kemampuannya untuk ìcairî (likuid). Artinya, kualitas rumah dan tanah ~ ìruangî ~ dalam masa sekarang ini semakin tinggi ìnilainyaî bila memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai-nilai ini, bila dicermati, bahkan cenderung abstrak karena telah ditipologikan, diperingkatkan, digelembungkan. Ini adalah sebuah mekanisme produksi gagasan yang tidak kita mengerti betul akibat-akibatnya. Nilai-nilai ini (berserta logikanya) merasuk ke dalam ranah rumah tangga, ranah yang justru menjadi jiwa jadi sebuah rumah tinggal, ruang tinggal. Klien atau pemilik rumah tidak lagi dapat mengenali mana yang merupakan nilai-nilai penghidupan mereka sebagai sekelompok manusia yang berkeluarga.
Keunikan dari unit terkecil persekutuan manusia ini sirna seiring dengan menguatnya nilai-nilai mendiktekan keseragaman. ìproduk investasiî ini harus memenuhi persyaratan untuk dapat dijual pada ìpasarî yang sesuai. Bila menengok sejenak ke belakang, sebenarnya kita belum lama mengadopsi logika ini. seorang undagi akan mengukur tubuh sang pemilik rumah untuk menentukan satuan-satuan yang akan digunakan dalam membangun sebuah rumah bali. rumah dahulu kala adalah perwujudan fisik pemahaman kosmos dan domain seseorang, namun sekarang adalah sekadar wadah yang dapat ditukar. Saya membayangkan apabila ruang tinggal bagi manusia diciptakan dengan terbebaskan dari tuntutan logika eksternal* semacam itu. Sebuah ruang tinggal dirancang tidak untuk dijual, namun untuk digunakan, ditinggali, dihidupi, dan dirawat secara turun temurun. bisa jadi kota tidak lagi disesaki oleh ruang-ruang mubazir hasil gelembung, dan bisa jadi di dalam kota-kota kita akan tumbuh berbagai tempat yang lebih unik karena tidak didikte oleh logika yang seragam.
Setiadi Sopandi, Rendy Aditya, Christopher Surya, Kezia Paramita, Daniel Ciayono, Erika Pyanto









by basz
On November 3, 2009 at 3:28 pm
jatuh cinta dengan penyampaian idenya. keren!
by murno khuarizmo
On November 3, 2009 at 11:45 pm
egois…
by kezia
On November 26, 2009 at 5:58 pm
eh ada artikelnya. thx jongarsitek!
by christopher_ong
On November 26, 2009 at 6:18 pm
it’s an optional way to make our city more colourful and vibrant.compared to present estates and massproduced houses we have right now ? yes please.
by muhammad sagitha
On December 1, 2009 at 7:03 pm
feels like cappadocia,turkey.they dig their own house to hide on crusades war