Logo

Rumah Tuhan

17 November 2009 - 16:58 by Admin.
Categories: Brilliant!

banner-rmh-tuhan

Ini bukan percakapan fiktif, tapi benar-benar terjadi dalam sebuah pemaparan desain untuk rencana induk sebuah pusat kesenian di Cikini, pada suatu instansi pemerintah terkait yang identik dengan seragam berwarna khaki. Satu dari gugusan massa yang didesain adalah sebuah masjid.

T(anya) : Desain masjidnya kok sederhana sekali?

J(awab) : Memang tidak perlu mewah kan, pak?

T : Kok nggak ada kubahnya?

J : Memang tidak perlu kubah kan, pak?

T : Lalu bagaimana orang bisa langsung tahu kalau itu mesjid?

J : Memang tidak perlu langsung tahu kan, pak? Tapi nantinya, dengan bantuan signage, orang

akan tahu.

T : Begini ya, mbak, desain bangunan kan harus kontekstual, mengandung unsur setempat.

Arsitektur mesjid setempat yang ada selama ini kan sudah identik dengan kubah. Selain itu

harus ada ornamen islaminya, dong. Kalau tidak begitu, ini bisa jadi bangunan apa saja kan?

Lalu desain masjid yang sederhana itu ditolak, karena ia tidak mengenakan kubah di kepalanya dan tidak memiliki ornamen islami – apapun itu – pada tubuhnya. Tanpa keduanya, desain yang kami ajukan tidak bisa disebut masjid.

Padahal : kubah atau dome, punya sejarah panjang yang awalnya sama sekali tak berkaitan dengan Islam. Kubah pertama yang tercatat dibangun tak lama sesudah kebakaran besar di Roma pada tahun 64 masehi, di Domus Aurea yang terletak pada lereng gunung Palatine. Sedang kubah, sebagai sebuah fitur dalam arsitektur masjid, baru tercatat paling tidak sekitar abad 12. Jika masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah –  Masjid Quba dan Masjid Al Nabawi di Medina –  berangka tahun 622 masehi, maka sangat mungkin keduanya tak berkubah awalnya.

Padahal : Masjid Hagia Sophia, yang arsitektur kubah raksasanya menjadi model dari banyak masjid dinasti Ottoman yang agresif menyebarkan Islam ke daratan Eropa –  seperti Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), Masjid Sehzade, Masjid Suleymaniye dan Masjid Rustem Pasha –  pada mulanya adalah sebuah patriarchal basilica. Sebuah katedral, yang dibangun atas perintah Justinian, seorang kaisar Kristen, pada tahun 532 hingga 537 masehi, dan dianggap sebagai puncak kejayaan arsitektur Byzantine.

Padahal : Adalah arsitektur Kristen Renaissance yang mempopulerkan bentuk kubah semenjak abad ke 15 dan mencapai puncaknya pada awal abad ke 18 dalam periode Baroque.  Penyebaran arsitektur kubah ini  tidak hanya melingkupi Eropa, tapi meluas hingga ke Turki, India, dan Timur Tengah. Di area ini, model kubah yang paling banyak dipakai adalah yang berbentuk bawang. Seperti Taj Mahal di India, makam mewah tanda cinta.

Padahal : Masjid Demak, masjid pertama di pulau jawa yang dibangun pada tahun 1474 oleh para wali, memiliki atap miring bersusun yang menyerupai konstruksi atap pagoda atau kuil-kuil Hindu. Demikian juga Masjid Agung di Jogjakarta. Arsitektur masjid di Jawa ini bahkan pada akhirnya mempengaruhi bentuk arsitektur masjid Negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei, dan Filipina Selatan. Tak ada kubah di sana.

Jika masjid berakar kata sa-ja-da yang artinya bersujud, bukankah hanya itu yang penting? Tempat bersujud –  memuliakan namaNya?

Tapi, baiklah. Ini sekedar masalah identitas. Kubah telah dipilihkan oleh sebuah konvensi untuk menjadi identitas bagi arsitektur masjid, sehingga lalu ada ke’kubah’an dalam Islam. Sama seperti ada kaligrafi Arab dan ayat-ayat Qur’an di dinding-dinding atau langit-langit masjid dalam Islam. Keduanya menjadi penanda atau simbol untuk menghadirkan Islam dalam sebuah bangunan. Mungkin itu yang dimaksud oleh bapak berseragam khaki di atas sebagai ‘ornamen islami’.

Ini adalah sebuah religious symbolism : penggunaan symbol-simbol, termasuk bentuk-bentuk arsitektur, seni, kejadian-kejadian, atau fenomena alam, oleh sebuah agama. Simbol-simbol membantu menggaungkan mitos-mitos yang mengekspresikan nilai-nilai moral dari ajaran tersebut, membina solidaritas diantara sesama pemeluk, dan membimbing mereka untuk lebih dekat pada yang dipuja.

Simbol punya keterikatan sejarah yang tidak selalu datang dari dalam. Lebih sering itu adalah hasil dari sebuah kesepakatan yang politis sifatnya. Dan simbol adalah perangkat yang paling mudah digunakan untuk mendefinisi sebuah rumah ibadah atau rumah Tuhan. Seperti patung ayam di pucuk atap gereja Calvinist. Seperti salib di gereja Protestan dan Katolik. Seperti bintang David di rumah ibadah Yahudi.

Namun, adakah Tuhan di rumah Tuhan itu?

Seorang teman menemukan Tuhan dalam kabin pesawat yang sempit, ketika ketakutan dan kekaguman akan ketidakberdayaan begitu dekat. Ketika hidup dan mati dipisahkan hanya oleh hal-hal yang kita tidak tahu dan bisa terjadi kapan saja. Ketika keagunganNya terbentang luas di bawah kakinya yang hanya bisa pasrah.  Teman yang lain menemukan Tuhan di wajah anaknya yang sedang nyenyak tidur. Teman lain lagi menemukan Tuhan dalam mata kekasih dan senyum di balik gerimis.

Ada tempat-tempat dan situasi tertentu yang menggugah jiwa kita untuk bersujud dan menyebut namaNya dalam kekaguman yang, sesungguhnya, tak terkatakan : Allah Maha Besar. Maha –  diucapkan untuk melampaui yang terukur: puncak gunung, jurang yang dalam, laut yang bergelora, matahari terbenam, kelahiran, kematian, gunung meletus, hutan hujan, hujan, lembah hijau, cahaya, fajar menyingsing, bintang jatuh. Dan kita terpana, terpesona, tak berdaya akan kebesaranNya.

Tidak semudah menyematkan simbol, membangun sebuah rumah ibadah – Rumah Tuhan – pada dasarnya adalah sebuah upaya mereplika kondisi di atas ke dalam sebuah ‘ruang’ untuk mendapatkan kembali pengalaman itu. Momen keterkejutan, ketakutan, kekaguman pada kehadiran Tuhan. Kehadiran itu sendiri relatif. Tidak pernah sama. Tidak mungkin terulang. Karena itu, setiap usaha akhirnya adalah ikhtiar yang sayup. Dalam upayanya, manusia lalu mencari tempat-tempat yang menakjubkan sebagai titik meletakkan batu untuk rumah Tuhan. Pura Besakih adalah satu contoh. Bayangkan sebuah dini di sana. Di ketinggian lereng Gunung Agung itu ada gugusan pura yang masih hitam. Diam. Tapi langit begitu hidup, gumpalan awan itu begitu takjub, menyingkir pada cahaya yang sedikit tapi kuasa memulai hari. Besakih tak pernah lebih dari saksi yang tergetar. (Foto 1)

Hal yang sama dilakukan oleh arsitek yang merencanakan dan mendirikan biara-biara di Eropa. Juga Borobudur di Jawa (Foto 2). Juga masjid Iqbal di Lahore, Pakistan (Foto 3). Letak batu pertama  menentukan. Di tempat-tempat itu, manusia lalu jadi ‘kecil’ dan Dia yang hadir melalui bentang alam yang menakjubkan itu menjadi Maha Besar. Skala, proporsi, memegang peran penting dalam desain sebuah rumah Tuhan di mana Tuhan hadir melalui ketinggian dan kemegahan.

Tapi momen adalah tentang waktu. Dan waktu pertama-tama ditera melalui cahaya. Cahaya menyebabkan waktu memiliki kualitas ruang dan ruang menjadi mungkin. Terukur – pagi, siang, malam, detik, menit, tahun. Terindera dan bisa dikenali. Tapi ia juga, dengan segala ketakterdugaan dan perubahan yang selalu, menyadarkan kita akan kehadiran yang tidak. Karena itu, cahaya adalah ‘material lain’ yang penting ada dalam desain sebuah rumah ibadah. Sesuatu yang secara intuitif  kita hadirkan untuk menyadari Yang Tak Terukur.

Terang di atas, gelap di bawah. Dalam desain gereja gothic, jendela kaca yang memasukkan cahaya selalu berada di atas kepala (Foto 4). Cahaya masuk secara dramatis dari atas membelah gelap di ketinggian manusia. Di sini, Tuhan hadir sebagai cahaya. Dia dilukiskan sebagai Yang Tinggi, yang jauh dari jangkauan dan kemampuan manusia untuk mengerti. Cahaya juga yang membelah ruang menjadi gelap dan terang. Dan kontras digunakan untuk menandai wilayah itu, gelap yang akrab dan terang yang tak dikenal. Melalui momen-momen yang selalu berubah dan tak terduga itu pula kita belajar tentang yang sementara dan yang kekal. Dan tak habis-habis menjadi takjub.

Namun, sesudah semua itu, saya lebih percaya bahwa sesungguhnya sebuah rumah Ibadah, lengkap dengan symbol-simbol dan kualitas sakralnya, hanyalah sebuah ruang transisi yang dimaksudkan untuk membantu kita pergi ke satu ruang yang lebih pribadi. Lebih sakral. Suwung.

Maka jika kamu minta saya menulis, adakah Tuhan di rumah Tuhan; selamanya pena saya akan tergantung di udara, tak mampu mendarat pada bahkan satu titik pun.

Avianti Armand

Pernah di muat di U Mag

 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
« Jakarta Architecture Triennale dalam kamera.
Pemenang 1 Tiket Gratis Seri Kuliah Umum Jakarta Architecture Triennale 2009 »

3 comments for “Rumah Tuhan”

by hendra permana

On November 21, 2009 at 3:46 pm

suka artikel ini, betul brilliant!

by gibran

On February 11, 2010 at 11:44 am

Mungkin tuhan memang tidak pernah ada di rumahNya, dia selalu berkeliling mendatangi hati orang2 yang mengingatNya

by brahmono aji

On June 16, 2010 at 3:21 pm

Sangat brilliant…
Lalu menjadi pemikiran apakah “rumah Tuhan” tersebut memang sebaiknya dikondisikan untuk umat-Nya merasa takut dan jauh dengan skala “giga” arsitekturnya? Ketika sebenarnya Tuhan itu berada pada diri mereka masing-masing..

Leave comments

Click here to cancel reply.








  • Home
  • We are the Jongs!
  • Grab a magz!
  • jongBincang!
  • Meet and Greet :)
  • Need to Contact Us?
  • Shop!
  • News and Updates
  • We Proudly Present..
    • We are Architects
    • Brilliant!
    • Architect Does!
  • digiMove
  • Follow Us On

  • Recent Posts

    • jongBincang! Julien de Smedt by Vidour
    • #KelasInspirasi : Mari Berbagi Mimpi!
    • Panel Diskusi : Metode Masa Kini Konservasi Bangunan
  • Recent Comments

    • irma rachmasari on VIDOUR : Arsitektur Rumah Indonesia?
    • cung on jongJelajah! Singapura
    • frumensius rosman leku on vidour : Wae Rebo Series – Ngole Wae Rebo | Wae Rebo Journey
  • architerian-160-60-1
  • vidour
 
Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
Wordpress, theme design by Infochel. Hosting by Raxdata Networks.