Logo

Pemenang 1 Tiket Gratis Seri Kuliah Umum Jakarta Architecture Triennale 2009

18 November 2009 - 18:08 by Admin.
Categories: Brilliant!, News and Updates

banner-afford2

Setelah menerima 11 entry, kami memilih 3 entry sblm akhirnya menetapkan satu pemenang. ketiga visi ini sangat berbeda satu sama lain, namun semuanya memiliki kejelasan dan semangat untuk membuat sebuah festival arsitektur yg bukan terasa seperti turunan dr tema yg ada sekarang, melainkan sesuatu yg sama sekali berbeda, dan memberikan keragaman bagi wacana arsitektur Indonesia.

The end of time, This Is (not) architecture, dan Beyond Architecture adalah 3 proposal terpilih yg kami pikir memiliki potensi untuk memancing wacana arsitektural, apabila di lempar ke dalam ruang publik. Masing-masing menjadi menonjol karena menjadikan isu-isu kekinian sebagai latar belakang pemikiran.

This (is) not architecture terpilih karena kami merasa, proposal visi ini memiliki potensi utk dapat mengangkat keunikan karakter urban dan karakter arsitektural di Indonesia. Proposal ini dirasa dapat memancing sebuah wacana urbanisme dan arsitektural, yang memberikan peluang munculnya pemikiran-pemikiran yg lebih segar, dengan berdasar pada karakter lokal yg nyata.

Akhir kata, kami ucapkan selamat kepada pemenang, Kristanti D Paramita, dan berharap serial kuliah umum besok dapat menginspirasi.

Salam,

JongArsitek!

This is (not) Architecture

Proposal saya bagi visi JAT 2012 ini mengambil ide dari judul sebuah buku karya Kester Rattenbury yang berisi  kumpulan esai mengenai perwujudan arsitektur yang serba beragam representasi maupun persepsinya. Mungkinkah arsitektur dapat hadir dalam berbagai bentuk dan dibahas dan dikritisi dari berbagai bentuk? Mungkinkah arsitektur dapat lebih dari kumpulan gambar hasil render arsitektur yang serba mewah dan berkilat maupun foto bangunan dan bangunan sebagaimana kebiasaan selama ini dalam berbagai pameran arsitektur di negeri ini?

Proposal ini bertujuan untuk mengaburkan batasan antara persepsi arsitektur yang umum dalam anggapan khalayak. Arsitektur selalu bercerita mengenai keterhubungan antara manusia dengan suatu bentukan ruang, dan tidaklah selalu ruang tersebut harus berwujud bangunan maupun berwujud sesuatu yang rigid dan direpresentasikan demikian pula. Ketika dunia sedang dilanda krisis ekonomi pada awal era 1960an, kumpulan anak muda bernama Peter Cook, Ron Herron, David Green, Warren Chalk, Dennis Crompton dan Michael Webb meluncurkan sebuah publikasi yang bernama Archigram atau merupakan akronim dari Architecture Telegram. Ketika krisis ekonomi berpengaruh pada merosotnya tingkat pembangunan, buletin ini menjadi angin segar bagi dunia arsitektur pada saat itu. Grup kelahiran Inggris ini menjadi terkenal dan menerima berbagai bentuk penghargaan (yang terakhir merupakan penghargaan RIBA Royal Gold Medal pada tahun 2002) karena buletin arsitektur yang terbit selama dua tahun itu memuat berbagai karya-karya proposal arsitektur dari enam orang tersebut yang memiliki sifat visioner dan anti heroik, serta berbasis isu-isu sosial masyarakat yang hingga kini masih sangat relevan. Skalanya sangat besar mulai dari satu bentukan sel hingga hingga sebuah kota, dan mampu menginspirasi arsitektur Inggris hingga puluhan tahun berikutnya.

Salah satu karya Archigram yang saya anggap relevan untuk dicantumkan dalam esai ini adalah Cuishicle. Cuishicle bercerita mengenai sebuah penemuan yang memungkinkan manusia untuk membawa lingkungan hidupnya dalam satu paket dan diangkut sekaligus dalam sejenis ransel, dan dapat dikembangkan untuk dipakai sewaktu-waktu. Andaikata tidak mengingat bahwa karya ini diciptakan empat puluh tahun yang lalu, penemuan ini tidaklah mencengangkan untuk skala saat ini dimana segalanya telah hadir dalam skala serba kapsul.

Figure 1.(Kiri) desain Cuishicle dan (kanan) penerapannya dalam bentuk nyata (sumber: www.archigram.net) Figure 1. penerapannya dalam bentuk nyata (sumber: www.archigram.net)

Dalam bentuk sederhananya, karya ini telah banyak hadir di Indonesia, dalam bentuk yang tidak diduga-duga. Salah satu bentuk implementasinya dapat ditilik dari pengalaman saya. Saat itu saya melewati jalanan Ibu Kota dalam suatu malam dan melihat seorang pemulung dengan gerobaknya. Awalnya saya tidak terlalu menaruh perhatian, namun saya ingat betapa kagetnya saya ketika gerobak itu ternyata mampu memuat sebuah keluarga kecil. Sang pemulung, istri dan kedua anak mereka yang masih belia. Kedua anak itu bermain dengan sangat lugu di dalam gerobak tersebut, seorang di antaranya membawa sebuah boneka yang dibuat dari botol plastik bekas. Di dalamnya ada pula berbagai barang-barang kebutuhan sehari-hari. Pemandangan yang tidak ada bedanya dengan pemandangan yang biasa dilihat di ruang keluarga suatu rumah. Lalu, apakah gerobak itu arsitektur? Atau (bukan) arsitektur alias mungkin arsitektur yang dianggap tidak layak disebut arsitektur?

Visi ‘This is (Not) Architecture’ merupakan sebuah proposal untuk berpikir lebih jauh dan lebih terbuka terhadap keragaman arsitektur yang hadir di sekeliling kita. Mengajak untuk lebih tanggap dan sensitif terhadap isu-isu sosial yang menyertai keragaman ini, serta mengupas kembali arti hibridisasi atau pencampuran dalam arsitektur yang terkadang sering hadir dalam bentuk yang klise dan mudah ditebak karena terjebak dalam pemikiran metaforis semata. Misalnya, apakah arsitektur yang berkolaborasi dengan seni tari lantas menjelma menjadi bangunan yang bentuknya melenggok, dan lain sebagainya. Mungkinkah inspirasi ini muncul dalam bentuk yang sifatnya lebih hibrid dan mengena serta tetap dapat menyelesaikan sekelumit permasalahan sosial? Di negara tetangga kita Australia, hibridisasi arsitektur ini muncul dalam desain infrastruktur karya Sean Godsell Architects di bawah ini. Halte bus ini adalah halte bus biasa di siang hari, namun berfungsi ganda bagi semacam hotel bagi tunawisma di kala malam. Halte bus ini memiliki laci berisi selimut, makanan dan air, serta tempat duduk yang bisa diubah menjadi tempat tidur yang layak.

Figure 2. Bus Shelter House

Kolaborasi antara arsitektur dan seni dapat terlihat pula dalam gambar halte bus di London berikut ini yang tempat duduknya merupakan instalasi seni berupa ayunan.

gambar-4

Halte bus ini memiliki konsep ‘Bus stop swing set makes commuting a bit more fun’ yang berkaca pada permasalah para komuter yang bosan dengan rutinitas mereka sehari-hari. Di sini halte tersebut menjadi ruang yang sangat berbeda dengan pemikiran yang sangat sederhana pula, yang sifatnya lebih bertitik utama kepada pemakaian (use) dibanding pertimbangan estetis .

Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah ini arsitektur? Atau (bukan)?

*

Referensi:

www.archigram.com

www.seangodsell.com

www.dvice.com

 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
« Rumah Tuhan
Launching Workshop Creative City Movement, South Braga »

1 comments for “Pemenang 1 Tiket Gratis Seri Kuliah Umum Jakarta Architecture Triennale 2009”

by Ranny Monita

On December 10, 2009 at 4:17 pm

kak kriis.. aku bangga padamu.. ^^
selamat yah..

Leave comments

Click here to cancel reply.








  • Home
  • We are the Jongs!
  • Meet and Greet :)
  • Grab a magz!
  • Need to Contact Us?
  • News and Updates
  • We Wear This!
  • We Proudly Present..
    • We are Architects
    • Brilliant!
    • Architect Does!
  • digiMove
  • Follow Us On

  • Recent Posts

    • Indonesian Dream_0357 (2nd winner of the 2010 Skyscraper Competition)
    • Press Release : jongArsitek! Perayaan hari jadi ke 2 dan Peluncuran agenda 2010
    • 100/1 AFFAIRS LOGOSET
  • Recent Comments

    • dhany on jongArsitek! Ulang Tahun Ke 2, Diskusi dan Peluncuran Agenda 2010! Datang dan Ramaikan!
    • Abimantra on Coming Soon: Pameran Arsitek Muda Nasional
    • relan on We Are Supporting Our Neighbourhood : Fold : Off Line
 
Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
Wordpress, theme design by Infochel.