
Dalam karya kami berkata.
Suasana pameran karya arsitektur memang diam seribu bahasa. Hanya menyajikan panel-panel bisu untuk diselami kedalaman isinya. Namun jauh didalam panel bisu tersebut, para arsitek penyaji mencoba menghadirkan pemikiran-pemikiran yang eksploratif. Pemikiran yang selalu bergerak dalam diamnya, dan kali ini pemikiran tersebut mengenai Bandung, New Ideas For A New Bandung yang menjadi tagline re-inventing vol.2.
Re-Inventing vol.2 kali ini mencoba memaparkan perubahan suatu kawasan dari wajah lamanya menuju wajah baru. Perubahan yang disebabkan perkembangan zaman, perubahan masyarakat kota untuk menyikapinya dan merubah gaya hidupnya baik sadar maupun tidak sadar. Perubahan tersebut dirasakan di berbagai aspek kehidupan, yang mengakibatkan terus berubahnya perilaku masyarakat. Dalem Kaum, Dago, Cihampelas, Sukajadi mengalami perkembangan tersebut, masyarakat baru yang mendiami kawasan tersebut memetamorfkan kawasan tersebut, memberikan warna-warna baru pada masyarakat dan lingkungan fisiknya.
Diawali dengan pra-event pada tanggal 1 November yang bertempat di Bale Handap, Selasar Sunaryo, penggarapan kawasan-kawasan tersebut dimulai. Pada kesempatan tersebut, ditentukan kawasan-kawasan yang akan dijadikan sebagai proyek dari masing-masing peserta.
Design Sharing pada tanggal 15 November menjadi acara diskusi yang mempertemukan para tim sebelum akhirnya bersama-sama menggelar pameran. Tiada lain dan bukan, acara ini meramaikan pandangan setiap timnya dalam melihat kawasannya masing-masing, dan tentunya menambah semarak masing-masing pesertanya agar terus berkutat dan bertarung menyelesaikan “reinvent kawasannya”.
Minggu, 30 November 2009 merupakan opening dari pameran Re-Inventing vol.2 yang akan berlangsung di enam tempat yaitu Itenas, UPI, ITB, sarana budaya Ganesha, Allun-alun Mesjid Agung, dan Selasar Sunaryo. Opening tersebut bertempat di Labo The Mori, Dago Atas, Bandung dan dimulai pada pukul 20.00. Dinginnya Dago malam itu tidak menyurutkan antusias peserta dalam mempresentasikan rancangannya. Walau hanya terdapat 4 site, namun pendekatan dan penyelesaian desain yang muncul dari setiap timnya sangat berbeda-beda.
Peluncuran malam itupun berakhir dengan banyak harapan, perbedaan sudut pandang memberikan variasi pilihan, dan semoga hal tersebut dapat memperkaya pandangan masyarakat luas yang menjadi tujuan utama dari reinventing vol.2. Pameran telah dibuka, road show telah berjalan, dan semua tempat tersebut terbuka untuk dikunjungi.
Reinventing vol.2 is on Alun-alun!!
Roadshow telah berjalan mengunjungi beragam lapisan masyarakat. Akademisi, dekan, rektor, mahasiswa, masyarakat umum, pedagang kaki lima, preman alun-alun, dan masih sederetan lainnya pengunjung dari pameran reinventing. Beragam pesan dan kesan menjadikan reinventing lebih kuat dan lebih berkesan di setiap tempatnya. Perjalanan proses pengerjaan yang singkat tidak menyurutkan apa yang ditampilkan para peserta.
Minggu sore tanggal 7 Desember, reinventing menarik perhatian masyarakat di sekitar alun-alun. Bertanya, membaca, dan mencoba menangkap apa yang menjadi buah pemikiran para peserta tampaknya kegiatan yg terjadi disekitar putaran tempat pameran. Singkat kata panitia kehebohan sendiri untuk menjawab pertanyaan para masyarakat. Antusias masyarakat bertanya, bahkan ada saran yang paling sering diucapkan; mengapa arsitekturnya tidak sunda bgt? Kira-kira begitulah kalau diartikan dari bahasa sunda.
Hm, ternyata isu lokalitas bukan disadari oleh kalangan arsitek saja, namun masyarakatpun menyadari isu tersebut. Rasanya memang benar bahwa kota adalah milik bersama, that’s why, city needs people. // see you on next place, see you on selasar sunaryo! Hatur nuhun
Bersambung….
Putri Kusumawardhani
Review Re Inventing Bandung 2009
Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, masyarakat kota terus berubah dengan pasti. Perkembangan tersebut menuntut masyarakat kota untuk menyikapinya dan merubah gaya hidupnya baik sadar maupun tidak sadar. Perubahan tersebut dirasakan di berbagai aspek kehidupan, yang mengakibatkan terus berubahnya perilaku masyarakat. Dari latar belakang tersebut kegiatan Reinventing lahir.
Reinventing adalah ajang bagi komunitas arsitektur untuk mengeluarkan ide-ide dan imajinasi arsitektural untuk mengintervensi Kota Bandung. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya muncul 7 karya yang telah melewati proses desain dengan maksud mengintervensi kawasan-kawasan yang ada di Bandung ini. Masing-masing peserta membawa visinya yang berbeda-beda dan mimpinya masing-masing terhadap kawasan tersebut, mimpi dan cita-citanya terhadap Kota Bandung di dalam karyanya.
Salah satu peserta adalah dari tim5 yang mengintervensi kawasan dalem kaum. Tim5 ini melihat kawasan sekitar dalem kaum ini dengan merekam sejarah dari kawasan ini, melihat kawasan dalem kaum sebagai pusat peradaban kota Bandung yang bersejarah. Strategi desain yang dicanangkan adalah dengan mempromosikan nilai dari tempat-tempat yang ada di alun-alun, dengan me-reinventing makna dari pusat kota sebagai perwujudan dari identitas dan memori kolektif dari Kota Bandung. Desain dari strategi tersebut diwujudkan dengan mengeksploitasi mekanisme dari budaya berbelanja di kawasan dalem kaum ini.
Peserta selanjutnya yang juga mengintervensi kawasan dalem kaum adalah Kelompok Dayeuh Anom (Kota Baru). Melihat potensi kota Bandung sebagai kota yang selalu dipenuhi oleh wisatawan, intervensi yang dilakukan adalah dengan merevitalisasi kawasan alun-alun bandung sebagai pusat kawasan wisata Kota Bandung. Dengan turut mencita-citakan jalur transportasi berupa kereta bawah tanah yang dapat mengakses kawasan ini, kawasan alun-alun diciptakan sebagai area rekreasi yang menyenangkan bagi wisatawan.
Peserta selanjutnya adalah dari mahasiswa UPI, yang mengintervensi area jalan merdeka dan purnawarman. Melihat bangunan BIP, Gramedia, dan BEC sebagai nodes di kota Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat Kota Bandung, titikberat dari intervensinya adalah bagaimana pejalan kaki bisa mengakses satu tempat ke tempat lain tanpa terganggu dengan kendaraan. Hal itu diwujudkan dengan menciptakan sirkulasi pedestrian bawah tanah yang menghubungkan ketiga bangunan tersebut.
Kawasan yang menjadi area intervensi dari peserta selanjutnya adalah Cihampelas. Peserta dari mahasiswa itenas ini mencari pengertian ulang ruang public dalam konteks kota bandung, adakah kemungkinan mensenyawakan ruang terbuka hijau pada daerah komersial sebagai ruang public kota tanpa menghadirkan kembali permasalahan diatas. Intervensi yang dilakukan adalah dengan meletakkan ruang-ruang komersial berupa retail di dalam tanah, dengan cara ini atap dari retail bawah tanah berfungsi sebagai ruang terbuka hijau tempat masyarakat menikmati Kota Bandung.
Peserta selanjutnya yang juga mengintervensi kawasan cihampelas adalah Arsitekturina. Perhatian terbesar dari intervensi ini adalah mencipatakan Cihampelas sebagai jalan bebas polutan, Cihampelas diintervensi dengan memblok cihampelas dengan hutan raya, dengan melarang adanya mobil untuk melewati jalan ini. Kendaraan bermotor diwadahi dengan diciptakannya car traveler, yang terhubung ke tower yang berfungsi sebagai car storage kota Bandung, dimana tower ini berfungsi sebagai gerbang Kota Bandung bagi pendatang dan ruang transit untuk selanjutnya mengakses Bandung dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan sewaan.
Cihampelas juga diintervensi oleh peserta dari mahasiswa Itenas lainnya. Peserta ini menyorot permasalahan akan tidak seimbangnya fasilitas publik dengan jumlah pejalan kaki, sehingga sering terjadi crossing antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Solusi yang dikeluarkan adalah dengan menciptakan jalur khusus bagi pejalan kaki berupa sky bridge, dengan tujuan menghilangkan kemacetan sehingga meminimalisir bahan bakar yang terbuang dengan percuma.
Kawasan Stasiun Bandung adalah kawasan yang menjadi areal intervensi peserta selanjutnya, yaitu dari mahasiswa S2 ITB. Ide dasar dari desain ini adalah dengan mengembalikan stasiun selatan sebagai grand stasiun heritage, dengan pengkayaan fungsi gaya hidup, cerminan perkembangan kota Bandung sebagai kota kreatif, dan menciptakan cluster sebagai penyatu pergerakan kawasan multi fungsi. Konsep tersebut diterapkan dengan merancang bangunan multi fungsi sebagai generator pertumbuan kawasandengan semangat heritage.
Braga juga turut diintervensi oleh mahasiswa S2 ITB. Tema yang diangkat berusaha untuk menghadirkan kembali kehangatan Braga dalam desain ruang yang akrab. Pola-pola ruang dalam zona didesain untuk saling berinteraksi dengan menciptakan node-node penyatu antar massa bangunan. Konsep intimate of space dihadirkan dengan menciptakan node-node yang menggabungkan kelompok massa ataupun zona, arah massa yang dihadapkan pada node sebagai ruang penyatu juga dimaksudkan untuk menciptakan intimate of space.
Mahasiswa S2 lainnya yaitu dari UPH, mengintervensi kawasan jatayu. Proyek revitalisasi yang berlokasi di Jalan Rama ini merupakan sebuah revitalisasi kawasan kuliner dan residensial. Revitalisasi ini memiliki konsep yang bertujuan untuk merevitalisasi kawasan RW 002 dengan tetap mempertahankan program yang sudah ada dan juga menambah program-program baru yang dapat menarik masyarakat untuk datang berkunjung ke kawasan ini. Program-program tersebut antara lain boutique hotel, rubber restoration, recycling center, sparepart museum, iron craft training center, dan autistic school.
Intervensi lain yang bukan berupa penataan kawasan dilakukan oleh Smagarchitects. Intervensi yang dilakukan adalah berupa kotak sampah yang interaktif. Dengan visi untuk mengolah ruang sirkulasi seperti tepi pedestrian, ruang-ruang publik penting Kota Bandung dengan cara mendesain kotak sampah interaktif tersebut dengan proses membuang sampah yang bersifat entertaining. Tujuannya secara tidak langsung dan secara persuasif mengajak warga kota untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga menambah kualitas ruang publik dengan street furniture yang edukatif dan interaktif.
Bentuk-bentuk intervensi yang dirancang oleh peserta sangat bervariasi. Dari konsep desain, wujud, skala intervensi, rancangan yang dihasilkan berbeda-beda antara satu sama lain. Namun, semuanya memiliki satu tujuan dan cita-cita, menciptakan Bandung sebagai kota yang lebih baik. Dan sebagai perancang lingkungan binaan, kontribusi arsitektur terhadap Kota Bandung – saat ini dan masa depan – masih belum berhenti. (*)
Tim Re-Inventing Bandung 2009








