
Desain Produk merupakan hal yang selama ini hadir dikehidupan sehari-hari namun tidak begitu disadari di masyarakat. Fold merupakan media yang berlandaskan desain produk bertujuan untuk mengangkat dan menghadirkan produk-produk lokal di Indonesia kepada masyarakat maupun dunia internasional. Indonesia memiliki potensi yang kuat dibidang craftmanship, namun potensi ini belum terangkat karena kurangnya perhatian di masyarakat.
Fold Offline : Kopi Darat yang merupakan sebuah bentukan acara Official Grand Launching Fold Magazine, yang terdiri dari berbagai rangkaian acara :
Workshop Papertoys oleh Sal Azad, diikuti oleh peserta dari siswa SMA hingga mahasiswa. Acara yang berlangsung sekitar 2 jam ini berisikan tentang cara-cara mudah membuat mainan berbahankan kertas untuk pemula. Selain itu juga, peserta dapat memodifikasi hasil karya masing-masing. Hasil workshop ini dipamerkan selama acara berlangsung.
Gogolekan dari Komunitas Hong dicustom oleh TellThem, Bedlam, The Kumkum, dan Stereoflow. Gogolekan yang dibuat oleh Komunitas Hong, merupakan mainan tradisional sunda yang memiliki nilai historik yang tinggi. Mainan ini sudah jarang ditemukan di kalangan masyarakat sunda. TellThem, Bedlam, The Kumkum, dan Stereoflow yang berada di wilayah urban style, berkolaborasi dengan Komunitas Hong untuk meng-custom Gogolekan ini, dan diharapkan dapat mengangkat kembali mainan tradisional yang mulai terlupakan.
Fold Grand Launching Ceremony, acara utama dari rangkaian peresmian Fold magazine. Dalam upacara ini, Fold magazine, secara resmi diluncurkan kepada masyarakat. Prananda Luffiansyah Malasan, sebagai pemimpin redaksi Fold Magazine, menyampaikan maksud dari Fold itu sendiri yang merupakan media untuk Product Design di Indonesia. Raditya Ardianto Taepur, Ketua INDDES-ITB, yang merupakan himpunan mahasiswa Desain Produk ITB, mengucapkan selamat kepada Fold Magazine atas peresmian majalah ini. Tisna Sanjaya yang merupakan seniman dan budayawan Indonesia, mencoret-coret logo 3 dimensi Fold, sebagai tanda diresmikannya Fold Magazine. Sebelumnya, dia berpesan bahwa desain merupakan aplikasi dari suatu kebudayaan yang berada di masyarakat.
Beberapa musisi lokal dari Bandung dan Jakarta turut berpartisipasi dalam acara ini, beberapa dari mereka adalah L’Alphalpha dari Jakarta, Pink Pony Club, Jodi in The Morning Glory Parade, Autumn Ode, dan lain-lain. Saung Angklung Udjo (Arumba) menampilkan performance nya setelah peresmian Fold oleh Tisna Sanjaya. Arumba merupakan musisi tradisional yang memainkan alat musik berbahan bambu, yang membawakan lagu-lagu kontemporer. Acara ditutup oleh performance dari Karinding Attack yang berkolaborasi dengan Europe In De Tropen. Performance mereka patut diancungi jempol, karena merupakan perpaduan unik musik tradisional Sunda dengan musik elektronik.
Acara ini mendapat respon positif dari masyarakat, tidak hanya dari kalangan desainer, namun dihadiri juga oleh berbagai kalangan masyarakat.
oleh Raditya Ardianto













