
Ruang ini, benar ruang ini. Kami memberinya nama ruang 17
Kami keluar masuk, kami maju mundur
Kami..
2010 / Kampus Arsitektur ITENAS
Mengapa ruang? Karena bagi kami ruang adalah esensi dalam arsitektur. Mengapa 17? Karena kami memulainya dari gedung 17, tempat kami kuliah arsitektur.
Ruang kosong seperti yang terasa pada keseharian kami di gedung 17 sepertinya bukan hal yang menarik perhatian bahkan menarik rasa kepedulian untuk mengisi kekosongan, sepertinya ini menjadi sebuah rangkaian yang tak bisa dilepaskan dari pendidikan kita selama ini. Ruang menjadi terabaikan, tidak penting lagi ketika kami selalu dihadapkan terhadap sistem pembelajaran yang terus menyibukkan kami kearah parameter-parameter nyata. Keseharian kami difokuskan lebih kepada kesibukkan untuk hal-hal yang ‘nyata’, perhitungan konstruksi hingga mensiasati perhitungannya peraturan kelengkapan gambar dan sebagainya.
Wajarlah jika kami jadi tidak terlalu peka pada ruang.
Kegiatan ini mencoba mengisi rutinitas pembelajaran kami selama ini. Mencoba menerobos kekakuan, kebutaan, juga ketidakpedulian kita tentang hal-hal yang lebih inti tentang ide, gagasan, konsep,dan juga tentang ruang.
Pada bulan maret ini tepatnya minggu pertama dan minggu kedua, bertempat di gedung 17 arsitektur itenas bandung, ruang 17 berhasil mengadakan rangkaian kegiatan tersebut diantaranya pameran bersama, sinema arsitektur,desain sharing dan public lecture. Kegiatan ini dihadiri oleh arsitek Yu Sing, Baskoro Tedjo, komunitas jongArsitek! dan mahasiswa arsitektur itenas.
Pameran bersama, wadah menampilkan karya karya mahasiswa arsitektur itenas baik karya akademik maupun luar akademik dengan perspektif penilaian luas. Dimana karya yang dipamer seperti karya sayembara, karya studio, hasil workshop bukan dilihat dari nilai tapi lebih ke ide dan gagasan. Kemudian diadakan dikusi diskusi melibatkan peserta pameran terpilih dan mahasiswa arsitekur.
Cinema architecture, acara nonton film documenter arsitektur untuk melihat berbagai ide-gagasan ber-arsitektur yang baik dan menambah pengetahuan ber-arsitektur dan. Kali ini film yang diputar Eko prawoto : Arsitektur sebuah pencarian bersama dan Peter Zhumtor : The Thermae of stone.
Public Lecture, kuliah umum bertujuan untuk menjembatani antara praktisi dan akademis. Kali ini menghadirkan arsitek Yu Sing yang menyampaikan materi mencari kembali nilai nilai identitas kebhinekaan. Yu berkata kita sedang menyaksikan evolusi pemusnahan budaya bangsa yang bhinneka, berpesan agar kita memulai perjalanan mencari kembali identitas Indonesia untuk arsitektur Indonesia. Komunitas jongArsitek diwakili Danny Wicaksono selaku editor in chief memberikan materi pengenalan majalah arsitektur online gratis dan beberapa program jongArsitek! seperti bengkel kerja, seminar, dan satu pameran nasional di tahun 2010. Mengajak mahasiswa arsitektur berkolaborasi dan mensukseskan program tersebut.
Kepada semua pihak yang terlibat mulai dari perencanaan, persiapan dan pelaksanaan kegiatan ini, kami komunitas ruang 17 mengucapkan Terima kasih.
Kami adalah mahasiswa/i juga alumni kampus arsitektur di Indonesia yang bergerak secara independent untuk terus memperjuangkan keberadaan pendidikan arsitektur di Indonesia agar kami bisa sebanding dan sejajar dengan pendidikan kampus-kampus yang selalu kami bangga-banggakan.
Untuk pengetahuan yang lebih baik. Untuk kondisi yang lebih baik..
Keterangan lebih lanjut silahkan akses di ruang 17
oleh Wagiono Bustami











