
Acara yang menjadi Big Project akhir jabatan dari HMPS 09/10 telah berlangsung selama 8 minggu dan mencapai puncaknya pada akhir minggu ini. Rangkaian acara dengan tema Architecture Saves Us ini dimulai dengan acara dari wadah minat dan divisi yang kemudian berujung dengan acara Festival yang diadakan di kampus UNPAR, Ciumbuleuit Bandung.
Hari itu keriaan menghampiri plaza dan GSG UNPAR, persiapan demi persiapan acara yang dikerjakan selama satu bulan, grand dekor yang digarap selama satu minggu dan panggung yang telah disetting selama satu hari lengkap dengan alat bandnyapun akhirnya selesai, siap untuk mewadahi kegiatan yang akan digelar hari itu.
Closing dimulai pukul 13.00 diawali dengan pameran oleh kontributor Architecture Save Us yaitu Recycle E, Komikara, dan FSRD ITB. Selain itu juga terdapat eksebisi sepeda yang dinamakan Lets Ride dan juga instalasi dari majalah FOLD. Pameran dan instalasi tersebut meramaikan GSG, tempat spot pameran itu berlangsung. Tak lupa juga, panitia menyumbang sebuah instalasi ikon berbentuk bola raksasa yang terbuat dari anyaman bambu yang digantungkan pada bagian plafon GSG.
Bergerak ke area spot panggung, sebuah instalasi anyaman bambu yang melingkupi sebagian wilayah Plaza GSG menjadi atap bagi para penonton yang menikmati acara di panggung. Anyaman itu dimaksudkan agar para pengunjung merasakan keterbatasan ruang lewat penutup atap yang semi void. Acara di panggung sendiri baru dimulai pada pukul 15.00 diisi oleh band dari berbagai kalangan Universitas, Thunder Sanchez, LOUD, Balum, TPKM, NFC dan tak ketinggalan panitia menghadirkan kabaret SMA 5 Bandung yang berkolaborasi dengan Corner Paradise. Sore harinya spot permainan diisi Parkour UNPAR yang menampilkan aksi dan atraksi yang bertagline; architecture as our playground.
Malam menjelang, keriaan terus berlanjut, panitia kedatangan puluhan sepeda di Plaza GSG UNPAR dan tentu saja puluhan pengunjung lainnya yang ikut meramaikan tempat acara. Tiga area acara yaitu GSG yang menjadi tempat berlangsungnya pameran, Plaza GSG yang menjadi tempat panggung berada dan dak beton yang menjadi tempat instalasi review rangkaian acara sebelum acara Closing ternyata dapat menjadi wadah yang cukup baik bagi para pengunjung malam itu.
Penampilan dari Satre dan FSRD ITB di area spot permainan membuka awal malam. Kemudian spot panggung pun terisi lagi dengan penampilan SAMANARS kontemporer, dan band-band, DIEGO, Douet Mauet’s, Echolight, Ghaust, Cascade, The Trees And The Wild. Tak lupa acara Lets ride yang mengundang komunitas CAS dari negri seberang Singapura dan Congkak komunitas sepeda dari Bandung. Lets ride mengambil tempat di spot permainan, selama Lets Ride beraksi dan memutarkan video riding-nya, di spot panggung juga berlangsung acara Grafiti yang diisi oleh Yellow Dino dan MUTE yang berasal dari kota Bandung berkolaborasi dengan Killer Gerbil yang berasal dari Singapura. Malam itupun ditutup dengan performance art dari angkatan 2009 UNPAR dengan tema architecture saves us.
Di hari itu juga, panitia meluncurkan sebuah space parkir sepeda bersama dengan UNKL. Tiga buah bendera yang bertuliskan “still loving bike” menandai area parkir sepeda tersebut.
Dibalik semua keriaan tersebut penulis mengutip beberapa hal, semua partisipan dan kontributor yang ikut serta dalam closing Architecture Save Us merupakan komunitas yang berbeda-beda satu sama lain, tidak diadakannya biaya masuk ke dalam tempat acara dan setting tempat acara yang menciptakan area-area publik menjadikan penulis mencapai sebuah kesimpulan. Arsitektur membangun spaces yang dapat mewadahi beragam kegiatan, dan ketika space tersebut menjadi sebuah area publik yang gratis, maka disanalah berkumpul macam macam komunitas dan itulah keriaan yang sebenar-benarnya terjadi pada malam itu. Malam itu, malam terpenuh yang pernah penulis lihat selama ini di UNPAR, namun semua pengunjung yang datang bukan datang hanya karena satu alasan yang sama. Mereka datang karena bermacam alasan komunitasnya masing-masing.
Sabtu, 24 April 2010 akhirnya arsitektur UNPAR menyelesaikan tujuan rangkaian acara Architecture Save Us-nya yaitu menciptakan sebuah public space temporary yang dapat diapresiasikan oleh banyak komunitas di Bandung. We are young architect, maybe we can’t build a place now, but we’re learning by build a space first.
Putri Kusumawardhani








