Logo

Selayang Tentang Metode Merancang

2 June 2010 - 12:26 by dannywicaksono.
Categories: Brilliant!

people

memberitakan seperti apa metode perancangan para “stachitect” itu mudah. Tapi bagaimana membuatnya menjadi sesuatu yg  menginspirasi adalah hal yang sedikit lebih rumit

Saya pikir, pencarian arsitektur sudah dimulai sejak panas matahari, menyentuh kulit manusia pertama. Pemikiran untuk melindungi tubuh dari cuaca, adalah alasan pertama dan utama, mengapa manusia membutuhkan naungan. Dan di saat manusia pertama masuk ke dalam goa, itulah awal dari perjalanan panjang manusia untuk mencari metode-metode arsitektur.

“architecture is the will of an epoch, translated into space.” -mies van de rohe-

Ini kutipan favorit saya. Entah mengapa “kurang adalah lebih”, menjadi lebih populer. Saya pikir kutipan ini adalah perkataan Mies yg paling kuat dan seharusnya menjadi pegangan sebagai sikap ketika kita mendesain.  Kutipan ini menunjukan dengan sangat gamblang, betapa arsitektur sebagai penterjemah ruang, memainkan sebuah peranan penting dalam kebudayaan manusia, namun di sisi lain, ia memiliki posisi yg sangat lemah, karena sangat bergantung kepada kemajuan sebuah jaman.  Sejarah membuktikan, kemajuan arsitektur sangat tergantung dari kemajuan teknologi, dan metode perancangan arsitektur pun berubah mengikutinya.

Material dan metode merancang.

Ketika manusia masih membangun dengan bahan-bahan yang disediakan oleh alam, seperti batu, tanah, pohon, ijuk, sirap, bambu, dll, arsitektur yang tercipta adalah arsitektur yang bereaksi terhadap keterbatasan yang dimiliki oleh material yang digunakan. Rumah-rumah tinggal di buat dari tanah, Benteng-benteng di susun dari batu-batu yang dipapas. Istana-istana di buat dari kayu-kayu pilihan terbaik.
Ketika penggunaan beton kemudian diperkenalkan dengan lebih luas oleh kaisar Nero dari Romawi, wajah dan metode perancangan dalam arsitektur pun berubah. Karakteristik yang dimiliki beton, membuat batasan dalam arsitektur terdorong lebih jauh, dan kemungkinan-kemungkinan dalam membangun pun kemudian meluas. Muncul kemudian arsitektur roman, romanesque, baroque, rococo, dengan semua karakteristik khusus mereka. Penggunaan beton terus berkembang hingga brutalisme di Brasil sekitar tahun 1950-an, dan Tadao Ando di Jepang. Bahkan hingga hari ini hampir seluruh arsitek di seluruh dunia, mempergunakan beton.
Diawal abad ke-20, penemuan struktur besi untuk bangunan, kembali merubah wajah arsitektur. Arsitektur pencakar langit menemukan metode bangun yang jauh lebih efisien, dari semua yang pernah diketahui. Sebelum dengan baja, bangunan tinggi dibangun dengan material kayu, tanah, batu, batu bata dan beton.Menara-menara kecil seperti menara jaga, dan lain-lain yang tidak dinaiki terlalu banyak orang dibuat dari kayu, namun menara-menara yang lebih tinggi di buat dari beton. Di kota Shibam, Yaman, bangunan-bangunan tinggi terbuat dari tanah, berdiri hingga ketinggian 10 lantai. Dibangun pada abad ke-5, ini adalah kota dimana arsitektur pencakar langit pertama ditemukan.
Beberapa abad kemudian, bangunan pencakar langit dari bata dibuat dibeberapa kota di amerika, namun perancangannya masih kurang efisien, karena untuk menahan beban bangunan 10 lantai, tembok di lantai dasar mencapai tebal 1meter. Hingga kemudian, Louis Sullivan mendesain Mainwright Building, bangunan tinggi pertama yang menggunakan baja di kota Chicago.
Kini, penemuan Space Frame, Vierendeel Beam, beton bertulang, dan teknologi struktur lain yang ditemukan terbuat dari beton dan baja, telah membawa arsitektur kontemporer kepada kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh lebih beragam, daripada apa yang kita ketahui 100 tahun yang lalu. Kemungkinan-kemungkinan inilah yang dengan sangat jeli, dijelajah oleh para arsitek avant-garde dunia saat ini. Mereka yang disebut oleh banyak media arsitektur sebagai “Starchitect”.

Arsitektur di abad 21

Di abad ke 21, arsitektur kembali melompat. Di masa ini pula, istilah “starchitect” di perkenalkan oleh media, untuk menyebut para arsitek yang sering diliput oleh media dan memiliki karya yg menarik. Diantara para arsitek ini, beberapa merupakan alumnus pameran “deconstructivism” yang dikuratori oleh Phillip Johnson dan Mark Wigley tahun 88 di MoMA New York.
Pada saat itu, Johnson dan Wigley melihat adanya metode perancangan berbeda yg dibawa oleh beberapa arsitek seperti Zaha Hadid, Daniel Libeskind, Lebbeus Woods, Rem Koolhaas, Coop Himmelblau, Peter Eissenmann,  dan beberapa lainya. Ketika itu, Rem Koolhaas belum lama menyelesaikan Delirious New York, bukunya ttg manhattan. Hadid baru saja memenangkan sebuah kompetisi di Hongkong, dengan gambar presentasi yang terinspirasi lukisan constructivisme Kazimir Malevich. Libeskind dan Eisenmann baru saja selesai berkolaborasi dengan Jacques Derrida, filsuf yg mencetuskan teori dekonstruksi.
Masa2 ini mungkin salah satu masa yg paling menarik. Ketika di masa itu bentuk bangunan sangat kaku dan terdikte oleh strukur, lalu hubungan ruang menjadi terlalu tertebak, mereka muncul dengan bentuk bangunan dan pemikiran ttg ruang yang sangat segar. Guardiola house karya Peter eisenmann, parc de la villette karya Bernard Tschumi, Malibu house Coop Himmelblau, hanyalah beberapa karya yang pada saat itu sangat-sangat berbeda dari bangunan kotak berwarna putih dengan modul-modul yang diulang-ulang, yang umum pada masa itu.
Mereka menantang jaman, dan menantang pemikiran yang ada pada masa itu, kemudian membawa arsitektur ke titik yang baru.
Di masa kini, pemikiran-pemikiran arsitektur yang dibawa oleh kelompok ini, sangat mempengaruhi perkembangan metodologi perancangan banyak sekali arsitek muda. Rem Koolhaas, mungkin adalah arsitek yang paling berpengaruh di dunia saat ini. Kantornya, OMA, Office for Metropolitan Architecture, telah melahirkan arsitek-arsitek muda yang sangat menarik, seperti Josuha Prince Ramus dan Erez Ella, Bjarke Ingels, Winy Maas, Alejandro Zaera Polo, Minsuk Cho, Hani Rashid, dan masih banyak lagi “prodigy-prodigy” koolhaas lainnya.

“The Visionary and The Builder”
Di perjalanan arsitektur abad ke 21 ini juga saya melihat adanya dua kutub besar kecendrungan merancang dalam arsitektur. Mereka yang merupakan turunan dari deconstructivism, saya menyebutnya “the visionary”, dan mereka yang kembali ke esensi-esensi dasar arsitektur, perangkai elemen-elemen pembentuk arsitektur; saya menyebutnya “The Builder”.
“The Visionary” adalah mereka yang membongkar prinsip-prinsip dasar arsitektur. Mereka melihat ulang program, mengurainya satu persatu lalu kemudian mencari kemungkinan-kemungkinan lain ketika merangkainya kembali. Lewat ini lalu mereka menemukan bentuk-bentuk baru yang akhirnya menantang siapa saja yang terlbat, untuk memikirkan cara untuk membangunnya. Kadang-kadang ada penemuan-penemuan baru yang mengiringinya, penemuan sistem struktur baru, sambungan baru, bahkan mungkin material baru. Mereka mendorong batas. Mengajak semua yang terlibat berpikir ulang tentang semua hal yang umum, untuk membuat sebuah standar arsitektur yang baru. Rem Koolhaas, Hadid, Libeskind, Coop Himmelblau, Frank Gehry dan beberapa lainnya, memimpin kelompok ini, kemudian Bjarke Ingels, REX, MVRDV, FOA, dan beberapa lainnya, berjalan diatas jejak yang sama, dan mungkin menyempurnakannya kembali.
Bagi mereka arsitektur selalu dilihat dari konsep-konsep besar tentang program, dan kemungkinan-kemungkinan ruang yang bisa diciptakan.
“The Builder” bukan merupakan anti-thesis dari yang diatas. Mereka, berangkat dari kesadaran bahwa tugas seorang arsitek hanyalah membuat bangunan, jadi buatlah bangunan yang sebaik-baiknya. Di kalangan mahasiswa, metode yang di gunakan oleh mereka, jarang sekali di dekati, karena apa yang mereka lakukan benar-benar praktis sekali. Mereka tidak berakrobat dengan bentuk, namun mendekati bangunan dari aspek-aspek yang sangat teknis, sambil mengolah rasa ruang.
Arsitek-arsitek seperti Louis Khan, Peter Zumthor, dan Tadao Ando, adalah contoh yang paling tepat untuk mewakili genre arsitektur ini. Ketiganya mengeksplor karakteristik material yang mereka gunakan, sambil terus berpikir untuk menyempurnakan penggunaannya. Zumthor bahkan menarik batas sebuah material lebih jauh, dan mempergunakannya dengan cara yang baru. Peter Zumthor, pernah menggunakan, kayu untuk sebuah paviliun, kaca untuk sebuah pusat seni, batu untuk sebuah pemandian, beton untuk sebuah gereja, dan timah untuk lapisan sebuah lantai. Tipe arsitek ini merancang dengan melihat material sebagai titik berangkat untuk mendesain. Kemudian dengan pemahaman penuh atas material yang akan digunakan, mereka merangkainya menjadi sebuah ruang, dengan rasa yang sangat khas dan berkarakter.

Arsitektur Jepang

Masuknya budaya barat ketika era restorasi meiji di jepang, membawa serta material dan metode merancang barat bagi arsitektur jepang. Dan sejak saat itu, arsitektur jepang tidak pernah lagi melihat ke belakang.
Sejak jaman Kyonori Kikutake, Kenzo Tange, Fumihiko Maki, Kisho Kurakawa, hingga ke gemilangnya Tadao Ando, arsitektur jepang seperti tidak pernah kehilangan pendekar-pendekar arsitektur kelas dunianya. Belum habis dunia kagum dengan Tadao Ando, kini Kazuyo Sejima dan Ryue Nishizawa, lewat biro mereka Sanaa, di prediksi akan menjadi kandidat kuat untuk Pritzker Prize berikutnya. Dan baru saja era emas Sanaa dimulai, generasi-generasi yang lebih muda sudah mengantri untuk menggantikannya. Sou Fujimoto, Junya Ishigami, Makoto Tanjiri, Akihisa Hirata, Kumiko Inui, dan Jun Igarashi hanyalah sebagian dari se-gerombolan arsitek muda jepang yang menghasilkan desain-desain yang sangat menarik.
Bukan tanpa alasan, saya membuat sebuah pembahasan khusus mengenai para arsitek-arsitek jepang ini. Menurut saya, metode merancang yang mereka terapkan, sangat berbeda dari negara-negara lainnya. Di Eropa dan Amerika, pengaruh pragmatisme rasional ala Rem Koolhaas kental sekali terasa, namun di jepang hal ini tidak terasa sama sekali.
Bagi para arsitek jepang, arsitektur seperti selalu diusahakan untuk menjadi bagian dari kehidupan yang lebih besar. Cahaya, angin, tanah, air, adalah elemen-elemen yang selalu diusahakan untuk hadir atau masuk kedalam ruangan. Ruang-ruang di diciptakan untuk menimbulkan perasaan-perasaan khusus bagi yang melewati atau menggunakannya, melalui tinggi-rendah ruang, ukuran dan peletakan bukaan-bukaan, lalu kecermatan penggunaan material yang mendukung suatu konsep tertentu.
Efisiensi dalam penggunaan ruang, juga adalah hal yang sangat menarik dalam arsitektur Jepang. Semua dibuat seperlunya saja. Yang tidak perlu ada, tidak akan ada. Ini mungkin kesadaran yang timbul karena keterbatasan lahan yang mereka miliki. Kesemua ini kemudian didukung oleh majunya teknologi konstruksi dan sifat dasar masyarakat jepang yang disiplin dan berdedikasi tinggi kepada pekerjaan mereka, hasilnya bukan hanya arsitektur yang kaya akan konsep dan menyatu dengan alam, namun juga sebuah bangunan yang elemen-elemen pembentuknya, terangkai dengan sangat rapih, bersih, dan benar. Konsep tentang ruang yang kuat dan pengerjaan detil bangunan yang sangat teliti, cermat, dan cerdas telah membawa arsitektur Jepang ke kelas yang berbeda.
Rasanya ini kombinasi paling sempurna dari Zen dan mental Samurai.

Penutup

Arsitektur sangatlah rentan.
Sebagai produk pemikiran dan hasil sebuah jaman, arsitektur akan selalu dipaksa untuk berubah mengikuti perkembangan jaman, dan proses penciptaannya pun akan selalu terpengaruh oleh klien dan terikat oleh tempat dimana sebuah arsitektur akan berdiri. Arsitektur yang baik bukanlah arsitektur yang berdiri sebagai monumen tunggal hasil ego sang arsitek. Arsitektur yang baik adalah arsitektur yang dengan sadar menerima keunikan-keunikan hal-hal yang mempengaruhi penciptaannya dan dengan cerdas menjadikan keunikan itu sebagai sebuah kreasi arsitektural yang memiliki nilai lebih.
Metode perancangan pun kemudian akan sangat terpengaruh oleh hal-hal yang sama, ditambah latar belakang yang dimiliki oleh arsiteknya. Tadao Ando mungkin akan mendesain hal yang sama sekali berbeda jika ia tidak memiliki latar belakang sebagai petinju. Seandainya Frank Lloyd Wright tidak pernah bermain Froebel Blocks1 mungkin ia tidak akan pernah menghasilkan desain-desain yang kita kenal sekarang. Dan akan seperti apa Rem Koolhaas jika ia tidak pernah menerbitkan Delirious New York2 adalah sebuah hal yang akan selalu membuat kita penasaran.
Hal yang jauh lebih penting daripada sekedar mengetahui dan mengimplementasikan berbagai macam metode perancangan yang ada dan telah dipraktekkan selama bertahun-tahun ini, adalah untuk kita menemukan sendiri metode perancangan yang paling pas untuk kita. Kita tidak boleh hanya melihat metode merancang dan hasilnya saja, tetapi kita harus melihatnya sebagai reaksi dari rangsangan-rangsangan yang diterima oleh seorang arsitek. Setelah sadar akan hal itu, sebaiknya kita kemudian mencari tahu (dengan sadar pula), rangsangan-rangsangan apa saja yang mempengaruhi kita sebagai seorang arsitek. Hal-hal apa saja yang menimbulkan ketertarikan bagi kita, lalu menginspirasi ide-ide kreatif tentang ruang atau proses penciptaan arsitektur. Setelah itu, lalu kita bereaksi. Dengan begini kita mungkin akan menemukan metode merancang kita sendiri, dan dengan natural memperkaya wacana arsitektur Indonesia.

Danny Wicaksono

-artikel ini ditulis sebagai bagian dari salah satu edisi majalah Sketsa Untar-

 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
« AKAN DATANG!!!!!!
A-types #2: The Saga Begin »

2 comments for “Selayang Tentang Metode Merancang”

by delta perdana

On July 20, 2010 at 11:18 pm

saya mencoba untuk menjadi the builder di Tugas Akhir saya. semoga kesampaian.

by endar asman abdillah

On July 5, 2011 at 11:45 am

artikel ini sangat menginspirasi,,

Leave comments

Click here to cancel reply.








  • Home
  • We are the Jongs!
  • Grab a magz!
  • jongBincang!
  • Meet and Greet :)
  • Need to Contact Us?
  • Shop!
  • News and Updates
  • We Proudly Present..
    • We are Architects
    • Brilliant!
    • Architect Does!
  • digiMove
  • Follow Us On

  • Recent Posts

    • jongBincang! Julien de Smedt by Vidour
    • #KelasInspirasi : Mari Berbagi Mimpi!
    • Panel Diskusi : Metode Masa Kini Konservasi Bangunan
  • Recent Comments

    • irma rachmasari on VIDOUR : Arsitektur Rumah Indonesia?
    • cung on jongJelajah! Singapura
    • frumensius rosman leku on vidour : Wae Rebo Series – Ngole Wae Rebo | Wae Rebo Journey
  • architerian-160-60-1
  • vidour
 
Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
Wordpress, theme design by Infochel. Hosting by Raxdata Networks.