Oleh Setiadi Sopandi
Kurasi 1: Pameran
Entah sahih atau tidak apabila sebagai salah seorang calon peserta pameran turut berkomentar soal proses dan materi kurasi, namun selama masih buah pikir dan blog rasanya hal ini sah dan justru menggarisbawahi apa yang hendak dinyatakan secara publik dalam pameran ini.
Namun penting untuk dicatat siapapun yang selama ini berkecimpung di seputaran bisnis dan pendidikan arsitektur bahwa untuk pertama kalinya sebuah pameran arsitektur di Indonesia melalui proses kuratorial yang profesional dan selektif. Prosesnya lumayan panjang apabila dibanding seleksi-seleksi serupa. Lagipula ini tidak sekadar peer review ataupun sekadar tahu-sama-tahu, karena terus terang banyak yang tidak saling tahu (ataulah hanya saya yang justru tidak tahu menahu?). Secara pribadi, saya menantikan kesempatan ini. Bahwa karya-karya saya dijejerkan bersama yang lain untuk diperdengarkan soal apa yang layak diteriakkan. Ini merupakan kesempatan bahwa karya-karya profesional ditempatkan dan dikritik pada tataran ’semestinya’ – memiliki kriteria-kriteria penilaian yang jelas dan lingkup teropong yang terarah. Karena kalau cuma berbeda, sudah seabreg jumlahnya.
Sebagai orang yang berkecimpung di dua dunia; praktek maupun akademis; dan yang mengalami pendidikan sarjana arsitektur yang jauh dari ideal (pada tahun 90an awal), saya menyaksikan banyak kondisi yang memungkinkan lulusan 10 tahun belakangan untuk bisa tampil dan berkarya jauh lebih baik ketimbang para senior mereka. Keterbukaan dan pemerataan informasi, kebebasan berekspresi, pertumbuhan ekonomi, pranata keprofesian, pertumbuhan komunikasi dan diskusi antar arsitek dan perbaikan sistem pendidikan arsitektur lokal menjadi suasana yang sangat kondusif bagi generasi teranyar arsitek Indonesia. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menjadi lebih baik daripada senior-senior mereka. Generasi pasca krisis moneter 1997 melihat profesi konsultan arsitektur dengan lebih antusias ketimbang rata-rata senior mereka (yang cenderung beralih profesi). Menjadi arsitek tidak lagi sesuram masa-masa sebelumnya, para calon klien sudah lebih siap: siap menerima ide-ide baru dan siap membayar fee.
Generasi baru ini pula (seharusnya) siap. Siap untuk tidak lagi percaya begitu saja batas-batas dan berbagai parameter penilaian. Isu-isu lama seakan menguap dan digantikan tantangan baru. Konteks-konteks yang baru, menanti digali dan dicermati. Asal tidak menjadi jargon yang itu-itu lagi dan ujung-ujungnya menghakimi atau sekedar jadi hip dan trendi. Mungkin tantangan paling besar generasi terkini adalah untuk tidak tersedot oleh media informasi kayak Archdaily yang didasarkan pada popularitas ketimbang isi, yang masalahnya adalah dua hal itu dianggap berbanding lurus. Popularitas sendiri sering kali diwakili oleh beberapa foto dan grafik paling seksi, termasuk pas foto diri.
Kurasi 2: Difensif
Catatan lanjutan ini akan membahas isu yang disinggung terutama oleh Suryono Herlambang lewat komentar-komentarnya terhadap beberapa karya rumah tinggal dalam acara kurasi. Yang menjadi soal adalah kecenderungan merancang rumah tinggal yang difensif terhadap lingkungan sekitarnya.
Sikap menempatkan fasad rumah tinggal di perkotaan yang tertutup, introvert, diduga oleh para kurator merupakan fenomena yang ’tidak terlalu lama’, karena preseden dalam menampilkan fasad yang masif dan tertutup (serta menciptakan ’surga’ di dalam) barulah muncul dalam 10 tahun terakhir. Hal ini juga sempat diungkapkan secara khusus oleh Amanda Achmadi dalam ’daftar’ fenomena arsitektur perkotaan Indonesia beberapa tahun silam.
Dalam perbincangan kemarin salah satu tertuduh adalah rekan-rekan arsitek muda yang memamerkan karyanya di tahun 2002 yang banyak menampilkan penempatan area pembantu dan area servis di muka bangunan (yang bahkan, dalam beberapa kasus hingga merangsek ke luar dari garis sempadan bangunan). Area yang ’tidak pantas ditampilkan’ ini cenderung dikemas sedemikian rupa sehingga tidak nampak dari luas, bahkan disamarkan menjadi dinding bahkan taman. Strategi ini disambut luas dan menjadi praktik lazim dalam perencanaan rumah tinggal, terutama kelas menengah di Jakarta.
Sukses strategi ini tidak lepas pada beberapa sebab, yang juga diamini para kurator; ruang publik perkotaan Indonesia yang tidak bersahabat (buruknya sanitasi, keamanan, tingkat kualitas udara, dan iklim yang tidak bersahabat) dan ketidakberdayaan penghuni/ pemilik rumah dan arsitek untuk berperan dalam membuat lingkungan menjadi lebih baik. Hal lain yang turut memperkuat alasan penerapan desain yang difensif adalah meluasnya ruang privat kelas menengah perkotaan. Ruang privat tersebut direncanakan untuk dapat menjadi ruang yang berkualitas tinggi dan terkontrol penuh, yang menjadi antithesis ruang publik kota yang kualitasnya kian menurun. Ruang publik kota sendiri pun telah bergeser ke dalam ruang-ruang komersil perbelanjaan. Kondisi perkotaan semacam ini diakui banyak pihak memang jauh dari ideal.
Kondisi macam ini juga mengakibatkan investasi lebih banyak dikucurkan untuk ruang-ruang privat ketimbang ruang-ruang publik. Situasi ini berbanding terbalik dengan negara-kota seperti Singapura. Rumah-rumah kelas menengah Indonesia dirancang dengan kualitas setara dengan rumah-rumah kelas atas dan fasilitas publik di Singapura: lantai granit/ marmer, ruang full-AC, bersih dan terawat. Sebaliknya, fasilitas publik Indonesia malah terjun bebas. Jalan di kompleks perumahan tidak lagi dirawat baik oleh developernya (yang secara yuridis tidak lagi bertanggungjawab atas pemeliharaan lingkungan) dan tidak juga dipedulikan oleh pemerintah daerah. Untungnya ’gotong royong’ masih menjadi semangat bangsa, sehingga semua orang ’diharapkan’ patungan untuk menambal jalan (tentunya sesuai besar/ lebar kavling miliknya masing-masing). Satpam diongkosi dengan cara yang sama. Namun cara-cara tersebut bukannya tanpa masalah.
Tidak jarang kita merasakan seperti hidup di jaman pra-moderen, di mana kita masih hidup dalam ’kampung’ yang tertutup pagar/ berteritori jelas yang berusaha memenuhi kebutuhan lingkungannya sendiri. Sekelompok kampung tidak jarang berseteru dengan kampung lain karena masalah teritori dan ternak yang kabur. Di televisi kita masih melihatnya, namun hal yang serupa sebenarnya terjadi di kota-kota besar juga secara laten. Di komplek perumahan tempat kantor saya berada terdapat 2 kubu yang sudah tahunan saling meributkan akses keluar masuk kendaraan karena masing-masing kubu memiliki pintu akses ke jalan raya masing-masing. Pada pertemuan kedua sub-kompleks tersebut terdapat 2 buah pos satpam dengan 2 buah portal serta sebuah area batas tak bertuan seperti Checkpoint Charlie yang menghubungkan Berlin Barat dan Timur.
Semua masalah remen temeh bikin pusing secara tidak langsung membuat depth (kedalaman) privasi rumah lebih dalam. Hal ini perlahan-lahan mendorong manusia kota tidak lagi membutuhkan ruang tamu dan teras muka karena menghindari percakapan dengan orang-orang yang tidak berkenan. Manusia kota juga menghindari perbincangan antar tetangga karena menghindari konflik sedapat mungkin dengan unfollow berita miring antar pagar. Konsep komunitas berubah (untuk tidak mengatakan ’rusak’). Saya termasuk manusia kota itu, yang tinggal dalam deret bangunan serupa yang menyisakan ruang interaksi minim pada fasad. Saya menyaksikan secara pasif pergerakan dan percakapan manusia kota lain di depan rumah tanpa ingin terlibat, namun dengan aktif mengikuti percakapan manusia-manusia dengan minat sejenis di alam maya dan tempat kerja. Rasanya memang tidak elok dan tidak sehat apabila kita hanya hidup dalam keseragaman. Sejatinya keragaman adalah kehidupan, kata para ahli lingkungan.
Namun saya bukan orang yang percaya bahwa arsitektur dianggap secara deterministik menentukan perilaku manusia. Manusia punya daya adaptasi luar biasa terhadap lingkungannya, paling tidak dibandingkan dengan mahkluk hidup lain. Manusia punya imajinasi dan mekanisme pemaknaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhannya. Jadi kritik dan perdebatan mengenai sikap difensif arsitektur hunian perkotaan sendiri masih sangat bisa diperdebatkan. Salah satu rumah difensif yang saya rancang justru memiliki penghuni yang sangat ramah dan terbuka namun tentunya tidak kepada semua orang yang lewat di muka rumah. Rumah lain yang lebih terbuka justru memiliki penghuni yang kurang senang menerima tamu sehingga jendela rumahnya selalu dibiarkan tertutup blind setiap saat.
Lagipula saya tidak seoptimis para arsitek modernis yang beranggapan bahwa arsitektur berada di depan masyarakat, yang memberikan resep-resep dan cara berlaku yang ’baik’. Saya ingat bagaimana Silaban begitu yakin bahwa rumah beratap pelana dan bermasa sejajar dengan jalan akan berfungsi sosial lebih baik dari rumah beratap perisai. Bisa jadi dalam taraf tertentu hal tersebut benar dan efektif, namun yang menjadi penting pada masa kini adalah soal tujuannya itu sendiri dan posisi (dan jangkauan peran) arsitek di dalam masyarakat.
Saya lebih banyak menyaksikan bahwa arsitek ada tepat di belakang kecenderungan masyarakat untuk menggarisbawahi apa yang sedang berlaku, sembari menunggu-nunggu kesempatan untuk dapat tampil dan menyatakan sesuatu gagasan baru dalam hidup dan meruang (padahal seringkali tidak). Kadang kita tampil menyeruak bising, namun lebih sering kita diam menggeleng-geleng namun mengiyakan.
Kurasi 3: Generasi
Chat singkat di ponsel dengan rekan Greg Supie Yolodi kembali mengangkat preseden mengenai sejarah tampilnya arsitek muda di Indonesia dalam wacana publik. Yang terjadi akibat ketertampilan seorang arsitek pada pameran adalah dicapnya sang arsitek ke dalam generasi tertentu. “Lo kan mestinya masuk aminext, Cung”, kata si Greg, eh Supie. “Gua kan masih muda Sup”, kata saya dengan penuh pede. “Sialan lo, si Zenin tuh yang lebih muda”, kata Supie lagi. (Catatan penulis: saya, Supie, Zenin adalah teman seangkatan di Unpar).
Jelas perdebatan yang dapat timbul adalah kesenjangan antara usia dan waktu tampilnya karya seorang arsitek ‘muda’ itu. Tren untuk membatasi sebuah publikasi ke dalam “under 30” dan “under 40” (seperti U21 dalam sepak bola) didasar berbagai macam alasan. Menarik untuk mereka-reka alasan di balik itu karena beberapa pameran sebelum ini tidak pernah benar-benar dibatasi secara tegas seperti halnya pameran 2010 kali ini.
Menurut Supie ada beberapa orang arsitek terkenal (asli, bukan hanya mirip) yang berada di generasi ‘tanggung’ seperti Djuhara dan Mamo, yang berada diantara dua generasi arsitek ‘muda’; diantara yang berpameran tahun 80-an akhir/ 90-an awal dan yang berpameran di 2002. Lucunya wajah Ahmad Djuhara sudah bisa kita saksikan di foto dalam buku AMI pertama yang bersejarah meski belum menampilkan karya. Baru satu dekade kemudian kita disajikan rumah baja sebagai wacana. Jadi tidak heran apabila kita dapat melihat karya Ahmad dan Wendy Djuhara sudah beberapa lebih ‘matang’ dan terbangun ketimbang rekan-rekan yang lebih muda. Namun nama seperti Adi Purnomo, Ahmad dan Wendy Djuhara, Sukendro, dkk. justru baru benar-benar mencapai puncaknya, menurut saya, justru setelah beberapa tahun melewati generasi pamerannya. Mungkin karena kesempatannya baru ada (karena pameran itu sendiri), kesempatan berpameran sendiri kan cukup langka (meski akhir-akhir ini banyak inisiatif dari “luar” untuk menjejerkan nama-nama populer di pusat-pusat perbelanjaan terkenal).
Intinya penilaian generasi seorang arsitek berdasarkan 3 generasi pameran arsitek muda sebenarnya absurd dan tidak mencerminkan hal-hal yang mungkin ingin disampaikan pada publik. Justru pesan sebenarnya berada di tulisan-tulisan yang menyertai publikasi pameran-pameran tersebut. Saya teringat kritik Romo Mangun (yang selalu diulang-ulang Djuhara, mungkin terus terngiang dibenaknya ‘tamparan’ Romo Mangun kala itu), lalu juga tulisan Pak Yuswadi Saliya soal “pembuktian rasa sebuah puding bukanlah terletak pada resepnya”. Advokasi Prof. Gunawan Tjahjono juga mengandung renungan mendalam tentang esensi sebuah siklus kehidupan (arsitek) bahwa semua (arsitek) pernah jadi (arsitek) muda.
Soal ide segar, kepolosan sikap, semangat dan tenaga tidak mungkin dipagari lewat istilah “ami asam urat”, “aminext”, dan “jong”. Sebutan itu lebih mencerminkan jejaring pertemanan produktif, kesamaan minat dan kekonsistenan bertemu. Apa kondisi penciptaan karya dan dampak luas atas yang mereka lakukanlah yang sebenarnya membedakan dan pantas diperbincangkan. Kalaupun istilah itu dipakai, biarkan itu jadi humor segar dan kritik panas dingin yang membangun dan mencerahkan.
Kurasi 4: Ragam
Saya menyoroti soal “ragam” dalam populasi arsitek muda. Nampaknya dengan berkembang dan meratanya praktik arsitek profesional di berbagai kota telah membentuk ragam praktek yang bervariasi yang menyesuaikan diri dengan ragam kondisi dan permintaan.
Contoh paling segar adalah rekan Yu Sing yang baru saja membuka cabang Solo yang mengkhususkan diri melayani segmen rumah murah dengan tenaga muda yang bersemangat. Melayani segmen kelas ekonomi ini tidak lagi dilakoni sebagai kejadian khusus seperti klinik konsultasi arsitektur (yang biasanya gratis dan sepi) tapi sebagai menu utama pekerjaan sehari-hari. Layanan seperti ini sering dibicarakan di Indonesia (dengan contoh lagi-lagi Romo Mangun yang seorang biarawan) tapi sangat sangat jarang dilakukan. Yu Sing melakukannya.
Selama sepuluh tahun terakhir ini juga banyak arsitek-arsitek muda meraih kesempatan-kesempatan emas dengan mampu meraih posisi-posisi terhormat di berbagai sayembara arsitektur. Kondisi ini merupakan salah satu prestasi terbesar Ikatan Arsitek Indonesia dan berbagai instansi tuan rumah. Kondisi ini memungkinkan lapisan termuda (dan paling bersemangat) generasi arsitek Indonesia untuk berada dalam satu arena dengan arsitek-arsitek senior. Saya teringat berada di dalam briefing tahap 2 sebuah sayembara dan duduk bersama para arsitek senior kelas kakap sekaligus juga rekan-rekan seumuran. Ibarat nomor free-for-all dalam lomba drag race, di mana setiap peserta dapat turut serta bersama mesin-mesin apapun yang mereka dapat bawa dan perangkat modifikasi kaliber besar tapi tidak ada jaminan bahwa peserta dengan pengalaman dan mesin paling sangar yang akan memenangi pertandingan. Malah kadang peserta anak bawang dengan pensil sketsa, eh maksudnya sketchup, seadanya yang justru tampil sebagai juara. Maka dari itu juga arsitek-arsitek muda dari Bandung pernah mendapat julukan bounty hunter, yang selalu mengincar sayembara dan langganan menang. Tidak heran biro Urbane menjadi seperti sekarang ini karena berbahan bakar anak-anak muda haus prestasi.
Saat ini juga mewarisi kegerilyaan praktik arsitektur pasca krisis moneter 97. Bahwa selain biro-biro besar, justru biro-biro kecil lebih lincah berarsitektur dalam artian benar-benar mengolah ruang dalam karya-karya mereka. Biro-biro besar menangani proyek-proyek besar dan ruang-ruang yang besar. Tidak jarang biro besar bertanggungjawab akan hal-hal yang besar sehingga menjadikan mereka tidak selincah biro kecil dalam mengambil resiko dalam rancangan mereka. Saya pernah dikirimkan artikel oleh rekan Denis Indramawan, artikel Architectural Records tulisan Michael Speaks yang menyoroti perkembangan arsitektur di Amerika pasca krisis ekonomi 97 justru dipimpin oleh biro-biro kecil yang berkonsentrasi bereksplorasi di proyek-proyek kecil dan justru menghasilkan karya dengan nilai arsitektural yang besar. Belum lagi pola praktik yang berubah dari sistem biro raksasa menjadi sistem freelance dan associate. Bersatu kita runtuh, bercerai kita hidup. Kalau dapat proyek besar kita keroyok rame-rame.








