Seorang bapak sedang bermain dengan anaknya di pinggir taman di salah satu sudut kota, Tampak, walaupun kendaraan memadat dan berlalu kencang disekitarnya, taman taman rindang tetap di penuhi oleh penduduk untuk bercengkrama, ataupun bersama menikmati ruang kota tersebut sambil berjalan kecil, jogging, ataupun bersepeda.
“Surabaya itu panas!” sahut satu teman kami dalam satu perjalanan, “Surabaya Penuh Patung, taman dan pedestrian!” selang beberapa jam berada di kota Surabaya. begitulah pandangan kami, dalam kunjungan singkat, bahkan kami menyimpulkan, kota yang terbentuk karena pertemuan transportasi sungai pada jaman majapahit ini bergeser menjadi kota bersejarah yang identik dengan kekuatan bisnis yang maju yang ramah untuk kotanya.
waktu malam pun, riuh rasanya berada di taman Bungkul, salah satu taman yang teramai, dimana kita bisa mengunjungi makam Ki Ageng Supo atau dikenal sebagai Mbah Bungkul, yang konon menjadi salah satu pendiri kota Surabaya. Di Taman ini kita bisa melihat seluruh penduduk dari tingkat kalangan yang berbeda menjadi tumpah dalam satu Taman. Disini kita bisa melihat berbagai perangkat publik di tata dengan apik, bahkan kita bisa melihat adanya dukungan taman terhadap para difabel dengan ramp untuk akses ke taman itu sendiri, dan tak lupa bagi pencinta kuliner, bisa menikmati Rawon Kalkulator yang berada dalam taman ini. Tak Pelak, kota tempat Persebaya lahir ini, bagi sebagian orang, menganggap bahwa pusat kota ada di Taman Bungkul.
Taman ini hanya menjadi salah satu sekian taman aktif yang digunakan warganya untuk berekreasi selain Taman Maluku, Taman Wifi, Taman kalimantan, Taman Yos Sudarso, hingga taman Philips dan lain sebagainya yang menjadi ruang publik aktif tempat masyarakat berekreasi bahkan di beberapa tempat disediakan taman untuk skateboard dan BMX.
Sepanjang pusat kota kita bisa menyaksikan dan merasakan, di kota ini pedestrian dimanjakan. Jalur pedestrian yang lebar, Pohon pohon dan tanaman yang dipertahankan apik disepanjanng taman, dan pedagang kaki lima yang tampak teratur. di sepanjang jalan Embong belimbing pun, rasanya pedagang kaki lima yang konon menyebar, kini disatukan sehingga memudahkan pengunjung untuk berwisata kuliner.
“kayanya… kota pinggir pantai dan kota pahlawan menjadikan kota ini penuh dengan landmark” ungkap Arien dan Ucha, salah satu rombongan yang ikut dalam rombongan ini. Tapi memang benar, patung patung, tampak memenuhi taman dan sudut kota, membuat Kota Surabaya menjadi satu tempat yang mudah di ingat dan ditelusuri karena selain memudahkan ketika menjadi penanda tempat, patung tersebut juga mempercantik kota Surabaya.
Mungkin inilah salah satu kota Surabaya memperkenalkan diri pada para pendatang, kota yang di kenal dengan perjuangan antara darat dan laut, kini membuka diri menjadi kota yang nyaman dan ramah bagi warga kotanya. Bahkan tahun 2009 lalu, Surabaya memenangkan rekor MURI dengan jumlah taman terbanyak yang berasal dari bekas lahan SPBU, sebanyak 13 buah.
Belum lagi, bagaimana Surabaya mempertahankan sejarah dengan mempertahankan bangunan2 bersejarahnya menjadi satu kota yang memberikan warganya berinteraksi terhadap sejarahnya. Sebut saja dari bangunan bangunan seperti hotel majapahit, jembatan merah, bangunan bangunan lama di pusat kota yang terus di pertahankan, memberikan kekuatan keunikan kota yang tidak dimiliki di kota lain di dunia.
***
“Surabaya selalu menjadi bagian terakhir dalam pemetaan seni di Indonesia, setelah Jakarta, Bandung, Jogja, dan bali” ungkap Cahyo dari deMAYA, padahal ruang publik terbuka luas, dan seniman seniman baru yang mengisi ruang kreatif di Surabaya bermunculan. Sebut saja asosiasi desain grafis di Surabaya, komunitas deMAYA, Komik Bunuh diri, Buta warna, street art Surabaya, Surabaya Fashion Carnival, seniman seniman kolaboratif seperti audiokarbit, hingga seniman individual seperti Aghastyo Ghalis, benny wicaksono, dan masih banyak lagi yang terus mengisi kreatifitas kota Surabaya.
Dalam beberapa waktu terakhir, tidak mau kalah dengan kota kota besar lain di Indonesia, Surabaya mulai menyadari kekuatan kreatifitas dari masyarakatnya. kegiatan kegiatan kreatif bermunculan, menampakkan gigi untuk mengisi kekuatan ekonomi baru di kota Surabaya.
kami berempat dalam komunitas yang berbeda (jongArsitek!, Bandung Affairs, Fold Magazine, dan Orders schomorders) menyadari bahwa dengan lintas komunitas, adalah peluang terbukanya kesempatan berkolaborasi bahkan mengetes satu isu bersama yang belum kita bayangkan. Kami pun sadar bahwa dengan berbagi dalam komunitas kreatif yang berbeda, menjadi inspirasi baru, bahkan teman untuk memberikan peluang kerja sama lintas disiplin yang inovatif. Cangkruk (nongkrong) bersama dalam diskursus desain menyadarkan kami.
Indonesia pun bukan hanya Jakarta, Bandung, tetapi daerah daerah lain di seluruh Indonesia, Mimpi kami bukan mimpi yang muluk, perkembangan internet dan teknologi memudahkan kami untuk terus saling menginspirasi lewat disiplinnya masing masing lewat jalur maya. Harapan kami adalah bersama sama, dengan daerah lain di Indonesia, termasuk Surabaya, bisa saling menginspirasi dan menghasilkan sesuatu yang baik, dalam desain tentunya.
Kota surabaya telah memulai melalui perbaikan kota yang bisa sejajar di kota lain di dunia, tempat bagi kami, warga jakarta, bandung ataupun diseluruh indonesia untuk belajar menaikkan kualitas kota. Kemudian perlahan menaikkan kualitas manusianya melalui pendidikan dan teknologi.
dari satu komunitas menuju komunitas lain membayangkan kebersamaan dalam nama desain, mengutip arsitek senior, ridwan kamil, “menyelamatkan peradaban dengan desain” membayangkan ketika komunitas komunitas lintas displin desain bersatu dan bahkan berkolaborasi, bersama membangun menciptakan keragaman kualitas hidup yang baik dan menaikkan ekonomi baru yang kuat, dimasing masing daerah, saling menginspirasi.
untuk satu, mewujudkan kembali Indonesia di Muka Dunia, “negeri kita kaya raya saudara saudara” begitu ucap Soekarno.
Desain menginspirasi tentunya.








