New Museum diangkat sebagai tema yang menumbuhkan semangat baru untuk menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari beragam kalangan. Museum
selayaknya tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah namun juga harus menjadi tempat yang menarik, aksesibel untuk seluruh ragam komunitas dan menjadi tempat alternatif berkumpulnya masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi kotanya secara berkelanjutan.
Membangun kembali ruh kompleks MKAA (Museum Konperensi Asia Afrika) tidak dapat terlepas dari upaya mengenang spirit kebangkitan yang lekat dengan peristiwa KAA itu sendiri. Peristiwa KAA bukan sekedar peristiwa berskala Kota Bandung, namun peristiwa yang mengharumkan nama Indonesia sebagai sebuah negara yang berpengaruh secara internasional terutama di dalam membangun kekuatan poros baru yang menggabungkan kekuatan Asia dan Afrika pada masanya. Membangkitkan kembali kawasan museum KAA menuntut kita berpijak pada sejarah gemilang tersebut untuk diwariskan dan terus terjaga hingga ke generasi mendatang.
Tujuan dari perancangan kompleks kawasan ini adalah :
1. Tersusunnya konsep perencanaan dan perancangan kompleks MKAA yang tanggap terhadap ‘konteks sejarah (heritage-context)’.
2. Tersusunnya program aktifitas bagi kegiatan revitalisasi bangunan-bangunan penting dalam kawasan sesuai prinsip perancangan dalam kawasan cagar budaya. sedangkan Sasaran dari perencanaan antara lain :
1. Rumusan masalah-masalah spesifik dalam tapak seperti polusi, intensitas kegiatan masyarakat, kepadatan lalu lintas, bantaran air sungai (Cikapundung), dan permasalahan lainnya.
2. Rumusan konsep pengembangan Kompleks MKAA/ Gedung Merdeka dan sekitarnya
3. Rancangan lingkungan yang memperhatikan tautan (linkages), koridor, ruang antar bangunan, dan atau ruang publik pada kawasan secara komprehensif
Figure ground dari blok MKAA, warna merah adalah bangunan yang dikonservasi. Keberadaan sungai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari museum. Permasalahan dari kawasan ini antara lain :
- matinya fungsi beberapa bangunan
- kurangnya ruang terbuka hijau
- munculnya lost space (ruang mati yg tidak dikelola)
- masalah kemacetan dan parkir
- kurangnya street furniture dan fasilitas umum
- kualitas sungai cikapundung yang tidak terawat dengan baik.
Ditengah penurunan vitalitas kawasan Braga, makna museum menghilang seiring dengan menghilangnya fungsifungsi penunjang museum di sekitarnya.
Pada dasarnya blok MKAA yang dilalui sungai cikapundung memiliki potensi dalam menyediakan waterfront dan promenade bagi kawasan , ditambah dengan konteks historis di dalamnya serta bangunan-bangunan bersejarahnya,maka pengembangan museum yang lebih luas dan dinamis dapat dimaksimalkan.
Konsep oase menjadi pilihan di saat kawasan kekurangan ruang terbuka hijau dan ruang publik yang memadai. Alun alun di sisi selatan kompleks MKAA yang dahulu merupakan ruang terbuka publik beralih fungsi menjadi halaman masjid dan ruang parkir. Kerinduan akan suasana kota Bandung yang sejuk dan rindang menjadi salah satu inspirasi pengembangan museum yang baru. Ketimbang membuat sebuah massa baru yang kontras dengan bangunan lama,desain museum baru dibuat menyerupai taman,dengan sekuen-sekuen yang terjaga.
Museum baru dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar, multi entry, berinteraksi dengan masyarakat,sungai, jalur-jalur pedestrian, taman, dan memberi sekuen pengalaman diantara bangunan lama, bangunan baru, dan alam. Ia akan lebih terbuka, melebur dalam kehidupan kota sehari hari.
Strategi pengembangan museum baru dan penataan kawasan antara lain :
URBAN OASE
Penciptaan sebuah plaza dengan bermacam vegetasi dan fasilitas selain sebagai area resapan juga berfungsi sebagai simpul jalur pedestrian dan pusat orientasi sekaligus generator aktifitas.
PENATAAN TAMAN DAN SUNGAI
Bantaran sungai Cikapundung akan difasilitasi dengan pengolahan sampah sederhana dan
menjadi ruang hijau untuk mengembalikan keseimbangan ekologi dan menerus masuk ke
dalam plasa, menyatu pada atap-atap hijau bangunan baru
IMAGE BRANDING
Feature street furniture yang khas akan menjadi brand image baru yang mengingatkan masyarakat
tentang museum KAA
PENATAAN FUNGSI BANGUNAN DAN LINKAGE
Fungsi-fungsi bangunan pada kompleks Museum
KAA akan diprioritaskan pada fungsi museum dan fungsi penunjangnya, dengan sebuah jalur yang
saling terhubung sehingga menyediakan pilihanpilihan tujuan.
PEMANFAATAN LORONG BAWAH TANAH DAN PENCIPTAAN BASEMENT
Museum KAA akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung baru dan pemanfatan lorong bawah
tanah sebagai bagian dari sekuen perjalanan museum.
PERAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN
Masyarakat dilibatkan dalam pengembangan museum yang dikemas dalam suatu event. (penanaman bunga,pohon,pengolahan sampah,
MASSA BANGUNAN
Beberapa massa bangunan eksisting dirobohkan untuk mendapatkan skyline kawasan yang terjaga dan persentase ruang terbuka yang lebih banyak. Massa-massa baru dibuat terpecah sesuai dengan kapling kapling eksisting sehingga proses pentahapan pembangunan lebih mudah. Ketinggian dibatasi hingga 3 lantai sehingga bangunan-bangunan sekitar masih dapat
terlihat dari arah taman.Jarak antar massa disesuaikan untuk mendapatkan skala yang beragam. Sedangkan untuk daerah sungai tidak dibangun massa baru untuk memaksimalkan unsur alami di blok tersebut. Area sungai kemudian dihubungkan dengan area museum melalui sebuah taman terbuka yang sekaligus menjadi simpul kawasan serta, di sini pengunjung dapat memilih aktifitas dan tujuan sesuai keingunan.
Penataan area sungai dilakukan dengan membuat fasilitas pengolahan sampah yang dioperasikan bersama masyarakat setempat.Di tepian sungai ditanam pohon-pohon peneduh untuk kenyamanan pejalan kaki dan mengembalikan ekosistem sungai. Area promenade menjadi ruang multifngsi sebagai bagian dari ekstensi museum.
SIRKULASI
Tidak ada akses jalan yang ditutup pada sirkulasi baru .Sirkulasi pejalan kaki diperbanyak dengan jalur-jalur baru dalam blok museum,jembatan penghubung,basemen,dan menerus menuju museum. Akses masuk museum di area taman terhubung dengan akses basemen. Blok dibuat lebih permeabel dengan menambah beberapa pintu masuk. Di setiap tepi massa terdapat selasar di dalam dan luar blok sehingga aktifitas window shopping dapat terjadi di kedua sisi bangunan.
Sirkulasi kendaraan menuju parkir basemen diletakkan pada jalan Braga selatan,dengan memanfaatkan perbedaan kontur yang miring ke arah sungai ,maka pembuatan basemen dapat lebih mudah. Basemen dibuat pada sebagian lahan sehingga masih menyisakan area resapan dan pohon pohon yang besar. Keberadaan ruang bawah tanah eksisting dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai alternatif galeri dan sirkulasi pengunjung. Sebuah sunken gallery berbentuk lingkaran diletakkan di tengah taman,memberi komunikasi visual pada pengunjung diatas taman . Sirkulasi baru dibuat untuk menghubungkan fungsifungsi penunjang museum dan memberikan pilihan tujuan yang beragam pada pengunjung.
SEKUEN KAWASAN
Aktifitas awal yang sudah terbentuk akan memudahkan penciptaan sekuen visual kawasan. Dari arah braga,pengunjung dapat masuk melalui pintu masuk utara,menuju ke museum melewati taman dan pepohonan. Dari sisi barat dapat melalui jembatan penghubung,di sini bangunan lama dan baru terlihat kontras namun memiliki ketinggian yang sejajar. Bangunan perpustakaan menjadi fokus utama area belakang museum,dengan fasad transparan untuk memperlihatkan aktifitas di dalamnya.








