Desert Pavilion – Expo 2015 Milan
Rafael Arsono – Uros Stojadinovic – Guido Tesio
Politecnico di Milano – Architecture and Urban Landscape 2010
Professors: Remo Dorigati, Giancarlo Floridi
Abstraksi
Arsitektur yang berpuing.
Gurun tidak berskala.
Ukuran menjadi tidak relevan.
Di Gurun tidak ada referensi arsitektural.
Dalam ketidakpastian yang menyeluruh ini,
arsitektur membenarkan dirinya hanya dalam aktivitas ritual,
sebagai perluasan dari lansekap.
Di Gurun, di tengah kesendirian,
arsitektur langsung berdiri sebagai tengara,
melebihi keabsahan fungsi itu sendiri.
Di Gurun, arsitektur mau tidak mau muncul monumental.
Di tengah Gurun, arsitektur berfungsi sebagai naungan,
sebagai pelindung, dan sebagai ruang kosong,
yang lantas mengingatkan pada ‘kehampaan’ Gurun.
Sebagai naungan, arsitektur muncul karena kebutuhan keseharian.
Arsitektur lantas menjadi ritual.
Ritual tersebut merubah kehampaan menjadi ruang yang berarti.
Dan akhir dari hidup arsitektur harus kembali ke kekosongan yang murni.
Mitos yang bersiklus.
Di tengah Gurun, arsitektur tidak memiliki ambisi untuk ‘berubah’.
Karena Gurun adalah gurun, tidak pernah berubah.
Gurun hanya bisa ‘berkembang’.
Gurun sangat anti-modern.
Bagi mitos modern dari “paviliun”,
Ide ‘bongkar-pasang’ adalah ideal.
Bagi kami, ide ‘berpuing’ adalah yang paling sesuai.
Keduanya merupakan ide dari kesementaraan.
Jika yang pertama cenderung ‘diluar konteks’,
memaksakan ide memindahkan dari satu tempat ke tempat lain,
yang kedua sangat mengakar dan spesifik pada lansekap.
Puing adalah lansekap itu sendiri.
Puing sangat kontekstual dan lokal.
Arsitektur yang mampu bertahan melewati reruntuhan bentuknya.
Paviliun ini adalah arsitektur yang berpuing.
Merencanakan menjadi puing akan hidup dari ke-tidak digunakan-nya,
melewati kesementaraan fungsinya.
Sadar akan kesementaraannya, dan kegentingan hidupnya,
arsitektur ini didominasi oleh perasaan ‘mati’ yang mendalam.
Bentuk lebih tidak penting ketimbang puing yang tersisa.
Arsitektur yang berpuing,
akan menihilkan dirinya sendiri.
Dia akan mati dengan sendirinya
secara pasti dalam lingkup alamnya:
Gurun.
Latar Belakang
Desert Pavilion, atau Paviliun Gurun, adalah nama dari proyek tugas akhir kami di kelas untuk program master program internasional di Politecnico di Milano. Tema dari kelas studio akhir tersebut adalah Expo 2015 yang akan datang, ‘Feeding The Planet, Energy for Life’. Mendobrak dogma Expo selama ini yang dirancang sebagai ajang pamer kekayaan negara dengan beradu rancangan arsitektur, Expo kali ini mengangkat isu lansekap, non-arsitektural, yang ada nanti hanya ladang tanaman dari berbagai negara yang terjejer rapi sepanjang 1,5km axis. Fasilitas ruang publik seperti ruang seminar, ruang tamu, ruang wawancara sampai toilet tersebar sebagai gedung netral. Masterplan ini anti-arsitektur, namun sangat berkarakter, seperti Jacques Herzog (salah satu komite perancang masterplan Expo 2015) meyebut “monumentalitas yang lebih puitis”.
cek link ini
http://www.youtube.com/watch?v=2QxxIpYff-g&feature=player_embedded
Masterplan Expo 2015 menurut saya sangat berkarakter karena dua hal, yang pertama karena Italia sebagai sebuah bangsa sangat menyadari kekuatan dirinya, agrikultur. Jadi Expo ini akan menjadi sangat lokal (sekaligus global). Kedua, kita bisa lihat bagaimana ide taman-strip–yang mirip seperti proposal Rem Koolhaas untuk Parc de la Villette–bisa jadi lebih menarik dan eksperimental dari sekedar sebuah bangunan. Walaupun tanpa gegap-gempita arsitektur dari tiap partisipan, Expo 2015 nanti tetap ambisius dengan rencana pembangunan 5 rumah kaca berisi iklim dari tiap kontinen. Betul, termasuk tropis dan gurun, yang para komite sendiri belum bisa pastikan akan menghabiskan biaya berapa besar.
cek link ini
http://www.abitare.it/highlights/milano-expo-2015/
Konsep
Kembali ke tugas akhir kami, masing-masing kelompok diharuskan memilih iklim, negara, atau daerah, dan ahrus merepresentasikan daerah terpilih tersebut ke dalam plot 20×150 meter. Kelompok kami memilih Gurun Nubi di Afrika tengah, tepatnya di Sudan, karena disanalah experimentasi perkembangan agrikultur perlu dilakukan, di tempat yang, makanan, sangat sulit didapat.
Bagaimana merepresentasikan iklim Gurun pada sebuah paviliun yang menihilkan arsitektur? Sikap yang kami ambil adalah membagi cara pandang kami ke dalam dua metode secara paralel, yaitu riset agrikultur dan desain arsitektur, untuk membedakan secara jelas arsitektur dan agrikultur.
Riset agrikultur dilakukan secara bertahap memilah lokasi Gurun di dunia, menganalisis jenis tanaman, sampai tipologi agrikultur. Hasil riset mengerucut ke daerah persawahan di dekat sungai Nil, beberapa kilometer di luar Khartoum. Dari foto satelit ‘google maps’ kami memilih area yang kontras antara agrikultur dan pemukiman, agrikultur dan gurun, sangat kontras.
Sementara pendekatan arsitektur kami, berangkat dari abstraksi di atas, mencoba melawan ‘kesementaraan’ dari paviliun ini dengan ide ‘menjadi puing’, yang untuk itu, secara konstruktif membuat kami memilih ‘rammed earth’ (tanah yang dipadatkan) sebagai metode membangun. Paviliun ini tidaklah menunjukkan agrikultur secara langsung, melainkan proses imigrasi–bisa dibilang perjalanan–penduduk meninggalkan ladang tanaman untuk pergi bekerja ke kota. Sebuah kejadian umum yang dapat menyebabkan perluasan permukaan gurun (desertification). Perjalanan ini dijewantahkan ke dalam ruang-ruang yang didesain memiliki aura spesifik. Apabila perjalanan ini merupakan ritual, maka denah terbuka tidak menjadi pilihan, melainkan ruang yang dibuat untuk suasana dan fungsi tertentu. Masuk, jalan dari kamar ke kamar, keluar ke arah yang berbeda. Ruang ini, secara keseluruhan, sangat linear. Dengan kata lain, kaku, tegas, kuno namun pada tempatnya.
Keempat ruang terbagi secara fungsional dan abstrak, ruang pameran dan ruang teater (ke-2 dan ke-4), ruang dengan taman berkolam serta ruang meditasi (1 dan 3) yang harus melalui ‘ramp’ yang landai menembus kolong gelap setinggi 2,40 meter. Ruang-ruang tersebut disusun secara geometris dasar (hampir) kubus dengan dimensi total 8x8x8 meter (3 meter ke bawah tanah) dengan ketebalan dinding 60 cm, berdampingan satu sama lain.
Seluruh permukaan tapak ditutup dengan kerikil (sticked-gravel) dengan beberapa lahan terbuka sebagai lahan tanaman dan oase di ujung belakang tapak. Lahan ini adalah percobaan tumbuhan dari permukaan pasir hydrophobic, sebagai corak pameran teknologi di paviliun ini, pasir yang memiliki daya tahan kelembaban yang tinggi (saat ini dikembangkan oleh UAE), untuk membuka kemungkinan bercocok-tanam kembali (agrification), jagung, gandum atau bahkan padi di gurun.
Jika dari muka tapak, paviliun Gurun ini terasa kering dan sulit, dalam perjalanannya bayangan, gradasi cahaya, air dan pada ruang teater (ruang ke 4), pengunjung dapat melihat tanaman dan pepohonan yang dibingkai oleh dinding paviliiun, sebagai simbol optimisme dan kehidupan.
Pada akhirnya, bagaimanapun juga Expo adalah pameran, dan penjelasan fitur pameran secara didaktik tidak dapat kami hindari, seperti tertuang di akhir tapak paviliun ini. Namun pencitraan ide migrasi dan strategi menanam kembali (agrification) sekaligus identitas Gurun terjewantahkan secara jelas.













by andika
On September 25, 2010 at 6:10 pm
Mas Rafael,
Suka bentuk dan ide “rammed earth’ nya!