Logo

Pritzker Prize 2012: Wang Shu

1 March 2012 - 17:43 by dannywicaksono.
Categories: News and Updates

Ini menarik.
Wang-Shu (49tahun) adalah salah satu arsitek cina paling menarik sekarang. Jika ada arsitek cina pertama yang berada di nominasi teratas untuk menerima pritzker prize, dia adalah orangnya. Dan hari ini terbukti.

Saya pertama kali mengetahui tentang wangshu tahun 2009 lewat majalah MARK. Ningbo Historic museum of art nya (yang menjadi cover MARK edisi itu) menarik perhatian saya. Setelah membaca edisi itu, saya mengusulkan agar Wang-Shu diundang sebagai salah satu pembicara di JAT2009. Waktunya tidak cocok, beliau tidak bisa hadir.

Agustus tahun 2010, saya dan beberapa orang teman, mengunjungi beberapa karyanya di kota Hangzhou dan Ningbo. Xiangshan Campus of Art di Hangzhou dan Ningbo historic museum dan Ningbo Art Museum.

Di Xiangshan Campus, dimana dia mendesain masterplan dan seluruh bangunannya, saya terkejut. Saya tidak menyangka kualitas ruang dan arsitekturnya akan sebagus yang saya lihat. Saya merasa desain itu mengajarkan saya tentang mempelajari dan mengenal asal-usul saya. Dibangunan itu, saya merasa bahwa Wang Shu sudah sangat memahami asal-usulnya dan berhasil menterjemahkan itu kedalam bahasa arsitektur kontemporer. Ini yang saya katakan kepada beliau dan beliau mengatakan bahwa dugaan saya itu benar.

Naiknya Wang-Shu ke permukaan arsitektur Internasional, sebetulnya cukup meteorik kalau kita melihat daftar panjang penerima-penerima lainnya. Mungkin bisa disamakan dengan Jeremy Lin di NBA (pemain basket NBA di klub New York Knicks, yang sebulan ini, mencuri perhatian dunia)

Wawancara pertama dalam bahasa inggris dengan Wang-Shu dilakukan oleh jurnalis Belgia yang kini bermukim di Shanghai, Bert De Muynck wawancara ini adalah artikel yang dimuat di majalah MARK tahun 2009 lalu . Itu adalah kali pertama dunia arsitektur internasional diperkenalkan kepada Wang-Shu.

Jika kemudian, 3 tahun setelah wawancara pertama yang dimuat di majalah MARK itu, Wang Shu kemudian mendapatkan Pritzker Prize, maka ini adalah hal yang sangat mengejutkan. Bandingkan dengan Peter Zumthor, yang setelah semua karyanya yang mengagumkan itu, beliau baru mendapatkannya di tahun 2009 kemarin. Atau Paolo Mendes Da Rocha yang mendapatkan pritzker prize di tahun 2006 di usia 78 tahun.

Saya rasa untuk tahun ini, Pritzker Prize terlalu terburu-buru memberikan penghargaan ini untuk WangShu, saya pikir panitia sendiri kurang mengenal dan belum mendapatkan banyak informasi tentang Wang Shu. Ini terbukti dari “komplain” majalah MARK yang merasa press release dari Pritzker Prize, banyak mengambil dari wawancara Bert de Muynck yang dimuat di majalah mereka

Saya sudah memperkirakan bahwa penerima Pritzker Prize tahun ini akan dari Amerika Selatan atau Asia, dan akan tidak terduga. Saya tidak mau menebak Wang Shu karena saya pikir beliau masih perlu beberapa karya lagi untuk membuktikan konsitensinya. Lima tahun lagi, jika beliau sudah memiliki beberapa karya terbangun dengan kualitas yang sama seperti Xiangshan Campus, maka saya akan berani menyebut namanya. Ini mengapa saya terkejut juga ketika namanya diumumkan sebagai penerima.

“Ketergesaan” dalam pemilihan Wang Shu sebagai penerima Pritzker tahun ini, mungkin menunjukan adanya hal yang mungkin bisa dibilang bergeser di dunia arsitektur global. Dari arsitektur yang merayakan ego arsitek, dan konsep-konsep besar, ke arsitektur yang lebih berkutat dengan hal-hal yang kecil, regionalisme dan konteks-konteks yang ada disekitar lingkungan si arsitek dan disekitar proyek.

Jika kita lihat, setidaknya sejak Paolo Mendes da Rocha (yg menerima di tahun 2006) 4 arsitek yang menerimanya adalah arsitek-arsitek yang selalu mencoba untuk mendesain dengan berangkat dari dan menggali konteks yang mereka miliki dalam proyek mereka. Misalnya stadion sepak bola Braga (yang di desain oleh Souto de Moura) yang menggunakan batu alam setempat dan menggunakan alam sekitar sebagai latar belakang. Begitu juga Zumthor, Kazuya Sejima, Ryue Nishizawa, dan Mendes da Rocha. Sekarang Wang Shu.

Saya curiga, para dewan juri tidak mampu menemukan arsitek seusia Wang-Shu dari negara lain, yang memiliki kualitas desain yang tinggi dan menghasilkan karya dengan latar belakang pemikiran seperti ini lagi. Oleh karena itu, mereka seperti memaksakan untuk memberikan penghargaan tahun ini kepada WangShu, meski dunia baru mengenalnya 3 tahun lalu, dan paling tidak baru 3 atau 4 karya dengan skala besar yang dia selesaikan. Rasanya belum juga ada buku yang pernah dia terbitkan, atau yang memuat kumpulan karyanya. Yang mungkin juga membantu beliau untuk terlibat lebih di dunia internasional adalah keikutsertaan beliau di Venice Biennale 2010.

Saya tidak ingin menduga banyak tentang para jurinya, namun yang menarik perhatian saya adalah Alejandro Aravena, arsitek Cile yang pemikiran-pemikirannya banyak berbicara tentang melihat hal-hal yang ada sekitarnya dengan kritis. Arsitek yang melihat bahwa arsitek dan arsitekturnya, sebaiknya juga bisa menyelesaikan masalah-masalah regionalnya, selain juga harus berkembang dari karakteristik regional yang ada. Saya pikir, Aravena punya peran besar dalam pemberian pritzker prize tahun ini kepada WangShu. Dan dengan lineup juri yang kritis seperti sekarang  saya pikir ketidakterdugaan seperti ini, masih akan berlanjut lagi di tahun-tahun ke depan. Saya menebak penerima berikutnya akan datang dari Amerika Selatan.

Kembali kepada Wang Shu; Kemunculan Wang Shu (dan banyak arsitek cina lainnya seperti Urbanus, Liu Xiaodu, Zhang Ke, Ma Yungson, Zhu Pei, Liu Jiakun, dll) sejalan paralel dengan boom ekonomi,properti dan keterbukaan pemerintah cina kepada dunia. Ketika pada akhirnya kesempatan-kesempatan untuk mendesain itu datang, arsitek-arsitek cina mampu menghasilkan karya arsitektur yang mampu membuat banyak arsitek dan pemerhati arsitektur dari negara-negara lain, menoleh kepada mereka dan kemudian mengakui kualitas hasil kerja mereka. Kini, dengan banyaknya arsitektur yang menarik di cina, dan kemudian dengan diakuinya Wang Shu sebagai penerima, apa yang dianggap sebagai penghargaan tertinggi dalam dunia arsitektur, rasanya iklim arsitektur cina sudah berada diantara iklim arsitektur yang paling menarik di dunia.
Yang menarik untuk diikuti adalah pengaruh apa yang akan terjadi kepada aristek-arsitek muda atau mahasiswa arsitektur di cina sekarang. Saya pikir ini adalah pengangkat moral yang besar untuk arsitektur cina sekarang. Setiap arsitek di cina, rasanya bisa berpikir bahwa ada kemungkinan untuk hasil kerja mereka diberikan penghargaan tertinggi dalam arsitektur, karena arsitektur cina sudah ada dalam perhatian dunia. Hal ini pasti memacu, setidaknya beberapa arsitek cina, untuk menghasilkan karya yang paling tidak memiliki kualitas setara dengan Wang Shu, jika tidak lebih baik. Dan ini, hanya akan membuat kebudayaan bangun cina menjadi lebih baik.

Indonesia kini memiliki pertumbuhan ekonomi yang berada diantara yang terbesar di dunia. Dan banyak yang bilang bahwa apa yang terjadi di Indonesia kini, memiliki gejala yang sama seperti ketika cina akan boom properti dan ekonomi. Ekonomi baik, dan pembangunan bergeliat dimana-mana. Dari yang saya dengar, banyak teman arsitek juga tidak kekurangan kerjaan. Bahkan beberapa minggu terakhir, banyak sekali iklan lowongan kerja di milis ini, dan di facebook. Kesempatan untuk menghasilkan karya sepertinya terus ada dan mungkin bertambah banyak.

Pertanyaan untuk kita jawab lewat karya: apakah kita mampu menghasilkan hasil kerja yang mampu membuat arsitek dan pemerhati arsitektur dari negara lain, menoleh dan memperhatikan kita juga?

Danny Wicaksono

 
Trackbacks are closed, but you can post a comment.
« jongBerbagi! mobile library : berbagi buku, berbagi ilmu
Forum Arsitek ID.SG »

Leave comments

Click here to cancel reply.








  • Home
  • We are the Jongs!
  • Grab a magz!
  • jongBincang!
  • Meet and Greet :)
  • Need to Contact Us?
  • Shop!
  • News and Updates
  • We Proudly Present..
    • We are Architects
    • Brilliant!
    • Architect Does!
  • digiMove
  • Follow Us On

  • Recent Posts

    • Pameran : INCH Furniture
    • International Workshop: SMART CITY
    • Cikapundung River Cinema
  • Recent Comments

    • MAPPISARA TAHUDDIN on Forum Arsitek ID.SG
    • MAPPISARA TAHUDDIN on Video Presentasi Karya Arsitek Indonesia di Singapura
    • ashef on Integrated Tropical City; Core dari Kota-Kota Masa Depan Indonesia (Essay Pemenang Urbane Fellowship Program #3)
  • architerian-160-60-1
  • vidour
 
Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
Wordpress, theme design by Infochel. Hosting by Raxdata Networks.