<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jongArsitek! &#187; Admin</title>
	<atom:link href="http://jongarsitek.com/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jongarsitek.com</link>
	<description>desain menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 03:32:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>CS8 Semarang : imagination</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/08/08/cs8-semarang-imagination/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/08/08/cs8-semarang-imagination/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 16:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1130</guid>
		<description><![CDATA[bersamaan dengan gempita kemerdekaan dan damainya bulan ramadhan marilah kita saling berbagi. berbagi imajinasi, berbagi ide, berbagi inspirasi, berbagi visi serta semangat juang, dan juga&#8230; berbagi kreatifitas. imag!nation : pameran karya desain dan arsitektur. 16 &#8211; 22 Agustus 2010]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/imagination-semarang.jpg" rel="lightbox[1130]"><img src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/imagination-semarang.jpg" alt="" title="imagination-semarang" width="546" height="719" class="aligncenter size-full wp-image-1131" /></a></p>
<p>bersamaan dengan gempita kemerdekaan dan damainya bulan ramadhan marilah kita saling berbagi.<br />
berbagi imajinasi, berbagi ide, berbagi inspirasi, berbagi visi serta semangat juang, dan juga&#8230; berbagi kreatifitas.</p>
<p>imag!nation : pameran karya desain dan arsitektur.<br />
16 &#8211; 22 Agustus 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/08/08/cs8-semarang-imagination/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LABO &#124; Pemenang 1 sayembara Penataan : Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/07/27/labo-pemenang-1-sayembara-penataan-museum-konferensi-asia-afrika-bandung/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/07/27/labo-pemenang-1-sayembara-penataan-museum-konferensi-asia-afrika-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 14:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1110</guid>
		<description><![CDATA[New Museum diangkat sebagai tema yang menumbuhkan semangat baru untuk menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari beragam kalangan. Museum selayaknya tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah namun juga harus menjadi tempat yang menarik, aksesibel untuk seluruh ragam komunitas dan menjadi tempat alternatif berkumpulnya masyarakat dalam upaya meningkatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo01.JPG" alt="" width="740" height="434" /></p>
<p>New Museum diangkat sebagai tema yang menumbuhkan semangat baru untuk menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari beragam kalangan. Museum<br />
selayaknya tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah namun juga harus menjadi tempat yang menarik, aksesibel untuk seluruh ragam komunitas dan menjadi tempat alternatif berkumpulnya masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi kotanya secara berkelanjutan.</p>
<p>Membangun kembali ruh kompleks MKAA (Museum Konperensi Asia Afrika) tidak dapat terlepas dari upaya mengenang spirit kebangkitan yang lekat dengan peristiwa KAA itu sendiri. Peristiwa KAA bukan sekedar peristiwa berskala Kota Bandung, namun peristiwa yang mengharumkan nama Indonesia sebagai sebuah negara yang berpengaruh secara internasional terutama di dalam membangun kekuatan poros baru yang menggabungkan kekuatan Asia dan Afrika pada masanya. Membangkitkan kembali kawasan museum KAA menuntut kita berpijak pada sejarah gemilang tersebut untuk diwariskan dan terus terjaga hingga ke generasi mendatang.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo02.JPG" alt="" width="740" height="534" /></p>
<p>Tujuan dari perancangan kompleks kawasan ini adalah :<br />
1. Tersusunnya konsep perencanaan dan perancangan kompleks MKAA yang tanggap terhadap &#8216;konteks sejarah (heritage-context)&#8217;.<br />
2. Tersusunnya program aktifitas bagi kegiatan revitalisasi bangunan-bangunan penting dalam kawasan sesuai prinsip perancangan dalam kawasan cagar budaya. sedangkan Sasaran dari perencanaan antara lain :<br />
1. Rumusan masalah-masalah spesifik dalam tapak seperti polusi, intensitas kegiatan masyarakat, kepadatan lalu lintas, bantaran air sungai (Cikapundung), dan permasalahan lainnya.<br />
2. Rumusan konsep pengembangan Kompleks MKAA/ Gedung Merdeka dan sekitarnya<br />
3. Rancangan lingkungan yang memperhatikan tautan (linkages), koridor, ruang antar bangunan, dan atau ruang publik pada kawasan secara komprehensif</p>
<p><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo03.JPG" alt="" width="740" height="315" /></p>
<p>Figure ground dari blok MKAA, warna merah adalah bangunan yang dikonservasi. Keberadaan sungai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari museum. Permasalahan dari kawasan ini antara lain :<br />
- matinya fungsi beberapa bangunan<br />
- kurangnya ruang terbuka hijau<br />
- munculnya lost space (ruang mati yg tidak dikelola)<br />
- masalah kemacetan dan parkir<br />
- kurangnya street furniture dan fasilitas umum<br />
- kualitas sungai cikapundung yang tidak terawat dengan baik.<br />
Ditengah penurunan vitalitas kawasan Braga, makna museum menghilang seiring dengan menghilangnya fungsifungsi penunjang museum di sekitarnya.</p>
<p>Pada dasarnya blok MKAA yang dilalui sungai cikapundung memiliki potensi dalam menyediakan waterfront dan promenade bagi kawasan , ditambah dengan konteks historis di dalamnya serta bangunan-bangunan bersejarahnya,maka pengembangan museum yang lebih luas dan dinamis dapat dimaksimalkan.</p>
<p>Konsep oase menjadi pilihan di saat kawasan kekurangan ruang terbuka hijau dan ruang publik yang memadai. Alun alun di sisi selatan kompleks MKAA yang dahulu merupakan ruang terbuka publik beralih fungsi menjadi halaman masjid dan ruang parkir. Kerinduan akan suasana kota Bandung yang sejuk dan rindang menjadi salah satu inspirasi pengembangan museum yang baru. Ketimbang membuat sebuah massa baru yang kontras dengan bangunan lama,desain museum baru dibuat menyerupai taman,dengan sekuen-sekuen yang terjaga.</p>
<p>Museum baru dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar, multi entry, berinteraksi dengan masyarakat,sungai, jalur-jalur pedestrian, taman, dan memberi sekuen pengalaman diantara bangunan lama, bangunan baru, dan alam. Ia akan lebih terbuka, melebur dalam kehidupan kota sehari hari.</p>
<p>Strategi pengembangan museum baru dan penataan kawasan antara lain :</p>
<p>URBAN OASE<br />
Penciptaan sebuah plaza dengan bermacam vegetasi dan fasilitas selain sebagai area resapan juga berfungsi sebagai simpul jalur pedestrian dan pusat orientasi sekaligus generator aktifitas.</p>
<p>PENATAAN TAMAN DAN SUNGAI<br />
Bantaran sungai Cikapundung akan difasilitasi dengan pengolahan sampah sederhana dan<br />
menjadi ruang hijau untuk mengembalikan keseimbangan ekologi dan menerus masuk ke<br />
dalam plasa, menyatu pada atap-atap hijau bangunan baru</p>
<p>IMAGE BRANDING<br />
Feature street furniture yang khas akan menjadi brand image baru yang mengingatkan masyarakat<br />
tentang museum KAA</p>
<p>PENATAAN FUNGSI BANGUNAN DAN LINKAGE<br />
Fungsi-fungsi bangunan pada kompleks Museum<br />
KAA akan diprioritaskan pada fungsi museum dan fungsi penunjangnya, dengan sebuah jalur yang<br />
saling terhubung sehingga menyediakan pilihanpilihan tujuan.</p>
<p>PEMANFAATAN LORONG BAWAH TANAH DAN PENCIPTAAN BASEMENT<br />
Museum KAA akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung baru dan pemanfatan lorong bawah<br />
tanah sebagai bagian dari sekuen perjalanan museum.</p>
<p>PERAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN<br />
Masyarakat dilibatkan dalam pengembangan museum yang dikemas dalam suatu event. (penanaman bunga,pohon,pengolahan sampah,</p>
<p><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo04.JPG" alt="" width="740" height="1305" /><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo05.JPG" alt="" width="740" height="700" /><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo06.JPG" alt="" width="740" height="498" /></p>
<p><em>MASSA BANGUNAN</em></p>
<p>Beberapa massa bangunan eksisting dirobohkan untuk mendapatkan skyline kawasan yang terjaga dan persentase ruang terbuka yang lebih banyak. Massa-massa baru dibuat terpecah sesuai dengan kapling kapling eksisting sehingga proses pentahapan pembangunan lebih mudah. Ketinggian dibatasi hingga 3 lantai sehingga bangunan-bangunan sekitar masih dapat<br />
terlihat dari arah taman.Jarak antar massa disesuaikan untuk mendapatkan skala yang beragam. Sedangkan untuk daerah sungai tidak dibangun massa baru untuk memaksimalkan unsur alami di blok tersebut. Area sungai kemudian dihubungkan dengan area museum melalui sebuah taman terbuka yang sekaligus menjadi simpul kawasan serta, di sini pengunjung dapat memilih aktifitas dan tujuan sesuai keingunan.</p>
<p>Penataan area sungai dilakukan dengan membuat fasilitas pengolahan sampah yang dioperasikan bersama masyarakat setempat.Di tepian sungai ditanam pohon-pohon peneduh untuk kenyamanan pejalan kaki dan mengembalikan ekosistem sungai. Area promenade menjadi ruang multifngsi sebagai bagian dari ekstensi museum.<br />
<em></em></p>
<p><em><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo07.JPG" alt="" width="740" height="583" /><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo08.JPG" alt="" width="740" height="802" /><br />
SIRKULASI</em></p>
<p>Tidak ada akses jalan yang ditutup pada sirkulasi baru .Sirkulasi pejalan kaki diperbanyak dengan jalur-jalur baru dalam blok museum,jembatan penghubung,basemen,dan menerus menuju museum. Akses masuk museum di area taman terhubung dengan akses basemen. Blok dibuat lebih permeabel dengan menambah beberapa pintu masuk. Di setiap tepi massa terdapat selasar di dalam dan luar blok sehingga aktifitas window shopping dapat terjadi di kedua sisi bangunan.</p>
<p>Sirkulasi kendaraan menuju parkir basemen diletakkan pada jalan Braga selatan,dengan memanfaatkan perbedaan kontur yang miring ke arah sungai ,maka pembuatan basemen dapat lebih mudah. Basemen dibuat pada sebagian lahan sehingga masih menyisakan area resapan dan pohon pohon yang besar. Keberadaan ruang bawah tanah eksisting dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai alternatif galeri dan sirkulasi pengunjung. Sebuah sunken gallery berbentuk lingkaran diletakkan di tengah taman,memberi komunikasi visual pada pengunjung diatas taman . Sirkulasi baru dibuat untuk menghubungkan fungsifungsi penunjang museum dan memberikan pilihan tujuan yang beragam pada pengunjung.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo09.JPG" alt="" width="740" height="1127" /><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo10.JPG" alt="" width="740" height="675" /></p>
<p>SEKUEN KAWASAN</p>
<p>Aktifitas awal yang sudah terbentuk akan memudahkan penciptaan sekuen visual kawasan. Dari arah braga,pengunjung dapat masuk melalui pintu masuk utara,menuju ke museum melewati taman dan pepohonan. Dari sisi barat dapat melalui jembatan penghubung,di sini bangunan lama dan baru terlihat kontras namun memiliki ketinggian yang sejajar. Bangunan perpustakaan menjadi fokus utama area belakang museum,dengan fasad transparan untuk memperlihatkan aktifitas di dalamnya.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo11.JPG" alt="" width="740" height="532" /><img class="alignnone" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo12.JPG" alt="" width="740" height="1065" /></p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-14-1110">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://jongarsitek.com/2010/07/27/labo-pemenang-1-sayembara-penataan-museum-konferensi-asia-afrika-bandung/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-246" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo01.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo01" alt="mkaa_labo01" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo01.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-247" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo02.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo02" alt="mkaa_labo02" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo02.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-248" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo03.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo03" alt="mkaa_labo03" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo03.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-249" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo04.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo04" alt="mkaa_labo04" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo04.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-250" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo05.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo05" alt="mkaa_labo05" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo05.JPG" width="79" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-251" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo06.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo06" alt="mkaa_labo06" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo06.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-252" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo07.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo07" alt="mkaa_labo07" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo07.JPG" width="95" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-253" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo08.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo08" alt="mkaa_labo08" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo08.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-254" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo09.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo09" alt="mkaa_labo09" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo09.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-255" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo10.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo10" alt="mkaa_labo10" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo10.JPG" width="82" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-256" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo11.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo11" alt="mkaa_labo11" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo11.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-257" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/mkaa_labo12.JPG" title=" " rel="lightbox[set_14]" >
								<img title="mkaa_labo12" alt="mkaa_labo12" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/mkaa_labo/thumbs/thumbs_mkaa_labo12.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class="ngg-clear"></div> 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/07/27/labo-pemenang-1-sayembara-penataan-museum-konferensi-asia-afrika-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aradnagna &#124; Entry sayembara Penataan : Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/07/27/aradnagna-entry-sayembara-penataan-museum-konferensi-asia-afrika-bandung/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/07/27/aradnagna-entry-sayembara-penataan-museum-konferensi-asia-afrika-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 14:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1094</guid>
		<description><![CDATA[MKAA Expo oleh Aradnagna Ini adalah salah satu karya Sayembara Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) untuk merevitalisasi kompleks museum/Gedung Merdeka, Bandung, yang merupakan bagian dari rangkaian acara dua tahunan Arte-Polis. Sebuah sayembara gagasan bertema New Museum yang diangkat untuk menumbuhkan semangat baru dan menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MKAA Expo</strong> oleh <a href="http://www.aradnagna.com/">Aradnagna</a></p>
<p>Ini adalah salah satu karya Sayembara Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) untuk merevitalisasi kompleks museum/Gedung Merdeka, Bandung, yang merupakan bagian dari rangkaian acara dua tahunan Arte-Polis. Sebuah sayembara gagasan bertema New Museum yang diangkat untuk menumbuhkan semangat baru dan menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari beragam kalangan, aksesibel untuk seluruh ragam komunitas, dan menjadi tempat alternatif berkumpulnya masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi kotanya secara berkelanjutan.</p>
<p>Tugas yang diberikan adalah mengusulkan konsep perencanaan dan perancangan yang tanggap terhadap konteks sejarah MKAA dan menyusun program aktifitas bagi kegiatan revitalisasi bangunan-bangunan penting dalam kompleks sesuai prinsip perancangan dalam kawasan cagar budaya.</p>
<p>Skema dasar dari tema New Museum adalah menginterpretasikan kembali konsep museum yang ada agar tidak lagi dingin/angker sehingga identik dengan suasana formal/akademik dan terbatas bagi kalangan tertentu saja (siswa, peneliti, sejarawan), melainkan agar menjadi lebih dinamis dan selalu segar dengan membuka lebih banyak kesempatan pada karya-karya baru/kontemporer untuk masuk dan dipamerkan di dalam kompleks ini. Tidak hanya sebatas karya untuk dipamerkan, yang paling penting adalah untuk mampu menyerap masuk berbagai macam kegiatan yang berpotensi menghidupkan kompleks baik secara ragam kegiatan maupun secara ekonomi, sekaligus meningkatkan rasa kepemilikan warga terhadap kompleks museum ini karena telah berpartisipasi di dalamnya. Sebuah Expo; MKAA Expo.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar01.jpg" rel="lightbox[1094]"><img class="alignnone size-full wp-image-1095" title="aradnagna_malabar01" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar01.jpg" alt="" width="720" height="581" /></a></p>
<p>Strategi yang ditawarkan adalah bagaimana ‘<em>menghidupkan kembali daya tarik kompleks MKAA/Gedung Merdeka yang pernah menjadi magnet di tahun 1955</em>’ dengan proyeksi untuk menjadi sebuah icon dan simpul aktifitas bagi lingkungan di sekitarnya, pada khususnya bagi Jalan Braga. Sebuah alun-alun baru; Alun-Alun MKAA. Kemudian massa melayang terhubung dengan massa MKAA lama dengan menyuntikkan sebuah Galeri Penguhubung ke dalam MKAA lama yang berujung pada sebuah travelator yang membawa pengunjung ke atas ke galeri kontemporer baru tadi</p>
<p>1.	Langkah pertama adalah menyusun sebuah kalender acara tahunan yang dapat memfasilitasi acara-acara akbar berskala lokal/nasional/internasional untuk dilaksanakan pada tiap-tiap bulannya.<br />
2.	Memperbesar galeri karya temporer yang kini ukurannya terlalu kecil untuk dapat menggelar acara pameran yang berdampak signifikan terhadap keseluruhan kompleks.<br />
3.	Menyuntikkan program ruang yang dapat mendatangkan pemasukan seperti kafe, toko, ruang pertemuan/auditorium, dan hotel, sehingga secara ekonomi kompleks ini dapat memenuhi kebutuhannya sendiri (self-sustained).<br />
4.	Menyerap aktifitas informal di sekitar kompleks yang kini kurang tertata agar menjadi lebih tertib, terutama masalah parkir.<br />
Langkah-langkah ini dilakukan dengan memaksimalkan kesempatan yang diberikan oleh pemberi tugas untuk mengganti seluruh bangunan non-konservasi yang tidak tertata dan tumbuh tanpa pertimbangan terhadap keseluruhan kompleks dengan infiltrasi bangunan baru yang lebih terintegrasi dengan konsep New Museum.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar02.jpg" rel="lightbox[1094]"><img class="alignnone size-full wp-image-1096" title="aradnagna_malabar02" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar02.jpg" alt="" width="720" height="274" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar03.jpg" rel="lightbox[1094]"><img class="alignnone size-full wp-image-1097" title="aradnagna_malabar03" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar03.jpg" alt="" width="720" height="427" /></a></p>
<p>Keadaan kompleks yang kini masih dipisahkan oleh Jalan Cikapundung Timur dipersatukan kembali dengan menutup jalan tersebut dari arus kendaraan publik menjadi salah satu fasilitas untuk agenda kegiatan tahunan. Pembebasan ini juga memungkinkan pengolahan bantaran sungai agar menjadi lebih menarik dan fungsional. Lalu-lintas yang kemudian dialihkan ke Jalan Cikapundung Barat menjauhkan sumber polusi disaat kemacetan keluar dari kompleks ini, dan dengan begitu Jalan Cikapundung Barat yang memiliki potensi ekonomi namun selama ini sepi akan menjadi lebih bergairah berkat limpahan lalu-lintas yang lebih ramai.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar06.jpg" rel="lightbox[1094]"><img class="alignnone size-full wp-image-1098" title="aradnagna_malabar06" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar06.jpg" alt="" width="720" height="184" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar04.jpg" rel="lightbox[1094]"><img class="alignnone size-full wp-image-1099" title="aradnagna_malabar04" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar04.jpg" alt="" width="720" height="1477" /></a></p>
<p>Kebutuhan ruang yang terbentuk dari kalender acara tahunan pada lahan yang telah dibebaskan dari bangunan-bangunan non-konservasi kemudian dikelompokkan menjadi tiga zoning utama (secara vertikal), yaitu basement/semi-basement (parkir), lantai dasar terbuka yang ternaungi/tidak ternaungi (plaza/alun-alun), dan sebuah massa melayang yang menaungi sebagian plaza tadi (infiltrasi massa baru di dalam kompleks : auditorium, perpustakaan &amp; kafe, galeri kontemporer). Bentukan massa baru mengisyaratkan sesuatu yang menjembatani dua potensi yang ada pada dan di sekitar site, yaitu badan air Sungai Cikapundung dan Jalan Braga. Plaza ternaungi yang terbentuk di bagian bawahnya dapat digunakan sepanjang waktu untuk kegiatan seperti bazaar dan sebagainya, dimana luasan massa yang menaungi adalah sama dengan KDB/luasan lantai dasar bangunan-bangunan yang digantikan. Seolah massa ini adalah kumpulan bangunan existing yang dikonfigurasikan ulang kemudian diangkat levelnya hingga menyisakan plaza multi-fungsi di bawahnya.<br />
Plaza yang tidak ternaungi oleh massa melayang terbentuk dari penambahan platform pada sebagian badan sungai yang menciptakan tempat dimana warga bisa berkumpul untuk menyaksikan panggung kesenian terbuka, konser musik, layar tancap, ataupun video-mapping. Sebuah platform yang merupakan miniatur dari alun-alun yang sebenarnya yang berada di sekitar kompleks ini.</p>
<p>Platform tersebut berada pada level yang sama dengan lapis pertama area parkir yang berada pada level semi-basement terhadap Jalan Braga. Lahan parkir ini didesain untuk dapat memuat sebanyak 402 mobil dan 228 motor. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan parkir program ruang-program ruang baru, angka ini diharapkan dapat menyerap kebutuhan parkir yang selama ini kurang tertib dengan menggunakan bahu jalan sehingga menambah kemacetan pada Jalan Cikapundung dan sekitarnya.</p>
<p>MKAA Expo dikonsep sebagai sebuah perwakilan dari jamannya, untuk memperkaya nilai historis kompleks ini dengan menampilkan semangat yang berlangsung pada saat bangunan ini dirancang. Tanpa berusaha mengimitasi langgam dari tahun-tahun yang telah berlalu diharapkan justru membuat kompleks ini menjadi lebih lengkap merekam perjalanan sejarah pada umumnya, dan sejarah arsitektur pada khususnya.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar07.jpg" rel="lightbox[1094]"><img class="alignnone size-full wp-image-1100" title="aradnagna_malabar07" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/aradnagna_malabar07.jpg" alt="" width="720" height="393" /></a></p>
<p>Aradnagna Architects<br />
Juli 2010</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-13-1094">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://jongarsitek.com/2010/07/27/aradnagna-entry-sayembara-penataan-museum-konferensi-asia-afrika-bandung/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-241" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/aradnagna_malabar05.JPG" title=" " rel="lightbox[set_13]" >
								<img title="aradnagna_malabar05" alt="aradnagna_malabar05" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/thumbs/thumbs_aradnagna_malabar05.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-242" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/aradnagna_malabar08.JPG" title=" " rel="lightbox[set_13]" >
								<img title="aradnagna_malabar08" alt="aradnagna_malabar08" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/thumbs/thumbs_aradnagna_malabar08.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-243" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/aradnagna_malabar09.JPG" title=" " rel="lightbox[set_13]" >
								<img title="aradnagna_malabar09" alt="aradnagna_malabar09" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/thumbs/thumbs_aradnagna_malabar09.JPG" width="86" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-244" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/aradnagna_malabar10.JPG" title=" " rel="lightbox[set_13]" >
								<img title="aradnagna_malabar10" alt="aradnagna_malabar10" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/thumbs/thumbs_aradnagna_malabar10.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-245" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/aradnagna_malabar11.JPG" title=" " rel="lightbox[set_13]" >
								<img title="aradnagna_malabar11" alt="aradnagna_malabar11" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/aradnagna_malabar/thumbs/thumbs_aradnagna_malabar11.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class="ngg-clear"></div> 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/07/27/aradnagna-entry-sayembara-penataan-museum-konferensi-asia-afrika-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEMAYA : Bedah karya Andyrahman Architect</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/07/26/demaya-bedah-karya-andyrahman-architect/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/07/26/demaya-bedah-karya-andyrahman-architect/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 07:03:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1090</guid>
		<description><![CDATA[DEMAYA mempersembahkan Bedah Karya Andyrahman Architect, Ira Residence @ SukoLilo Park Regency Blok F/7 Surabaya, turut pula presentasi karya tugas akhir terbaik dari Institut Teknologi Sepuluh November, Presentasi &#8220;Shop House at Kendang Sari&#8221; oleh ARA Studio, dan Karya d_Pavillion ole Edwin Nafarin]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/oh_demaya_ar_2010_01.jpg" rel="lightbox[1090]"><img src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/oh_demaya_ar_2010_01.jpg" alt="" title="oh_demaya_ar_2010_01" width="720" height="509" class="alignnone size-full wp-image-1091" /></a></p>
<p>DEMAYA mempersembahkan</p>
<p>Bedah Karya Andyrahman Architect, Ira Residence @ SukoLilo Park Regency Blok F/7 Surabaya, turut pula presentasi karya tugas akhir terbaik dari Institut Teknologi Sepuluh November, Presentasi &#8220;Shop House at Kendang Sari&#8221; oleh ARA Studio, dan Karya d_Pavillion ole Edwin Nafarin</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-12-1090">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://jongarsitek.com/2010/07/26/demaya-bedah-karya-andyrahman-architect/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-233" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/oh_demaya_ar_2010_02.JPG" title=" " rel="lightbox[set_12]" >
								<img title="oh_demaya_ar_2010_02" alt="oh_demaya_ar_2010_02" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/thumbs/thumbs_oh_demaya_ar_2010_02.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-234" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/oh_demaya_ar_2010_03.JPG" title=" " rel="lightbox[set_12]" >
								<img title="oh_demaya_ar_2010_03" alt="oh_demaya_ar_2010_03" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/thumbs/thumbs_oh_demaya_ar_2010_03.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-235" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/oh_demaya_ar_2010_04.JPG" title=" " rel="lightbox[set_12]" >
								<img title="oh_demaya_ar_2010_04" alt="oh_demaya_ar_2010_04" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/thumbs/thumbs_oh_demaya_ar_2010_04.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-236" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/oh_demaya_ar_2010_05.JPG" title=" " rel="lightbox[set_12]" >
								<img title="oh_demaya_ar_2010_05" alt="oh_demaya_ar_2010_05" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/thumbs/thumbs_oh_demaya_ar_2010_05.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-237" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/oh_demaya_ar_2010_06.JPG" title=" " rel="lightbox[set_12]" >
								<img title="oh_demaya_ar_2010_06" alt="oh_demaya_ar_2010_06" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/thumbs/thumbs_oh_demaya_ar_2010_06.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-238" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/oh_demaya_ar_2010_07.JPG" title=" " rel="lightbox[set_12]" >
								<img title="oh_demaya_ar_2010_07" alt="oh_demaya_ar_2010_07" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/thumbs/thumbs_oh_demaya_ar_2010_07.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-239" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/oh_demaya_ar_2010_08.JPG" title=" " rel="lightbox[set_12]" >
								<img title="oh_demaya_ar_2010_08" alt="oh_demaya_ar_2010_08" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/thumbs/thumbs_oh_demaya_ar_2010_08.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-240" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/oh_demaya_ar_2010_09.JPG" title=" " rel="lightbox[set_12]" >
								<img title="oh_demaya_ar_2010_09" alt="oh_demaya_ar_2010_09" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_dmaya_ar2010/thumbs/thumbs_oh_demaya_ar_2010_09.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class="ngg-clear"></div> 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/07/26/demaya-bedah-karya-andyrahman-architect/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reportase Open House : Achmad Tardiyana</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/07/26/open-house-achmad-tardiyana/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/07/26/open-house-achmad-tardiyana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 00:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1081</guid>
		<description><![CDATA[Rumah itu berbeda dari deretan rumah yang lainnya, sosoknya temaram di tengah malam yang cukup gulita itu. Pemilik rumah sekaligus arsitek rumah ini, Achmad Tardiyana, membangun rumah ini dengan berawal dari keinginannya untuk membangun rumah murah. Rumah yang dikatakan murah belum tentu tidak estetik, ketika memasuki pekarangan rumah suasana yang terbangun dari kombinasi bentuk, material, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rumah itu berbeda dari deretan rumah yang lainnya, sosoknya temaram di tengah malam yang cukup gulita itu. Pemilik rumah sekaligus arsitek rumah ini, Achmad Tardiyana, membangun rumah ini dengan berawal dari keinginannya untuk membangun rumah murah. Rumah yang dikatakan murah belum tentu tidak estetik, ketika memasuki pekarangan rumah suasana yang terbangun dari kombinasi bentuk, material, dan keadaan lingkungan sekitar keunikan local yang baik.</p>
<p>Dari arah jalan, fasad rumah sangat mengundang, area bukaan mendominasi tampak depan rumah, menciptakan akses visual langsung ke bagian dalam rumah terutama lantai tingkat 1. Rak buku terjajar rapi di suatu sudut, sementara di sudut lainnya sebuah ampiteather mini memanfaatkan kemiringan lahan. Letak rumah yang bersebalahan dengan taman kanak-kanak memberikan dorongan kepada sang arsitek untuk membangun sebuah ruang yang dapat mewadahi kegiatan positif bagi warga sekitar</p>
<p>Hal yang menarik ketika memasuki lantai dua adalah akses langsung dari amphitheater menuju ruang keluarga menciptakan sebuah aliran pergerakan yang menerus dengan bantuan selasar belakang. Selasar belakang tampil seperti perpanjangan ruang keluarga, dengan bangku panjang yang digunakan juga sebagai pembatas. Terdapat juga akses utama yang menghubungkan tingkat 1 sampai dengan tingkat 3 yang berada di sisi lain amphiteather.</p>
<p>Lantai dua berisi kamar mandi, dapur, ruang makan dan ruang keluarga sedangkan lantai tiga bersifat lebih privat berisi ruang kerja dan ruang tidur. Dari lantai atas ini, semua ruang dapat dilihat, memberikan pemilik rumah untuk dapat mengawasi setiap ruangnya.</p>
<p>Konektivitas ruang yang terjadi di dalam bangunan sama seperti ketika kita melihat tampak muka bangunan, akses visual menerus dan hubungan ruang yang menerus, seakan mengundang kita untuk terus bergerak menjelajahi detail setiap ruangnya. Keindahan yang diciptakan bangunan ini adalah dari permainan detail setiap elemennya, sambungan satu material bahan ke material lain dan sambungan-sambungan kabel yang diekspose.</p>
<p> Open house tidak saja diisi dengan jalan-jalan malam di dalam bangunan rumah, kali ini bersamaan dengan launching buku seri rumah ide oleh Imelda Akmal dan presentasi beberapa proyek rumah yang masuk pada buku tersebut. Pada sesi akhir, diskusi juga membahas mengenai perlombaan desain rumah yang diadakan seri rumah ide. Diskusi malam itu berakhir dengan pesan, “Jangan lupa mengikuti perlombaan seri rumah ide. Tuangkan ide-ide segar dari para mahasiswa arsitektur, dan arsitek-arsitek muda sampaikan arsitektur kepada masyarakat.” Semuapun tersenyum simpul menikmati suasana diskusi yang berlangsung di area amphiteather yang terbuat dari papan kayu dan beton. </p>
<p>desain menginspirasi!</p>
<p>Putri Kusumawardhani</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-11-1081">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://jongarsitek.com/2010/07/26/open-house-achmad-tardiyana/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-222" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep01.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep01" alt="oh_apep01" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep01.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-223" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep02.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep02" alt="oh_apep02" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep02.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-224" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep03.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep03" alt="oh_apep03" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep03.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-225" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep04.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep04" alt="oh_apep04" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep04.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-226" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep05.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep05" alt="oh_apep05" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep05.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-227" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep06.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep06" alt="oh_apep06" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep06.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-228" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep07.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep07" alt="oh_apep07" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep07.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-229" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep08.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep08" alt="oh_apep08" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep08.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-230" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep09.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep09" alt="oh_apep09" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep09.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-231" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep10.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep10" alt="oh_apep10" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep10.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-232" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/oh_apep11.JPG" title=" " rel="lightbox[set_11]" >
								<img title="oh_apep11" alt="oh_apep11" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/oh_apep/thumbs/thumbs_oh_apep11.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class="ngg-clear"></div> 	
</div>


<p>foto foto oleh Andhang Rakhmat Trihamdani</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/07/26/open-house-achmad-tardiyana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Summary: Bogor Botanical Gardens International Workshop 2010, 3-10 Juli 2010 (English version, updated)</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/07/26/summary-bogor-botanical-gardens-international-workshop-2010-3-10-juli-2010-english-version-updated/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/07/26/summary-bogor-botanical-gardens-international-workshop-2010-3-10-juli-2010-english-version-updated/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 00:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1076</guid>
		<description><![CDATA[Press Release: English Version Bogor Botanical Gardens International Workshop 2010, 3-10 Juli 2010 The workshop was initiated by Bogor100. Bogor100 community is consisted by individuals who care about Bogor’s urban development and heritage preservation. For this workshop, Bogor100 works together with several institutions and non-govermental communities; Bogor Botanical Gardens, P4W – LPPM IPB, Landscape Department [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Press Release: English Version<br />
Bogor Botanical Gardens International Workshop 2010, 3-10 Juli 2010</p>
<p>The workshop was initiated by <a href="http://bogor100.org/">Bogor100</a>. Bogor100 community is consisted by individuals who care about Bogor’s urban development and heritage preservation. For this workshop, Bogor100 works together with several institutions and non-govermental communities; Bogor Botanical Gardens, P4W – LPPM IPB, Landscape Department IPB, and Kampoeng Bogor community and <a href="http://www.m-aan.org/">mAAN</a>. The event was held for 7 (seven) days in the Botanical Garden; in the historic Guest House (former director’s residence) and the historic Treub Laboratory.</p>
<p>The workshop was inspired by similar ones held by modern Asian Architecture Network (mAAN) in Shanghai (2004) and Padang (2007); which were always involving students from various international universities and engaging local participants and international experts (academicians and practicioners) as unit masters. Each unit master was responsible as facilitator for 6-7 participants. Participants had to choose the masters according to their interests. The workshop is a collaborative, voluntary, and non-commercial event. The organizer invited 6 experts as unit masters: Prof. Lai Chee Kien (National University of Singapore), Prof. Yahaya Ahmad (University of Malaya, Malaysia), Adi Purnomo (professional architect, Bogor-Jakarta), Dr. Widjaja Martokusumo (Bandung Institute of Technology), Avianti Armand (professional architect/ writer, Jakarta), Rahman Andra Wijaya (professional landscape architect, Bogor). Overall, there were more than 30 participants coming from the National University of Singapore, the University of Malaya, Bogor Institute of Agriculture, Bandung Institute of Technology, Pelita Harapan University, Petra Christian University and young fresh graduates and local volunteers.</p>
<p>Several speakers were invited to share revelant information for the participants; Prof. Johannes Widodo (National University of Singapore) spoke about World Heritage and UNESCO Asia Pacific Heritage Awards, accompanied by several good preservation practices; Prof. Lai Chee Kien (NUS) discussed the role and history of the botanical gardens around Southeast Asia; Prof. Yahaya Ahmad (UM) shared his experience dealing with Penang and Malacca maintaining their World Heritage Site status; Dr. Ernan Rustiadi (P4W IPB) shared his research on Bogor current economic development and urban/ regional planning; Setiadi Sopandi illustrated Bogor’s urban morphology and architecture; Dr. Kuswata Kartawinata (Bogor Botanical Garden, UNESCO) shared his knowledge about the history of Bogor Botanical Gardens; Dr. Siti Nurisyah (Landscape Dept. IPB) talked about landscape architecture documentation and survey; and Dr. Dedy Darnaedi (Bogor Botanical Gardens) discussed the garden’s role as nature conservation site.</p>
<p>The aim of the workshop is to map problems and potentials surrounding urban physical/ environmental development and urban social management, and to relate those problems/ potentials with the existence of Bogor Botanical Gardens as the natural core of the city. The workshop tries to highlight those aspects and proposes creative solutions and improvements which lead to specific aims. Bogor100’s intention is to have the public informed about the importance of the Garden for Bogor’s urban ecosystem and also for the communities. Bogor100 also acts as an open forum that enables stakeholders, institutions and communities, to discuss current problems and ideas for Bogor’s development.</p>
<p>Few results produced by units;</p>
<p>Unit Lai Chee Kien:<br />
Bogor urban planning and development had been against the nature that its physical structure had been developed without addressing the characteristic of the site and its riverine/ hydrological system. This had caused enormous problems and pollution, not only in Bogor, but spread into the Jabodetabek area. The unit proposes a stricter zoning regulation; the northern part is to be dedicated for physical development, while the southern part is best to be dedicated for conservation area. Industries should be put carefully not to pollute the rivers. This would benefit the fresh clean water supplies to the Botanical Garden. The unit propose a development plan to open up public spaces/ parks along the Ciliwung river banks, especially the one connecting the Botanical Garden with the CIFOR forest, and the one leading to the Garden. The students designed a multi-platform ‘bridge’ and a dam functioning as a public open space (as communal space for the dense population) connecting Pulo Geulis and the river bank. The bridge is multi-function: reducing the flood speed when needed, trapping garbage, flood indicator, and some element might function as water catchments devices.</p>
<p>Unit Yahaya Ahmad:<br />
The unit did several assessments to the role of the Garden as usually done to identify a heritage site. As a natural and man-made heritage site, located in the middle of a city, it is important to be able to identify risks and threats to the Garden. It becomes a necessity if the citizen would like to promote the Garden as a World Heritage Site. Among all things can be done, firstly the protection from risks and threats should be done by regulations. One important thing that can effectively protect a heritage site is to have a buffer zone. The unit proposes a buffer zone surrounding the Botanical Garden that also recognizes public activities, historic/ distinctive buildings, facilities. The decision to impose a buffer zone requires total awareness to our own living environment; it might be concerning identification of historic buildings and districts, important environmental elements and systems, important and unique cultural values and customs, local ecosystems as well as economic activities. The zoning decision is often very sensitive since it involves various disciplines and institutions as well as many people’s livelihood; therefore the unit understands time and more effort are needed to have a good buffer zone.</p>
<p>Unit Adi Purnomo:<br />
The unit highlights the problem of water: the amount of water needed by the inhabitants and the supplies. Assumed from figures of annual precipitation record, the unit asserts that it is actually possible to supply the household water usage from rain water collection system. If this system works, there is no need for people living in Bogor to collect ground water – which is harmful to the environment. The results are creative ways to collect rain water using existing public facilities as well as new visually-interesting public facilities; water catchments umbrellas, using road structures as ground reservoirs; public transportation as moving water catchments devices.</p>
<div style="width:425px" id="__ss_4835332"><strong style="display:block;margin:12px 0 4px"><a href="http://www.slideshare.net/JongArsitek/i-dontcarebogorbotanicalgarden" title="I don-t-care-bogor-botanical-garden">I don-t-care-bogor-botanical-garden</a></strong><object id="__sse4835332" width="425" height="355"><param name="movie" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=i-don-t-care-bogor-botanical-garden-100725190134-phpapp02&#038;stripped_title=i-dontcarebogorbotanicalgarden" /><param name="allowFullScreen" value="true"/><param name="allowScriptAccess" value="always"/><embed name="__sse4835332" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=i-don-t-care-bogor-botanical-garden-100725190134-phpapp02&#038;stripped_title=i-dontcarebogorbotanicalgarden" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="355"></embed></object>
<div style="padding:5px 0 12px">View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/JongArsitek">jong arsitek</a>.</div>
</div>
<p>Unit Avianti Armand:<br />
The master specifically encourages the participants to do observation to the periphery of the Botanical Garden, and to give their evaluation of the existing ‘spatial quality’ based on sensory perception. The sensory perception observation involves the visual qualities of a segment, the noises produced by the traffic or visitors/ pedestrians, the smells produced by flowers, leaves or public transportation, and the surface of the pedestrian walks or walls. The observation was interestingly translated into information graphics, and considered as references for physical improvements. The unit’s achievement is to introduce a creative parameter that is usually overlooked in conventional statistics and assessments which are usually problematic if being converted into policies and plans.</p>
<p>Unit Widjaja Martokusumo:<br />
One of the intricate problem in Indonesian cities is the lack of coordination within the urban management practice. The results are contradicting and superimposing policies made by different institutions and bodies. It had been contra productive and inefficient. Administrative islands governed by different institutions are often not related to the physical condition and local ecosystem; i.e. the problem of riverine system and water catchments area of Jabodetabek had cause major annual flood, droughts, and salt water penetration. The Garden is also having problem with its offical role as nature conservation site while at the same time being a popular recreational public park, and as a nature education center. The problem occurs when people were not well informed about the facility. The unit, therefore, focuses on providing good information and orientation for the public when approaching the Garden. By reusing old structures and introducing minor improvements at the southern end of the Garden, the unit confidently thinks that the Garden might be understood better by the people.</p>
<p>Unit Rahman Wijaya:<br />
The unit specifically upholds several efforts by the Municipality and the Garden to improve visitors’ facilities. So far, the problems had been caused by piece meal improvements which were not well coordinated and did not put local potentials into attention. The improvements were also still encouraging the use of private transportations, and neglecting the use of more-environmental-friendly public transportations such as trains and busses. Therefore the unit focusses on improving the existing trail of visitor from the Bogor Main Train Station to the Bogor Botanical Garden main entrance. The trail creates unique walking experience by engaging existing historic/ heritage buildings and urban elements as visitor information centers and facilities (as museums, eating-places, sight seeing shelters, and some panoramic spots). The trail starts from the station itself, Taman Topi park, Kapten Muslihat street, Cathedral complex, Herbarium building, Zebaoth Church, Post Office building, historic office buildings and research centers) up to the main entrance. The route design improves the standard of public facilities such as the pedestrian walks, crossings and pedestrian connections, street furnitures, dividers/ fences/ walls, the management of street vendors, and introducing more green elements.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Workshop ini merupakan prakarsa komunitas Bogor100, yang terdiri dari berbagai individu yang peduli terhadap warisan sejarah dan perkembangan kota Bogor. Untuk pelaksanaan workshop ini, Bogor100 bekerja sama dengan beberapa institusi/ komunitas diantaranya: Kebun Raya Bogor, P4W &#8211; LPPM IPB, Jurusan Lansekap IPB; dan didukung oleh komunitas Kampoeng Bogor dan mAAN. Workshop selama 7 (tujuh) hari ini dilaksanakan di dalam Kebun Raya Bogor, tepatnya di 2 gedung bersejarah: Guest House (bekas rumah direktur Kebun Raya Bogor) dan Laboratorium Treub.</p>
<p>Workshop ini diinspirasikan oleh workshop serupa yang pernah dilaksanakan oleh modern Asian Architecture Network (mAAN) di Shanghai (2004) dan Padang (2009), yaitu dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi luar dan dalam negeri, serta melibatkan peserta lokal; dan mengundang para pakar (praktisi maupun pengajar) sesuai dengan bidangnya sebagai unit master. Setiap unit master bertanggungjawab sebagai fasilitator unit yang terdiri dari 6-7 peserta. Peserta dapat memilih unit master yang mereka pilih sesuai dengan minat konsentrasi. Sifat kegiatan workshop ini adalah kolaboratif, suka rela dan non-komersil. Panitia mendatangkan 6 orang pakar sebagai unit master, antara lain: Prof. Lai Chee Kien (National University of Singapore), Prof. Yahaya Ahmad (University of Malaya, Malaysia), Adi Purnomo (Arsitek, Bogor-Jakarta), Dr. Widjaja Martokusumo (Institut Teknologi Bandung), Avianti Armand (Arsitek/ Penulis, Jakarta), Rahman Andra Wijaya (Arsitek Landsekap, Bogor). Secara keseluruhan terdapat lebih dari 30 peserta yang berasal dari National University of Singapore, University of Malaya, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Pelita Harapan, dari kalangan profesional muda dan peserta/ relawan lokal.</p>
<p>Beberapa nara sumber juga diundang memaparkan berbagai informasi yang relevan bagi para peserta; diantaranya: Prof. Johannes Widodo mengenai World Heritage dan Unesco Asia Pacific Heritage Awards serta beberapa contoh praktek pelestarian yang baik, Prof. Lai Chee Kien mengenai peran dan sejarah kebun-kebun raya di Asia Tenggara, Prof. Yahaya Ahmad mengenai pengalaman usaha pelestarian Penang dan Malaka sebagai situs warisan dunia, Dr. Ernan Rustiadi mengenai berbagai informasi perkembangan Bogor lewat data statistik, Setiadi Sopandi mengenai morfologi dan arsitektur pecinan Bogor, Dr. Kuswata Kartawinata mengenai sejarah Kebun Raya Bogor, Dr. Siti Nurisyah mengenai teknik pendokumentasian landsekap, dan Dr. Dedy Darnaedi mengenai peran kebun raya sebagai pusat konservasi alam.</p>
<p>Tujuan workshop ini adalah untuk memetakan permasalah penataan fisik lingkungan dan sosial dan manajerial perkotaan yang selama ini beriringan dengan perkembangan pusat kota Bogor dan berbagai dampaknya terhadap Kebun Raya Bogor, sekaligus mengusulkan berbagai solusi kreatifnya dari berbagai sudut pandang, namun berujung pada beberapa tujuan spesifik. Komunitas Bogor100 secara khusus mengangkat isu ini untuk kembali menegaskan pentingnya peran Kebun Raya Bogor bagi lingkungan dan masyarakat Bogor, dan perlunya sebuah wadah bersama untuk menjembatani pulau-pulau administrasi yang terisolasi.</p>
<p>Beberapa yang berhasil dipetakan selama workshop adalah:</p>
<p>Unit Lai Chee Kien:<br />
Perencanaan dan perkembangan kota Bogor selama ini telah ’melawan’ alam bahwa perkembangan fisik dilakukan tanpa mengindahkan kondisi tapak dan jalur air, sehingga mengakibatkan permasalahan dan pencemaran air tidak hanya di Bogor namun meluas di area Jabodetabek. Usulan unit adalah untuk melakukan zonasi yang lebih tegas bahwa perkembangan fisik kota seharusnya dikonsentrasikan pada bagian utara serta memperlakukan area selatan sebagai area konservasi. Zona industri harus diletakkan dengan lebih hati-hati agar tidak mencemari sungai-sungai. Hal ini bila dilakukan dapat membantu kualitas pasokan air terhadap Kebun Raya Bogor. Usulan praktis untuk mengusung ide ini adalah membuka ruang-ruang publik di titik-titik tertentu di sepanjang aliran sungai Ciliwung, menghubungkan Kebun Raya Bogor dengan hutan CIFOR (ke arah utara) dan ke arah selatan. Unit ini merancang sebuah ’jembatan’ multi-platform dan ’dam’ yang berfungsi sebagai ruang terbuka publik di Pulo Geulis sekaligus sebagai peredam kecepatan air di kala pasang, penyaring sampah, indikator banjir, dan teras penyerapan air hujan.</p>
<p>Unit Yahaya Ahmad:<br />
Unit ini melakukan beberapa assesment terhadap peran Kebun Raya Bogor sesuai dengan praktek yang dilakukan dalam mengidentifikasi sebuah benda warisan alam dan budaya. Sebagai sebuah entitas alam yang juga hasil binaan, terlebih terletak di tengah sebuah kota, menjadi sangat penting untuk dapat mengidentifikasi berbagai resiko dan ancaman bagi Kebun Raya Bogor, apalagi bila hendak dipromosikan sebagai sebuah warisan dunia (World Heritage). Usaha perlindungan dari berbagai resiko dan ancaman ini harus diwujudkan melalui kebijakan-kebijakan pembangunan dan pelestarian, diantaranya lewat penentuan zona penyangga (buffer zone). Penentuan zona ini melibatkan banyak hal, diantaranya mencakup pengidentifikasian kawasan/ bangunan bersejarah, elemen-elemen dan sistem-sistem lingkungan penting, potensi-potensi budaya, keberadaan ekosistem, dan lain sebagainya. Proses penentuan zona ini sangat sensitif karena menyangkut banyak hal, termasuk harkat hidup orang banyak, maka dari itu unit ini menyadari usulan mengenai zona penyangga ini masih mungkin diperdebatkan dan dipikirkan lebih lanjut.</p>
<p>Unit Adi Purnomo:<br />
Unit ini menyoroti permasalahan dan potensi Bogor dalam hal pasokan dan aliran air. Berangkat dari data statistik mengenai curah hujan, pasokan air, dan kebutuhan pemakaian air penduduk kota Bogor; unit ini menemukan terdapat potensi luar biasa apabila masyarakat Bogor dapat memanfaatkan air hujan bagi kegiatan sehari-hari. Jumlah pasokan air bersih (dari air hujan) sangat melimpah bila dibandingkan dengan kebutuhan air warga, sehingga sebenarnya warga Bogor tidak perlu menyedot air tanah untuk keperluan mereka. Maka dari itu unit ini mengusulkan berbagai hal yang mungkin (maupun yang saat ini belum dapat diwujudkan) atas usaha memanfaatkan curah hujan; diantaranya adalah dengan membangun payung-payung tadah hujan yang fungsional sekaligus secara visual menarik, pemanfaatan kolong jalan sebagai struktur penampung air, dan pemanfaatan angkot sebagai alat penangkap hujan.</p>
<p>Unit Avianti Armand:<br />
Unit master Avianti mengajak peserta untuk melakukan pengamatan sensoris terhadap periphery/ batas luar Kebun Raya Bogor dan memberikan ‘penilaian terhadap kualitas ruang’ yang terjadi. Pengamatan sensoris ini melibatkan kualitas visual, suara, sentuhan, dan penciuman; yang diterjemahkan dalam seperangkat infografis yang kemudian dijadikan referensi bagi usulan pengembangan perencanaan fisik batas luar Kebun Raya Bogor. Yang paling menarik dari pendekatan ini adalah pengumpulan informasi yang sifatnya memberikan ilustrasi kualitas ruang kota lewat pengindraan langsung; informasi yang tidak berupa angka-angka statistik ataupun ilustrasi verbal yang kadang sulit diterjemahkan ke dalam usulan-usulan kebijakan maupun perencanaan.</p>
<p>Unit Widjaja Martokusumo:<br />
Persoalan besar yang dialami berbagai kota di Indonesia adalah ketiadaan koordinasi manajemen pengelolaan kota yang terpadu, sehingga banyak dari berbagai kebijakan dan usaha perencanaan yang tumpang tindih dan saling bertentangan. Hal ini sangat kontraproduktif terhadap usaha pengelolaan kota yang baik. Pulau-pulau administratif tersebut juga tidak sinkron dengan kondisi fisik dan ekosistem lingkungan kota, sehingga persoalan seperti aliran sungai dan penentuan daerah resapan menjadi masalah yang tidak kunjung selesai hingga kini. Tumpang tindih peran juga terjadi pada Kebun Raya Bogor, selain fungsi resminya sebagai sebuah pusat konservasi tanaman, KRB juga ternyata berfungsi sebagai ruang terbuka hijau publik, sebagai sebuah pusat aktivitas masyarakat dan juga pusat informasi dan pendidikan. Permasalahannya adalah ketika masyarakat sulit membedakan fungsi ini dan mengalami disorientasi sehingga sulit memahami dan memperlakukan fasilitas ini sesuai dengan fungsinya. Unit ini, maka dari itu, mengusulkan perencanaan fisik yang bisa menjembatani disorientasi, yaitu dengan merancang kembali titik-titik tertentu yang dianggap bermasalah dan mengusulkan pemanfaatan kembali fasilitas gedung-gedung pada bagian selatan Kebun Raya Bogor untuk menampung kegiatan pusat informasi publik.</p>
<p>Unit Rahman Wijaya:<br />
Unit ini secara spesifik mendukung beberapa upaya yang sudah dirintis oleh Pemerintah Kota maupun Kebun Raya Bogor sendiri untuk memberikan fasilitas bagi pengunjung Kebun Raya Bogor. Permasalahan yang timbul selama ini adalah penataan alur pengunjung yang tidak terkoordinasi dengan baik dan tidak mengakomodasi berbagai potensi pariwisata dan informasi publik yang ada di Bogor. Keberpihakan pada pengguna transportasi publik juga tidak terdukung dengan baik, dan masih didominasi oleh keinginan untuk mengakomodasi pengguna kendaraan pribadi. Maka dari itu unit Rahman Wijaya merancang ulang rute pengunjung dari Stasiun Kereta Api Bogor menuju Pintu Masuk 1 Kebun Raya Bogor sebagai sebuah ’trail’ yang menyajikan pengalaman menarik, termasuk memberikan pengetahuan mengenai potensi-potensi sejarah lokal dan informasi mengenai Kebun Raya Bogor dan pengetahuan lingkungan. Rancangan rute ini mencakup penataan gedung dan pedestrian di Stasiun Kota Bogor, Taman Topi, jalan Kapten Muslihat, komplek Gereja Katedral, gedung Herbarium, Gereja Zebaoth, pertigaan di depan BTM, gedung-gedung perkantoran/ penelitian, museum-museum, gerbang utama Kebun Raya Bogor. Rancangan rute ini juga memberikan elemen-elemen yang membantu meningkatkan kualitas ruang kota, seperti memberikan ruang lebih pada pejalan kaki (konektivitas pejalan kaki), memberikan lebih banyak ruang bagi elemen-elemen hijau kota, sehingga dapat meningkatkan faktor kenyamanan dan keamanan, sekaligus menata-ulang manajemen ruang kota sehingga tetap dapat menikmati hasil dari potensi ekonomi sektor informal.</p>
<p>Penulis: Setiadi Sopandi</p>
<p>PS:<br />
This note is also a press release and abstract for the publication.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/07/26/summary-bogor-botanical-gardens-international-workshop-2010-3-10-juli-2010-english-version-updated/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Integrated Tropical City; Core dari Kota-Kota Masa Depan Indonesia (Essay Pemenang Urbane Fellowship Program #3)</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/05/13/integrated-tropical-city-core-dari-kota-kota-masa-depan-indonesia-essay-pemenang-urbane-fellowship-program-3/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/05/13/integrated-tropical-city-core-dari-kota-kota-masa-depan-indonesia-essay-pemenang-urbane-fellowship-program-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 16:45:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[Masa depan (future) dikutip dari http://en.wikipedia.org/wiki/Future adalah periode waktu yang secara umum dimaknai dimana segala hal belum terjadi. “Masa depan” merupakan lawan dari “masa lampau”, dan merupakan periode waktu setelah apa yang kita sebut dengan “sekarang”. Dikutip dari sumber yang sama, terdapat sebuah teori dalam filosofi waktu yang disebut dengan “Teori Waktu Blok Pertumbuhan” (The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masa depan (<em>future)</em> dikutip dari <em>http://en.wikipedia.org/wiki/Future</em> adalah periode waktu yang secara umum dimaknai dimana segala hal belum terjadi. “Masa depan” merupakan lawan dari “masa lampau”, dan merupakan periode waktu setelah apa yang kita sebut dengan “sekarang”. Dikutip dari sumber yang sama, terdapat sebuah teori dalam filosofi waktu yang disebut dengan “Teori Waktu Blok Pertumbuhan” (<em>The &#8216;</em><a title="Growing block universe" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Growing_block_universe"><em>Growing Block</em></a><em>&#8216; </em><a title="Theory" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Theory"><em>Theory</em></a><em> Of Time</em>), dimana teori tersebut menyebutkan bahwa masa lampau dan sekarang adalah ada dan masa depan adalah belum ada. Masa depan yang benar-benar ada adalah sesuatu yang ditafsirkan sebagai sesuatu yang dikonstruksi secara logis, dikonstruksi melalui sebuah rencana dalam proses perencanaan (<em>planning</em>) menuju sebuah <em>goal</em>, dimana rencana tersebut bermula,berproses dan berakhir pada <em>goal</em> tersebut. Yang kemudian akan bersiap menuju <em>goal</em> lainnya lagi,bermula lagi,berproses lagi dan berakhir lagi, itulah yang disebut <em>The Cycle of Times</em>. Sangat menarik jika kita membicarakan mengenai masa depan, masa depan kita,keluarga,karier,kehidupan,dan lain sebagainya. Masa depan adalah sesuatu yang bebas untuk diimajinasikan akan bermula seperti apa,berproses dengan cara apa, dan akan berakhir dengan hasil apa.<span id="more-860"></span></p>
<p>Masa depan juga dimiliki oleh sebuah kota, definisi klasik kota menurut Amos Rapoport adalah suatu permukiman yang relatif besar, padat dan permanen, terdiri dari kelompok individu-individu yang heterogen dari segi sosial. Abad ini merupakan abad kota, kini orang dominan untuk memilih tinggal dikota, seperti yang dikutip dari “<em>Urban Utopia</em>” artikel yang ditulis oleh Madhavi Tumkur seorang <em>Design and Architecture Researcher</em> dari Singapura dalam <em>Futurarc Magazine vol.14, 2009</em>. Disampaikan didalamnya bahwa menurut riset dari <em>MIT School of Architecture and Planning</em>, kota berhias hanya 2% dari massa yang ada dibumi, mengakomodasi 50% dari populasi dunia yang mengkonsumsi 75% dari sumber yang ada.</p>
<p>Kota yang kita tinggali adalah refleksi dari gaya hidup kita yang berlebihan dan tidak stabil. Dibiasakan dengan keserbaadaan dan konsumsi berlebih mengantar kepada permasalahan lingkungan. Dikutip dari sumber yang sama, diperhitungkan pada tahun 2050  hampir 70% dari populasi dunia akan bertempat tinggal di kota dibandingkan pada kurun waktu 70-80 tahun belakangan ini yaitu sebesar 20%. Melihat perkembangan angka ini mengisyaratkan kita, terdapat sebuah kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk mengembangkan dan menumbuhkan kota dalam cara yang berkelanjutan. Sekarang atau tidak sama sekali kita membutuhkan sebuah kepemimpinan dan strategi yang akan mengantarkan kita lebih kepada masa depan yang berkelanjutan.</p>
<p>Berdasarkan data dari situs web Departemen Dalam negeri Republik Indonesia Per <a title="Desember" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Desember">Desember</a> <a title="2004" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2004">2004</a>, jumlah kota yang ada di Indonesia adalah sebanyak 91 kota dan 349 <a title="Kabupaten administrasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_administrasi">kabupaten administrasi</a> yang siap berkembang menjadi kota, maka terdapat 440 potensi kota di Indonesia nantinya. Kota – kota di Indonesia adalah terletak pada sebuah negara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, kondisi ini membuat Indonesia menjadi beriklim tropis dengan pergantian dua musim yaitu musim penghujan dan kemarau. Intensitas hujan yang cukup tinggi membuat Indonesia secara spesifik masuk sebagai negara beriklim tropis basah.</p>
<p>Bagi sebagain besar orang di benua lain kondisi ini bukanlah suatu kondisi yang menguntungkan untuk tinggal. Kombinasi faktor iklim pada iklim tropis basah dianggap sebagai kombinasi optimal bagi berlangsungnya kehidupan flora dan fauna di muka bumi ini.  Namun dianggap kurang sesuai bagi manusia, karena kombinasi faktor iklim serta berkembangnya berbagai serangga dan hewan buas dalam banyak hal dapat mengganggu kelangsungan hidup manusia. Pergantian musim yang memungkinkan terjadinya kemarau panjang dan hujan lebat dinilai mempersulit bagi aktivits manusia. Namun jika dilihat dari sudut pandang energi, pada taraf dasar, tanpa energi listrik untuk pemanas maupun pendingin ruangan dan lampu untuk penerangan siang hari, manusia pada iklim tropis akan tetap dapat bertahan hidup dibanding manusia yang ada di bagian benua lainnya, misal Amerika dengan iklim sub tropisnya. Singkat cerita ketergantungan manusia pada iklim tropis terhadap energi relative lebih rendah daripada manusia di iklim subtropis misalnya.</p>
<p>Namun pertukaran budaya, berkembangnya teknologi informasi dari negara-negara maju membuat konsumsi terhadap energi pada negara berkembang cenderung meningkat secara sadar-tidak sadar,terpaksa-tidak terpaksa. Hal ini juga berimpas pada penataan kota kita, mengimplikasi konsep arsitektur negara-negara maju yang secara <em>termis</em> tidak sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia. Terjadinya fenomena kota <strong><em>“Heat Urban Island”</em>,</strong> dimana seolah-olah kota menjadi sebuah pulau yang memancarkan panas diantara kawasan rural disekitarnya yang hijau. Permukaan keras dari beton-beton bangunan dengan hanya menyisakan sedikit lahan hijau cenderung akan menyerap panas lebih banyak, yang pada saatnya akan dipantulkan kembali. Kawasan kota dicirikan dengan kerapatan bangunan yang tinggi, sempitnya ruang terbuka, kecepatan angin dalam kota berkurang membuat pergerakan udara kecil terjadi.</p>
<p>Penempatan fasilitas pemenuhan kebutuhan dan beraktivitas dirancang dan ditempatkan secara kurang kompak, sehingga manusia menjadi malas berjalan menuju tempat yang dituju baik karena jauh, panas, takut kehujanan, atau memang karena perkembangan membentuk jiwa yang seperti itu. Dari fenomena-fenomena tersebut, ketergantungan manusia yang tinggal di kota terhadap penggunaan energi menjadi tinggi.  Hal ini hanya mungkin diatasi jika perancang kota memahami strategi perancangan kota tropis dan mengaplikasikan rancangannya sesuai dengan persoalan yang ditimbulkan oleh iklim tersebut.</p>
<div id="attachment_862" class="wp-caption alignnone" style="width: 535px"><img class="size-full wp-image-862" title="image2" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/05/image2.JPG" alt="image2" width="525" height="701" /><p class="wp-caption-text">Gb. Potret Sore Kota Jakarta , Indonesia Sumber: http://farm3.static.flickr.com</p></div>
<div id="attachment_863" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-863" title="image1" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/05/image1.JPG" alt="image1" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Gb. Potret Kota Batam , Indonesia Sumber:http://www.skyscrapercity.com/</p></div>
<p><strong>Kota tropis (<em>Tropical City</em>)</strong>, merupakan hal yang sudah sering oleh kita dengar. Merupakan sebuah konsep perancangan kota – kota di daerah tropis seperti Indonesia. Sayangnya konsep ini hampir dilupakan dan dinilai tidak modern, tertelan tren konsep kota global seperti <em>eco-city,green city</em>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Rasanya konsep inilah yang paling logis bagi kota-kota di Indonesia. Alasan mendasar adalah terletak pada dimana kota tersebut berlokasi, karena terletak di daerah tropis tentunya konsep kota yang cocok adalah sebuah konsep kota yang mengakomodasi menjadi Kota Tropis. Entah nantinya akan dikembangkan menjadi <em>Economic Base</em>, <em>Industrial Base, Touris Base</em> maupun <em>Education Base</em>, semuanya akan kembali pada <em>core</em> Kota Tropis sebagai konsep dasar kota-kota di Indonesia.</p>
<div id="attachment_861" class="wp-caption alignnone" style="width: 760px"><img class="size-full wp-image-861" title="image3" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/05/image3.JPG" alt="image3" width="750" height="536" /><p class="wp-caption-text">Gb.Alur Pikir Terbentuknya Konsep Integrated Tropical City Sumber: Analisa dalam Presentasi Integrated Tropical City pada UFP #3, 8 Mei 2010</p></div>
<p>Perencanaan dan Perancangan kota tropis meminta perhatian khusus pada aspek iklim, seperti perlindungan terhadap cuaca. Pedestrin memungkinkan untuk dibuat menjadi koridor yang tertutup atasnya sehingga terlindung dari panas dan hujan sehingga aktivitas manusia tidak terhambat karena cuaca. Antara satu bangunan dan bangunan lainnya terhubung dengan baik dengan tetap menyisakan <em>open space</em> diantaranya. Penghutanan kota dengan memperbanyak vegetasi yang ada sebagai usaha untuk mengurangi <em>‘Urban Heat Island’</em> , memperbaiki kondisi keairan kota, dan sebagai terapi visual yang baik. Penataan massa bangunan dengan mengoptimalkan aliran udara disekitar bangunan sehingga memungkinkan ventilasi silang terjadi.</p>
<p>Seperti yang dikutip dari jurnal <em>“Wujud Kota Tropis Di Indonesia: Suatu Pendekatan Iklim, Lingkungan Dan Energi”</em> milik Tri Harso Karyono, konsep Kantung Pedestrian (<em>Pedestrian Pockets</em>) yang ditawarkan oleh Dough Kelnaugh dn Peter Calthorpe, bisa dipertimbangkan bagi perancangan kota tropis Indonesia. Konsep ini mengakomodasi dalam setiap kantung pedestrian yang luasnya sekitar 40 hektar dapat ditampung penduduk sejumlah 5000 orang serta pekerja berjumlah 3000 orang. Kantung – kantung pedestrian memiliki stasiun kereta atau <em>tram</em> yang dihubungkan satu dengan lainnya menuju pusat kota yang sudah ada. Dalam setiap kantung pedestrian juga tersedia fasilitas permukiman, pertokoan, dan fasilitas penunjang lainnya yang dibuat secara kompak. Penduduk diharapkan dapat menempuh tempat dimanapun dalam kantung tersebut dengan berjalan kaki.</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri dalam usaha mengemas kotanya atau para pemimpin pasar sering menyebut dengan mem-<em>branding</em> kotanya agar mampu memberi prospek ekonomi. Kota diharapkan juga dapat memoles performa dirinya. Inilah yang menjadi tantangan bagi semua perkembangan kota di dunia yaitu mengenai mengatur keseimbangan antara pencapaian atas kemakmuran ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Sebuah harapan mulia yang berusaha diselaraskan antara performa dan lingkungan, salah satunya berujung pada suatu desain kota yang terintegrasi., <em>Intergrated Design</em>.</p>
<p>Desain teritegritas dilambangkan sebagai rute tercepat menuju sebuah bangunan modern berekologi baik di Eropa, Amerika, dan Asia. Desain ini menjanjikan pencapaian untuk mengurangi sisa dan kerusakan konstruksi dan menambah performa desain secara significant Proses dari desain terintegritas cenderung menjadi inclusive, collaborative, terstruktur dengan baik dan utuh; memungkinkan bahwa rancangan paling efisien ditemukan sebelum pekerjaan dimulai pada gambar kerja terperici<em>.( Integrated Desin Approach, Thor Kerr, Futuracc Magazine vol.8, 2008)</em></p>
<p>Dalam lingkup arsitektur, desain yang terintegritas meminta tim perencana dan perancang untuk berfikir mengenai elemen desain seperti energi,keberlanjutan, interior, fasade, lanskap, MEE, struktur dan konstruksi, manajemen proyek, <em>budget</em>, pelaksanaa diposisikan dan dipikirkan awal pada setiap proses. Semua elemen desain dikaji dan disimulasikan pada proses konsep, dari poin konsep kembali dikaji dan disimulasikan pada proses desain bentuk dan <em>zoning</em>, begitupula seterusnya menuju layout dan fasade hingga pada pelaksanaan.</p>
<p>Moe dalam bukunnya <em>“Integrated Design In Contemporry Architecture</em>” mengemukakan bahwa desain yang terintegrasi bukanlah desain yang selalu mengakomodasi <em>budget</em> yang besar, <em>budget </em>yang kecil dan limit pun mampu mengaksesibel desain terintegrasi. Desain terintegrasi merupakan desain yang dinilai mampu meminimal akibat buruk bagi lingkungan, namun tetap dapat memuaskan permintaan atas performa bagi prospek kota di  masa depan. Namun sekali lagi, <strong>lokalitas</strong>, keunikan kota harus mampu diangkat tinggi-tinggi. Diferensiasi arsitektur setiap daerah dan kota akan memberi rasa tersendiri bagi kota tersebut. Buatlah kota anda memiliki lokalitas rasanya tersendiri, rasa <em>Integrated Tropical City</em> yang berbeda dari kota lainnya.</p>
<p>Karena dirancang dengan unsur lokalitas merajuk pada <em>Integrated Tropical City</em>, apakah kota ini nantinya mampu dihuni oleh berbagai macam orang?</p>
<p>Hal ini akan menjawab terhadap tantangan dari kota masa depan yaitu kota yang mampu ditinggali oleh banyak orang. Kota yang meletakkan harapannya agar mampu mengakomodasi kenyamanan dan mampu menjaga keseimbangan kotanya. Kota apabila didesign secara intens melalui penataan kota dan arsitektur serta dengan regulasi pada dasarnya mampu membangun keanekaragaman meskipun meletakkan dirinya dalam usaha penghematan energi.</p>
<p>Dr.Paul F Downtown, director dari Ecopolis Architects Pty Ltd serta penulis dari <em>“Ecopolis Architecture and Cities for a Changing Climate”</em> mempercayai bahwa; “Kita harus membuat sebuah kota ekologi yang berkelanjutan, kota yang bekerja untuk menjaga keberlanjutan ekosistem dimana merupakan usaha bagi manusia untuk bertahan hidup diandalkan”. Dalam logika pemikirannya dan harapan, jika ada saja satu buah kota di Indonesia dikembangkan menjadi <em>Integrated Tropical City</em> secara <em>intens</em> dan serius sehingga mampu memenuhi kaidah – kaidah standart yang setidaknya harus dimiliki kota tropis maka untuk kedepannya, prinsip dari konsep dari perencana, perancangan dan pembangunan kota itu akan  menjadi standart kurang dan lebih untuk perancangan kota di Indonesia.  Hal itu dapat terjadi meskipun model kota contoh tidak dapat direplika seluruhnya mengingat setiap kota memiliki kekhasan tersendiri. Dia tidak perlu mencotek keseluruhan namun conteklah dan sesuaikan dengan keunikan dari kota. Jakarta adalah Jakarta, Bandung adalah Bandung, Semarang adalah Semarang. Bukan Medan adalah Jakarta, apalagi Bandung bukanlah Singapura.</p>
<p>Sejauh ini memang apa yang tertera dalam program jangka panjang dan jangka pendek pada <em>Panduan Pengembangan Kabupaten Dan Kota</em> yang diterbitkan PU adalah menfokuskan pada perbaikan dan peningkatan terhadap apa yang ada. Suatu konsep dasar seperti <strong><em>Integrated Tropical City</em></strong> ini memang belum bisa disebutkan secara gamblang, namun jika kita mampu memiliki konsep pengembangan kota yang terdekat dan menjanjikan sebagai pijakan dalam <em>Architecture, Urban Planning,</em> dan <em>Urban Design</em> maka bukan hal yang tidak mungkin kedepannya kota-kota di Indonesia dapat disejajarkan dengan kota-kota berkonsep lainnya seperti Abu Dhabi dengan konsep <em>Urban Utopia</em>-nya, atau Tianjin China dengan <em>Eco-city</em>. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Indonesia jika mampu memiliki konsep kotanya tersendiri, menyandang identitas sebagai <em>Integrated Tropical City</em> nantinya. Sebuah proses mewujudkan branding dan identitas yang akan berjalan cukup panjang dan harus dilaksanakan secara intens jika benar-benar ingin konsep identitas tersebut terwujud dan memberi manfaat sehingga kota kita dapat bertahan nantinya.</p>
<p style="text-align: left;">Ditulis oleh Lukluk Zuraida Jamal</p>
<p style="text-align: left;">Mahasiswa S1 Jurusan arsitektur Fakultas Teknik</p>
<p style="text-align: left;">Universitas Diponegoro, Semarang</p>
<p style="text-align: left;">Pemenang Pertama <strong>Urbane Fellowship #3.</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>REFERENCES</strong></p>
<p>Darmawan, Edy. 2009. <em>Ruang Publik Dalam Arsitektur Kota</em>. Semarang; Badan Penerbit Universitas Diponegoro.</p>
<p>Downton, Paul F. 2009. <em>Ecopolis Architecture and Cities for a Changing Climate</em>. CSIRO Publishing.</p>
<p>Farr. Douglas. 2007. <em>Sustainable Urbanism – Urban Design With Nature</em>. New Jersey; John Wiley &amp; Sons, Inc.</p>
<p>Lippsmeier , George . 1997 . <em>Bangunan Tropis</em> . Jakarta : Erlangga</p>
<p>Mangunwijaya , Y.B. 1995. <em>Wastu Citra</em>. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama</p>
<p>Mangunwijaya , Y.B. 1997. <em>Pengantar Fisika Ban</em><em>gunan</em> – cetakan ke 5. Jakarta : Djambatan</p>
<p>Moe, Kiel. 2008. <em>Integrated Design In Contemporry Architecture</em> . Princeton Architectural Press</p>
<p>Ratihsari , Suzanna dkk . 2005. <em>Arsitektur Tropis Indonesia </em>. Semarang : Badan Penerbit UNDIP.</p>
<p>Karyono, Tri Harso. Jurnal “<em>Wujud Kota Tropis Di Indonesia: Suatu Pendekatan Iklim, Lingkungan Dan Energi</em>”. <a href="http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/">http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/</a>. 2009</p>
<p>Kusumawijaya, Marco. Jurnal “<em>Kota dan Perubahan Lingkungan: Sketsa Menuju Keberlanjutan”.</em> Disampaikan dalam lokakarya Perubahan Lingkungan dalam Prespektif Sejarah, Direktorat Geografi Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Yogyakarta, 20-21 Desember 2006.</p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Future">http://en.wikipedia.org/wiki/Future</a>, tentang pengertian dari <em>Future</em>, 21 Desember 2009</p>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jumlah_wilayah_administratif_di_Indonesia">http://id.wikipedia.org/wiki/Jumlah_wilayah_administratif_di_Indonesia</a>, tentang jumlah kota di Indonesia, 21 Desember 2009</p>
<p><a href="http://www.iap.or.id/detail_artikel.asp?id=26">http://www.iap.or.id/detail_artikel.asp?id=26</a>, tentang <em>Citizen and Character</em>, 2o Desember 2009</p>
<p>Departemen Pekerjaan Umum. Panduan Pengembangan Kabupaten Dan Kota th.2007.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/05/13/integrated-tropical-city-core-dari-kota-kota-masa-depan-indonesia-essay-pemenang-urbane-fellowship-program-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[agenda acara] “KRACK!” earthquake doesn’t kill people, buildings do</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/03/16/agenda-acara-%e2%80%9ckrack%e2%80%9d-earthquake-doesn%e2%80%99t-kill-people-buildings-do/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/03/16/agenda-acara-%e2%80%9ckrack%e2%80%9d-earthquake-doesn%e2%80%99t-kill-people-buildings-do/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 12:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=698</guid>
		<description><![CDATA[“ KRACK! “ earthquake doesn’t kill people, buildings do KRACK! merupakan acara terdekat dari rangkaian acara PARAHYANGAN ARCHITECTURE PARADE 2010 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan. Acara ini berisi pameran dan talkshow. Acara dilaksanakan pada hari jumat-sabtu tanggal 19-20 maret 2010 di GSG Universitas Katolik Parahyangan (Jl. Ciumbuleuit No. 94 Bandung). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-770" title="krack" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/03/krack.jpg" alt="krack" width="750" height="120" /><span id="more-698"></span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-716" title="ralat-KRACK!!" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/03/ralat-KRACK.jpg" alt="ralat-KRACK!!" width="750" height="530" /></p>
<p><!--more--></p>
<div style="margin: 1ex;">
<div>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; font-size: x-large;">“ KRACK! “  earthquake doesn’t kill people, buildings do</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; font-size: small;">KRACK! merupakan  acara terdekat dari rangkaian acara PARAHYANGAN ARCHITECTURE PARADE  2010 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas  Katolik Parahyangan. Acara ini berisi pameran dan talkshow. Acara dilaksanakan  pada hari jumat-sabtu tanggal 19-20 maret 2010 di GSG Universitas Katolik  Parahyangan (Jl. Ciumbuleuit No. 94 Bandung).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;">Jumat,  19 Maret 2010</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">Opening  by SAMAN ARSITEKTUR UNPAR @10 am</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">Diskusi  dan Presentasi:</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">1.  Arsitektur Hijau – Ceppi, Fitri</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">2.  MALIBI (Masyarakat Lingkungan Binaan) – Moelyono Akbar</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">3.  Korps Tenaga Sukarela UNPAR &#8211; Errand</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">4.  PUSIK (Pusat Studio Ilmu Kemasyarakatan) UNPAR &#8211; Bimo</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">5.  Ganesha Rescue – Narni,</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">6.  Mahasiswa Relawan Gempa Jawa Barat – Ganesha,</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">7.  Raul Renanda (99 untuk arsitek)</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;">Sabtu,  20 Maret 2010</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">Keynote  Speaker: Drs. Stanislaus Ferry Sutrisna Wijaya MA, presenter The Climate  Project Al Gore &#8211; Hidup Berdampingan dengan Bencana Alam</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">Talkshow</span></p>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">aftermath  : sikap tanggap darurat (emergency response) bencana gempa</span></p>
</ul>
</li>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">rehabilitation  / recovery: pasca gempa</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">prevention-  mitigasi- prepareness : desain tahan gempa</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">Moderator:  Ir. RB Haria Priya Utama, M. Arch</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">Pembicara:</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">1.  Yuli Kusworo (Arsitek Urban Poor Consortium)</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">2.  Andrea Fitrianto (Arsitek Urban Poor Consortium)</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">3.  Hizrah Muchtar, ST., MSc (Habitat)</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">4.  Prof. Ir. Paulus Pramono Rahardjo, MSE, Ph.D. (Guru Besar Sipil UNPAR)</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">5.  Prof. Dr. Nanang T. Puspito (Guru Besar Seismologi ITB)</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; color: #262626; font-size: small;">6.  Ir. Arief Sabaruddin, CES (Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman)</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; font-size: small;">CP   :   +62-857-2000-5500  // Fauzi</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Lucida Grande; font-size: small;">Website : <a href="http://www.kommunars.com/" target="_blank">www.kommunars.com</a></span></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/03/16/agenda-acara-%e2%80%9ckrack%e2%80%9d-earthquake-doesn%e2%80%99t-kill-people-buildings-do/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Review] RE.Inventing Bandung 2009</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2009/12/11/review-re-inventing-bandung-2009/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2009/12/11/review-re-inventing-bandung-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 03:53:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Dalam karya kami berkata. Suasana pameran karya arsitektur memang diam seribu bahasa. Hanya menyajikan panel-panel bisu untuk diselami kedalaman isinya. Namun jauh didalam panel bisu tersebut, para arsitek penyaji mencoba menghadirkan pemikiran-pemikiran yang eksploratif. Pemikiran yang selalu bergerak dalam diamnya, dan kali ini pemikiran tersebut mengenai Bandung, New Ideas For A New Bandung yang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-462" title="banner-reinv" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/banner-reinv.jpg" alt="banner-reinv" width="750" height="120" /></p>
<p><strong>Dalam karya kami berkata.</strong></p>
<p>Suasana pameran karya arsitektur memang diam seribu bahasa. Hanya menyajikan panel-panel bisu untuk diselami kedalaman isinya. Namun jauh didalam panel bisu tersebut, para arsitek penyaji mencoba menghadirkan pemikiran-pemikiran yang eksploratif. Pemikiran yang selalu bergerak dalam diamnya, dan kali ini pemikiran tersebut mengenai Bandung<em>, New Ideas For A New Bandung</em> yang menjadi tagline re-inventing vol.2.<span id="more-493"></span></p>
<p>Re-Inventing vol.2 kali ini mencoba memaparkan perubahan suatu kawasan dari wajah lamanya menuju wajah baru. Perubahan yang disebabkan perkembangan zaman, perubahan masyarakat kota untuk menyikapinya dan merubah gaya hidupnya baik sadar maupun tidak sadar. Perubahan tersebut dirasakan di berbagai aspek kehidupan, yang mengakibatkan terus berubahnya perilaku masyarakat. Dalem Kaum, Dago, Cihampelas, Sukajadi mengalami perkembangan tersebut, masyarakat baru yang mendiami kawasan tersebut memetamorfkan kawasan tersebut, memberikan warna-warna baru pada masyarakat dan lingkungan fisiknya.</p>
<p>Diawali dengan pra-event pada tanggal 1 November yang bertempat di Bale Handap, Selasar Sunaryo, penggarapan kawasan-kawasan tersebut dimulai. Pada kesempatan tersebut,  ditentukan kawasan-kawasan yang akan dijadikan sebagai proyek dari masing-masing peserta.</p>
<p>Design Sharing pada tanggal 15 November menjadi acara diskusi yang mempertemukan para tim sebelum akhirnya bersama-sama menggelar pameran. Tiada lain dan bukan, acara ini meramaikan pandangan setiap timnya dalam melihat kawasannya masing-masing, dan tentunya menambah semarak masing-masing pesertanya agar terus berkutat dan bertarung menyelesaikan “reinvent kawasannya”.</p>
<p>Minggu, 30 November 2009 merupakan opening dari pameran Re-Inventing vol.2 yang akan berlangsung di enam tempat yaitu Itenas, UPI, ITB, sarana budaya Ganesha, Allun-alun Mesjid Agung, dan Selasar Sunaryo. Opening tersebut bertempat di Labo The Mori, Dago Atas, Bandung dan dimulai pada pukul 20.00. Dinginnya Dago malam itu tidak menyurutkan antusias peserta dalam mempresentasikan rancangannya. Walau hanya terdapat 4 site, namun pendekatan dan penyelesaian desain yang muncul dari setiap timnya sangat berbeda-beda.</p>
<p>Peluncuran malam itupun berakhir dengan banyak harapan, perbedaan sudut pandang memberikan variasi pilihan, dan semoga hal tersebut dapat memperkaya pandangan masyarakat luas yang menjadi tujuan utama dari reinventing vol.2. Pameran telah dibuka, road show telah berjalan, dan semua tempat tersebut terbuka untuk dikunjungi.</p>
<p><strong>Reinventing vol.2 is on Alun-alun!!</strong></p>
<p>Roadshow telah berjalan mengunjungi beragam lapisan masyarakat. Akademisi, dekan, rektor,  mahasiswa, masyarakat umum, pedagang kaki lima, preman alun-alun, dan masih sederetan lainnya pengunjung dari pameran reinventing. Beragam pesan dan kesan menjadikan reinventing lebih kuat dan lebih berkesan di setiap tempatnya. Perjalanan proses pengerjaan yang singkat tidak menyurutkan apa yang ditampilkan para peserta.</p>
<p>Minggu sore tanggal 7 Desember, reinventing menarik perhatian masyarakat di sekitar alun-alun. Bertanya, membaca, dan mencoba menangkap apa yang menjadi buah pemikiran para peserta tampaknya kegiatan yg terjadi disekitar putaran tempat pameran. Singkat kata panitia kehebohan sendiri untuk menjawab pertanyaan para masyarakat. Antusias masyarakat bertanya, bahkan ada saran yang paling sering diucapkan; mengapa arsitekturnya tidak sunda bgt? Kira-kira begitulah kalau diartikan dari bahasa sunda.</p>
<p>Hm, ternyata isu lokalitas bukan disadari oleh kalangan arsitek saja, namun masyarakatpun menyadari isu tersebut. Rasanya memang benar bahwa kota adalah milik bersama, <em>that’s why, city needs people</em>. // <em>see you on next place, see you on selasar sunaryo! </em>Hatur nuhun</p>
<p>Bersambung&#8230;.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-497" title="_MG_9604" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/MG_9604.JPG" alt="_MG_9604" width="720" height="480" /><img class="alignnone size-full wp-image-498" title="_MG_9672" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/MG_9672.JPG" alt="_MG_9672" width="480" height="720" /><img class="alignnone size-full wp-image-499" title="_MG_9680" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/MG_9680.JPG" alt="_MG_9680" width="720" height="480" /><img class="alignnone size-full wp-image-500" title="_MG_9700" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/MG_9700.JPG" alt="_MG_9700" width="720" height="480" /></p>
<p>Putri Kusumawardhani</p>
<p><strong>Review Re Inventing Bandung 2009</strong></p>
<p>Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, masyarakat kota terus berubah dengan pasti. Perkembangan tersebut menuntut masyarakat kota untuk menyikapinya dan merubah gaya hidupnya baik sadar maupun tidak sadar. Perubahan tersebut dirasakan di berbagai aspek kehidupan, yang mengakibatkan terus berubahnya perilaku masyarakat. Dari latar belakang tersebut kegiatan Reinventing lahir.</p>
<p>Reinventing adalah ajang bagi komunitas arsitektur untuk mengeluarkan ide-ide dan imajinasi arsitektural untuk mengintervensi Kota Bandung. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya muncul 7 karya yang telah melewati proses desain dengan maksud mengintervensi kawasan-kawasan yang ada di Bandung ini. Masing-masing peserta membawa visinya yang berbeda-beda dan mimpinya masing-masing terhadap kawasan tersebut, mimpi dan cita-citanya terhadap Kota Bandung di dalam karyanya.</p>
<p>Salah satu peserta adalah dari tim5 yang mengintervensi kawasan dalem kaum. Tim5 ini melihat kawasan sekitar dalem kaum ini dengan merekam sejarah dari kawasan ini, melihat kawasan dalem kaum sebagai pusat peradaban kota Bandung yang bersejarah. Strategi desain yang dicanangkan adalah dengan mempromosikan nilai dari tempat-tempat yang ada di alun-alun, dengan me-reinventing makna dari pusat kota sebagai perwujudan dari identitas dan memori kolektif dari Kota Bandung. Desain dari strategi tersebut diwujudkan dengan mengeksploitasi mekanisme dari budaya berbelanja di kawasan dalem kaum ini.</p>
<p>Peserta selanjutnya yang juga mengintervensi kawasan dalem kaum adal<strong>ah Kelompok Dayeuh Anom (Kota Baru)</strong>. Melihat potensi kota Bandung sebagai kota yang selalu dipenuhi oleh wisatawan, intervensi yang dilakukan adalah dengan merevitalisasi kawasan alun-alun bandung sebagai pusat kawasan wisata Kota Bandung. Dengan turut mencita-citakan jalur transportasi berupa kereta bawah tanah yang dapat mengakses kawasan ini, kawasan alun-alun  diciptakan sebagai area rekreasi yang menyenangkan bagi wisatawan.</p>
<p>Peserta selanjutnya adalah dari <strong>mahasiswa UP</strong>I, yang mengintervensi area jalan merdeka dan purnawarman. Melihat bangunan BIP, Gramedia, dan BEC sebagai nodes di kota Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat Kota Bandung, titikberat dari intervensinya adalah bagaimana pejalan kaki bisa mengakses satu tempat ke tempat lain  tanpa terganggu dengan kendaraan. Hal itu diwujudkan dengan menciptakan sirkulasi pedestrian bawah tanah yang menghubungkan ketiga bangunan tersebut.</p>
<p>Kawasan yang menjadi area intervensi dari peserta selanjutnya adalah Cihampelas. Peserta dari <strong>mahasiswa itenas</strong> ini mencari pengertian ulang ruang public dalam konteks kota bandung, adakah kemungkinan mensenyawakan ruang terbuka hijau pada daerah komersial sebagai ruang public kota tanpa menghadirkan kembali permasalahan diatas. Intervensi yang dilakukan adalah dengan meletakkan ruang-ruang komersial berupa retail di dalam tanah, dengan cara ini atap dari retail bawah tanah berfungsi sebagai ruang terbuka hijau tempat masyarakat menikmati Kota Bandung.</p>
<p>Peserta selanjutnya yang juga mengintervensi kawasan cihampelas adalah <strong>Arsitekturina</strong>. Perhatian terbesar dari intervensi ini adalah mencipatakan Cihampelas sebagai jalan bebas polutan, Cihampelas diintervensi dengan memblok cihampelas dengan hutan raya, dengan melarang adanya mobil untuk melewati jalan ini. Kendaraan bermotor diwadahi dengan diciptakannya car traveler, yang terhubung ke tower yang berfungsi sebagai car storage kota Bandung, dimana tower ini berfungsi sebagai gerbang Kota Bandung bagi pendatang dan ruang transit untuk selanjutnya mengakses Bandung dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan sewaan.</p>
<p>Cihampelas juga diintervensi oleh peserta dari <strong>mahasiswa Itenas lainnya</strong>. Peserta ini menyorot permasalahan akan tidak seimbangnya fasilitas publik dengan jumlah pejalan kaki, sehingga sering terjadi crossing antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Solusi yang dikeluarkan adalah dengan menciptakan jalur khusus bagi pejalan kaki berupa sky bridge, dengan tujuan menghilangkan kemacetan sehingga meminimalisir bahan bakar yang terbuang dengan percuma.</p>
<p>Kawasan Stasiun Bandung adalah kawasan yang menjadi areal intervensi peserta selanjutnya, yaitu dari <strong>mahasiswa S2 ITB.</strong> Ide dasar dari desain ini adalah dengan mengembalikan stasiun selatan sebagai grand stasiun heritage, dengan pengkayaan fungsi gaya hidup, cerminan perkembangan kota Bandung sebagai kota kreatif, dan menciptakan cluster sebagai penyatu pergerakan kawasan multi fungsi. Konsep tersebut diterapkan dengan merancang bangunan multi fungsi sebagai generator pertumbuan kawasandengan semangat heritage.</p>
<p>Braga juga turut diintervensi oleh <strong>mahasiswa S2 ITB</strong>. Tema yang diangkat berusaha untuk menghadirkan kembali kehangatan Braga dalam desain ruang yang akrab. Pola-pola ruang dalam zona didesain untuk saling berinteraksi dengan menciptakan node-node penyatu antar massa bangunan. Konsep intimate of space dihadirkan dengan menciptakan node-node yang menggabungkan kelompok massa ataupun zona, arah massa yang dihadapkan pada node sebagai ruang penyatu juga dimaksudkan untuk menciptakan intimate of space.</p>
<p>Mahasiswa S2 lainnya yaitu <strong>dari UPH</strong>, mengintervensi kawasan jatayu. Proyek revitalisasi yang berlokasi di Jalan Rama ini merupakan sebuah revitalisasi kawasan kuliner dan residensial. Revitalisasi ini memiliki konsep yang bertujuan untuk merevitalisasi kawasan RW 002 dengan tetap mempertahankan program yang sudah ada dan juga menambah program-program baru yang dapat menarik masyarakat untuk datang berkunjung ke kawasan ini. Program-program tersebut antara lain boutique hotel, rubber restoration, recycling center, sparepart museum, iron craft training center, dan autistic school.</p>
<p>Intervensi lain yang bukan berupa penataan kawasan dilakukan oleh <strong>Smagarchitects.</strong> Intervensi yang dilakukan adalah berupa kotak sampah yang interaktif. Dengan visi untuk mengolah ruang sirkulasi seperti tepi pedestrian, ruang-ruang publik penting Kota Bandung dengan cara mendesain kotak sampah interaktif tersebut dengan proses membuang sampah yang bersifat entertaining. Tujuannya secara tidak langsung dan secara persuasif mengajak warga kota untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga menambah kualitas ruang publik dengan street furniture yang edukatif dan interaktif.</p>
<p>Bentuk-bentuk intervensi yang dirancang oleh peserta sangat bervariasi. Dari konsep desain, wujud, skala intervensi, rancangan yang dihasilkan berbeda-beda antara satu sama lain. Namun, semuanya memiliki satu tujuan dan cita-cita, menciptakan Bandung sebagai kota yang lebih baik. Dan sebagai perancang lingkungan binaan, kontribusi arsitektur terhadap Kota Bandung &#8211; saat ini dan masa depan &#8211;  masih belum berhenti. (*)</p>
<p>Tim Re-Inventing Bandung 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2009/12/11/review-re-inventing-bandung-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WEG! Sekilas Tentang Kawasan Dago</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2009/12/08/weg-sekilas-tentang-kawasan-dago/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2009/12/08/weg-sekilas-tentang-kawasan-dago/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 00:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=486</guid>
		<description><![CDATA[Dago, tak dapat dipungkiri merupakan salah satu icon kota Bandung, sejarah panjang Dago merupakan bagian yang menarik dari keberadaan Bandung, dimulai dari jalan setapak yang digunakan petani sebagai jalan dari lembang, coblong ke pasar di kawasan pusat kota kala itu (abad 18an), para petani yang hendak menjual hasil pertanian dan perkebunan selalu pergi bersama-sama , [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-487" title="banner-weg-purna" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/banner-weg-purna.jpg" alt="banner-weg-purna" width="750" height="120" /></p>
<p>Dago, tak dapat dipungkiri merupakan salah satu icon kota Bandung, sejarah panjang Dago merupakan bagian yang menarik dari keberadaan Bandung, dimulai dari jalan setapak yang digunakan petani sebagai jalan dari lembang, coblong ke pasar di kawasan pusat kota kala itu (abad 18an), para petani yang hendak menjual hasil pertanian dan perkebunan selalu pergi bersama-sama , karena alasan keamanan, konon pada masa itu jalan menuju pasar di kota Bandung masih dikuasai para penyamun atau perampok, sehingga para petani tersebut sering “silih dagoan” (bahasa sunda : saling menunggu) di suatu tempat di kawasan Dago saat itu. Perkembangan selanjutnya kawasan Dago berubah jadi kawasan villa, yang penataan ruangnya nyaris sempurna, arsitek bangunannya pun banyak dirancang oleh arsitek terkenal pada masanya. Karya kelompok arsitek Hindia Belanda NIAK (Nederland Indie Arsitecture Krink) antara lain, Mclaine Pont, Schoemaker bersaudara, Gheijsels, Albers, lalu kita mengenal Art Deco, Straightline Deco, Nautical Deco,Art Nouveau, dan jadilah kawasan Dago sebagai kawasan villa yang nyaman dan elite di Bandung pada saat itu. Perubahan demi perubahan terus terjadi di kawasan Dago, setiap dekade selalu membawa cerita yang menarik.</p>
<p><span id="more-486"></span></p>
<p>Prof.dr.Koestedjo SpB (94 tahun), seorang warga senior di Jl.Dago, beliau tinggal sejak tahun 50an di Jl.Dago, pada saat kesempatan di awal tahun 2009, beliau menceritakan “romantisme” masa-masa indah tinggal dikawasan tersebut.</p>
<p>“Kawasan Dago di tata dengan apik, sehingga merupakan daerah hunian paling nyaman di Bandung, jalannya lebar di kiri kanan tersebut dibuat trotoar yang ditumbuhi pohon damar sehingga membuat nyaman pejalan kaki, rumah-rumah tanpa pagar, halaman yang luas, jaln khusus untuk pengendara sepeda dan infrastruktur yang baik”. Kemudia beliau mengatakan, bangunan tempat tinggal sering disebut dengan Open Westersebouw (ruang terbuka mencapai 70% dari lahan tersedia). Pada akhir pembicaraan beliau katakan dengan berbinar “indah san sangat nyaman”. “Sekarang tetangga-tetangga saya adalah factory outlet, bank, restoran, rumah-rumah yang tersisa pun kini berpagar tinggi” (tercatat tiada kurang dari 18 factory outlet dan sejenisnya, 13 bank, 9 hotel, lebih dari 10 kafe/restoran, 3 perusahaan asuransi, lebih dari 10 kegiatan usaha lainnya seperti toko swalayan, mall, money changer, broker valas sampai dengan lembaga pendidikan), kemacetan menjadi santapan setiap hari, sangat tidak nyaman untuk pemukiman, sudah lebih dari 50 tahun Prof.dr.Koestedjo tinggal di jalan Dago, beliau mengatakan “saya ingin menghabiskan sisa usia saya tetap menjadi warga Dago”.</p>
<p>Cerita tentang jalan Dago seakan tak lekang oleh waktu, dari generasi ke generasi selalu punya cerita tentang jalan ini, tulisan ini coba memotret situasi Dago saat ini dengan segala problematikanya.</p>
<p>Sejak berdirinya tahun 1898, sampai kota Bandung mendapat status Gemeente (kota madya) pada tahun 1906 mulailah Bandung membangun layaknya sebagai sebuah kota besar, pembangunan jalur jalan dalam kota bertambah dan dikembangkan, fasilitas umum terus berkembang, gedung-gedung pertokoan , pemerintah, pendidikan, lembaga-lembaga sosial terus dibangun era awal 20an sampai 1940-an, tentunya dengan arsitektur yang khas, (sebagai contoh : RS. Borromeus di bangun tahun 1921, ITB tahun 1920) kemudian Bandung mendapat predikat Laboratorium Arsitektur (Her Suganda, Kompas), Bandung masuk urutan ke 9 Cities of Art Deco in the World. Berkembangnya Bandung sebagai sebuah kota besar didukng okeh pemasangan rel kereta api pada tahun 1884 yang menghubungkan Batavia dan bandung. Semakin banyaknya kegiatan pemerintah Hindia Belanda di Bandung telah melahirkan kawasan pemukiman elite atau sering disebut dengan kawasan villa di DagoStraat atau jalan Dago. Sejak tahun 1970 diganti namanya menjadi Jl.Ir.H.Juanda, selain itu dikenal juga kawasan sayap Dago yang kini juga mulai berubah fungsi menjadi pusat perniagaan.</p>
<p>Jaringan jalan dalam kawasan ini (sayap Dago) antara lain :</p>
<p>Jalan Ir.H.Juanda (Dagostraat)</p>
<p>Jalan Raden Patah (Pahud de mortagneslaan)</p>
<p>Jalan Sumur Bandung (Van Hoytemaweg)</p>
<p>Jalan Teuku Umar (Zorgvlietklaan)</p>
<p>Jalan Taman Sari (Huysgenweg)</p>
<p>Jalna kiai Luhur (Van Ostadelaan)</p>
<p>Jalan Pager Gunung (Jan Steenlaan)</p>
<p>Jalan Surya Kencana (Borromeuslaan)</p>
<p>Jalan Imam Bonjol (Peltzerlaan)</p>
<p>Jalan Ganesha (huygensweg)</p>
<p>Jalan Tirtayasa (Frisiastrat)</p>
<p>Jalan Sultan Agung (Heetjanweg)</p>
<p>Dan jalan-jalan lainnya.</p>
<p>Tipe bangunan yang selalu ada dengan karakteristik villa yang mengacu pada arsitektur modernisme Eropa tahun 1920 dan 1930an, kemudian seiring dengan perkembangan jaman, kawasan ini beubah pesat menjadi kawasan niaga seperti yang kita lihat saat ini, dan tentunya membawa dampak pada bangunan-bangunan bernilai arsitektur tinggi (versi Bandung Heritage), dampaknya adalah bangunan itu harus beralih fungsi, dan yang memprihatinkan adalah hilangnya bangunan-bangunan yang merupakan heritage kota Bandung. Kini kita tidak dapat bicara lagi Building Coverage Ratio 70 : 30 (70% lahan terbuka) seperti pada jaman kolonial dahulu, lihatlah lahan yang dijadikan tempat parkir factory outlet, atau yang luar biasa lihatlah POM bensin milik Petronas di Jl. Dago.</p>
<p>Dago dapat diidentifikasikan dengan pusat anak muda mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya baik secara perorangan ataupun komunitas (kelompok), mengapa harus di Dago? Apakah memang warga Bandung tidak mempunyai ruang publik selain Dago? Atau Dago telah menjadi bagian dari tren gaya hidup anak muda Bandung.</p>
<p>Pada tahun 1950 sampai dengan 1970an kawasan Dago masih merupakan kawasan pemukiman elite dan berkelas selain itu suasana asri dan nyaman. Pada era tahun 1970 sampai 1980an dago mulai menjadi tempat anak muda berkumpul. Jalan yang lurus (panjang jalan Dago sekitar 2,5 km) sering dijadikan arena balapan motor dan mobil, atau menjadi jalan wajib konvoi klub kendaraan bermotor pada saat itu, biasanya keramaian saat itu hanya terjadi pada sabtu malam, hari biasa tidak terjadi kemacetan di jalan Dago seperti sekarang ini.</p>
<p>Pada era 1990an sampai dengan sekarang telah terjadi perubahan besar dikawasan Dago, yang merupakan bagian dari permasalahan Pemkot Bandung. Salah satu permasalahan adalah berkembangnya penyalahgunaan fungsi dari bangunan yang ada akhirnya berdampak pada pelestarian bangunan konservasi yang berada di kota Bandung terutama sepanjang jalan Dago. Kemacetan yang luar biasa pada saat long weekend , carut marutnya billboard, tidak berfungsinya infrastruktur karena pelanggaran tata ruang kawasan dago. Maraknya tren factory outlet secara perlahan tapi pasti membuat kawasan Dago menjadi sasaran para investor untuk mendirikan factory outlet, distro, restoran, hotel, bank, POM bensin dengan mengabaikan aturan rencana tata ruang kota serta ada pula beberapa bangunan yang terdaftar dalam kategori bangunan cagar budaya yang dikorbankan hanya untuk kepentingan komersial semata (contoh : bangunan jalan Dago nomor 118, tepat dipertigaan jalan Teuku Umar merupakan bangunan bergaya Art deco dengan arsiteknya Prof.Ir.C.P Wolff Schoemaker, masuk dalam list yang dilindungi versi Bandung Heritage).</p>
<p>Setiap malam minggu pada saat ini kawasan Dago masih menjadi destinasi anak muda selain untuk menunjukkan eksistensinya juga menghadirkan kegiatan-kegiatan kreatif yang meramaikan kawasan Dago menjadi sebuah bagian gaya hidup anak muda Bandung, seperti pertunjukkan musik yang meriah dibeberapa titik kawasan Dago, komunitas-komunitas motor (klub motor) memarkir motornya dengan rapih sehingga nampak estetis, komunitas under ground dengan aksesorisnya yang unik tampak berkumpul di sekitar taman Fleksi dan sudut-sudut toko Circle K, terlepas dari pandangan negatif dari sebagian wakga kota terhadap mereka. Bahwa mereka juga adalah warga bandung dan mempunyai hak mengisi ruang-ruang di kawasan Dago.</p>
<p>Di sekitar taman cikapayang, komunitas BMX dan komunitas Skate Boarder berkumpul sambil sesekali menunjukkan aksinya, ada pula mahasiswa-mahasiswa (nampaknya dari kalangan berkecukupan dan mapan) yang ngamen bergerombol asal jadi dan asal bunyi meminta bayaran pada pengendara mobil yang terjebak macet (kreatif kah?), dan ini menggeser para pengamen jalanan yang benar-benar mencari uang untuk makan. Radio bus station menyiarkan keadaan jalan Dago sehingga mengundang emosi rasa penasaran anak muda untuk sekedar melintasi kawasan Dago yang macet. Sementara parkiran factory outlet penuh dengan mobil dengan plat nomor B, seakan tak puas-puasnya berbelanja baju setiap minggu.</p>
<p>Daya tarik kawasan Dago memang tidak pernah luntur, hal ini dibuktikan dengan diadakannya tiga tahun berturut-turut Festival Dago yang menjadi lautan manusia dikawasan Dago, dan kawasan Dago diusulkan menjadi titik kreatifitas kaula muda Bandung.</p>
<p>Perjalanan sejarah Dago belum berakhir entah sampai kapan, popularitas Dago seakan menjadi magnet bagi banyak orang untuk tetap datang dan kembali ke Dago. Perkembangan bisnis di Dago cenderung tidak terkendali, 80% lahan hunian kawasan ini telah mengalami perubahan peruntukan dari hunian ke komersial.</p>
<p>Perubahan ini pada akhirnya berdampak luas pada hunian ke komersial. Perubahaan ini pada akhirnya berdampak luas pada kawasan Dago itu pada keseluruhan, selain hilangnya lahan terbuka hijau, rawannya pembongkaran bangunan-bangunan heritage, kegiatan ekonomi yang terjadi dikawasan Dago ternyata tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai (contoh : kemacetan). Saat musim hujan saluran-saluran drainase di kawasan Dago tidak mampu lagi menampung limpahan air sehingga jalan Dago berubah menjadi sungai. Kawasan Dago yang selama ini dibanggakan sebagai icon Bandung yang cantik dan nyaman berubah menjadi kawasan Dago dimata anak-anak muda tetap menjadi tempat yang tepat untuk berekreasi, beraktifitas, dan mengaktualisasikan diri.</p>
<p>Banyak pemerhati kota (perorangan, LSM, Institusi Pendidikan) yang terus mendesak pemerintah kota Bandung agar melakukan pembenahan kawasan Dago dengan menegakkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dago masih menjadi magnet walaupun pengelolaannya carut marut, apalagi jika di tata dengan lebih baik.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-488" title="weg" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/weg.JPG" alt="weg" width="622" height="552" /></p>
<p>(Komunitas WEG adalah komunitas pemerhati kota yang terbentuk atas prakasa beberapa mahasiswa teknik arsitektur ITENAS, dan mempunyai anggota yang berasal dari berbagai multi disiplin seperti teknik industri, ekonomi, dll. Komunitas ini mencoba untuk mengkaji permasalahan kota melalui diskusi-diskusi lintas ilmu pengetahuan).</p>
<p>Informasi lebih lanjut silahkan mengakses <a href="http://komunitasweg.wordpress.com. " target="_blank">http://komunitasweg.wordpress.com. </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2009/12/08/weg-sekilas-tentang-kawasan-dago/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

