<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jongArsitek! &#187; dannywicaksono</title>
	<atom:link href="http://jongarsitek.com/author/dannywicaksono/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jongarsitek.com</link>
	<description>desain menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 01:39:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pritzker Prize 2012: Wang Shu</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2012/03/01/pritzker-prize-2012-wang-shu/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2012/03/01/pritzker-prize-2012-wang-shu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 09:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dannywicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1692</guid>
		<description><![CDATA[Ini menarik. Wang-Shu (49tahun) adalah salah satu arsitek cina paling menarik sekarang. Jika ada arsitek cina pertama yang berada di nominasi teratas untuk menerima pritzker prize, dia adalah orangnya. Dan hari ini terbukti. Saya pertama kali mengetahui tentang wangshu tahun 2009 lewat majalah MARK. Ningbo Historic museum of art nya (yang menjadi cover MARK edisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini menarik.<br />
Wang-Shu (49tahun) adalah salah satu arsitek cina paling menarik sekarang. Jika ada arsitek cina pertama yang berada di nominasi teratas untuk menerima pritzker prize, dia adalah orangnya. Dan hari ini terbukti.</p>
<p>Saya pertama kali mengetahui tentang wangshu tahun 2009 lewat majalah MARK. Ningbo Historic museum of art nya (yang menjadi cover MARK edisi itu) menarik perhatian saya. Setelah membaca edisi itu, saya mengusulkan agar Wang-Shu diundang sebagai salah satu pembicara di JAT2009. Waktunya tidak cocok, beliau tidak bisa hadir.</p>
<p>Agustus tahun 2010, saya dan beberapa orang teman, mengunjungi beberapa karyanya di kota Hangzhou dan Ningbo. Xiangshan Campus of Art di Hangzhou dan Ningbo historic museum dan Ningbo Art Museum.</p>
<p>Di Xiangshan Campus, dimana dia mendesain masterplan dan seluruh bangunannya, saya terkejut. Saya tidak menyangka kualitas ruang dan arsitekturnya akan sebagus yang saya lihat. Saya merasa desain itu mengajarkan saya tentang mempelajari dan mengenal asal-usul saya. Dibangunan itu, saya merasa bahwa Wang Shu sudah sangat memahami asal-usulnya dan berhasil menterjemahkan itu kedalam bahasa arsitektur kontemporer. Ini yang saya katakan kepada beliau dan beliau mengatakan bahwa dugaan saya itu benar.</p>
<p>Naiknya Wang-Shu ke permukaan arsitektur Internasional, sebetulnya cukup meteorik kalau kita melihat daftar panjang penerima-penerima lainnya. Mungkin bisa disamakan dengan Jeremy Lin di NBA (pemain basket NBA di klub New York Knicks, yang sebulan ini, mencuri perhatian dunia)</p>
<p><a href="http://movingcities.org/interviews/local-hero-an-interview-with-wang-shu/">Wawancara pertama dalam bahasa inggris dengan Wang-Shu</a> dilakukan oleh jurnalis Belgia yang kini bermukim di Shanghai, Bert De Muynck wawancara ini adalah artikel yang dimuat di majalah MARK tahun 2009 lalu . Itu adalah kali pertama dunia arsitektur internasional diperkenalkan kepada Wang-Shu.</p>
<p>Jika kemudian, 3 tahun setelah wawancara pertama yang dimuat di majalah MARK itu, Wang Shu kemudian mendapatkan Pritzker Prize, maka ini adalah hal yang sangat mengejutkan. Bandingkan dengan Peter Zumthor, yang setelah semua karyanya yang mengagumkan itu, beliau baru mendapatkannya di tahun 2009 kemarin. Atau Paolo Mendes Da Rocha yang mendapatkan pritzker prize di tahun 2006 di usia 78 tahun.</p>
<p>Saya rasa untuk tahun ini, Pritzker Prize terlalu terburu-buru memberikan penghargaan ini untuk WangShu, saya pikir panitia sendiri kurang mengenal dan belum mendapatkan banyak informasi tentang Wang Shu. Ini terbukti dari <a href="http://www.facebook.com/Markmagazine/posts/10150563266705836">&#8220;komplain&#8221; majalah MARK</a> yang merasa press release dari Pritzker Prize, banyak mengambil dari wawancara Bert de Muynck yang dimuat di majalah mereka</p>
<p>Saya sudah memperkirakan bahwa penerima Pritzker Prize tahun ini akan dari Amerika Selatan atau Asia, dan akan tidak terduga. Saya tidak mau menebak Wang Shu karena saya pikir beliau masih perlu beberapa karya lagi untuk membuktikan konsitensinya. Lima tahun lagi, jika beliau sudah memiliki beberapa karya terbangun dengan kualitas yang sama seperti Xiangshan Campus, maka saya akan berani menyebut namanya. Ini mengapa saya terkejut juga ketika namanya diumumkan sebagai penerima.</p>
<p>&#8220;Ketergesaan&#8221; dalam pemilihan Wang Shu sebagai penerima Pritzker tahun ini, mungkin menunjukan adanya hal yang mungkin bisa dibilang bergeser di dunia arsitektur global. Dari arsitektur yang merayakan ego arsitek, dan konsep-konsep besar, ke arsitektur yang lebih berkutat dengan hal-hal yang kecil, regionalisme dan konteks-konteks yang ada disekitar lingkungan si arsitek dan disekitar proyek.</p>
<p>Jika kita lihat, setidaknya sejak Paolo Mendes da Rocha (yg menerima di tahun 2006) 4 arsitek yang menerimanya adalah arsitek-arsitek yang selalu mencoba untuk mendesain dengan berangkat dari dan menggali konteks yang mereka miliki dalam proyek mereka. Misalnya stadion sepak bola Braga (yang di desain oleh Souto de Moura) yang menggunakan batu alam setempat dan menggunakan alam sekitar sebagai latar belakang. Begitu juga Zumthor, Kazuya Sejima, Ryue Nishizawa, dan Mendes da Rocha. Sekarang Wang Shu.</p>
<p>Saya curiga, para dewan juri tidak mampu menemukan arsitek seusia Wang-Shu dari negara lain, yang memiliki kualitas desain yang tinggi dan menghasilkan karya dengan latar belakang pemikiran seperti ini lagi. Oleh karena itu, mereka seperti memaksakan untuk memberikan penghargaan tahun ini kepada WangShu, meski dunia baru mengenalnya 3 tahun lalu, dan paling tidak baru 3 atau 4 karya dengan skala besar yang dia selesaikan. Rasanya belum juga ada buku yang pernah dia terbitkan, atau yang memuat kumpulan karyanya. Yang mungkin juga membantu beliau untuk terlibat lebih di dunia internasional adalah keikutsertaan beliau di Venice Biennale 2010.</p>
<p>Saya tidak ingin menduga banyak tentang para jurinya, namun yang menarik perhatian saya adalah Alejandro Aravena, arsitek Cile yang pemikiran-pemikirannya banyak berbicara tentang melihat hal-hal yang ada sekitarnya dengan kritis. Arsitek yang melihat bahwa arsitek dan arsitekturnya, sebaiknya juga bisa menyelesaikan masalah-masalah regionalnya, selain juga harus berkembang dari karakteristik regional yang ada. Saya pikir, Aravena punya peran besar dalam pemberian pritzker prize tahun ini kepada WangShu. Dan dengan <a href="http://www.pritzkerprize.com/about/jury-bios#stein">lineup juri yang kritis</a> seperti sekarang  saya pikir ketidakterdugaan seperti ini, masih akan berlanjut lagi di tahun-tahun ke depan. Saya menebak penerima berikutnya akan datang dari Amerika Selatan.</p>
<p>Kembali kepada Wang Shu; Kemunculan Wang Shu (dan banyak arsitek cina lainnya seperti Urbanus, Liu Xiaodu, Zhang Ke, Ma Yungson, Zhu Pei, Liu Jiakun, dll) sejalan paralel dengan boom ekonomi,properti dan keterbukaan pemerintah cina kepada dunia. Ketika pada akhirnya kesempatan-kesempatan untuk mendesain itu datang, arsitek-arsitek cina mampu menghasilkan karya arsitektur yang mampu membuat banyak arsitek dan pemerhati arsitektur dari negara-negara lain, menoleh kepada mereka dan kemudian mengakui kualitas hasil kerja mereka. Kini, dengan banyaknya arsitektur yang menarik di cina, dan kemudian dengan diakuinya Wang Shu sebagai penerima, apa yang dianggap sebagai penghargaan tertinggi dalam dunia arsitektur, rasanya iklim arsitektur cina sudah berada diantara iklim arsitektur yang paling menarik di dunia.<br />
Yang menarik untuk diikuti adalah pengaruh apa yang akan terjadi kepada aristek-arsitek muda atau mahasiswa arsitektur di cina sekarang. Saya pikir ini adalah pengangkat moral yang besar untuk arsitektur cina sekarang. Setiap arsitek di cina, rasanya bisa berpikir bahwa ada kemungkinan untuk hasil kerja mereka diberikan penghargaan tertinggi dalam arsitektur, karena arsitektur cina sudah ada dalam perhatian dunia. Hal ini pasti memacu, setidaknya beberapa arsitek cina, untuk menghasilkan karya yang paling tidak memiliki kualitas setara dengan Wang Shu, jika tidak lebih baik. Dan ini, hanya akan membuat kebudayaan bangun cina menjadi lebih baik.</p>
<p>Indonesia kini memiliki pertumbuhan ekonomi yang berada diantara yang terbesar di dunia. Dan banyak yang bilang bahwa apa yang terjadi di Indonesia kini, memiliki gejala yang sama seperti ketika cina akan boom properti dan ekonomi. Ekonomi baik, dan pembangunan bergeliat dimana-mana. Dari yang saya dengar, banyak teman arsitek juga tidak kekurangan kerjaan. Bahkan beberapa minggu terakhir, banyak sekali iklan lowongan kerja di milis ini, dan di facebook. Kesempatan untuk menghasilkan karya sepertinya terus ada dan mungkin bertambah banyak.</p>
<p>Pertanyaan untuk kita jawab lewat karya: apakah kita mampu menghasilkan hasil kerja yang mampu membuat arsitek dan pemerhati arsitektur dari negara lain, menoleh dan memperhatikan kita juga?</p>
<p>Danny Wicaksono</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2012/03/01/pritzker-prize-2012-wang-shu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selayang Tentang Metode Merancang</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/06/02/selayang-tentang-metode-merancang/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/06/02/selayang-tentang-metode-merancang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 04:26:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dannywicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[memberitakan seperti apa metode perancangan para “stachitect” itu mudah. Tapi bagaimana membuatnya menjadi sesuatu yg  menginspirasi adalah hal yang sedikit lebih rumit Saya pikir, pencarian arsitektur sudah dimulai sejak panas matahari, menyentuh kulit manusia pertama. Pemikiran untuk melindungi tubuh dari cuaca, adalah alasan pertama dan utama, mengapa manusia membutuhkan naungan. Dan di saat manusia pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-97" title="people" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/10/people.jpg" alt="people" width="750" height="120" /></p>
<p>memberitakan seperti apa metode perancangan para “stachitect” itu mudah. Tapi bagaimana membuatnya menjadi sesuatu yg  menginspirasi adalah hal yang sedikit lebih rumit</p>
<p>Saya pikir, pencarian arsitektur sudah dimulai sejak panas matahari, menyentuh kulit manusia pertama. Pemikiran untuk melindungi tubuh dari cuaca, adalah alasan pertama dan utama, mengapa manusia membutuhkan naungan. Dan di saat manusia pertama masuk ke dalam goa, itulah awal dari perjalanan panjang manusia untuk mencari metode-metode arsitektur.</p>
<p>&#8220;architecture is the will of an epoch, translated into space.&#8221; -mies van de rohe-<span id="more-900"></span></p>
<p>Ini kutipan favorit saya. Entah mengapa “kurang adalah lebih”, menjadi lebih populer. Saya pikir kutipan ini adalah perkataan Mies yg paling kuat dan seharusnya menjadi pegangan sebagai sikap ketika kita mendesain.  Kutipan ini menunjukan dengan sangat gamblang, betapa arsitektur sebagai penterjemah ruang, memainkan sebuah peranan penting dalam kebudayaan manusia, namun di sisi lain, ia memiliki posisi yg sangat lemah, karena sangat bergantung kepada kemajuan sebuah jaman.  Sejarah membuktikan, kemajuan arsitektur sangat tergantung dari kemajuan teknologi, dan metode perancangan arsitektur pun berubah mengikutinya.</p>
<p>Material dan metode merancang.</p>
<p>Ketika manusia masih membangun dengan bahan-bahan yang disediakan oleh alam, seperti batu, tanah, pohon, ijuk, sirap, bambu, dll, arsitektur yang tercipta adalah arsitektur yang bereaksi terhadap keterbatasan yang dimiliki oleh material yang digunakan. Rumah-rumah tinggal di buat dari tanah, Benteng-benteng di susun dari batu-batu yang dipapas. Istana-istana di buat dari kayu-kayu pilihan terbaik.<br />
Ketika penggunaan beton kemudian diperkenalkan dengan lebih luas oleh kaisar Nero dari Romawi, wajah dan metode perancangan dalam arsitektur pun berubah. Karakteristik yang dimiliki beton, membuat batasan dalam arsitektur terdorong lebih jauh, dan kemungkinan-kemungkinan dalam membangun pun kemudian meluas. Muncul kemudian arsitektur roman, romanesque, baroque, rococo, dengan semua karakteristik khusus mereka. Penggunaan beton terus berkembang hingga brutalisme di Brasil sekitar tahun 1950-an, dan Tadao Ando di Jepang. Bahkan hingga hari ini hampir seluruh arsitek di seluruh dunia, mempergunakan beton.<br />
Diawal abad ke-20, penemuan struktur besi untuk bangunan, kembali merubah wajah arsitektur. Arsitektur pencakar langit menemukan metode bangun yang jauh lebih efisien, dari semua yang pernah diketahui. Sebelum dengan baja, bangunan tinggi dibangun dengan material kayu, tanah, batu, batu bata dan beton.Menara-menara kecil seperti menara jaga, dan lain-lain yang tidak dinaiki terlalu banyak orang dibuat dari kayu, namun menara-menara yang lebih tinggi di buat dari beton. Di kota Shibam, Yaman, bangunan-bangunan tinggi terbuat dari tanah, berdiri hingga ketinggian 10 lantai. Dibangun pada abad ke-5, ini adalah kota dimana arsitektur pencakar langit pertama ditemukan.<br />
Beberapa abad kemudian, bangunan pencakar langit dari bata dibuat dibeberapa kota di amerika, namun perancangannya masih kurang efisien, karena untuk menahan beban bangunan 10 lantai, tembok di lantai dasar mencapai tebal 1meter. Hingga kemudian, Louis Sullivan mendesain Mainwright Building, bangunan tinggi pertama yang menggunakan baja di kota Chicago.<br />
Kini, penemuan Space Frame, Vierendeel Beam, beton bertulang, dan teknologi struktur lain yang ditemukan terbuat dari beton dan baja, telah membawa arsitektur kontemporer kepada kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh lebih beragam, daripada apa yang kita ketahui 100 tahun yang lalu. Kemungkinan-kemungkinan inilah yang dengan sangat jeli, dijelajah oleh para arsitek avant-garde dunia saat ini. Mereka yang disebut oleh banyak media arsitektur sebagai “Starchitect”.</p>
<p>Arsitektur di abad 21</p>
<p>Di abad ke 21, arsitektur kembali melompat. Di masa ini pula, istilah “starchitect” di perkenalkan oleh media, untuk menyebut para arsitek yang sering diliput oleh media dan memiliki karya yg menarik. Diantara para arsitek ini, beberapa merupakan alumnus pameran &#8220;deconstructivism&#8221; yang dikuratori oleh Phillip Johnson dan Mark Wigley tahun 88 di MoMA New York.<br />
Pada saat itu, Johnson dan Wigley melihat adanya metode perancangan berbeda yg dibawa oleh beberapa arsitek seperti Zaha Hadid, Daniel Libeskind, Lebbeus Woods, Rem Koolhaas, Coop Himmelblau, Peter Eissenmann,  dan beberapa lainya. Ketika itu, Rem Koolhaas belum lama menyelesaikan Delirious New York, bukunya ttg manhattan. Hadid baru saja memenangkan sebuah kompetisi di Hongkong, dengan gambar presentasi yang terinspirasi lukisan constructivisme Kazimir Malevich. Libeskind dan Eisenmann baru saja selesai berkolaborasi dengan Jacques Derrida, filsuf yg mencetuskan teori dekonstruksi.<br />
Masa2 ini mungkin salah satu masa yg paling menarik. Ketika di masa itu bentuk bangunan sangat kaku dan terdikte oleh strukur, lalu hubungan ruang menjadi terlalu tertebak, mereka muncul dengan bentuk bangunan dan pemikiran ttg ruang yang sangat segar. Guardiola house karya Peter eisenmann, parc de la villette karya Bernard Tschumi, Malibu house Coop Himmelblau, hanyalah beberapa karya yang pada saat itu sangat-sangat berbeda dari bangunan kotak berwarna putih dengan modul-modul yang diulang-ulang, yang umum pada masa itu.<br />
Mereka menantang jaman, dan menantang pemikiran yang ada pada masa itu, kemudian membawa arsitektur ke titik yang baru.<br />
Di masa kini, pemikiran-pemikiran arsitektur yang dibawa oleh kelompok ini, sangat mempengaruhi perkembangan metodologi perancangan banyak sekali arsitek muda. Rem Koolhaas, mungkin adalah arsitek yang paling berpengaruh di dunia saat ini. Kantornya, OMA, Office for Metropolitan Architecture, telah melahirkan arsitek-arsitek muda yang sangat menarik, seperti Josuha Prince Ramus dan Erez Ella, Bjarke Ingels, Winy Maas, Alejandro Zaera Polo, Minsuk Cho, Hani Rashid, dan masih banyak lagi “prodigy-prodigy” koolhaas lainnya.</p>
<p>“The Visionary and The Builder”<br />
Di perjalanan arsitektur abad ke 21 ini juga saya melihat adanya dua kutub besar kecendrungan merancang dalam arsitektur. Mereka yang merupakan turunan dari deconstructivism, saya menyebutnya “the visionary”, dan mereka yang kembali ke esensi-esensi dasar arsitektur, perangkai elemen-elemen pembentuk arsitektur; saya menyebutnya “The Builder”.<br />
“The Visionary” adalah mereka yang membongkar prinsip-prinsip dasar arsitektur. Mereka melihat ulang program, mengurainya satu persatu lalu kemudian mencari kemungkinan-kemungkinan lain  ketika merangkainya kembali. Lewat ini lalu mereka menemukan bentuk-bentuk baru yang akhirnya menantang siapa saja yang terlbat, untuk memikirkan cara untuk membangunnya. Kadang-kadang ada penemuan-penemuan baru yang mengiringinya, penemuan sistem struktur baru, sambungan baru, bahkan mungkin material baru. Mereka mendorong batas. Mengajak semua yang terlibat berpikir ulang tentang semua hal yang umum, untuk membuat sebuah standar arsitektur yang baru. Rem Koolhaas, Hadid, Libeskind, Coop Himmelblau, Frank Gehry dan beberapa lainnya, memimpin kelompok ini, kemudian Bjarke Ingels, REX, MVRDV, FOA, dan beberapa lainnya, berjalan diatas jejak  yang sama, dan mungkin menyempurnakannya kembali.<br />
Bagi mereka arsitektur selalu dilihat dari konsep-konsep besar tentang program, dan kemungkinan-kemungkinan ruang yang bisa diciptakan.<br />
“The Builder” bukan merupakan anti-thesis dari yang diatas. Mereka, berangkat dari kesadaran bahwa tugas seorang arsitek hanyalah membuat bangunan, jadi buatlah bangunan yang sebaik-baiknya. Di kalangan mahasiswa, metode yang di gunakan oleh mereka, jarang sekali di dekati, karena apa yang mereka lakukan benar-benar praktis sekali. Mereka tidak berakrobat dengan bentuk, namun mendekati bangunan dari aspek-aspek yang sangat teknis, sambil mengolah rasa ruang.<br />
Arsitek-arsitek seperti Louis Khan, Peter Zumthor, dan Tadao Ando, adalah contoh yang paling tepat untuk mewakili genre arsitektur ini. Ketiganya mengeksplor karakteristik material yang mereka gunakan, sambil terus berpikir untuk menyempurnakan penggunaannya. Zumthor bahkan menarik batas sebuah material lebih jauh, dan mempergunakannya dengan cara yang baru. Peter Zumthor, pernah menggunakan, kayu untuk sebuah paviliun, kaca untuk sebuah pusat seni, batu untuk sebuah pemandian, beton untuk sebuah gereja, dan timah untuk lapisan sebuah lantai. Tipe arsitek ini merancang dengan melihat material sebagai titik berangkat untuk mendesain. Kemudian dengan pemahaman penuh atas material yang akan digunakan, mereka merangkainya menjadi sebuah ruang, dengan rasa yang sangat khas dan berkarakter.</p>
<p>Arsitektur Jepang</p>
<p>Masuknya budaya barat ketika era restorasi meiji di jepang, membawa serta material dan metode merancang barat bagi arsitektur jepang. Dan sejak saat itu, arsitektur jepang tidak pernah lagi melihat ke belakang.<br />
Sejak jaman Kyonori Kikutake, Kenzo Tange, Fumihiko Maki, Kisho Kurakawa, hingga ke gemilangnya Tadao Ando,  arsitektur jepang seperti tidak pernah kehilangan pendekar-pendekar arsitektur kelas dunianya. Belum habis dunia kagum dengan Tadao Ando, kini Kazuyo Sejima dan Ryue Nishizawa, lewat biro mereka Sanaa, di prediksi akan menjadi kandidat kuat untuk Pritzker Prize berikutnya. Dan baru saja era emas Sanaa dimulai, generasi-generasi yang lebih muda sudah mengantri untuk menggantikannya. Sou Fujimoto, Junya Ishigami, Makoto Tanjiri, Akihisa Hirata, Kumiko Inui, dan Jun Igarashi hanyalah sebagian dari se-gerombolan arsitek muda jepang yang menghasilkan desain-desain yang sangat menarik.<br />
Bukan tanpa alasan, saya membuat sebuah pembahasan khusus mengenai para arsitek-arsitek jepang ini. Menurut saya, metode merancang yang mereka terapkan, sangat berbeda dari negara-negara lainnya. Di Eropa dan Amerika, pengaruh pragmatisme rasional ala Rem Koolhaas kental sekali terasa, namun di jepang hal ini tidak terasa sama sekali.<br />
Bagi para arsitek jepang, arsitektur seperti selalu diusahakan untuk menjadi bagian dari kehidupan yang lebih besar. Cahaya, angin, tanah, air, adalah elemen-elemen yang selalu diusahakan untuk hadir atau masuk kedalam ruangan. Ruang-ruang di diciptakan untuk menimbulkan perasaan-perasaan khusus bagi yang melewati atau menggunakannya, melalui tinggi-rendah ruang, ukuran dan peletakan bukaan-bukaan, lalu kecermatan penggunaan material yang mendukung suatu konsep tertentu.<br />
Efisiensi dalam penggunaan ruang, juga adalah hal yang sangat menarik dalam arsitektur Jepang. Semua dibuat seperlunya saja. Yang tidak perlu ada, tidak akan ada. Ini mungkin kesadaran yang timbul karena keterbatasan lahan yang mereka miliki. Kesemua ini kemudian didukung oleh majunya teknologi konstruksi dan sifat dasar masyarakat jepang yang disiplin dan berdedikasi tinggi kepada pekerjaan mereka, hasilnya bukan hanya arsitektur yang kaya akan konsep dan menyatu dengan alam, namun juga sebuah bangunan yang elemen-elemen pembentuknya, terangkai dengan sangat rapih, bersih, dan benar. Konsep tentang ruang yang kuat dan pengerjaan detil bangunan yang sangat teliti, cermat, dan cerdas telah membawa arsitektur Jepang ke kelas yang berbeda.<br />
Rasanya ini kombinasi paling sempurna dari Zen dan mental Samurai.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Arsitektur sangatlah rentan.<br />
Sebagai produk pemikiran dan hasil sebuah jaman, arsitektur akan selalu dipaksa untuk berubah mengikuti perkembangan jaman, dan proses penciptaannya pun akan selalu terpengaruh oleh klien dan terikat oleh tempat dimana sebuah arsitektur akan berdiri. Arsitektur yang baik bukanlah arsitektur yang berdiri sebagai monumen tunggal hasil ego sang arsitek. Arsitektur yang baik adalah arsitektur yang dengan sadar menerima keunikan-keunikan hal-hal yang mempengaruhi penciptaannya dan dengan cerdas menjadikan keunikan itu sebagai sebuah kreasi arsitektural yang memiliki nilai lebih.<br />
Metode perancangan pun kemudian akan sangat terpengaruh oleh hal-hal yang sama, ditambah latar belakang yang dimiliki oleh arsiteknya. Tadao Ando mungkin akan mendesain hal yang sama sekali berbeda jika ia tidak memiliki latar belakang sebagai petinju. Seandainya Frank Lloyd Wright tidak pernah bermain Froebel Blocks1 mungkin ia tidak akan pernah menghasilkan desain-desain yang kita kenal sekarang. Dan akan seperti apa Rem Koolhaas jika ia tidak pernah menerbitkan Delirious New York2 adalah sebuah hal yang akan selalu membuat kita penasaran.<br />
Hal yang jauh lebih penting daripada sekedar mengetahui dan mengimplementasikan berbagai macam metode perancangan yang ada dan telah dipraktekkan selama bertahun-tahun ini, adalah untuk kita menemukan sendiri metode perancangan yang paling pas untuk kita. Kita tidak boleh hanya melihat metode merancang dan hasilnya saja, tetapi kita harus melihatnya sebagai reaksi dari rangsangan-rangsangan yang diterima oleh seorang arsitek. Setelah sadar akan hal itu, sebaiknya kita kemudian mencari tahu (dengan sadar pula), rangsangan-rangsangan apa saja yang mempengaruhi kita sebagai seorang arsitek. Hal-hal apa saja yang menimbulkan ketertarikan bagi kita, lalu menginspirasi ide-ide kreatif tentang ruang atau proses penciptaan arsitektur. Setelah itu, lalu kita bereaksi. Dengan begini kita mungkin akan menemukan metode merancang kita sendiri, dan dengan natural memperkaya wacana arsitektur Indonesia.</p>
<p>Danny Wicaksono</p>
<p>-artikel ini ditulis sebagai bagian dari salah satu edisi majalah Sketsa Untar-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/06/02/selayang-tentang-metode-merancang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jongArsitek!, Koalisi warga untuk Jakarta 2030 dan Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/02/08/jongarsitek-koalisi-warga-untuk-jakarta-2030-dan-rencana-tata-ruang-wilayah-jakarta-2030/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/02/08/jongarsitek-koalisi-warga-untuk-jakarta-2030-dan-rencana-tata-ruang-wilayah-jakarta-2030/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 02:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dannywicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Dua bulan telah berlalu sejak pertama kali jongArsitek! dihubungi oleh Suryono Herlambang (Kajur Planologi Universitas Tarumanegara) untuk ikut dalam sebuah koalisi warga yang bertujuan mengawal pembuatan RTRW Jakarta yang akan digunakan hingga tahun 2030. Ketika kami pertama kali datang (beberapa hari sebelum hari natal), RTRW itu sudah selesai dibuat dan sudah dimasukkan ke DPRD, untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-563" title="kowar" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/02/kowar.jpg" alt="kowar" width="750" height="416" /></p>
<p>Dua bulan telah berlalu sejak pertama kali jongArsitek! dihubungi oleh Suryono Herlambang (Kajur Planologi Universitas Tarumanegara) untuk ikut dalam sebuah koalisi warga yang bertujuan mengawal pembuatan RTRW Jakarta yang akan digunakan hingga tahun 2030. Ketika kami pertama kali datang (beberapa hari sebelum hari natal), RTRW itu sudah selesai dibuat dan sudah dimasukkan ke DPRD, untuk segera disahkan menjadi Perda. Ketika dipaparkan, kami hanya bisa terkejut. Bagaimana mungkin, sebuah metropolis, dan ruang hidup sepenting ini, direncanakan 20 tahun pembangunannya, dengan sangat tumpul, tanpa adanya jejak riset yang berujung pada target-target terukur, dan yang paling parah: tanpa melibatkan warganya sama sekali.Untuk yang terakhir ini, setidaknya itu yang kami rasakan.</p>
<p><span id="more-554"></span></p>
<p>Semua kemudian menjadi lebih miris lagi ketika kami diberikan salinan rencana tata ruang New York, Melbourne dan Sydney, semuanya sama: rencana tata ruang wilayah masing-masing kota untuk 20 tahun kedepan. Betapa rencana tata ruang Jakarta sangat terbelakang ketika tersanding dengan rencana tata ruang ketiga kota itu.</p>
<p>Jika anda tidak percaya, silahkan lakukan hal-hal dibawah ini:</p>
<p>1. Google &#8220;Sydney 2030&#8243;, &#8220;Melbourne 2030&#8243; &#8220;New York 2030&#8243; dan &#8220;Jakarta 2030&#8243; Perhatikan bahwa di 3 kota awal, hasil pencarian yang keluar paling atas, adalah website resmi yang menjelaskan tentang recana tata ruang masing-masing kota. Sedangkan yang keluar paling atas dari hasil pencarian &#8220;Jakarta 2030&#8243; adalah sebuah artikel dengan judul tebal &#8220;Jakarta 2030? Draft plan not looking good&#8221; ( Jakarta 2030? Rancangan rencana tidak terlihat bagus) Website resminya baru ada di halaman ketiga.</p>
<p>2. Masuklah ke masing-masing website resmi kota-kota ini. Anda akan langsung menyadari betapa website yang dibuat oleh pemerintah kota kita, sangatlah tidak &#8220;seksi&#8217; dan jauh dari informatif. Bahkan ada kesan bahwa website ini dibuat sangat seadanya, dan kurang ramah terhadap pengunjung. Tidak mencerminkan sebuah semangat untuk memperbaiki metropolis yang sedang sakit akut ini.</p>
<p>3. Unduh rencana tata ruang wilayah dari keempat kota itu. Maka anda akan mengerti apa yang saya maksud.</p>
<p>Jakarta 2030: http://www.rtrwjakarta2030.com/rtrw-dki-jakarta-2030</p>
<p>Sydney 2030: http://www.cityofsydney.nsw.gov.au/2030/thevision/Downloads.asp</p>
<p>Melbourne 2030: http://www.dse.vic.gov.au/melbourne2030online/content/site_functions/pdfs.html</p>
<p>New York 2030 : http://www.nyc.gov/html/planyc2030/html/downloads/download.shtml</p>
<p>Ketertinggalan yang paling jelas bisa dilihat ketika membandingkan rencana tata ruang jakarta dengan ketiga kota tersebut, adalah betapa pembangunan Jakarta 20 tahun kedepan (berdasarkan RTRW2030) tidak memiliki target-target yang terukur. Target-target untuk menyelesaikan masalah-masalah jakarta, yang seharusnya menjadi ukuran dan harapan bagi para warganya. Target-target dengan tenggat waktu yang jelas, yang menunjukan bahwa pemerintah kota ini, benar-benar serius ingin memperbaiki kotanya. Ketidakseriusan ini bisa terlihat ketika kita membaca rancangan peraturan daerah mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta ini. Dari 163 halaman (versi terakhir yg saya punya) kemacetan hanya disebut 2 kali, tanpa diikuti oleh penjelasan mengenai langkah-langkah yang akan ditempuh untuk menguranginya. Polusi tidak memiliki solusi yang jelas. Penanggulangan masalah banjir terasa hanya sebagai retorika tanpa adanya sasaran dan target kerja yang jelas. Dan yang lebih menyedihkan lagi, tidak ada satupun kata &#8220;ruang hidup&#8221; disebut dalam rencana tata ruang wilayah jakarta 2030, namun &#8220;ekonomi&#8221; disebut berulang 77 kali.</p>
<p>Dalam 40 tahun terakhir ini, penduduk Jakarta hanya dapat menyaksikan kota mereka menjadi lebih buruk setiap harinya. Kemacetan yang tidak pernah terpecahkan solusinya, polusi udara yang terus bertambah parah, taman dan ruang hijau yang bertambah langka, yang kemudian memicu kekurangan air bersih dan banjir, hanyalah sedikit diantara setumpuk masalah tanpa solusi, yang dimiliki. Jakarta, sebuah metropolis yang menjadi tempat hidup bagi lebih dari 8 juta manusia, kini sedang dalam jalur cepat menuju kota mati. Dan jika tidak ada perbaikan dalam rencana tata kota yang akan digunakan untuk 20 tahun ke depan, maka kita harus khawatir mengenai tempat hidup anak-anak kita nantinya.</p>
<p>Koalisi Warga Untuk Jakarta 2030, adalah sebuah kelompok warga jakarta biasa. Sekelompok warga ini, sadar bahwa Jakarta harus diselamatkan. Bahwa yang bisa menyadarkan pemerintah kota Jakarta dari kesalahan-kesalahan mereka selama ini, adalah kita, Warga Jakarta. Sekumpulan warga ini kemudian berjejaring dan menyebarkan fakta-fakta mengenai rencana tata kota jakarta untuk 20 tahun kedepan kepada rekan-rekan mereka lainnya. Dan dukungan dan bantuan pun mulai berdatangan.</p>
<p>Setelah serangkaian serial diskusi, surat kepada pemerintah daerah dan audiensi dengan pemerintah, media mulai memuat berita mengenai masalah ini, dan publik pelan-pelan mulai mengetahui tentang adanya dokumen bernama RTRW2030,  yang dapat menentukan cara hidup mereka di masa depan.</p>
<p>Dalam rangka untuk melibatkan warga Jakarta yang lebih luas, Koalisi Warga Jakarta 2030 membuat survey warga. Survey ini nantinya akan digunakan untuk mendesak pemerintah untuk membuat rencana tata ruang wilayah Jakarta 20 tahun kedepan yang lebih baik. Suara satu warga, atau sekelompok warga mungkin tidak berarti, namun jika ada satu juta kita, yang ingin hidup di Jakarta yang lebih baik, maka pemerintah daerah tidak akan punya pilihan selain memperbaiki caranya mengelola kota ini. Ikuti surveynya dan jadilah bagian dari perubahan! Satu juta kita bisa membuat Jakarta beda!</p>
<p>Survey Koalisi Warga Jakarta 2030: http://bit.ly/bAqOnG</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/02/08/jongarsitek-koalisi-warga-untuk-jakarta-2030-dan-rencana-tata-ruang-wilayah-jakarta-2030/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta Architecture Triennale dalam kamera.</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2009/11/15/jakarta-architecture-triennale-dalam-kamera/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2009/11/15/jakarta-architecture-triennale-dalam-kamera/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 11:45:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dannywicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[ini adalah beberapa foto foto kegiatan Jakarta Architecture Triennale, masih ada satu pekan lagi, dan beberapa kegiatan termasuk kegiatan penutup, yaitu seri kuliah umum. Beberapa gambar akan kami update segera. foto oleh : Aldila Mardiani &#8216;qodel&#8217;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-386" title="banner-afford3" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/banner-afford3.jpg" alt="banner-afford3" width="750" height="120" /></p>
<p>ini adalah beberapa foto foto kegiatan Jakarta Architecture Triennale, masih ada satu pekan lagi, dan beberapa kegiatan termasuk kegiatan penutup, yaitu seri kuliah umum. Beberapa gambar akan kami update segera.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-372" title="_MG_9872" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/MG_9872-300x200.jpg" alt="_MG_9872" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-375" title="JAT 037" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-037-300x200.jpg" alt="JAT 037" width="300" height="200" /><span id="more-373"></span><img class="alignnone size-medium wp-image-376" title="JAT 038" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-038-300x200.jpg" alt="JAT 038" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-377" title="JAT 046" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-046-300x200.jpg" alt="JAT 046" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-378" title="JAT 047" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-047-300x200.jpg" alt="JAT 047" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-379" title="JAT 175" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-175-300x200.jpg" alt="JAT 175" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-382" title="JAT 181" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-181-300x200.jpg" alt="JAT 181" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-380" title="JAT 204" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-204-300x200.jpg" alt="JAT 204" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-381" title="JAT 205" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-205-300x200.jpg" alt="JAT 205" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-383" title="JAT 214" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-214-300x200.jpg" alt="JAT 214" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-384" title="JAT 273" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-273-300x200.jpg" alt="JAT 273" width="300" height="200" /><img class="alignnone size-medium wp-image-385" title="JAT 284" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/11/JAT-284-300x200.jpg" alt="JAT 284" width="300" height="200" /></p>
<p>foto oleh : <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1057687280">Aldila Mardiani &#8216;qodel&#8217;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2009/11/15/jakarta-architecture-triennale-dalam-kamera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JAT!!! Datang dan Ramaikan!!!</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2009/10/23/jat-datang-dan-ramaikan/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2009/10/23/jat-datang-dan-ramaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 02:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dannywicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Bulan November IAI Jakarta akan menyelenggarakan MUSYAWARAH DAERAH X bertempat di Grand Ball Room Hotel Kempinski Jakarta, sebagai agenda rutin 3 tahunan atau 1 periode kepengurusan. Bertepatan dengan itu pula IAI Jakarta membentuk kepanitian JAKARTA ARCHITECTURE TRIENNALE 2009 (JAT2009) yang akan menyelenggarakan kegiatan festival arsitektur dari tanggal 4-22 November di Mal Grand Indonesia Jakarta. Sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-325" title="banner-afford" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/10/banner-afford.jpg" alt="banner-afford" width="750" height="120" /></p>
<p>Bulan November IAI Jakarta akan menyelenggarakan MUSYAWARAH DAERAH X bertempat di Grand Ball Room Hotel Kempinski Jakarta, sebagai agenda rutin 3 tahunan atau 1 periode kepengurusan. Bertepatan dengan itu pula IAI Jakarta membentuk kepani<span style="display: inline;">tian JAKARTA ARCHITECTURE TRIENNALE 2009 (JAT2009) yang akan menyelenggarakan kegiatan festival arsitektur dari tanggal 4-22 November di Mal Grand Indonesia Jakarta.</span></p>
<p><span style="display: inline;"><span id="more-323"></span><br />
Sebagai sebuah festival arsitektur dengan tema AFFORDING ARCHITECTURE / “Menjangkau Arsitektur”, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menyentuh kalangan Arsitek baik praktisi maupun akademisi, namun menjangkau masyarakat yang lebih luas khususnya Warga Ibukota. Kegiatan ini akan menempatkan arsitektur di dalam jangkauan publik, diharapkan akan menjadi bahan perbincangan dan menyampaikan kepada masyarakat banyak tentang pilihan arsitektur yang lebih beragam. </span></p>
<p><span style="display: inline;"><br />
Beberapa kegiatan yang terangkum dalam <strong>Jakarta Architecture Triennale 2009</strong> ini mencakup:<br />
Pameran, Akan ada beragam pameran arsitektur dengan tema yang berbeda, mulai dari <strong>IAI Jakarta Award 2009, Karya 20 Tahun AMI, Ruang Tinggal Dalam Kota, karya mahasiswa Arsitektur UPH: Forms Under The Light</strong> (Bentuk di Bawah Cahaya), hingga materi Internasional Turkish Architecture NOW: 7 Architects From 7 Hills, dan Karya terkini dari beberapa Pembicara Asing.</span></p>
<p><span style="display: inline;"><br />
Sinema Arsitektur, Studio Blitz Megaplex akan memutar film-film bertema arsitektur setiap minggunya, yang memaparkan karya arsitek-arsitek pemenang penghargaan internasional seperti Norman Foster, Rem Koolhaas, Herzog de Meuron, Jean Nouvel, dan Louis I. Kahn akan menjadi tontonan yang berbeda kali ini untuk dinikmati bersama.</span></p>
<p><span style="display: inline;"><br />
Tur sepeda kota, Kegiatan bersepeda yang kini marak digalakkan menjadi sarana untuk menikmati arstektur kota Jakarta dengan perspektif yang berbeda. Beberapa landmark seperti Hotel Indonesia &#8211; Gedung Arsip Nasional &#8211; Museum Bank Mandiri &#8211; Pelabuhan Sunda Kelapa &#8211; Museum Fatahilah – dan Stasiun Kota akan menjadi tujuan untuk disambangi. ARCHIVENTURE !</span></p>
<p><span style="display: inline;"><br />
Ceramah (lecture), Bertemu dan belajar langsung dari arsitek kaliber dunia merupakan suatu kemewahan untuk dialami. Sebuah investasi sekaligus pembelajaran yang sangat efektif dalam karir seorang arsitek. Bertempat di Studio Blitz Megaplex. Beberapa nama arsitek yang berprestasi di negaranya maupun di dunia internasional akan akan memaparkan pemikiran mereka tentang arsitektur selama 3 hari berturut-turut, antara lain <strong>Michel Rojkind, Anton Garcia Abril, Duangrit Bunnag, Han Tümertekin, Ma Qingyun, Chana Sumpalung, Kevin Low, dan Roman Delugan</strong>, berdampingan dengan para arsitek terkemuka di Indonesia, seperti<strong> Andra Matin, Adi Purnomo, dan Eko Prawoto.</strong></span></p>
<p>Ini merupaan suatu kesempatan langka yang terlalu berharga untuk dilewatkan, Sebuah langkah awal bagi kemajuan arsitektur Indonesia yang sangat menjanjikan. Sebuah acara bagi warga Jakarta. (Enjoy Jakarta) Mari Ramaikan !</p>
<p><span style="display: inline;"><br />
<a href="http://www.jat2009.com/" target="_blank"> www.jat2009.com</a><br />
Salam,</span></p>
<p>Sukendro IAI<br />
Ketua Panitia JAKARTA ARCHITECTURE TRIENNALE</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2009/10/23/jat-datang-dan-ramaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>-Arsitektur Indonesia Meretas Batas- (di terbitkan di edisi pertama Archicentrum)</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2009/10/15/test-feature/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2009/10/15/test-feature/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 23:54:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dannywicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>
		<category><![CDATA[We Proudly Present..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/jongarsitek/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Arsitek manapun di seluruh dunia pasti akan merasa sangat terhormat dan tersanjung jika mendapatkan kabar bahwa mereka dipilih langsung oleh Jacques Herzog untuk mendesain sebuah rumah bersama dengan 99 arsitek lainnya dari seluruh dunia. Sebagai arsitek, Jacques Herzog adalah salah satu dari 2 principal biro arsitektur Herzog&#38;DeMeuron. Sebuah biro arsitektur yang, jika bukan yang terbaik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 5px;"><img class="alignnone size-full wp-image-101" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/10/meretas.jpg" alt="" width="750" height="120" /></p>
<p style="margin: 5px;">Arsitek manapun di seluruh dunia pasti akan merasa sangat terhormat dan tersanjung jika mendapatkan kabar bahwa mereka dipilih langsung oleh Jacques Herzog untuk mendesain sebuah rumah bersama dengan 99 arsitek lainnya dari seluruh dunia. Sebagai arsitek, Jacques Herzog adalah salah satu dari 2 principal biro arsitektur Herzog&amp;DeMeuron. Sebuah biro arsitektur yang, jika bukan yang terbaik, berada diantara 2 atau 3 biro arsitektur terbaik di dunia. Dunia mengenal mereka lewat beberapa karya mereka seperti Museum Of Modern Art San Francisco, Tate Museum London, dan yang sekarang masih sangat hangat adalah Beijing International Stadium, The Bird’s Nest. Jika diibaratkan dunia musik, bayangkan Bono dari U2, atau Paul McCartney memilih anda untuk menyanyikan sebuah lagu bersama 99 musisi muda lainnya dari seluruh dunia. Kurang lebih begitulah rasanya.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;"><span id="more-44"></span></p>
<p style="margin: 5px;">Kesempatan dan kehormatan inilah yang didapatkan oleh 2 orang arsitek indonesia, Adi Purnomo dan Zenin Adrian. mereka dipilih langsung oleh Jacques Herzog untuk turut ambil bagian dalam proyek yang belum pernah terpresedenkan dalam sejarah manusia modern, Ordos100. Proyek ini adalah sebuah proyek ambisius di kota Ordos, Inner Mongolia, Cina. Investornya, Jiang Yuan Cultural &amp; Creative Industrial Development Ltd. and Jiang Yuan Water Engineering Ltd, mengumpulkan 100 arsitek dari 29 negara untuk mendesain 100 rumah tinggal<span> </span>sebagai bagian dari sebuah distrik seni dan budaya, di sebuah kota baru yang terletak 30 menit di luar kota Ordos. Seniman/Arsitek Cina Ai-Weiwei (FAKE Design) menjadi kurator sekaligus mendesain masterplan untuk kompleks perumahan ini.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Sedangkan untuk nama yang terpilih dari indonesia, rasanya 2 nama itu bisa mewakili 2 kutub dari lingkaran terbaik arsitektur indonesia. Adi Purnomo adalah arsitek yang telah banyak mendapatkan penghargaan, dan karya-karyanya sudah terpublikasi di dalam dan diluar negeri. Beberapa orang menganggapnya sebagai salah satu arsitek terbaik yang dimiliki bangsa ini, dan rasanya hal ini tidak berlebihan jika melihat beberapa karyanya seperti Rumah Ciganjur dan Rumah Tangkuban Perahu. Sedangkan Zenin Adrian adalah arsitek muda dengan kualitas karya yang sangat terjaga. Tidak perlu diragukan lagi, dalam beberapa tahun kedepan dia akan ada diantara arsitek-arsitek terbaik bangsa ini.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Terpilihnya kedua arsitek ini adalah sebuah angin segar bagi dunia arsitektur Indonesia. Mengapa angin segar? karena begini; di bangsa ini, dalam beberapa dekade belakangan, arsitektur adalah sesuatu yang tidak mendapatkan tempat dan penghargaan yang semestinya. Di banyak bangsa lain di dunia ini, arsitektur adalah sebuah alat untuk mencapai tujuan-tujuan paling mulia dalam berbangsa dan bernegara. Kemegahan yang di dapat dari kehadiran sebuah karya arsitektural, di jadikan sebagai sebuah cara untuk menaikkan harga diri bangsa. Keindahan yang dibawa oleh sebuah karya arsitektural dijadikan sebagai sebuah cara untuk meng-inspirasi siapa saja yang melihat dan datang kepadanya. Kecermelangan pemikiran terbangun manusia atas ruang yang kemudian di bangun, adalah sesuatu yang sangat di hargai dan mendapat kan tempat yang tinggi.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Di bangsa ini semua yang terjadi tentang budaya bangun adalah kebalikannya. Setelah bangunan-bangunan yang dibangun pada masa Bung Karno, hampir tidak ada lagi bangunan yang bisa memberikan nilai arsitektural yang cukup untuk memberi kebanggaan dan inspirasi bagi warga bangsa ini. Pembangunan mall dan apartemen-apartemen yang melebihi kebutuhan pasar dan kemampuan beli masyarakat, justru lebih mendominasi hanya karena mereka dianggap lebih menguntungkan secara finansial, tapi dari sisi kebudayaan, bangunan-bangunan itu tidak memberikan sumbangan apa-apa kecuali memperkuat budaya konsumtif masyarakat Indonesia. Gelora Bung Karno, Mesjid Istiqlal, dan gedung DPR/MPR adalah sebagian kecil diantara bangunan-bangunan dengan kualitas arsitektur terbaik di bangsa ini, yang sampai sekarang masih berdiri tanpa sahabat.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Karena itulah, ditengah stagnasi budaya bangun kita, dan minimnya publikasi internasional tentang arsitektur Indonesia yang berkualitas, berita tentang diundangnya Adi Purnomo dan Zenin Adrian adalah sesuatu yang sangat menyegarkan dan seharusnya dapat menginspirasi siapa saja masyarakat indonesia yang mendengarnya. Semua hal yang kita nikmati di kehidupan ini adalah buah pemikiran manusia, pemikiran adalah hal utama yang dihargai paling tinggi di hidup ini. Dan undangan kepada 2 orang arsitek indonesia untuk berpartisipasi dalam salah satu proyek paling menarik dalam sejarah modern umat manusia, adalah bukti bahwa dibalik carut-marut dan semua kekerdilan pemikiran yang terjadi di bangsa ini, masih ada pemikiran-pemikiran anak bangsa yang mendapatkan tempat diatas panggung pemikiran terbaik di dunia.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Mayoritas penduduk di bangsa ini memiliki sebuah kebiasaan buruk. Kebiasaan untuk menganggap mereka yang datangnya dari luar selalu lebih baik dari diri mereka sendiri. Keyakinan bahwa mereka superior dan kita inferior, bahwa mereka diatas dan kita dibawah. 2 arsitek indonesia itu telah membuktikan, bahwa dengan kerja keras, ketekunan dan kesungguhan, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai sebuah kebesaran hidup yang sama besarnya, tidak perduli mereka datang dari barat, timur, utara atau selatan.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Yakinlah, gelombang besar arsitektur indonesia akan segera datang. Jika anda adalah seorang arsitek, pastikan anda ikut berselancar di atasnya, namun jika anda bukan arsitek, nikmatilah debur kebesarannya.</p>
<p style="margin: 5px;">danny wicaksono</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2009/10/15/test-feature/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sou Fujimoto at JongArsitek!</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2009/10/13/news-2/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2009/10/13/news-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:34:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dannywicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>
		<category><![CDATA[We are Architects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/jongarsitek/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Arsitektur jepang selalu menarik untuk di perhatikan. Beberapa generasi telah mendefinisi perjalanannya, mulai dari era Kyonori Kikutake, Fumihiko Maki, Tadao Ando, Toyo Ito hingga SANAA, arsitektur Jepang seakan tidak pernah kekurangan pendekar-pendekar pendefinisi budaya bangun mereka. Pada edisi kali ini, JongArsitek! menampilkan Sou Fujimoto. Seorang arsitek muda jepang, yang bersama Junya Ishigami, Akihisa Hirata, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 5px;">Arsitektur jepang selalu menarik untuk di perhatikan. Beberapa generasi telah mendefinisi perjalanannya, mulai dari era Kyonori Kikutake, Fumihiko Maki, Tadao Ando, Toyo Ito hingga SANAA, arsitektur Jepang seakan tidak pernah kekurangan pendekar-pendekar pendefinisi budaya bangun mereka.<br />
Pada edisi kali ini, JongArsitek! menampilkan Sou Fujimoto. Seorang arsitek muda jepang, yang bersama Junya Ishigami, Akihisa Hirata, dan beberapa arsitek muda jepang lainnya, adalah generasi baru pendekar arsitektur Jepang.</p>
<p style="margin: 5px;"><span id="more-21"></span><br />
“The Final Wooden House” yang kali ini ditampilkan di JongArsitek! telah memenangkan penghargaan di World Architecture Festival di Barcelona pada tahun 2008, dan rasanya merupakan salah satu rumah paling menarik dan paling orisinil yang pernah di desain.<br />
Itu dan beberapa artikel lain: Laporan kuliah umum Rem Koolhass di Polimi, artikel tentang pendidikan arsitektur, dan desain rumah sakit di UGM, adalah isi dari JongArsitek! edisi 11.</p>
<p style="margin: 5px;">Selamat Membaca…</p>
<p style="margin: 5px;">-JongArsitek-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2009/10/13/news-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pecha Kucha Bandung (diterbitkan di Majalah Archicentrum, edisi bulan maret)</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2009/10/13/news-1/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2009/10/13/news-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dannywicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp/jongarsitek/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Adakalanya datang ke acara presentasi desain itu membosankan. Suara presenter yang kecil, lampu yang redup dan pembicaraan yang berkepanjangan adalah kombinasi mematikan yang biasanya akan diikuti oleh dengkuran peserta, atau suara percakapan dari orang-orang yang berdiri di barisan paling belakang. Sang presenter pun dengan tidak mau kalah, akan terus berbicara untuk membela integritasnya. Sedangkan pirsawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 5px;">Adakalanya datang ke acara presentasi desain itu membosankan. Suara presenter yang kecil, lampu yang redup dan pembicaraan yang berkepanjangan adalah kombinasi mematikan yang biasanya akan diikuti oleh dengkuran peserta, atau suara percakapan dari orang-orang yang berdiri di barisan paling belakang. Sang presenter pun dengan tidak mau kalah, akan terus berbicara untuk membela integritasnya. Sedangkan pirsawan sekalian sudah terlalu jenuh. Pemikiran jadi tidak tersampaikan, tanya jawab menjadi seadanya, dan akhirnya diskusi membangun pun patah sebelum sempat terbangun tinggi. Jadi seringkali acara seperti itu kemudian hanya menjadi ajang kumpul2 bagi sebagian orang. Setidaknya itu sampai akhirnya Pecha Kucha di ciptakan.</p>
<p style="margin: 5px;"><span id="more-19"></span></p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Jangan pernah berpikir bahwa anda telah melakukan hal yang paling kreatif jika anda belum pernah menghadiri atau ambil bagian di Malam Pecha Kucha. Disitulah istilah “diatas langit masih ada langit” benar-benar bisa dirasakan. Pecha Kucha adalah sebuah acara presentasi insan kreatif yang sangat unik. Siapa saja yang mengaku kreatif, dapat berpresentasi dengan menggunakan 20 slide (dan hanya 20 slide) dimana tiap slide harus berdurasi 20 detik, sebelum di ganti gambar berikutnya. Dengan begitu setiap presenter hanya diberikan waktu 6 menit dan 40 detik untuk menjadi terkenal. Jika di kebanyakan presentasi para pembicara kemudian berbicara berputar-putar dan berkepanjangan, maka di acara ini, semua orang dipaksa untuk berbicara dengan cepat dan efektif. 20 detik perslide benar-benar merubah cara para pesertanya berpresentasi.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Pecha Kucha digagas oleh Astrid Klein dan Mark Dytham, mereka ini adalah sepasang arsitek yang berpraktek di Jepang dengan reputasi yang sudah mendunia. Di gagas dan di adakan pertama kali di Jepang pada tahun 2003, Pecha Kucha adalah acara yang bereaksi terhadap “penyakit” presentasi para arsitek dan desainer. Acara ini bertujuan untuk mempertemukan desainer2 muda dalam sebuah acara yang santai tapi terkendali. Istilah Pecha Kucha yang diambil dari bahasa jepang, adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan suara yang di hasilkan dalam percakapan. Rupanya setelah berjalan beberapa saat, acara ini mengundang banyak perhatian dan review yang baik. Nama besar dalam dunia arsitektur dan desain yang pernah menjadi peserta acara ini seperti, Rem Koolhas, Ben van Berkel, dan Ron Arad, ternyata membangkitkan  gengsi, pamor dan kualitas acara ini. Kini setelah 5 tahun, Pecha Kucha adalah sebuah franchise dan telah diadakan di 168 kota di dunia. Dan Indonesia cukup beruntung untuk memiliki satu malam kreatif ini.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Di Indonesia, Bandung adalah satu-satunya kota yang mengadakan acara Malam Pecha Kucha. Di gagas oleh Deddy Wahjudi dari LABO, acara ini sudah diadakan 3 kali, itu berarti 3 malam penuh kreatifitas dan inspirasi. Bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, malam Pecha Kucha Bandung ke-3 ini menghadirkan 16 insan kreatif yang mempresentasikan apa yang telah mereka kerjakan dan hasilkan selama ini.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Presentasi malam itu dibuka oleh monolog indonesia menggugat yang dibawakan oleh Wawan Sofyan. Lantang, keras dan membahana, Wawan Sofyan membacakan pidato pembelaan Bung Karno ketika di adili di gedung tempat acara Pecha Kucha malam itu berlangsung. Pembukaan yang tepat untuk malam yang rasanya sangat menggugah rasa kebangsaan para pengunjung yang datang malam itu.  Selesai monolog, berturut Adi Dharma, JongArsitek, dan Manuel Heischel menjadi 3 presenter pertama malam itu.</p>
<p style="margin: 5px;">Adi Dharma adalah seorang artis grafiti dari komunitas grafis bandung FAB. Dia bercerita tentang grafiti dan apa saja yang telah dia lakukan selama ini. Ia menunjukkan beberapa karya grafiti nya, baik yang di tembok maupun yang disepatu. Beberapa desain grafiti baik yang di tembok dan di sepatu.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">JongArsitek! adalah sebuah publikasi arsitektur cuma-cuma, yang disebar melalui internet. Kegelisahan atas kualitas publikasi arsitektur di indonesia dan semangat untuk membagi pengetahuan arsitektur kepada khalayak yang lebih luas dengan cara yang terjangkau, melatar belakangi berdirinya publikasi gratisan ini.</p>
<p style="margin: 5px;">Manuel Heischel adalah seorang seniman grafis asal Jerman yang telah tinggal di bandung selama 3 tahun. Malam itu dia mempresentasikan desain-desainnya, beberapa ada yang berkolaborasi dengan beberapa seniman bandung.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Kemudian setelah ketiga orang diatas, berturut-turut Rizky Adiwilaga, Erick Soelaiman, Vitorini dan Aat Soelaiman maju dan mempresentasikan pemikiran mereka, sebelum break setengah waktu.</p>
<p style="margin: 5px;">Rizky Adiwilaga adalah seorang pengacara. Walau profesinya “nyeleneh” (dalam konteks acara loh ya…) tapi presentasinya sangat vital. Rizky mempresentasikan tentang undang-undang HAKI. Walaupun berprofesi sebagai pengacara, tapi presentasinya sangat kreatif dan hidup. Kocak dan bersemangat, ga ada yang ngalahin slid</p>
<p style="margin: 5px;">Cicadas Kiaracondong. Cintaku kandas, bete dong…”</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Erick Sulaiman adalah seorang komikus, dengan karya-karya yang menyindir situasi kehidupan dan pemerintahan baik di Indonesia maupun di dunia sekarang. Kepeduliannya terhadap situasi sekitar dituangkannya lewat komik-komik yang, dengan sensitivitas yang sangat tinggi. Cara yang sangat ringan untuk menggugah kesadaran hidup.</p>
<p style="margin: 5px;">Vitorini mungkin tidak akan suka jika dibilang unik, tapi sikapnya untuk berdiri membela hak-hak kaum wanita demi dunia yang lebih ramah bagi wanita, patut dihargai tinggi. Ada yang bilang arsitektur adalah profesi yang maskulin, tapi dia membuat sebuah biro arsitektur yang hanya menerima arsitek wanita. Hanya ada satu pria di kantornya, sang office boy.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Ada 13.000 lebih pulau di indonesia. Tapi saya yakin 99% penduduk Indonesia tidak ada yang mengetahui dimana letak pasti pulau2 itu, apalagi letak pulau2 terluar Indonesia, yang jika hilang atau terebut maka hilang pulalah sebagian luas wilayah Indonesia. Aat Soelaiman dari Garis Depan Nusantara, bersama rekan-rekannya, melakukan ekspedisi ke pulau-pulau terluar di wilayah barat Indonesia. Sebagian besar yang hadir benar-benar di buat terbuai dan terpesona oleh keindahan alam yang kita miliki, yang tidak banyak diketahui oleh sebagian besar penduduk bangsa ini.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Setelah istirahat singkat, babak kedua presentasi malam itu kembali diisi oleh 7 presentasi. <em>And it was started with a bang!, </em>Slamet Rahardjo maju pertama.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Saya arsitek, bukan orang film, jadi jarang bagi saya untuk melihat cerita dari seorang pelaku film, tapi malam itu saya merasa beruntung karena malam itu adalah kali pertama saya melihat seorang aktor, Slamet Rahardjo, berbagi hidupnya sebagai aktor papan atas indonesia. Presentasi 6,5 menitnya memberikan sebuah semangat kematangan kepada rekan-rekan muda yang datang. Menyegarkan… kutipan malam itu yang terus terngiang : “Klo cinta Indonesia, jangan bikin film judulnya mas suka, masukin aja!” dan semua orang bertepuk tangan meriah.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Phaerly Maviec Musadi maju sebagai orang kedua setelah Slamet Rahardjo, untuk mempresentasikan The Neverland, sebuah <em>supervised playground project </em>atau sebuah proyek bermain yang di awasi. Terdengar sangat janggal? itu jika anda tidak menyaksikan presentasinya. Tapi jika ada ada disana malam itu, maka anda akan sadar, bahwa ini adalah salah satu presentasi yang paling menginspirasi. Program ini dibuat untuk anak-anak jalanan agar mereka dapat terus bermain dan menikmati masa kecil mereka. Mereka memanfaatkan skateboarding untuk melakukan perubahan pada mental anak. Slogan “Jangan buang sampah sembarangan, Jaga antrian, dan jangan ngomong anjing” termasuk salah satu yang paling menohok!</p>
<p style="margin: 5px;">Aldo Khalid dan Dwinita Larasati maju berturut-turut. Aldo bercerita tentang bagaimana dia kecanduan mainan lalu membuat sebuah museum mainan, dan kemudian dia mempresentasikan bagaimana cara mengubah kecanduannya itu menjadi sesuatu yang menguntungkan pecandu-pecandu mainan lainnya. Lewat museum mainan yang didirikannya Aldo menggunakan koleksinya untuk kebaikan penggila mainan lainnya. Sedangkan Tita mempresentasikan diary nya yang di tuangkan dalam bentuk komik. Keseharian yang di gambar ini telah dimulai sejak dirinya masih muda, kini graphic diary ini telah beredar di internet lewat situs multiply nya dan telah di terbitkan kedalam beberapa seri.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Pembaca mungkin pernah mendengar sebuah restoran baru di Grand Indonesia, namanya Social House. Secara harga, restoran itu aga berat buat kantong saya, tapi secara desain, saya harus katakan itu adalah salah satu desain interior restoran terbaik di Jakarta. Arsiteknya, Willis Kusuma, malam itu mempresentasikan desainnya ini. Kemampuannya untuk mengolah layout ruang dan ketelitiannya dalam mengolah detil-detil kecil di paparkannya dalam gambar2 detil yang terlihat kompleks, namun sangat informatif.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Dendy unkl/347 maju sebelum malam itu dipamungkasi oleh duet URBANE Reko Tomo dan Angga Latief. Dendy bercerita tentang awal dia mendirikan (mungkin) salah satu clothing line paling ternama di kota bandung, unkl/347. Kegigihannya untuk membuat sebuah clothing line yang dimulai dari dalam kamar kos, kini telah menjadi inspirasi bagi banyak distro di kota bandung. Malam itu, pionir ini berpresentasi dengan sangat santai, dengan gayanya yang khas.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Duet pemenang Urbane Employee of the year tahun 2007 dan 2008, Reko dan Angga kemudian mempresentasikan beberapa project URBANE dan bagaimana kehidupan kerja di salah satu biro yang meroket paling cepat dalam 5 tahun terakhir ini.</p>
<p style="margin: 5px;">
<p style="margin: 5px;">Pecha Kucha mengkomunikasikan karya nyata insan kreatif yang ada di Indonesia, paling tidak mereka yang bermukim di Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Malam itu saya tersadar akan 2 hal, yang pertama adalah, bahwa saya masih belum melakukan apa-apa, masih banyak kemungkinan yang bisa dan harus saya lakukan. Yang kedua adalah, bahwa ternyata ada banyak potensi kreatif di negara ini (dan saya yakin masih banyak lagi diluar sana), yang jika di manfaatkan dan di wadahi dengan layak, akan dapat menaikkan harkat derajat dan martabat bangsa ini. Di acara ini saya melihat kualitas nyata pemikiran-pemikiran kreatif manusia indonesia, dan yang membanggakan, sangat terasa sekali bahwa latar belakang semua yang mereka lakukan adalah hasrat yang dalam atas bidang yang mereka geluti, bukan motif ekonomi. Ini adalah inspirasi terbesar yang harusnya di bagi kepada masyarakat lebih luas. Sempatkanlah untuk datang di acara 2 bulan sekali ini. Temukan mereka di Facebook atau di</p>
<p style="margin: 5px;"><a style="color: #465f7b; text-decoration: none; background-color: transparent;" href="http://pechakuchabdg.blogspot.com/">http://pechakuchabdg.blogspot.com/</a></p>
<p style="margin: 5px;">Danny Wicaksono</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2009/10/13/news-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

