<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jongArsitek! &#187; Architect Does!</title>
	<atom:link href="http://jongarsitek.com/category/feature/building/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jongarsitek.com</link>
	<description>desain menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Aug 2010 01:57:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Desert Pavilion &#8211; Expo 2015 Milan</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/08/25/desert-pavilion-expo-2015-milan/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/08/25/desert-pavilion-expo-2015-milan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 01:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1142</guid>
		<description><![CDATA[Desert Pavilion &#8211; Expo 2015 Milan Rafael Arsono &#8211; Uros Stojadinovic &#8211; Guido Tesio Politecnico di Milano &#8211; Architecture and Urban Landscape 2010 Professors: Remo Dorigati, Giancarlo Floridi Abstraksi Arsitektur yang berpuing. Gurun tidak berskala. Ukuran menjadi tidak relevan. Di Gurun tidak ada referensi arsitektural. Dalam ketidakpastian yang menyeluruh ini, arsitektur membenarkan dirinya hanya dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;"><strong>Desert Pavilion &#8211; Expo 2015 Milan</strong></span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Rafael Arsono &#8211; Uros Stojadinovic &#8211; Guido Tesio</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Politecnico di Milano &#8211; Architecture and Urban Landscape 2010</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Professors: Remo Dorigati, Giancarlo Floridi</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;"><strong>Abstraksi</strong></span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Arsitektur yang berpuing.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Gurun tidak berskala.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Ukuran menjadi tidak relevan.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Di Gurun tidak ada referensi arsitektural.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Dalam ketidakpastian yang menyeluruh ini,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">arsitektur membenarkan dirinya hanya dalam aktivitas ritual,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">sebagai perluasan dari lansekap.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Di Gurun, di tengah kesendirian,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">arsitektur langsung berdiri sebagai tengara,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">melebihi keabsahan fungsi itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Di Gurun, arsitektur mau tidak mau muncul monumental.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Di tengah Gurun, arsitektur berfungsi sebagai naungan,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">sebagai pelindung, dan sebagai ruang kosong,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">yang lantas mengingatkan pada &#8216;kehampaan&#8217; Gurun.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Sebagai naungan, arsitektur muncul karena kebutuhan keseharian.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Arsitektur lantas menjadi ritual.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Ritual tersebut merubah kehampaan menjadi ruang yang berarti.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Dan akhir dari hidup arsitektur harus kembali ke kekosongan yang murni.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Mitos yang bersiklus.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Di tengah Gurun, arsitektur tidak memiliki ambisi untuk &#8216;berubah&#8217;.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Karena Gurun adalah gurun, tidak pernah berubah.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Gurun hanya bisa &#8216;berkembang&#8217;.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Gurun sangat anti-modern.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Bagi mitos modern dari &#8220;paviliun&#8221;,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Ide &#8216;bongkar-pasang&#8217; adalah ideal.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Bagi kami, ide &#8216;berpuing&#8217; adalah yang paling sesuai.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Keduanya merupakan ide dari kesementaraan.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Jika yang pertama cenderung &#8216;diluar konteks&#8217;,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">memaksakan ide memindahkan dari satu tempat ke tempat lain,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">yang kedua sangat mengakar dan spesifik pada lansekap.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Puing adalah lansekap itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Puing sangat kontekstual dan lokal.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Arsitektur yang mampu bertahan melewati reruntuhan bentuknya.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Paviliun ini adalah arsitektur yang berpuing.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Merencanakan menjadi puing akan hidup dari ke-tidak digunakan-nya,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">melewati kesementaraan fungsinya.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Sadar akan kesementaraannya, dan kegentingan hidupnya,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">arsitektur ini didominasi oleh perasaan &#8216;mati&#8217; yang mendalam.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Bentuk lebih tidak penting ketimbang puing yang tersisa.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Arsitektur yang berpuing,</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">akan menihilkan dirinya sendiri.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Dia akan mati dengan sendirinya</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">secara pasti dalam lingkup alamnya:</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Gurun.<span id="more-1142"></span></span><br />
<span style="font-family: Helvetica; font-size: small;"><strong>Latar Belakang</strong></span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Desert Pavilion, atau Paviliun Gurun, adalah nama dari proyek tugas akhir kami di kelas untuk program master program internasional di Politecnico di Milano. Tema dari kelas studio akhir tersebut adalah Expo 2015 yang akan datang, &#8216;Feeding The Planet, Energy for Life&#8217;. Mendobrak dogma Expo selama ini yang dirancang sebagai ajang pamer kekayaan negara dengan beradu rancangan arsitektur, Expo kali ini mengangkat isu lansekap, non-arsitektural, yang ada nanti hanya ladang tanaman dari berbagai negara yang terjejer rapi sepanjang 1,5km axis. Fasilitas ruang publik seperti ruang seminar, ruang tamu, ruang wawancara sampai toilet tersebar sebagai gedung netral. Masterplan ini anti-arsitektur, namun sangat berkarakter, seperti Jacques Herzog (salah satu komite perancang masterplan Expo 2015) meyebut &#8220;monumentalitas yang lebih puitis&#8221;.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">cek link ini</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=2QxxIpYff-g&amp;feature=player_embedded" target="_blank">http://www.youtube.com/watch?v=2QxxIpYff-g&amp;feature=player_embedded</a></span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Masterplan Expo 2015 menurut saya sangat berkarakter karena dua hal, yang pertama karena Italia sebagai sebuah bangsa sangat menyadari kekuatan dirinya, agrikultur. Jadi Expo ini akan menjadi sangat lokal (sekaligus global). Kedua, kita bisa lihat bagaimana ide taman-strip&#8211;yang mirip seperti proposal Rem Koolhaas untuk Parc de la Villette&#8211;bisa jadi lebih menarik dan eksperimental dari sekedar sebuah bangunan. Walaupun tanpa gegap-gempita arsitektur dari tiap partisipan, Expo 2015 nanti tetap ambisius dengan rencana pembangunan 5 rumah kaca berisi iklim dari tiap kontinen. Betul, termasuk tropis dan gurun, yang para komite sendiri belum bisa pastikan akan menghabiskan biaya berapa besar.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">cek link ini</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;"><a href="http://www.abitare.it/highlights/milano-expo-2015/" target="_blank">http://www.abitare.it/highlights/milano-expo-2015/</a></span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;"><strong>Konsep</strong></span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Kembali ke tugas akhir kami, masing-masing kelompok diharuskan memilih iklim, negara, atau daerah, dan ahrus merepresentasikan daerah terpilih tersebut ke dalam plot 20&#215;150 meter. Kelompok kami memilih Gurun Nubi di Afrika tengah, tepatnya di Sudan, karena disanalah experimentasi perkembangan agrikultur perlu dilakukan, di tempat yang, makanan, sangat sulit didapat.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Bagaimana merepresentasikan iklim Gurun pada sebuah paviliun yang menihilkan arsitektur? Sikap yang kami ambil adalah membagi cara pandang kami ke dalam dua metode secara paralel, yaitu riset agrikultur dan desain arsitektur, untuk membedakan secara jelas arsitektur dan agrikultur. </span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Riset agrikultur dilakukan secara bertahap memilah lokasi Gurun di dunia, menganalisis jenis tanaman, sampai tipologi agrikultur. Hasil riset mengerucut ke daerah persawahan di dekat sungai Nil, beberapa kilometer di luar Khartoum. Dari foto satelit  &#8216;google maps&#8217; kami memilih area yang kontras antara agrikultur dan pemukiman, agrikultur dan gurun, sangat kontras.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Sementara pendekatan arsitektur kami, berangkat dari abstraksi di atas, mencoba melawan &#8216;kesementaraan&#8217; dari paviliun ini dengan ide &#8216;menjadi puing&#8217;, yang untuk itu, secara konstruktif membuat kami memilih &#8216;rammed earth&#8217; (tanah yang dipadatkan) sebagai metode membangun. Paviliun ini tidaklah menunjukkan agrikultur secara langsung, melainkan proses imigrasi&#8211;bisa dibilang perjalanan&#8211;penduduk meninggalkan ladang tanaman untuk pergi bekerja ke kota. Sebuah kejadian umum yang dapat menyebabkan perluasan permukaan gurun (desertification). Perjalanan ini dijewantahkan ke dalam ruang-ruang yang didesain memiliki aura spesifik. Apabila perjalanan ini merupakan ritual, maka denah terbuka tidak menjadi pilihan, melainkan ruang yang dibuat untuk suasana dan fungsi tertentu. Masuk, jalan dari kamar ke kamar, keluar ke arah yang berbeda. Ruang ini, secara keseluruhan, sangat linear. Dengan kata lain, kaku, tegas, kuno namun pada tempatnya.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Keempat ruang terbagi secara fungsional dan abstrak, ruang pameran dan ruang teater (ke-2 dan ke-4), ruang dengan taman berkolam serta ruang meditasi (1 dan 3) yang harus melalui &#8216;ramp&#8217; yang landai menembus kolong gelap setinggi 2,40 meter. Ruang-ruang tersebut disusun secara geometris dasar (hampir) kubus dengan dimensi total 8x8x8 meter (3 meter ke bawah tanah) dengan ketebalan dinding 60 cm, berdampingan satu sama lain.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Seluruh permukaan tapak ditutup dengan kerikil (sticked-gravel) dengan beberapa lahan terbuka sebagai lahan tanaman dan oase di ujung belakang tapak. Lahan ini adalah percobaan tumbuhan dari permukaan pasir hydrophobic, sebagai corak pameran teknologi di paviliun ini, pasir yang memiliki daya tahan kelembaban yang tinggi (saat ini dikembangkan oleh UAE), untuk membuka kemungkinan bercocok-tanam kembali (agrification), jagung, gandum atau bahkan padi di gurun.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Jika dari muka tapak, paviliun Gurun ini terasa kering dan sulit, dalam perjalanannya bayangan, gradasi cahaya, air dan pada ruang teater (ruang ke 4), pengunjung dapat melihat tanaman dan pepohonan yang dibingkai oleh dinding paviliiun, sebagai simbol optimisme dan kehidupan.</span></p>
<p><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;">Pada akhirnya, bagaimanapun juga Expo adalah pameran, dan penjelasan fitur pameran secara didaktik tidak dapat kami hindari, seperti tertuang di akhir tapak paviliun ini. Namun pencitraan ide migrasi dan strategi menanam kembali (agrification) sekaligus identitas Gurun terjewantahkan secara jelas.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Helvetica; font-size: small;"><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/1.gif" ><img class="aligncenter size-full wp-image-1144" title="1" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/1.gif" alt="" width="720" height="510" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/2.jpg" ><img class="aligncenter size-full wp-image-1145" title="2" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/2.jpg" alt="" width="720" height="510" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/3.jpg" ><img class="aligncenter size-full wp-image-1146" title="3" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/3.jpg" alt="" width="720" height="510" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/4.jpg" ><img class="aligncenter size-full wp-image-1147" title="4" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/08/4.jpg" alt="" width="720" height="510" /></a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/08/25/desert-pavilion-expo-2015-milan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komik Gerundelan Calon Arsitek oleh Errik Irwan Wibowo</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/07/12/komik-gerundelan-calon-arsitek-oleh-errik-irwan-wibowo/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/07/12/komik-gerundelan-calon-arsitek-oleh-errik-irwan-wibowo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 02:32:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1046</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sahabat kami Errik Irwan Wibowo, dari semarang, yang sekarang tinggal dan bekerja di Bali, membagi komik komik jenaka proses panjang menjadi mahasiswa arsitektur. Silahkan klik gambar untuk melihat priview lebih jelas, atau klik kanan dan &#8220;open link&#8221; untuk melihat dalam ukuran utuh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu sahabat kami Errik Irwan Wibowo, dari semarang, yang sekarang tinggal dan bekerja di Bali, membagi komik komik jenaka proses panjang menjadi mahasiswa arsitektur. Silahkan klik gambar untuk melihat priview lebih jelas, atau klik kanan dan &#8220;open link&#8221; untuk melihat dalam ukuran utuh.</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-7-1046">


	<!-- Piclense link -->
	<div class="piclenselink">
		<a class="piclenselink" href="javascript:PicLensLite.start({feedUrl:'http://jongarsitek.com/wp-content/plugins/nextgen-gallery/xml/media-rss.php?gid=7&amp;mode=gallery'});">
			[View with PicLens]		</a>
	</div>
	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-155" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/01. Peleton Gajah (1 dari 3).JPG" title="01. Peleton Gajah (1 dari 3)" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="01. Peleton Gajah (1 dari 3)" alt="01. Peleton Gajah (1 dari 3)" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_01. Peleton Gajah (1 dari 3).JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-156" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/02. Peleton Gajah Padam (2 dari 3).JPG" title="02. Peleton Gajah Padam (2 dari 3)" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="02. Peleton Gajah Padam (2 dari 3)" alt="02. Peleton Gajah Padam (2 dari 3)" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_02. Peleton Gajah Padam (2 dari 3).JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-157" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Kisah jelang ujian.JPG" title="Kisah jelang ujian" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Kisah jelang ujian" alt="Kisah jelang ujian" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Kisah jelang ujian.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-158" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Kisah....JPG" title="Kisah..." class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Kisah..." alt="Kisah..." src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Kisah....JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-159" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Konsultasi ala arsitek.JPG" title="Konsultasi ala arsitek" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Konsultasi ala arsitek" alt="Konsultasi ala arsitek" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Konsultasi ala arsitek.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-160" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Macet & Kemajuan.JPG" title="Macet &amp; Kemajuan" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Macet &amp; Kemajuan" alt="Macet &amp; Kemajuan" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Macet & Kemajuan.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-161" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Ngisi Studio 7.JPG" title="Ngisi Studio 7" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Ngisi Studio 7" alt="Ngisi Studio 7" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Ngisi Studio 7.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-162" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/PTMB.JPG" title="PTMB" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="PTMB" alt="PTMB" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_PTMB.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-163" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Perang ala Arsitektur 1.JPG" title="Perang ala Arsitektur 1" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Perang ala Arsitektur 1" alt="Perang ala Arsitektur 1" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Perang ala Arsitektur 1.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-164" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Perang ala Arsitektur 2.JPG" title="Perang ala Arsitektur 2" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Perang ala Arsitektur 2" alt="Perang ala Arsitektur 2" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Perang ala Arsitektur 2.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-165" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Review ke-2.JPG" title="Review ke-2" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Review ke-2" alt="Review ke-2" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Review ke-2.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-166" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/STUDIO PROYEK AKHIR ARSITEKTUR ABIS DI LAN.JPG" title="STUDIO PROYEK AKHIR ARSITEKTUR ABIS DI LAN" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="STUDIO PROYEK AKHIR ARSITEKTUR ABIS DI LAN" alt="STUDIO PROYEK AKHIR ARSITEKTUR ABIS DI LAN" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_STUDIO PROYEK AKHIR ARSITEKTUR ABIS DI LAN.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-167" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Senggang-lembur.JPG" title="Senggang-lembur" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Senggang-lembur" alt="Senggang-lembur" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Senggang-lembur.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-168" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Siklus.....JPG" title="Siklus...." class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Siklus...." alt="Siklus...." src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Siklus.....JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-169" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Studio Perancangan Arsitektur hari2 ini.JPG" title="Studio Perancangan Arsitektur hari2 ini" class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Studio Perancangan Arsitektur hari2 ini" alt="Studio Perancangan Arsitektur hari2 ini" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Studio Perancangan Arsitektur hari2 ini.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-170" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/Studio perancangan...JPG" title="Studio perancangan.." class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="Studio perancangan.." alt="Studio perancangan.." src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_Studio perancangan...JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-171" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/wALL OF ....JPG" title="wALL OF ..." class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="wALL OF ..." alt="wALL OF ..." src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_wALL OF ....JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-178" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/03 peleton gajah.jpg" title=" " class="thickbox" rel="set_7" >
								<img title="03 peleton gajah" alt="03 peleton gajah" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/Gerundelan_Calon_Arsitek/thumbs/thumbs_03 peleton gajah.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/07/12/komik-gerundelan-calon-arsitek-oleh-errik-irwan-wibowo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aradnagna : Taman di Sudut</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/07/08/taman-di-sudut/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/07/08/taman-di-sudut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 02:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah karya salah satu finalis 10 besar Sayembara Desain Rumah Sudut Green yang diselenggarakan oleh Majalah Housing Estate untuk Puri Botanical Residence di Kebon Jeruk, Jakarta. Sebuah sayembara gagasan untuk menanggapi isu-isu perancangan pada kavling tanah sudut dan ide baru terhadap cara bertinggal. Tugas yang diberikan adalah merancang sebuah rumah 2 lantai dengan program [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../wp-content/uploads/2010/07/9.jpg" rel="cbox_1026"><img title="9" src="../wp-content/uploads/2010/07/9.jpg" alt="" width="750" height="657" /></a></p>
<p>Ini adalah karya salah satu finalis 10 besar Sayembara Desain Rumah Sudut Green yang diselenggarakan oleh Majalah Housing Estate untuk Puri Botanical Residence di Kebon Jeruk, Jakarta. Sebuah sayembara gagasan untuk menanggapi isu-isu perancangan pada kavling tanah sudut dan ide baru terhadap cara bertinggal.<span id="more-1026"></span></p>
<p>Tugas yang diberikan adalah merancang sebuah rumah 2 lantai dengan program ruang pada lantai 1: R.Tamu, R.Keluarga, R.Makan, 1 R.Tidur Tamu, Garasi, R.Servis, pada lantai 2: 1 R.Tidur &amp; Kamar Mandi Utama, 2 R.Tidur Anak, 1 Kamar Mandi Anak, R.Keluarga, R.Servis.</p>
<p>Dengan mempelajari tema kawasan yang ada; Botanical Residence, bahwa secara definisi botanical/botanical garden berkaitan erat dengan Greenhouse maka tema yang ditawarkan desain ini adalah ‘untuk menampilkan ruangan-ruangan di dalam bangunan ini layaknya tanaman-tanaman di dalam sebuah greenhouse’. Berkaitan dengan itu preseden yang kemudian menjadi inspirasi bentukan bagi ruangan-ruangan ini adalah Tempat Tidur Loft; tempat tidur bertingkat yang pada bagian bawahnya dimanfaatkan sebagai meja belajar atau tempat bermain, dan kasur tidur pada bagian atas.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/P0050-A-PANEL1_10KONSEP1.jpg" rel="cbox_1026"><img class="alignnone size-full wp-image-1070" title="P0050-A-PANEL1_10(KONSEP)1" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/P0050-A-PANEL1_10KONSEP1.jpg" alt="" width="750" height="361" /></a></p>
<p>Strategi yang tidak kalah penting dan cukup fundamental dari hal tersebut adalah merombak cara umum pembentukan lantai 2 untuk mendapatkan tidak hanya ruangan-ruangan yang lebih menarik tetapi juga untuk mendapatkan nilai tambah pada fungsi dan dapat menjadi lebih efisien secara konstruksi. Yaitu dengan mereduksi elemen slab lantai yang merupakan pemisah antara ruang lantai bawah dan lantai atas menjadi seminimal mungkin sehingga tidak hanya meminimalisir biaya pengecoran tetapi juga meningkatkan konektifitas antar lantai dan pada akhirnya menghasilkan ruang bersama yang lebih lega pada lantai dasar.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/b.jpg" rel="cbox_1026"><img class="alignnone size-full wp-image-1028" title="b" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/b.jpg" alt="" width="750" height="180" /></a></p>
<p>Pada umumnya lantai 2 disusun seperti sebuah layer baru yang menutup seluruh lantai di bawahnya dimana derajat keterhubungan antar dua lantai tersebut ditentukan oleh besar lubang void yang bisa diciptakan. Kemudian satu buah tangga yang terbuat dari beton menghubungkan lantai atas dan bawah, ditambah koridor yang menjadi penghubung ruang-ruang pada lantai 2. Sedangkan pada metode baru yang ditawarkan, lantai 2 merupakan kelanjutan dari masing-masing ruangan dibawahnya. Setiap ruangan memiliki lantai 2 nya masing-masing (dalam bentuk mezanin), dan setiap ruangan juga membentuk gugus massanya sendiri. Serupa pula dengan alur zat-zat pada tanaman, alur sirkulasi yang terbentuk pun berpusat pada lantai dasar, kemudian mengalir ke atas melalui batang tanaman masing-masing, dalam hal ini melalui tangga-tangga pribadi yang terbuat dari kayu di dalam gugus massa yang bersangkutan. Metode ini meminimalisir jauh penggunaan slab lantai beton yang digunakan pada lantai 2, baik untuk koridor maupun untuk kebutuhan ruang itu sendiri. Karena ruang yang terbentuk pada lantai 2 ini pada dasarnya adalah ruang pribadi bagi ruangan di bawahnya maka penggunaan material yang lebih ringan yakni kayu tidak akan mengganggu privasi ruangan di bawahnya. Kemudian ruang-ruang ini juga dilengkapi dengan teras rumput pribadi di bagian atas untuk bersanding dengan ruang tidur, melengkapi suasana istirahat penghuninya.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/c.jpg" rel="cbox_1026"><img class="alignnone size-full wp-image-1029" title="c" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/c.jpg" alt="" width="750" height="586" /></a></p>
<p>Gugusan massa ini secara massa dan struktur independen tehadap massa dan struktur kulit luar (greenhouse). Dengan pertimbangan beban struktur, biaya pondasi, dan durasi pengerjaan, gugusan massa pengisi ini dibangun dari struktur ringan layaknya sebuah partisi/kubikal/furnitur; rangka baja dilapis dengan panil GRC+rockwool. Sedangkan kulit luar-greenhouse merupakan portal baja yang melintasi gugusan-gugusan massa isi tanpa gangguan ke dalam dan membentuk struktur atap pelana sederhana.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/d.jpg" rel="cbox_1026"><img class="alignnone size-full wp-image-1030" title="d" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/d.jpg" alt="" width="750" height="464" /></a></p>
<p>Arah kemiringan atap dibuat berada pada sisi Timur-Barat sehingga terpaan sinar matahari berada sisi bangunan yang paling rendah; mencegah penetrasi sinar matahari langsung ke dalam interior bangunan. Kompromi terhadap isu view, derajat keterbukaan, dan sirkulasi silang diatasi melalui penggunaan kaca nako dan zoning/konfigurasi gugus massa isi. Dengan perawatan yang baik, kaca nako tidak hanya memasukkan view secara maksimum namun juga aliran udara dengan debit yang dapat diatur sesuai kehendak. Pemberian jarak antar gugusan massa isi juga tidak hanya ditujukan untuk sirkulasi manusia namun juga untuk mengizinkan udara yang masuk tadi untuk bersirkulasi silang. Posisi gugusan massa pada sisi terjauh dari jalan juga memberikan privasi yang lebih baik bagi ruang-ruang di dalamnya. Perletakkan gugus massa ruang makan-ruang keluarga atas di bagian tengah yang membagi panjang bangunan menjadi dua; bagian privat (belakang) dan semi public (depan) juga merupakan salah satu siasat untuk mengatasi derajat keterbukaan tampak depan (Utara) bangunan ini.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/e.jpg" rel="cbox_1026"><img class="alignnone size-full wp-image-1031" title="e" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/e.jpg" alt="" width="750" height="168" /></a></p>
<p>Bermain dengan ketersediaan lahan yang ada, massa bangunan diletakkan tanpa menyentuh dinding batas kavling dengan pertimbangan untuk mencegah kemungkinan kebocoran dari dinding samping tetangga sekaligus memberikan peluang lebih besar untuk mendapatkan ventilasi silang di dalam bangunan. Lansekap yang kemudian mengelilingi bangunan dibuat menjadi satu dengan bagian dalam bangunan, seolah meniadakan batas dari greenhouse itu sendiri. Seperti tanaman yang berada di luar ruangan, seolah gugusan massa ini berdiri langsung di atas lansekap.</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/f.jpg" rel="cbox_1026"><img class="alignnone size-full wp-image-1032" title="f" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/f.jpg" alt="" width="750" height="649" /></a></p>
<p>Aradnagna Architects</p>
<p>Juli 2010</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/1.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1033" title="1" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/1.jpg" alt="" width="750" height="530" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/1b.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1034" title="1b" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/1b.jpg" alt="" width="750" height="530" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/2.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1035" title="2" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/2.jpg" alt="" width="750" height="530" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/3.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1036" title="3" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/3.jpg" alt="" width="750" height="530" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/5.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1037" title="5" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/5.jpg" alt="" width="750" height="626" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/6.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1038" title="6" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/6.jpg" alt="" width="750" height="584" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/7.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1039" title="7" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/7.jpg" alt="" width="749" height="655" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/8.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-1040" title="8" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/8.jpg" alt="" width="750" height="657" /></a><a href="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/10.jpg" rel="cbox_1026"><img class="alignnone size-full wp-image-1042" title="10" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/07/10.jpg" alt="" width="750" height="531" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/07/08/taman-di-sudut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengantar Kurator : Pameran Nasional Arsitek Muda 2010</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/06/27/pengantar-kurator-pameran-nasional-arsitekt-muda-2010/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/06/27/pengantar-kurator-pameran-nasional-arsitekt-muda-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 00:56:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[We Proudly Present..]]></category>
		<category><![CDATA[We are Architects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=945</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan yang hendak dicoba jawab oleh pameran ini adalah: Apakah generasi baru arsitek Indonesia, yang mengalami pendidikan di tahun-tahun terakhir sebelum 1998 dan mulai berkarya sesudah 1998, memang membawa kecenderungan berbeda dari yang sebelumnya? Tentu saja pertanyaan ini tidak mengabaikan bahwa kecenderungan baru atau lain bisa saja diusung justru oleh arsitek dari generasi yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan yang hendak dicoba jawab oleh pameran ini adalah: Apakah generasi baru arsitek Indonesia, yang mengalami pendidikan di tahun-tahun terakhir sebelum 1998 dan mulai berkarya sesudah 1998, memang membawa kecenderungan berbeda dari yang sebelumnya?</p>
<p>Tentu saja pertanyaan ini tidak mengabaikan bahwa kecenderungan baru atau lain bisa saja diusung justru oleh arsitek dari generasi yang lebih lama. Di masa arus informasi yang deras dan bebas, pembagian generasi memang tidak dapat dipertanggung-jawabkan dari perspektif keperluan di luar para arsitek itu sendiri. Pameran yang bersifat generasional memenuhi kebutuhan untuk membuka exposure dan wacana atas generasi itu sendiri, yang memiliki proses pembentukan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Terang bahwa konteks produksi yang mereka masuki juga berbeda dari masa sebelumnya, tetapi generasi sebelumnya juga memasuki konteks ini, hanya lebih dulu, entah dengan kesadaran yang berbeda atau tidak.</p>
<p>Generasi yang mengalami proses pembentukan di seputar tahun 1998 mengalami setidaknya perubahan yang mendasar dalam teknologi informasi yang berdampak bukan saja pada jumlah (mungkin juga mutu) informasi yang mereka terima dan pertukarkan secara interaktif di antara rekan sejawat, tetapi juga pada cara-cara menyajikan gagasan, setidaknya secara visual. Pada saat bersamaan kelas menengah Indonesia menjadi makin besar<a href="#_ftn1"><sup>[1]</sup></a> dengan identitas yang makin mantap, karena makin tidak-tergantung pada negara, dan mampu mengembangkan hubungan-hubungannya sendiri. Kini sudah menjadi lazim untuk berharap mendapatkan penugasan dari swasta dan keluarga kelas menengah. Dua puluh tahun yang lalu, generasi yang dikenal sebagai Arsitek Muda Indonesia (AMI) mulai mencicipi rasa pasar ini, dan kemudian secara sadar atau tidak menjadikannya basis berhimpun mereka dan melancarkan cara operasi baru. Sebelumnya, pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah pemberi tugas dominan. Kini, hampir tidak terpikirkan untuk mengharapkan penugasan dari negara untuk berkarya sehari-hari.</p>
<p>Sayembara, yang diperjuangkan dengan sangat oleh generasi sebelumnya, sebagai konsekuensi dari keterbukaan yang diperjuangkan, kini juga telah menjadi sangat lazim, pada berbagai skala nasional maupun internasional, di daerah Jakarta maupun daerah-daerah lainnya. Swasta melihat keuntungan dari sistem sayembara ini. Pemerintah memaklumi pentingnya dan bahwa ia mewakili tuntutan akan <em>good governance</em>, tetapi peraturan yang ada belum sepenuhnya mendukung. Sebagian arsitek generasi pasca 1998 bahkan telah mengikuti sayembara internasional ketika masih berstatus mahasiswa.</p>
<p>Bilamana generasi AMI mengetahui perkembangan internasional setidaknya 5 tahun terlambat, generasi pasca-1998 mengetahuinya dengan seketika. Generasi terdahulu itu berwacana dengan tatap-muka secara langsung, sambil sekali-sekali dengan susah payah secara kolektif membuat penerbitan<a href="#_ftn2"><sup>[2]</sup></a>, generasi sekarang memiliki majalah online.<a href="#_ftn3"><sup>[3]</sup></a> Pertemuan-pertemuan AMI dilaksanakan di bangunan-bangunan (sebagian besar rumah-rumah) <em>show-case</em> karya mereka, dengan <em>slides</em> seluloid dalam suasana sangat informal, dengan semua orang saling kenal. Pertemuan-pertemuan <strong>Jongarsitek</strong> diselenggarakan di kafe, galeri, atau tempat gaya-hidup lainnya yang hingga sepuluh tahun lalu masih belum merupakan tempat berkumpul yang sungguh jamak. Sajian audio dan visual semuanya dijital. Pameran arsitektur menjadi jauh lebih kerap, lebih dari dua kali setahun, oleh organisasi yang berbeda. Majalah-majalah bertambah judul maupun eksemplar. Bahkan liputan TV juga.</p>
<p>Kota? Apakah kota yang dihuni oleh generasi pasca-1998 ini berbeda dengan sebelumnya?</p>
<p>***</p>
<p>Membaca arsitektur bagaimana pun juga memang berarti membaca kota secara langsung atau sebagai cerminan tidak langsung, sekalipun dan terutama kota bukan sebagai kumpulan bangunan gedung, dan arsitektur bukan hanya pada bangunan gedung.</p>
<p>Hanya ada satu atau dua karya yang dipamerkan di sini yang konteksnya bukan kota.</p>
<p>Selebihnya, hampir seluruhnya, bergulat dan bergelut dengan dan di dalam kota.</p>
<p>Pada rumah-rumah kelas menengah yang dirancang oleh arsitek generasi pasca-1998 ini, kota hadir sebagai sesuatu yang dibelakangi, atau tidak diketahui, tidak terpetakan di dalam banyak produksi arsitektur. Ide-ide hadir dengan susah payah, putus asa, tetapi kota belum cukup terorganisasikan untuk menerima ide-ide ini menjadi kenyataan wujud yang padu. Sebagian ide-ide harus mundur karena keputusasaan. Orang perorang harus membalikkan tubuh, memperkuat dunia interiornya, karena kota tidak menjanjikan, malah menimbulkan kesulitan. Kolektivitas, kalau pun ditawarkan dalam kompleks-kompleks berukuran besar, terbatas pada menciptakan kolektivitas hanya di dalam dirinya sendiri, sementara hubungan dengan kota—yang nyata dan beriwayat panjang—sangat  terbatas. Hal ini sangat nyata misalnya pada proyek sayembara perumahan mahasiswa UI di Depok. Proyek seperti ini, karena tema dan lokasi serta faktor-faktor kontekstual lainnya, sebenarnya sangat strategis untuk mempengaruhi arah arsitektur dan watak kekotaan masa depan di Indonesia.</p>
<p>Kesulitan arsitektur dalam menawarkan solusi progresif bagi kota-kota Indonesia muncul karena tidak ada mediasi atau fasilitasi yang tanggap serta cerdas atas banyak masalah ruang kota. Kota-kota, dalam makna arsitektur, tidak berkepemimpinan. Yang ada hanya otoritas dengan <em>discretion power</em> yang besar, dan sering korupsi.  Pada keributan soal penertiban pedagang kaki lima, kita menemukan hal yang sama ini: sementara kekotaan kita memang masih muda, ada banyak negosiasi yang tidak secara sadar dan taktis ditengahi untuk mencapai kematangan solusi.<a href="#_ftn4"><sup>[4]</sup></a> Ketidak-hadiran kepemimpinan dengan kewewenangan publik yang menengahi proses untuk melahirkan kolektivitas yang sehat juga menyebabkan munculnya solusi-solusi individual yang <em>introvert</em>, menutup diri, kadang involutif, membelakangi kota-kota. Misalnya, meskipun sudah cukup lama ada –setidaknya lima tahun— kecenderungan meletakkan kamar pembantu beserta kamar mandi dan cucinya di bagian depan rumah, kadang dengan cara yang cerdik memanipulasi Garis Sempadan Bangunan, kini menjadi makin eksplisit dan tidak malu-malu, dianggap sebagai solusi pragmatis yang wajar saja—<em>keadaannya begitu sih!</em> Bersamaan dengan itu, seluruh muka rumah-rumah menjadi makin terutup, suram, bahkan cenderung cemberut terhadap jalan, terhadap kota.</p>
<p>Solusi pragmatik ini mungkin sekedar menerjemahkan gejala perubahan sosial: pembantu rumah tangga telah berubah dari “orang rumah” menjadi “buruh” industrial, telah kehilangan hubungan-hubungan yang biasa di masa dua puluh tahun lalu, dan sekarang mungkin tinggal nostalgia pada generasi yang dilayani oleh para arsitek muda.</p>
<p>Hal itu bukan karena tidak ada gagasan kreatif arsitektur yanng lebih progresif yang ditawarkan sepanjang sejarah arsitektur modern Indonesia. Gagasan tentang kampung susun yang sangat maju pada tahun 1983(?) telah dikemukakan sebagai tugas akhir dari Heri Muliono, mahasiswa di Universitas Katolik Parahyangan waktu itu. Tidak saja ia sangat jauh meneroka kemungkinan itu, tetapi juga sangat mendalam dan memperhitungan segala aspek secara realistis. Pada pameran ini kita akan melihat gagasan itu muncul kembali sebagai suatu keping utopis yang skematik. Gagasan tentang mewadahi pedagang kaki-lima di kaki-lima dan ruang khalayak lainnya, telah tanpa henti diajukan oleh arsitek Indonesia dalam empat puluh tahun terakhir. Terakhir, bulan lalu ada lokakarya, sayembara gagasan, dan diskusi penataan kaki lima di Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara. Bulan Juli nanti juga akan ada lokakarya dan diskusi hal yang serupa di Bandung, dalam rangka Temu Ilmiah Mahasiswa Arsitektur Indonesia ke-26 yang dinamai BDG26.</p>
<p>Kota-kota juga makin sadar tentang kepadatan yang harus makin ditingkatkan dan secara sengaja dirancang dan dikelola dengan baik. Banyak ide ditumpahkan pada bagaimana memadatkan volume penduduk, serentangan infrastruktur dan program pada bagian-bagian kota. Tidak semua ide ini baru, atau secara keseluruhan serta fundamental lebih maju daripada generasi-generasi sebelumnya. Tetapi, gagasan-gagasan ini tetap berharga karena memaparkan dua gejala yang menunjukkan sekaligus harapan dan desakan yang kuat: kembalinya utopia, serta kemungkinan yang lebih besar untuk sekarang diwujudkan.</p>
<p>Kota-kota di Indonesia juga sedang giat membangun infrastruktur baru dengan tuntutan langsung tumbuh dari masyarakat setempat dan kepentingan ekonomi pembangunan yang makin nyata. Ambisi proyek-proyek besar bukan lagi monopoli daerah khusus ibukota, tetapi juga daerah-daerah lain. Dampak desentralisasi dan otonomi daerah telah mulai menggigit.  Motif budaya, politik identitas, pertumbuhan ekonomi, bercampur baur.</p>
<p>Di dalam kota demikian api globalisasi persaingan dan konsumtif mendapatkan minyak-nya. Benih-benihnya jatuh ke atas lahan bertanah subur, berhara tinggi. Suatu cakrawala kehidupan kota yang baru hadir dengan dengan kelas menengah yang makin besar dan makin beragam dan meragam. Kelas menengah Indonesia makin terbuka dan berwawasan luas.</p>
<p>Terdapat rentang yang sangat besar dari yang dapat disebut “kelas menengah” di kota-kota Indonesia: mulai dari yang mampu memiliki tanah seluas 90 m2 dengan bangunan 75 m2, hingga yang mampu membeli tanah hingga ribuan meter persegi dengan bangunan hingga 500 m2, dengan nilai total <em>property</em> sebesar dua ratus juta rupiah hingga dua milyar rupiah atau lebih. Jumlah terbesar tentu saja berkisar pada kemampuan dua hingga sekitar lima ratus juta rupiah. Apakah yang mayoritas, dengan rentang kemampuan finansial yang sempit akan juga memiliki rentang pilihan rancangan yang juga sempit, dan sebaliknya yang kemampuan finansialnya makin besar akan memiliki rentang solusi kreatif yang lebih lebar? Apakah rumah kecil atau rumah besar mempengaruhi kreativitas arsitek?</p>
<p>Yang kita lihat pada rancangan rumah-rumah tinggal—yang selalu merupakan indikator paling minimal dan penting bagi kreativitas arsitektur, seperti menu mendasar terjangkau yang paling disukai pada sebuah restoran—selain keragaman pada volume dan bahan, adalah keragaman pada program, dan pada keterbukaan terhadap ide-ide arsitektonik dalam hal susunan ruang serta bentuk-bentuk yang mengacu kepada lebih banyak sejarah, preseden, sebaran geografis dan budaya. Hal ini dapat dikatakan bahkan tidak mungkin dibayangkan duapuluh atau sepuluh tahun lampau.  Keragaman program serta keterbukaan terhadap ide arsitektonik menunjukkan keragaman gaya-hidup, yang kira-kira terbentuk dari campuran profesi, latar belakang pendidikan, warisan budaya, selera konsumsi, dan barangkali banyak hal lain. Tentu saja, mereka tidak terlepas dari apa yang ditawarkan oleh para arsitek. Para arsitek sendiri adalah representasi kelas menengah yang pertama-tama nampak hadir pada rumah-rumah ini.<a href="#_ftn5"><sup>[5]</sup></a> Apakah ada pemikiran kritis yang progresif pada karya-karya ini? Apakah arsitek dapat menawarkan yang kritis pada ruang yang dihuni secara nyata oleh orang yang nyata pula? Jawabannya, seperti terpampang pada pameran ini, adalah berupa rentang kemungkinan.</p>
<p>***</p>
<p>Makin banyak arsitek Indonesia bekerja untuk proyek di luar negeri, memasuki arena globalisasi persaingan. Pada saat sama hubungan kolegial yang menghasilkan solidaritas dan produksi pengetahuan bersama juga terjadi di antara sesama arsitek muda di tataran internasional maupun nasional. Kunjung mengunjung di tingkat nasional dan internasional makin kerap dan mudah. Pertukaran ide, pinjam meminjam, curi-mencuri gagasan menjadi berskala global pula. “Penyair yang matang mencuri, penyair yang mentah meniru,” kata T.S. Elliot.<a href="#_ftn6"><sup>[6]</sup></a> Di pameran ini kita juga akan menyaksikan rentang dari peniruan mentah hingga pencurian lihai itu.</p>
<p>Sayembara, yang pada dua (atau tiga) generasi AMI sebelumnya masih diperjuangkan dengan susah payah<a href="#_ftn7">[7]</a> kini telah menjadi kelajiman. Dengan teknologi, para arsitek muda mudah pula serta dalam sayembara internasional. Banyak yang memenangkan sayaembara, meskipun tidak selalu juara pertama. Lebih dari itu, sayembara telah dapat dikatakan produktif dalam arti ia telah menghasilkan ide-ide dan wacana ke dalam ruang publik. Atas dasar ini pula, makin tumbuh prakarsa sukarela—tanpa undangan atau sayembara—para arsitek muda untuk melakukan “intervensi”, yaitu mngusulkan gagasan-gagasan arsitektur kepada berbagai soal atau tempat di kota-kota. Namun, sayembara bukan tanpa resiko. Ancaman terbesar bagi arsitek oleh sayembara tidak kurang dari kemungkinan menggerus integritas arsitek itu sendiri, ialah ketika ia berupaya membayangkan keinginan, minimal apa yang dapat diterima, atau yang dapat dimengerti oleh para juri—bukan <em>client</em>—nun jauh di sana.</p>
<p>Apa yang dianggap baik oleh juri pertama-tama haruslah dapat dimengerti oleh nya. Berupaya membuat diri dimengerti oleh juri sama dengan berupaya menjadi bagian dari sistem nilainya. Dengan begitu saja, peserta sudah pertama-tama kalah. Kalau pun dia memenangkan sayembara—yang saya maksud terutama adalah sayembara yang konteksnya spesifik berada di luar ruang budaya peserta dan sayembara yang dibuat sangat universal (berupa tema generik)—maka ia mungkin telah takluk karena dinilai melalui sistem nilai yang belum tentu dianutnya. Ada perbedaan pada karya-karya yang dihargai setelah selesai dibangun<em>, </em>karena dibuat tanpa antisipasi menghadapi juri. Di sini ada integritas (relatif) penciptaan. Sebaliknya, sayembara mengandung kelebihan berupa kemungkinan bagi pencipta membebaskan diri dari batas-batas pesanan, andai saja dia berani membebaskan diri dari spekulasi tentang juri.</p>
<p>Kemampuan komunikasi visual lalu menjadi penting, dan dibantu oleh ketersediaan teknologi kontemporer. Pada sisi positif, tentu saja sayembara dapat memeras arsitektur menjadi pemikiran, ketimbang sekedar proyek perancangan, terutama ketika jarak antara juri dan arsitek peserta sayembara, dan antara konteks nyata dengan yang tertera di dalam Kerangka Acuan, menjadi makin besar. Kemampuan teknologi memungkinkan arsitek memvisualisasikan lebih realistis rancangannya, sekaligus juga lebih dapat membuatnya lebih palsu dengan lebih meyakinkan. Bahaya lain adalah penekanan berlebihan pada “yang nampak”, bukan “yang terasa” atau “yang teralami”.</p>
<p>Bagaimana pun juga ada sebersit kebebasan yang nampak pada imajinasi bentuk-bentuk yang ditawarkan oleh generasi ini, meskipun karena abstraksi dan formalisme yang dipinjam dan dicuri itu yang, syukurlah, masih sehat, bahkan ketika atap vernakular Indonesia digunakan seperti pada rumah-kantor di Kendangsari, Surabaya. Abstraksi dan formalisme ini sehat karena metodis, ada maksud, dan sebenarnya secara puitis mengingatkan kembali bahwa, pada arsitektur, akhirnya bentuklah yang berbicara.</p>
<p>Kemudahan “bermain-main dengan bentuk” ini mungkin sekali terbantu oleh teknologi yang sangat memudahkan mengendalikan bentuk-bentuk geometris secara tiga dimensional seketika. Tentu saja, tetap saja sangat diharapkan otentisitas—kalau bukan orijinalitas—akan makin kental di masa datang, melalui metoda-metoda yang dapat dijelaskan maupun melalui proses kotak-hitam di dalam proses perancangan arsitektur. Meskipun percaya bahwa arsitektur adalah produk dari segala sesuatu yang terjadi saat ini kita percaya selalu ada celah untuk terobosan, untuk pembaruan, sebagaimana telah selalu terjadi dalam sejarah. Sejarah, selain ditulis oleh yang menang, juga dibentuk oleh yang tidak mau tunduk kepada pembatasan oleh keadaan terberikan.</p>
<p>Untuk keperluan itu, mau tidak mau, pemikiran harus menyertai perancangan sebagai teman sejalan yang dialektis. Sebab, seperti dikatakan oleh  Louis I. Kahn pada tahun 1957: “Arsitektur berarti menciptakan ruang dengan cara yang benar-benar direncanakan dan dipikirkan….Pembaharuan arsitektur yang berlangsung terus menerus sebenarnya berakar dari pengubahan konsep-konsep ruang.”</p>
<p>Memang “baru” itu relatif dan terikat konteks. Tetapi, bagaimana pun juga sesuatu yang “baru” dapat dikenali karena memiliki kejutan dan energi untuk menggugah, mempengaruhi pemikiran, mengubah cara pandang. Adolf Loos bukan hanya anti-ornamen; dia menciptakan hubungan dan susunan ruang baru. Meskipun bentuk massanya bagi banyak orang sulit dipahami, bentuk ruangnya sangat kuat berbicara khas. Demikian juga Le Corbusier pada masanya. Karya-karya Koolhaas, setidaknya hingga lima belas tahun lampau, menghadirkan susunan ruang yang sangat mengejutkan. Bentuk massa yang mengesankan muncul dari bentuk ruang yang khas.  Arsitek muda Jepang, Sou Fujimoto, mencoba mengabaikan kolom-kolom biasa, slab-slab beton, tangga-tangga, dan elemen lain untuk menyusun arsitekturnya. Alih-alih, ia menggantinya dengan elemen multi guna yang bisa menggantikan semua fungsi di atas. “Primitive Future House” sepenuhnya tersusun dari balok-balok kayu yang bisa berfungsi sebagai tangga, struktur, bahkan furniture. Ia ingin mengingatkan kita, juga tubuh kita, untuk beradaptasi pada ruang – bentukan maupun alami, seperti dulu ketika kita masih tinggal di gua-gua. Junya Ishigami meniadakan dinding. Tetapi, berbeda dengan ruang Mies, bangunannya tidak kosong atau seperti tak berpenghuni. Kita dapat merasakan kehadiran dan adanya perubahan jarak yang terus menerus karena perbedaan kepadatan dan orientasi dari kolom-kolom.</p>
<p>Setelah belajar meniru, memperdalam dan memperhalus, arsitek kita perlu membat terobosan, yang “baru” tersebut, serelatif apapun artinya. Ada tiga wilayah yang perlu diarahkan kembali, yang syukurlah mulai nampak sebagai kuncup yang sedang mau mekar pada arsitek generasi pasca-1998 ini. Pada pendidikan, perlu ada dorongan untuk berpikir kritis dengan wawasan yang diperluas melalui membaca atau akses informasi lain yang tidak terbatas. Arsitek muda kita nampaknya juga perlu jernih membedakan pembaharuan pada (karya) arsitektur dari pembaharuan dalam menjalankan praktik arsitektur. Ketiga, praktik berwacana perlu mendalami pemikiran di balik karya-karya secara radikal. Berwacana harus melampaui dikusi tentang bagaimana “proyek” arsitektur ini terjadi dan berlangsung, tentang manajemen proyek itu. Berwacana harus radikal bertanya—bahkan mempertanyakan—tanpa basa-basi. Radikalitas berbeda dengan ekstrimitas. Radikalitas mencari akar, esensi, baik pada suatu preseden maupun pada suatu masalah. Ia merupakan metoda untuk sampai kepada loncatan kreatif. Ekstrimitas hanya pergi sejauh mungkin yang sering kali reaktif seperti gerak pendulum, tetapi tidak sedalam mungkin. Ia bisa melanjutkan radikalitas, tetapi sebaiknya tidak mendahuluinya.  Hal ini penting diingat ketika kita melihat munculnya kembali wacana tentang “arsitektur nusantara”. Hanya dengan kedalaman kita dapat lebih maju dari posisi tahun 1983.<a href="#_ftn8"><sup>[8]</sup></a></p>
<p>Ada momen-momen dalam arsitektur Indonesia ketika kita merasakan pencapaian yang demikian menyerupai ideal di atas itu, ialah misalnya momen Mangunwijaya. Momen ini terjadi bukan karena Mangunwijaya membayangkan juri internasional akan memahaminya, bukan karena ia punya agenda memajukan arsitektur nusantara, bukan karena ia ingin menghubungkan dirinya dengan wacana arsitektur modern Eropa dan mendapatkan pengakuan dalam sistemnya, meskipun beliau belajar dalam tradisi Bauhaus yang kuat. Momen Mangunwijaya terjadi karena ia berupaya semaksimal kemampuannya menjawab soal di depan matanya secara radikal dengan penuh integritas, dengan memanfaatkan semua pengetahuannya yang diarahkan untuk keperluan itu.  Mangunwijaya jelas melakukan radikalisasi—yang tidak sama dengan asal aneh—pada penggunaan kriya, pada bentuk atap nusantara, pada tekstur dan susunan material, pada sususnan ruang yang sederhana.</p>
<p>Kita bukannya perlu menarik perhatian ke kita yang merasa di “pinggiran”, dengan menggambar-gambarkan diri dengan bahasa orang lain. Tetapi kita perlu menghasilkan yang terbaik untuk menjawab soal-soal yang justru merupakan “kesempatan” kita  di hadapan kita, sedemikian baik pertama-tama untuk diri kita sendiri, sehingga dapat ditawarkan kepada siapa saja sebagai “yang dapat di-universal-kan”.<a href="#_ftn9"><sup>[9]</sup></a> Kita perlu bersikap khidmat terhadap setiap kesempatan di hadapan kita, dan memusatkan semua perhatian dan upaya seperti “ini hanya sekali seumur hidup.”<a href="#_ftn10"><sup>[10]</sup></a></p>
<p>Kita juga berharap akan lebih besar kepekaan para arsitek yang sedang tumbuh ini terhadap soal-soal kelestarian dan proses-proses sosial, seperti keterlibatan warga dalam penyelenggaraan proyek-proyek publik. Ada banyak  karya yang menyebut alam, yang menyatakan bermaksud ramah-lingkungan dalam berbagai hal: ventilsai silang horisontal dan vertikal, orientasi memanfaatkan cahaya alam, AC minimum, bahwa pohon-pohon alami lebih penting daripada posisi instrumentalnya sebagai “<em>scupture in the park</em>” dan seterusnya. Tetapi, radikalisasi masih sangat diperlukan di sini untuk membawa kita melampaui aplikasi yang sporadis dan asal ada, untuk sampai pada konsekuensi wujud bentuk yang “baru”.</p>
<p>Jakarta, 26 Juni 2010</p>
<p>Marco Kusumawijaya, Suryono Herlambang, Avianti Armand.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref">[1]</a> Belum diperoleh analisis yang penting tentang seberapa besar dan signifikannya kelas menengah Indonesia saat ini.</p>
<p><a href="#_ftnref">[2]</a> Banyak “anggota” yang kemudian melanjutkan penerbitan secara sendiri-sendiri, tentang dirinya sendiri, ketika tingkat penghasilannya memungkinkan hal itu sebagai kebutuhan dokumentasi, pemasaran, dan ideologi (sebagai manifesto!).</p>
<p><a href="#_ftnref">[3]</a> <a href="../../../../../">http://jongarsitek.com/</a> sejak Februari 2008.</p>
<p><a href="#_ftnref">[4]</a> Khusus untuk perdagangan kaki-lima, beberapa solusi yang diperoleh melalui proses negosiasi yang sehat mulai nampak di kota Solo dan sebagian kota Jakarta.</p>
<p><a href="#_ftnref">[5]</a> Sebagian dari rumah-rumah dalam pameran ini dirancang oleh arsitek untuk dirinya sendiri dan/atau keluarganya.</p>
<p><a href="#_ftnref">[6]</a> “Immature poets imitate; mature poets steal.”  <a href="http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/t/tseliot128885.html"><strong>Thomas Stearn Eliot</strong></a> (1888-1965), dikutip melalui Sri Wresti Avianti, yang mendapatkannya di Facebook.<strong> </strong></p>
<p><a href="#_ftnref">[7]</a> Generasi AMI merintis dengan banyak benturan dan konflik dengan korban hingga anggota majelis etik IAI, dan generasi 1990-2000an memantapkannya.</p>
<p><a href="#_ftnref">[8]</a> Pada tahun 1983 Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyelenggarakan kongres dengan tema tentang identitas “Arsitektur Indonesia” yang banyak sekali acuan pada penggalian arsitektur nusantara.</p>
<p><a href="#_ftnref">[9]</a> Meminjam istilah Mohamed Arkoun: <em>universalizable.</em></p>
<p><a href="#_ftnref">[10]</a> Meminjam cara minum teh Jepang “<em>Ichigo, ichi’ye</em>” (Hanya di saat ini, di tempat ini)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/06/27/pengantar-kurator-pameran-nasional-arsitekt-muda-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Avianti Armand : CATATAN TAMBAHAN UNTUK PNAM 2010</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/06/26/avianti-armand-catatan-tambahan-untuk-pnam-2010/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/06/26/avianti-armand-catatan-tambahan-untuk-pnam-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 03:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/2010/06/30/avianti-armand-catatan-tambahan-untuk-pnam-2010/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah semua dirangkum dan dituliskan dalam catatan kuratorial dengan sangat baik oleh Marco Kusumawijaya, saya tinggal menambahkan sedikit saja. Tawaran untuk mengkuratori pameran ini datang pada saat saya sedang melakukan riset pribadi tentang “Arsitektur Indonesia”. Di jaman di mana tidak ada batas yang jelas, informasi bergerak lebih cepat dari barang dan manusia, rasanya tidak aneh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah semua dirangkum dan dituliskan dalam catatan kuratorial dengan sangat baik oleh Marco Kusumawijaya, saya tinggal menambahkan sedikit saja.</p>
<p>Tawaran untuk mengkuratori pameran ini datang pada saat saya sedang melakukan riset pribadi tentang “Arsitektur Indonesia”. Di jaman di mana tidak ada batas yang jelas, informasi bergerak lebih cepat dari barang dan manusia, rasanya tidak aneh jika kita bertanya: di mana kita berada?</p>
<p>Pertanyaan itu timbul karena jarang sekali kita menemukan publikasi tentang arsitektur maupun arsitek Indonesia di dalam publikasi dunia. Tapi lalu saya bertanya lagi, apa yang saya maksud dengan ‘dunia’? Marco menambahkan, “Apa pentingnya berada dalam percaturan arsitektur ‘dunia’ itu?” Sebuah pertanyaan yang sangat tajam yang saya tidak punya jawabnya.</p>
<p>System dunia atau World System Wallerstein tidak lagi bisa memetakan kita atau negara-negara berkembang lain sebagai yang di tepi (periphery) dan negara-negara maju sebagai ‘pusat’. Dan apakah tepi apakah pusat pada saat arus tidak lagi searah dan semua terjadi pada saat yang bersamaan?</p>
<p>Pertanyaan ini tidak ingin mencari batas yang kaku atau ‘identitas’ yang justru bisa menjadi penjara, tapi lebih sebagai sebuah refleksi.</p>
<p>Arsitektur lahir dari sebuah kebutuhan akan satu, atau lebih, solusi. Kita punya masalah yang berbeda dengan yang dihadapi oleh arsitek-arsitek lain di negara-negara lain. Karena itu lalu menjadi naïf, apabila kita berusaha bersaing dengan mereka dengan parameter yang bukan milik kita. Kita akan berjalan dengan peta yang salah jika kita berusaha bersaing dengan arsitek-arsitek Jepang (Sanaa, Junya, Sou, Suppose Design) dengan mencuri atau meminjam metode, teknologi, dan bentuk-bentuk mereka. Kita akan terjungkal jika mengikuti berbagai aliran yang saling bertumbukan di eropa dan amerika (klasisisme, modernisme, post modernisme, neo modernisme, dekonstruksi, dll) yang datang tidak beserta gejolak sosial tapi sekedar style yang kita tak paham betul apa makna dan gunanya untuk kita.</p>
<p>Sejarah memang telah memutuskan kita dari arsitektur tradisional kita dan mencangkokkan sesuatu yang lain yang hingga kini belum tuntas kita fahami – arsitektur dan hal-hal yang tak selesai – tapi juga bukan berarti kita harus membangkitkan romantisme masa lampau dengan memuja-muja arsitektur tradisional itu sebagai sesuatu yang mulia. Saya lebih setuju menjadikan mereka referensi dan khasanah yang bisa kita pelajari untuk menjawab masalah-masalah hari ini.</p>
<p>Hari ini. Saya rasa itu adalah kata kuncinya. Berada di dalam percaturan arsitektur dunia lalu memang tidak penting. Lebih penting untuk menjadi peka terhadap issu-issu yang mendasar dalam masyarakat kita – hari ini. Kita tidak sedang dalam perlombaan atau pertandingan dengan arsitek-arsitek lain, baik di sini maupun di luar sana. Dan pameran ini hanya akan menjadi berguna jika kita menjadikannya sebagai ajang saling belajar untuk menghasilkan arsitektur yang menjawab persoalan-persoalan kita hari ini. Sukses untuk Pameran Nasional Arsitek Muda 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/06/26/avianti-armand-catatan-tambahan-untuk-pnam-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Jakarta 2030 Agenda 5 Mei 2010</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/05/03/workshop-jakarta-2030-agenda-5-mei-2010/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/05/03/workshop-jakarta-2030-agenda-5-mei-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 00:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Kita telah melewati tahap pengumpulan data-data, modal untuk melangkah ke depan telah terkumpul. Segera analisa apa sebenarnya yang jakarta butuhkan untuk menjadi lebih baik di masa depan. Tampilkan konsep dari design yang akan kita kembangkan pada pertemuan workshop hari rabu tgl 5 mei  2010, sajikan dalam format presentasi pecha kucha, yaitu terdiri dari 20 slide,masing-masing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-851" title="Page_1" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/05/Page_1.jpg" alt="Page_1" width="750" height="530" /><img class="alignnone size-full wp-image-852" title="Page_2" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/05/Page_2.jpg" alt="Page_2" width="750" height="530" /><span id="more-849"></span></p>
<p>Kita telah melewati tahap pengumpulan data-data, modal untuk melangkah ke depan telah terkumpul. Segera analisa apa sebenarnya yang jakarta butuhkan untuk menjadi lebih baik di masa depan.</p>
<p>Tampilkan konsep dari design yang akan kita kembangkan pada pertemuan workshop hari rabu tgl 5 mei  2010, sajikan dalam format presentasi pecha kucha, yaitu terdiri dari 20 slide,masing-masing slide dipresentasikan dalam 20 detik.</p>
<p>Workshop Jakarta 2030 masih menyisakan 3 pertemuan lagi (5 mei, 12 mei, dan 20 mei 2010). 2 dari 3 pertemuan tersebut akan kita gunakan untuk membahas design dengan intensif, pertemuan terakhir tanggal 20 mei 2010 adalah hari presentasi terakhir dari masing-masing kelompok. Mari kita semua berharap dan berusaha agar tepat pada tanggal 20 mei 2010 tersebut kita dapat menghadirkan sesuatu bagi Jakarta.</p>
<p>Karena ketatnya jadwal dan padatnya agenda kita, maka kami harap kita semua dapat memulai workshop tepat pada waktu yang sudah disepakati, jam 1900, dan masing-masing kelompok membawakan presentasi nya dalam format yang telah ditentukan.</p>
<p>Terimakasih</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/05/03/workshop-jakarta-2030-agenda-5-mei-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jongBengkel! Workshop Jakarta2030, Serambi Salihara, 29 April 2010</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/04/22/jongbengkel-workshop-jakarta2030-serambi-salihara-29-april-2010/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/04/22/jongbengkel-workshop-jakarta2030-serambi-salihara-29-april-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 03:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-826" title="Page_1" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/04/Page_1.jpg" alt="Page_1" width="750" height="530" /><br />
<img class="alignnone size-full wp-image-827" title="Page_2" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/04/Page_2.jpg" alt="Page_2" width="750" height="530" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/04/22/jongbengkel-workshop-jakarta2030-serambi-salihara-29-april-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Presentasi Karya Arsitek Indonesia di Singapura</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/04/18/video-presentasi-karya-arsitek-indonesia-di-singapura/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/04/18/video-presentasi-karya-arsitek-indonesia-di-singapura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 16:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[We are Architects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Rekan Rekan dari Singapura, baru saja menyelengarakan presentasi karya sayembara yang di ikuti oleh sebagaian teman teman disana, perlu diacungi jempol, jauh jauh, dalam waktu-waktu sempit dengan pekerjaannya, mereka masih menyumbangkan pemikirannya untuk sayembara sayembara yang ada di Indonesia, Berikut adalah sumbangan video (karena keterbatasan akun vimeo, video akan di update kembali minggu depan) yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-808" title="iaisingapura" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/04/iaisingapura.jpg" alt="iaisingapura" width="750" height="120" /></p>
<p>Rekan Rekan dari Singapura, baru saja menyelengarakan presentasi karya sayembara yang di ikuti oleh sebagaian teman teman disana, perlu diacungi jempol, jauh jauh, dalam waktu-waktu sempit dengan pekerjaannya, mereka masih menyumbangkan pemikirannya untuk sayembara sayembara yang ada di Indonesia, Berikut adalah sumbangan video (karena keterbatasan akun vimeo, video akan di update kembali minggu depan) yang juga di selengarakan atas inisiasi teman teman IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) domisili Singapura. Bravo! Desain Menginspirasi!<span id="more-807"></span></p>
<p>PRESENTASI KARYA DAN SILATURAHMI ARSITEK INDONESIA DI SINGAPURA<br />
Sabtu 10 April 2010, pukul 1100-1500 waktu Singapura, Tempat di Multi Function Room-club house, Apartemen Pacific Mansion, 8 River Valley CLose</p>
<p><object width="400" height="300"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=11082120&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=11082120&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" width="400" height="300"></embed></object>
<p><a href="http://vimeo.com/11082120">Pemenang Kedua Sayembara Kampus ITB – Paket 2</a> from <a href="http://vimeo.com/jongarsitek">jongArsitek!</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p>Pemenang Kedua Sayembara Kampus ITB – Paket 2, by : Sandi Yudha </p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="400" height="300" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=10999897&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="400" height="300" src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=10999897&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><a href="http://vimeo.com/10999897">Pemenang Ketiga Sayembara Kampus ITB – Paket 2</a> from <a href="http://vimeo.com/jongarsitek">jongArsitek!</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p>Pemenang Ketiga Sayembara Kampus ITB – Paket 2 : By Ary Rinaldy</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="400" height="300" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=10999186&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="400" height="300" src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=10999186&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><a href="http://vimeo.com/10999186">Pemenang Ketiga Sayembara Gedung Kantor Bank Indonesia Solo</a> from <a href="http://vimeo.com/jongarsitek">jongArsitek!</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p>Pemenang Ketiga Sayembara Gedung Kantor Bank Indonesia Solo : Architect in charge: LEITMOTIF (Adjie Negara, Vincentius H, Christian  Aryo) Architect in record: Tiyok Prasetyo Adi (PDW). Collaborator: PT  Unitri Cipta.</p>
<p><object style="width: 420px; height: 158px;" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="100" height="100" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="menu" value="false" /><param name="src" value="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=100410031835-5c7a0dbcc742448bb3785b271eaa9534&amp;docName=leitmotif-bi-solo&amp;username=leitmotif&amp;loadingInfoText=LTM-KBI-SOLO2010&amp;et=1271522666540&amp;er=76" /><param name="flashvars" value="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=100410031835-5c7a0dbcc742448bb3785b271eaa9534&amp;docName=leitmotif-bi-solo&amp;username=leitmotif&amp;loadingInfoText=LTM-KBI-SOLO2010&amp;et=1271522666540&amp;er=76" /><embed style="width: 420px; height: 158px;" type="application/x-shockwave-flash" width="100" height="100" src="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=100410031835-5c7a0dbcc742448bb3785b271eaa9534&amp;docName=leitmotif-bi-solo&amp;username=leitmotif&amp;loadingInfoText=LTM-KBI-SOLO2010&amp;et=1271522666540&amp;er=76" flashvars="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=100410031835-5c7a0dbcc742448bb3785b271eaa9534&amp;docName=leitmotif-bi-solo&amp;username=leitmotif&amp;loadingInfoText=LTM-KBI-SOLO2010&amp;et=1271522666540&amp;er=76" menu="false" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="400" height="300" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=10999450&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="400" height="300" src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=10999450&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><a href="http://vimeo.com/10999450">Pemenang Keempat Sayembara Gedung Kantor Bank Indonesia Solo</a> from <a href="http://vimeo.com/jongarsitek">jongArsitek!</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p>Pemenang Keempat Sayembara Gedung Kantor Bank Indonesia Solo : ABDC – Ardi Bardi Design Collaboration – Architect: Soebchardi Rahim; Architect in Record: Ardi Jahya, IAI; Collaborator: PT. Airmas Asri  Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/04/18/video-presentasi-karya-arsitek-indonesia-di-singapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deus Ex Machina_MKII (Instalasi jongArsitek! x kotakotak di Ngajak Ribut, Bandung)</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2010/04/13/deus-ex-machina_mkii-instalasi-jongarsitek-x-kotakotak-di-ngajak-ribut-bandung/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2010/04/13/deus-ex-machina_mkii-instalasi-jongarsitek-x-kotakotak-di-ngajak-ribut-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 02:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perkembangan keilmuan dan kesenian, pada dasarnya manusia adalah pencari kepuasan diri. Sebuah proses dalam usaha pemenuhan dasar hidup. Bermula dari nomadisme hidup yang terantuk pemenuhan kebutuhan dasar, manusia kemudian berevolusi hingga mampu menetap pada suatu lingkup, mendomestifikasi dirinya sendiri, seperti prinsip ekonomi buta demi meminimalisir usaha, guna mendapatkan keuntungan, memenuhi seluruh kebutuhannya dengan usaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-797" title="banner_deus" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/04/banner_deus.jpg" alt="banner_deus" width="750" height="120" /></p>
<p>Dalam perkembangan keilmuan dan kesenian, pada dasarnya manusia adalah  pencari kepuasan diri. Sebuah proses dalam usaha pemenuhan dasar hidup.<span id="more-793"></span></p>
<p>Bermula  dari nomadisme hidup yang terantuk pemenuhan kebutuhan dasar, manusia  kemudian berevolusi hingga mampu menetap pada suatu lingkup,  mendomestifikasi dirinya sendiri, seperti prinsip ekonomi buta demi  meminimalisir usaha, guna mendapatkan keuntungan, memenuhi seluruh  kebutuhannya dengan usaha yang minim. Cara hidup dan budaya ini kemudian  mempengaruhi perkembangan sejarah dan teknologi, sebuah prilaku yang  baru, usaha-usaha baru untuk terus mempermudah hidup, mencipta dan  berkreasi meminimalkan gerak.</p>
<p>Manusia yang dulunya biadab,  kemudian menjadi beradab, menciptakan kebudayaannya sendiri, menciptakan  perilaku, budaya dan aturan yang mengatur hubungannya dengan sesama.  Manusia lebih lanjut lagi menciptakan teknologi sebagai perayaan  kemudahan dalam berbudaya, mengatur hubungan manusia dengan segala  sesuatu. Mengatur untuk mencipta sesuatu.</p>
<p>Bahkan realitas.</p>
<p>Tuhan  yang sebelumnya adalah pokok pikiran yang lahir dari kemandekan dan  keterbatasan akal akan sesuatu yang tak terjelaskan, kini perlahan  beralih, perlahan terganti, karena mencipta adalah kemudahan.</p>
<p>Manusia  menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Teknologi menggantikan cara  Tuhan mencipta, me reka kejadian-kejadian, menjawab pertanyaan. Hidup  menjadi maya, ilmu, budaya, dan seni mengekornya.</p>
<p>Google =  alkitab?<br />
Facebook = ruang publik?<br />
Wiki = sekolah?<br />
Televisi =  hiburan?</p>
<p>Rasanya telah terjadi kemandekkan proses budaya dalam  tubuh bangsa ini. Proses yg dulunya sedang berkembang kemudian tergerus  oleh produk-produk yang di inkulturasikan secara paksa oleh para pembawa  sistem kepercayaan baru. Produk kebudayaan yang akhirnya dipaksakan ke  dalam kepercayaan kita sebagai satu gaya hidup baru, satu perubahan yang  selalu dipercaya secara mentah membawa peningkatan kualitas hidup kita.</p>
<p>Inilah  kita, pada jaman di mana manusia diperkosa oleh orang-orang yang  memiliki kekuatan teknologi. Diperkosa, karena kita dipaksa untuk  menikmati, tanpa bisa memilih, apa yang dihadirkan di dunia.</p>
<p>Teknologi  lalu diterjemahkan sebagai pembatas budaya yang mutlak. Menjadi  pembatas kebebasan berkehendak melalui dogma-dogma yang senada.</p>
<p>Bisa  kah kita kembali menjadi Tuhan bagi diri kita sendiri?</p>
<p>Melenyapkan  kekangan sang pemerkosa, menjadikan kita sebagai penentu kembali?</p>
<p>Membebaskannya?</p>
<p>Apa  pilihannya?</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="400" height="300" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=10772497&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="400" height="300" src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=10772497&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><a href="http://vimeo.com/10772497">Deus ex Machina_MkII</a> from <a href="http://vimeo.com/user2716330">bincang2_cupleez</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Media</span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">Kardus &#8211; Kaca &#8211; Mika</span></p>
<p>Kardus  yang dibentuk sebagai pelingkup instalasi video serta animasi interaktif  yang merangkul teknologi, justru bertindak sebagai antitesis dari  teknologi melalui petanda yang dirangkum oleh material yang terbentuk  dari bahan-bahan alami namun melalui proses manipulasi ekstensif  sehingga mengalterasi karakteristik fisiknya secara utuh.</p>
<p>Kaca  sebagai media sentuh yang menghubungkan penyiar informasi dengan  pengamat yang menerima informasi, berlaku sebagai bidang pembatas  transparan yang membebaskan pertukaran ide.</p>
<p>Mika sebagai objek  yang difungsikan sebagai perpanjangan kehendak bebas pengamat,  ditafsirkan</p>
<p>sebagai bidang ide yang dapat saja bertumpuk dan  saling berkolaborasi membentuk ide baru yang saling mengisi. Pertukaran  ide tidak lagi melalui suatu jalur linear yang stagnan, namun menjadi  lebih cair serta memungkinkan tumbuhnya area abu-abu yang lebih sarat  makna.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-795" title="how to" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/04/how-to.jpg" alt="how to" width="497" height="700" /></p>
<p><span style="font-weight: bold;">Video Interaktif</span></p>
<p>Menampilkan  penyederhanaan stereotipe karakter manusia muda yang mudah ditemukan  pada media informasi modern. Sisi interaktif dari karya video, berusaha  menampik kenyataan bagaimana konsumen tidak diberi hak suara untuk  menentukan karakter dari informasi yang diterima. Pilihan yang tersedia  tetap dibatasi (agar tetap sesuai dengan kebutuhan penyiar informasi  untuk menyampaikan suatu ide spesifik) sehingga terjadi komunikasi  timbal-balik yang berlanjut.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Audio</span></p>
<p><span style="font-style: italic;">Gospelmaschine.</span> Lagu ini diawali  dengan bebunyian synthesizer yang ditimpali oleh dentingan gitar sendu.  Unsur gospel diraih dengan digunakannya suara church organ untuk  mengawal suara synthesizer di awal. Penggunaan sedikit tabla di awal  juga mengedepankan sedikit unsur world music yang dipadu dengan ketukan  1/4 notasi dari drum. Ketukan drum yang kedua, didistorsi pada untuk  menggambarkan unsur kejiwaan manusia yang terkadang terdistorsi oleh  godaan godaan nafsu.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Whimsical  Revenge</span>. Dirunut dari judulnya, kita bisa membayangkan, bahwa  betapa Tuhan itu senang sekali bermain-main dengan nasib manusia, sampai  tidak jarang ada yang berpikir bahwa ia dendam pada manusia. Nada-nada  yang sedikit “playful” namun diiringi oleh bassline yang bernuansa noir  dan bebunyian synthesizer ber-tremolo (agar membawa nuansa mesin dan  pembayangan masa depan). Sayatan string yang menusuk digunakan sebagai  “sindiran” atas televisi.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Kotakotak merupakan wadah kolektif kolaboratif yang berupaya  mengolah rupa, gerak, suara,</span><span style="font-style: italic;">menjadi  suatu bentuk inovasi media yang memadukan rangsang-rangsang terpisah  menjad</span><span style="font-style: italic;"> suatu bentuk gubahan  rangsang baru dengan memberi pengalaman lengkap akan dunia yang</span><span style="font-style: italic;"> terbentuk dari kombinasi tanpa batas  antar kosakata rangsang yang mampu diserap oleh indra.</span></p>
<p><span style="font-style: italic;">jongArsitek! dan Kotakotak terdiri dari Assa Nuraga, Baskoro  Gondokusumo, Davey Pinanda Araeza Sagala,</span><span style="font-style: italic;"> Paskalis Khrisno Ayodyantoro, Peter Charles  Tambuwun, Rama Adhitya, &amp; Sukmaji Hanindyo</span><span style="font-style: italic;"> Kumoro.</span></p>
<p><span style="font-style: italic;">talent : inez elodhia maharani, valia rahma</span></p>
<p><span style="font-style: italic;"><img class="alignnone size-full wp-image-811" title="model" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/04/model.jpg" alt="model" width="509" height="720" /><br />
</span></p>
<p><span style="font-style: italic;"><img class="alignnone size-full wp-image-796" title="playing" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2010/04/playing.jpg" alt="playing" width="540" height="720" /><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2010/04/13/deus-ex-machina_mkii-instalasi-jongarsitek-x-kotakotak-di-ngajak-ribut-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yona Friedman Talks</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2009/12/07/yona-friedman-talks/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2009/12/07/yona-friedman-talks/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 06:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Hal menyenangkan bagi saya bersekolah di luar negeri adalah perpustakaan, tersedianya berbagai buku dan jurnal membuat saya nyaman &#8216;menunggu&#8217; di sekolah. Malam itu saya menunggu kuliah umum Yona Friedman, dalam kesempatannya berpameran di Brescia, Stefano Boeri-salah satu pengajar Polimi-&#8217;menculik&#8217;nya untuk diskusi kecil di aula kampus saya. Yona Friedman dikenal banyak lewat pemikirannya ttg &#8216;mobile architecture&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-483" title="banner-yona" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/banner-yona.jpg" alt="banner-yona" width="750" height="120" /></p>
<p>Hal menyenangkan bagi saya bersekolah di luar negeri adalah perpustakaan, tersedianya berbagai buku dan jurnal membuat saya nyaman &#8216;menunggu&#8217; di sekolah. Malam itu saya menunggu kuliah umum Yona Friedman, dalam kesempatannya berpameran di Brescia, Stefano Boeri-salah satu pengajar Polimi-&#8217;menculik&#8217;nya untuk diskusi kecil di aula kampus saya.<span id="more-477"></span></p>
<p>Yona Friedman dikenal banyak lewat pemikirannya ttg &#8216;mobile architecture&#8217; tahun 1958-saya kutip dari Google-&#8221;Mobile architecture thus meant an architecture that was available for a &#8220;mobile society&#8221;. &#8216;Spatial City&#8217;, menurut Yona, adalah terminologi yang tepat untuk meletakkan &#8216;mobile architecture&#8217;. Saya menangkap, coba bayangkan kota sebagai rumah, sebaiknya rumah di masa depan bisa fleksibel dirubah dan dimodifikasi berdasarkan kebutuhan penghuni yang berganti-ganti, dengan demikian jangka hidup arsitektur makin panjang, atau &#8216;eternal&#8217;. Bersama teori ini, Yona berhipotesa bahwa sebuah bangunan mesti: pertama, menyentuh tanah seminimum mungkin. Kedua, harus bisa &#8216;dibongkar-pasang&#8217;, sehingga bisa &#8216;dikurangi-ditambah&#8217;, dan Ketiga bisa dirubah berdasarkan kebutuhan penghuni.</p>
<p>Bisa kita pahami pemikiran ini ternyata berpengaruh besar pada gerakan arsitek muda futuris di London, Archigram, juga para Metabolist dari Jepang tahun 60-an. Pikir begini, Pompidou Center di Paris tidak akan ada tanpa Archigram, sedangkan Archigram dikembangkan dari tulisannya Yona Friedman. dan hotel kapsul rancangan Kisho Kurokawa merupakan bentuk 1:1 dari pemikiran &#8216;mobile architecture&#8217;.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan Yona, bukan berarti bangunan yang berpindah, melainkan perpindahan penggunanya, yang memiliki kebabasan bergerak. Saya membayangkan ini seperti masyarakat era informasi yang hidup bepindah tempat. Yang berarti pendekatannya lebih humanis, ke pengguna, embrio yang bersebrangan dengan arsitektur modern. Tapi kalau kita lihat dari terminologi &#8216;modern&#8217;, bisa berarti berkembang terus sesuai jamannya. Terbesit, semua yang kita lihat, pelajari dan buat (desain), kita ketahui secara cuma-cuma (taken for granted), bagaimana ilmu/teori mempengaruhi dari satu jaman ke jaman berikutnya, dari generasi ke generasi.</p>
<p>Pemikiran Yona lebih dari empat dekade lalu itu bisa kita lihat sekarang dalam bentuk &#8216;kontinen&#8217; sebagai metropolis besar, seperti Eropa, dimana-dia memberi contoh-Yona tinggal di Paris, pembantu rumahnya datang dari Lyon naik kereta selama 2 jam, dalam hal ini London bisa menjadi suburb-nya Paris karena jarak tempuh kereta yang sama, sementara Brusel adalah tetangga Paris (lebih dekat lagi). Identitas sebuah benua tidak lagi didefinisi oleh negara, telah menciut menjadi kota, populasi kota bergerak dalam satu hari dimana orang bisa bekerja, makan siang, dan istirahat di tiga kota dalam sehari.</p>
<p>Yona, yang saya pikir adalah perempuan (dari namanya), ternyata sudah kakek-kakek, umurnya 86, lahir 1923 di Budapest, dia melalui perang dunia ke-2. Dalam penceritaan dia yang separuh suara tidak terdengar jelas (maklum sudah tua) dan pendengerannya pun sudah tidak jelas, Yona sempat menghadiri CIAM, kongres arsitektur modern yang digagas oleh Le Corbusier, dan bersinggungan langsung dengan Le Corbusier. Dia bercerita seperti Opa yang mencoba berbagi nilai kehidupan pada cucu-cucunya. Dia berkata, &#8220;Le Corbusier said to me, I can&#8217;t do what you do..so you have to continue what you do.&#8221; Ada nilai transfer semangat dari senior ke Yona-yang saat itu masih muda-dan dalam lecture ini, Yona ke para mahasiswa di aula.</p>
<p>Yona bercerita juga sepeninggal Le Corbusier, CIAM berbuah Team X (baca: team 10) pecah menjadi 2 gerakan New Brutalism di Inggris (Alison &amp; Peter Smithson) dan Structuralism (Aldo van Eyck, Jaap Bakema) di Belanda. Perbincangan ini, begitu menyegarkan, tidak ada tendensi style, apalagi fitur &#8216;hijau&#8217; dalam berarsitektur. Begitu menyenangkan bertemu dengan seorang pemikir arsitektur yang juga saksi sejarah.</p>
<p>Lecture bebas ini mengingatkan saya pada pertemuan serupa di Jakarta, saya lupa acara apa, namun arsitek dan pendidik pendahulu patut mendapat respek besar atas sejarah yang diletakannya. Cerita sejarah dari pelakunya langsung kadang lebih menarik dari pada konferensi isu terkini.</p>
<p>oleh Rafael Arsono</p>
<p>POLITECNICO DI MILANO &#8211; DIAP &#8211; MULTIPLICITY.LAB</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-478" title="P1090273" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/P1090273.JPG" alt="P1090273" width="720" height="540" /><img class="alignnone size-full wp-image-479" title="ev61_2_popup" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/ev61_2_popup.JPG" alt="ev61_2_popup" width="400" height="300" /><img class="alignnone size-full wp-image-480" title="yona-friedman_spatial-city-1960" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2009/12/yona-friedman_spatial-city-1960.JPG" alt="yona-friedman_spatial-city-1960" width="720" height="282" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2009/12/07/yona-friedman-talks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
