<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jongArsitek! &#187; Brilliant!</title>
	<atom:link href="http://jongarsitek.com/category/feature/idea/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jongarsitek.com</link>
	<description>desain menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 01:39:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Video Dokumentasi Rumah Abu Surabaya, oleh Kevinrantingpohon</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/12/01/video-dokumentasi-rumah-abu-surabaya-oleh-kevinrantingpohon/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/12/01/video-dokumentasi-rumah-abu-surabaya-oleh-kevinrantingpohon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 07:59:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongArsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1622</guid>
		<description><![CDATA[A Documentary film about an ancestral house of Han in Surabaya Sebuah dokumentasi mengenai sebuah rumah abu tua di daerah Pecinan kota Surabaya. Video ini, dibuat oleh seorang mahasiswa yang baru lulus dari jurusan desain komunikasi visual, universitas Petra Surabaya, yang di Vimeo (tempat kami menemukan video ini) menamakan dirinya kevinrantingpohon. Tentang arsitektur tradisional, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/24602582?title=0&amp;byline=0&amp;portrait=0" frameborder="0" width="750" height="422"></iframe></p>
<p><strong>A Documentary film about an ancestral house of Han in Surabaya</strong></p>
<p>Sebuah dokumentasi mengenai sebuah rumah abu tua di daerah Pecinan kota Surabaya. Video ini, dibuat oleh seorang mahasiswa yang baru lulus dari jurusan desain komunikasi visual, universitas Petra Surabaya, yang di Vimeo (tempat kami menemukan video ini) menamakan dirinya kevinrantingpohon.</p>
<p>Tentang arsitektur tradisional, saya pribadi merasa bahwa yang terbaik yang bisa kita lakukan, sebagai generasi masa kini, adalah mendokumentasikannya dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Video ini adalah sebuah contoh yang sangat baik.</p>
<p>Terimakasih Kevin, untuk ijin posting ulang, yang sudah diberikan. :)</p>
<p><em>Director: Kevin Reinaldo (twitter: @kevinrantingphn)</em><br />
<em> Script Writter: Kevin Reinaldo</em><br />
<em> DOP: Christianto W (@christvera) &amp; Kevin Reinaldo</em><br />
<em> Animator: Ivan Gunawan (@ivangnwn)</em><br />
<em> SFX: Pamela Wijaya (@pampimpom)</em><br />
<em> Audio Mixing: Recky Risanto (@recky_risanto)</em><br />
<em> Narator: Kevin Reinaldo</em></p>
<p><em>Visit our fanpage: facebook.com/rumahabuhandocumentaryfilm</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/12/01/video-dokumentasi-rumah-abu-surabaya-oleh-kevinrantingpohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jongSinema! OMA &#8211; Rem Koolhas &amp; David Gianotten</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/09/22/jongsinema-oma-david-gianotten/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/09/22/jongsinema-oma-david-gianotten/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 00:15:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[We Proudly Present..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1518</guid>
		<description><![CDATA[On june 20th 2011, jongArsitek! and the Indonesian Institute of Architects, organized a lecture by the Office for Metropolitan Architecture.After more than 50 years, Rem Koolhaas finally set foot back to the country, he so oftenly mentioned, to make impact in his provoking architectural thoughts.Accompanied by his partner and Director of OMA Hongkong, David Gianotten, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>On june 20th 2011, jongArsitek! and the Indonesian Institute of Architects, organized a lecture by the Office for Metropolitan Architecture.After more than 50 years, Rem Koolhaas finally set foot back to the country, he so oftenly mentioned, to make impact in his provoking architectural thoughts.Accompanied by his partner and Director of OMA Hongkong, David Gianotten, they address approximately 500 Indonesian Architects, young and seniors, in two lectures that comprehensively delivered the journey of OMA as an architectural firm and their projects in Asia.</p>
<p>Made by Vidour, this video is for everyone to watch. So don&#8217;t hesitate to share this to everybody you know.</p>
<p>We hope you enjoy this.</em></p>
<p>Pada tanggal 20 Juni 2011, jongArsitek! bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia, mengadakan kuliah umum dari Office for Metropolitan Architecture.Setelah lebih dari 50 tahun, Rem Koolhaas akhirnya menginjakkan kakinya kembali, di negara yang dia seringkali katakan, memberikan pengaruh besar bagi pemikiran-pemikiran arsitekturnya yang memprovokasi.Ditemani oleh partner sekaligus direktur OMA Hongkong, David Gianotten, mereka berbicara di depan 500 lebih arsitek Indonesian, tua dan muda, dalam dua sesi kuliah, yang secara komprehensive menceritakan tentang perjalanan OMA sebagai sebuah firma arsitektur dan proyek-proyek mereka di Asia.</p>
<p>DIbuat oleh Vidour, video ini ada untuk dinikmati oleh semua orang, jadi jangan ragu untuk membagi dan memberitakannya.</p>
<p>Kami harap ini bisa menginspirasi. </p>
<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/29365129?title=0&amp;byline=0&amp;portrait=0" width="750" height="422" frameborder="0" webkitAllowFullScreen allowFullScreen></iframe></p>
<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/28885567?title=0&amp;byline=0&amp;portrait=0&amp;autoplay=0" width="750" height="422" frameborder="0" webkitAllowFullScreen allowFullScreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/09/22/jongsinema-oma-david-gianotten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Publikasi Resmi : PAMERAN RUMAH RUMAH TANPA PINTU</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/09/06/rrtp-official-publication/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/09/06/rrtp-official-publication/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 02:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1497</guid>
		<description><![CDATA[Rumah Rumah Tanpa Pintu ( Houses Without Doors ) from vidour on Vimeo. video by vidour Thirty spokes join at one hub, Yet it is the emptiness inside the hub that makes the vehicle useful; Clay is molded into a vessel, Yet it is the hollowness that makes the vessel useful; Windows and doors are [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/28631807?title=0&amp;byline=0&amp;portrait=0" frameborder="0" width="750" height="420"></iframe></p>
<p><a href="http://vimeo.com/28631807">Rumah Rumah Tanpa Pintu ( Houses Without Doors )</a> from <a href="http://vimeo.com/vidour">vidour</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p>video by vidour</p>
<p><em>Thirty spokes join at one hub,</em><br />
<em> Yet it is the emptiness inside the hub that makes the vehicle useful;</em><br />
<em> Clay is molded into a vessel,</em><br />
<em> Yet it is the hollowness that makes the vessel useful;</em><br />
<em> Windows and doors are cut out,</em><br />
<em> Yet it is their emtpy space that makes the room usable.</em><br />
<em> So, any having makes for excess,</em><br />
<em> Any not-having makes for usefulness.</em></p>
<p>-Lao Tzu-</p>
<p>“Rumah-rumah tanpa pintu” adalah sebuah pameran yang bertujuan mengajak rekan-rekan untuk memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan lain dalam desain arsitektur. Sifat dari pameran ini, adalah exercise desain. Melepaskan klien sebagai konteks, untuk memperbesar ruang eksplorasi arsitektur. Melupakan kelaziman ruang yang telah tersepakatkan dan digunakan sehari-hari untuk mencari bentuk baru dari sebuah kebutuhan ruang.<br />
<em>”Houses without doors” is an exhibition with the purpose to appeal to other fellow architects to expose different kinds of possibilities in architectural design. The nature of this exhibition is design exercise. Separating oneself from clients as context, in order to expand the room for architectural exploration. Taking old precedents, out of considerations and start fresh to discover new shapes to meet certain room requirements. </em></p>
<p>Tidak ada maksud, makna atau hubungan yang filosofis dari kata “pintu” yang saya maksud disini. Pintu, di pameran ini, adalah pintu yang kita kenal, selalu lihat dan buka-tutup sehari-hari, seumur hidup kita. Pintu, yang meskipun menurut Lao Tzu kalah penting dibanding ruang kosong di dalamnya, namun tidak pernah dan tidak boleh absen dari arsitektur modern yang sering kita lihat di Indonesia. Bahkan dalam sejarah arsitektur tradisional pun, pintu tidak pernah tidak ada, ia selalu ada, kadang menyimbolkan sebuah tradisi, kadang penanda untuk status sosial seseorang atau satu golongan.<em>There are no philosophical meaning nor philosophical relationships, from the word “door” that is meant in this exhibition. Door, in this exhibition, is the door that we all familiar with. Door, that we always see and close-and-open everyday. The door, that even though according to Lao Tzu, is less important than the empty space it connects, but never seems to be absent from any typology of architecture, in modern time. </em></p>
<p>Pintu yang hadir di tiap tipologi arsitektur, adalah sebuah elemen pembentuk hubungan ruang, sekaligus alat untuk mengatur privasi sebuah ruang. Sebuah bidang, yang dengan geraknya, mengatur penggunaan ruang tertentu, membuatnya berfungsi.<br />
<em>In every typology of architecture, door makes its presence as an element that creates connection between spaces and controlling the degree of privacy of a certain space. A surface, that with it’s movement, controls the usage of a space, making it functioning. </em></p>
<p>Dengan sifatnya yang sebetulnya sangat temporer, pintu adalah elemen arsitektur yang sangat rapuh keberadaannya (ia bisa dirusak atau dicopot dengan mudah), namun tidak pernah dia dihilangkan. Sistem ruang arsitektur yang kita kenal selalu membutuhkan pintu.<br />
<em>WIth it’s temporality, door is an architectural element, whose existence is very fragile (It can easily be removed or replaced, or be destroyed), but somehow it just never be omitted. The architectural system, as we know it, has always had the needs for door. </em></p>
<p>Sebagai kebutuhan primer manusia, rumah adalah juga jenis arsitektur yang paling terbuka terhadap pencarian kemungkinan ruang, yang berbeda dari apa yang lazim dibuat. Program-program ruang yang ada di dalamnya, bukanlah jenis program yang memiliki banyak ketentuan yang mengikat.<br />
<em>As one of the primary needs of every human, house is a type of architecture, that is open for exploration of spatial possibilities, that is different from what has always been done. The programs inside it, are the kinds that doesn’t have many requirements that is restricting.<br />
</em></p>
<p>Bagi Indonesia, arsitektur rumah adalah tipologi arsitektur yang mendominasi wajah arsitektur kontemporer-nya. Bagi arsitek Indonesia, lazimnya, rumah adalah proyek pertama, eksperimen pertama, kesempatan pertama utk membuat sebuah karya terbangun. Bagi setiap orang, rumah adalah jenis tipologi arsitektur yang paling mungkin mereka bangun.<br />
<em>For Indonesia, houses is the typology of architecture that dominates the face of its contemporary architecture. For Indonesian architects, it is common that houses are among the first projects, the first experiment, or the first chance to make a built work. For most of common people, house is the most possible typology of architecture, that they can built. </em></p>
<p>Memikirkan ulang kemungkinan ruang yang dapat terjadi dalam sebuah rumah, bisa berarti salah satu cara untuk memperbesar kemungkinan dalam memperkaya kebudayaan bangun kita.<br />
<em>To re-think the possibilities in designing a house, can possibly be a way to broaden up the chances in refining our architectural culture. </em></p>
<p>Dalam pameran ini, saya mengajak beberapa rekan, yang secara langsung saya kenal baik (baik pribadinya, maupun pemikiran arsitekturalnya) untuk mencari kemungkinan ruang yang dapat terjadi, jika sebuah rumah dibangun tanpa memiliki pintu. Bagaimana kemudian privasi dapat dicapai, dan cara-cara apa saja yang dapat digunakan untuk memberikan privasi kepada tiap-tiap ruang yang diperlukan dalam sebuah rumah, selain apa yang selama ini lazim dikenal oleh kebanyakan masyarakat.<br />
<em>In this exhibition, i invited 11 young architects to deliver their thoughts, on how will a house be designed, if there are no doors in it. How will they conceive privacy, if the tool that is used to control, or create privacy, is omitted from the most private typology of architecture. How will privacy be obtained, and what are the methods that they are going to use, to give each rooms the level of privacy needed. </em></p>
<p>Mereka yang berpameran ini, datang dari berbagai latar belakang. Ada yang selama beberapa tahun bekerja di Eropa, ada yang pernah bersekolah di Eropa, ada yang baru saja lulus kuliah, ada yang pernah bekerja untuk arsitek-arsitek terbaik Indonesia, ada yang aktif mengajar di salah satu Universitas swasta dalam negeri. Latar belakang yang berbeda, membuat mereka melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda dan mengangkat konteks yang berbeda-beda pula.<br />
<em>These architects, comes from a very diverse background. There are some who spent several years working abroad, some once went to school abroad, there are fresh graduates, some have had worked for prominent Indonesian architects, and some are actively teaching in local university. Background diversity, such as this, is a breath of fresh air, in an architectural climate that tends to be monotonous, like in Indonesia. </em></p>
<p>Di pameran ini, kita bisa melihat, bagaimana hilangnya satu bagian dari rumah, yang biasanya hanya kita lewati, bisa mengubah persepsi, pemahaman, dan bentuk dari rumah tinggal. Yang menggembirakan, adalah tidak ada diantara mereka yang sepaham. Semua memiliki cara mereka sendiri<br />
<em>In this exhibition, we can witness how the absence of a single part of house that we usually only pass by, can change the whole perspective, understanding, and shape of houses that we always knew. It is a pleasant feeling to know, that none of their works are similar. They all have their own way to answer the problem. </em></p>
<p>Lewat pameran ini, saya ingin mengajak sebanyak-banyaknya rekan, untuk bersama-sama menggairahkan arsitektur Indonesia, lewat pemikiran-pemikiran yang lebih beragam, mengenai ruang dan arsitektur. Membongkar kembali pemahaman-pemahaman dan kesepakatan-kesepakatan mengenai arsitektur dan ruang, dengan kesadaran untuk memberikan sesuatu yang baru kepada kebudayaan bangun bangsa ini. Menyusun kembali semuanya dalam sebuah susunan pemikiran yang berbeda dari yang dikenal selama ini.<br />
<em>Through this exhibition, we would like to ask as many colleagues as possible, to stimulate Indonesian architecture with more diverse thoughts about spaces and architecture. To deconstruct all common understandings and consensus, about space and architecture, with a firm awareness to give something new to Indonesian architectural culture. To reconstruct everything, in a new arrangement, unlike anything Indonesian architecture has ever seen. </em></p>
<p>Terlalu lama, arsitektur di bangsa ini dibiarkan membosankan, dalam keseragaman paham dan bentuk.<br />
<em>Too long, have we let architecture in this nation, become a bore, with it’s uncanny uniformity of thoughts and forms. </em></p>
<p>Danny Wicaksono</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-33-1497">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://jongarsitek.com/2011/09/06/rrtp-official-publication/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-1294" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/1.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="1" alt="1" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1295" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/10.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="10" alt="10" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_10.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1296" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/11.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="11" alt="11" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_11.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1297" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/12.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="12" alt="12" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_12.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1298" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/13.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="13" alt="13" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_13.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1299" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/14.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="14" alt="14" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_14.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1300" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/15.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="15" alt="15" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_15.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1301" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/16.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="16" alt="16" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_16.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1302" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/17.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="17" alt="17" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_17.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1303" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/18.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="18" alt="18" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_18.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1304" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/19.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="19" alt="19" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_19.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1305" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/2.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="2" alt="2" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1306" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/20.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="20" alt="20" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_20.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1307" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/21.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="21" alt="21" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_21.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1308" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/22.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="22" alt="22" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_22.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1309" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/23.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="23" alt="23" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_23.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1310" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/24.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="24" alt="24" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_24.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1311" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/25.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="25" alt="25" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_25.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1312" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/26.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="26" alt="26" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_26.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1313" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/27.jpg" title=" " rel="lightbox[set_33]" >
								<img title="27" alt="27" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/dialogue/thumbs/thumbs_27.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-navigation'><span class="current">1</span><a class="page-numbers" href="http://jongarsitek.com/2011/09/06/rrtp-official-publication/?nggpage=2">2</a><a class="page-numbers" href="http://jongarsitek.com/2011/09/06/rrtp-official-publication/?nggpage=3">3</a><a class="next" id="ngg-next-2" href="http://jongarsitek.com/2011/09/06/rrtp-official-publication/?nggpage=2">&#9658;</a></div> 	
</div>

<br />
foto oleh Astrid Reniza, dan Dia.lo.gue</p>
<p><em>baca lebih lanjut untuk abstrak masing masing karya</em><br />
<span id="more-1497"></span></p>
<p><strong>Detail Karya</strong></p>
<p>1. <strong>“Halang Gerak” &#8211; SUB</strong></p>
<p><em>Fisik pintu dalam ruang imajiner memiliki interpretasi dalam bentuk lain. Dalam berbagai bentuk baru yang tidak terbatas jumlahnya, seperti partisi yang membatasi, mencipta sebuah ilusi ruang.</em></p>
<p>Abstraksi :<br />
Pintu adalah penghalang gerak yang digunakan untuk menutupi bukaan.<br />
Tangga merupakan bentuk lain penghalang gerak yang membatasi ruang secara vertikal, mengontrol suasana fisik dalam ruang melalui permainan tingkat.</p>
<p>Fisik pintu dalam ruang imajiner memiliki interpretasi dalam bentuk lain.<br />
Dalam berbagai bentuk baru yang tidak terbatas jumlahnya, seperti partisi yang membatasi, mencipta sebuah ilusi ruang.</p>
<p>Konsep pameran, berupa maket dan partisi gypsum dengan ukuran 2.4 x2.4m dengan print out sebuah ilusi ruang.</p>
<p><strong>2. “Rumah Indekos (Boarding House)” &#8211; Wagiono’s</strong><br />
Wagiono Bustami, Rahmat Indrani, Rachman Syamsudin, Aris Nuryahya<br />
<em> Rumah indekos umumnya menekankan pada individualitas dan efektifitas, bahwa ragam kegiatan penghuni dikelompokkan menjadi satu di dalam ruang unit-kamar, lalu ruang lainnya tidak dianggap penting bahkan tidak perlu.</em></p>
<p>Abstraksi :<br />
Kami mahasiswa.<br />
Kami dari kota bandung.</p>
<p>Rumah indekos umumnya menekankan pada individualitas dan efektifitas, bahwa ragam kegiatan penghuni dikelompokkan menjadi satu di dalam ruang unit-kamar, lalu ruang lainnya tidak dianggap penting bahkan tidak perlu.</p>
<p>Kami melihat kemungkinan lain.</p>
<p>Kami merenggangkan hubungan individualitas dan efektifitas.</p>
<p>Mengganti pintu dengan dinding berporos, mengubah tingkat menjadi lapisan lantai, membatasi penggunaan jenis material dan menyusun komposisi kegiatan seimbang antara ruang di unit-kamar dan ruang di luar.</p>
<p>Penghuni lalu menjadi,<br />
Individual juga Sosial.</p>
<p>Ruang-ruang lalu bersifat,<br />
Formal juga Informal.<br />
Privat juga Publik.<br />
Statis juga Dinamis.</p>
<p>…</p>
<p><strong>3. “Rumah Dinding”</strong><br />
Setiadi Sopandi, Johnny Hendro, Raychie Antonio, Devina Andreas</p>
<p><em> proposal rumah dinding menggagas sebuah proses perancangan yang sepenuhnya mengandalkan pengolahan bidang dinding untuk mendapatkan nilai privasi yang proporsional</em><br />
Abstraksi :<br />
proposal rumah dinding adalah interpretasi pameran rumah-rumah tanpa pintu sebagai sebuah kajian/ simulasi perancangan yang dijalankan oleh 3 (tiga) mahasiswa semester 4 untuk mendalami pengertian mengenai program fungsional dan hubungan ruang.<br />
rumah dinding merupakan sebuah simulasi absennya pintu sebagai elemen pembentuk nilai privasi dan berkonsentrasi pada peran dinding sebagai elemen yang menggantikan peran pintu. kita dapat dengan mudah menggunakan pintu untuk membedakan tingkat privasi ruang, namun bila pintu absen, persoalan peralihan tingkat privasi membutuhkan pengolahan lanjut. maka dari itu proposal rumah dinding menggagas sebuah proses perancangan yang sepenuhnya mengandalkan pengolahan bidang dinding untuk mendapatkan nilai privasi yang proporsional. singkat kata, kami hanya mengolah dinding.</p>
<p>rumah dinding merupakan sebuah rumah dengan program ruang yang linear, yang memiliki kedalaman hingga 8 lapis. artinya untuk menempuh ruang paling privat dalam rumah ini, seseorang harus melewati minimal 8 lapis ruangan dan lebih banyak lagi kelokan. semakin privat sebuah ruang, semakin jauh jarak yang ditempuh dan semakin banyak kelokan yang harus dilewati. sehingga secara keseluruhan jarak sirkulasi yang harus dilalui jauh lebih panjang dan berliku daripada rumah berpintu biasa dengan program ruang yang sama. eksplorasi ini murni dilakukan secara dua dimensi, sama sekali tidak melibatkan pembedaan ruang lewat ketinggian pelataran/ lantai.</p>
<p>rumah dinding diilustrasikan lewat 2 varian dengan program ruang yang sama persis. rumah dinding varian pertama menggunakan hanya dinding-dinding yang sejajar dengan sumbu x dan sumbu y. rumah dinding varian kedua menggunakan hanya dinding-dinding kurva, seperti gulungan kertas yang terbuka. meskipun didasarkan pada program dan organisasi ruang yang sama, kedua varian ini memberikan proses pencapaian dan pengalaman ruang yang berbeda. secara sepintas varian pertama menyerupai sebuah labirin, sementara varian kedua menyerupai sebuah denah rumah tradisional.</p>
<p><strong>4. “Rumah ini hanya perlu 1 pintu” &#8211; Andreas Susandika</strong></p>
<p><em> Pemisahan zona (horizontal-vertikal), perletakan dinding dan pengaturan sirkulasi adalah cara paling alami untuk memisahkan antara ruang publik dan ruang privat. Jika sudah demikian, maka pintu tidak lagi terlalu diperlukan.</em></p>
<p>Abstraksi :<br />
Pintu bagi saya adalah symbol paranoia. Ketakutan berlebih jika privasinya dilanggar, membuat desain rumah pada umumnya di Indonesia memiliki banyak sekali pintu. Setiap jengkal ruangan diberi pintu. Seringkali menyulitkan. Bayangkan sebuah kondisi ketika anda lelah beraktivitas seharian,terjebak kemacetan Jakarta berjam2,kemudian sampai ke rumah, turun dari mobil, membuka pintu mobil, membuka pintu gerbang, kemudian membuka pintu depan rumah lalu masuk kamar yang tentunya harus membuka pintu kamar tersebut.</p>
<p>Apakah pintu-pintu tersebut diperlukan? Jawabannya ya. Namun tidak perlu sebanyak itu. Pintu hanya membuat luas tanah dan bangunan (yang sudah kecil) menjadi semakin kecil. Karena pintu menciptakan batasan2.<br />
Sebuah rumah tanpa pintu, dalam artian tidak benar2 tanpa pintu. Pintu hanya digunakan di ruangan yang membutuhkan privasi maksimal. Dan dalam sebuah keluarga berisikan 4 orang (2 orang tua dan 2 anak), privasi maksimal hanya diperlukan oleh rumah itu sendiri. Yaitu membuat batas antara property milik sendiri dengan lingkungan sekitar. Ya, sebuah rumah dengan 1 pintu. Pintu Gerbang.</p>
<p>Bagaimana cara menciptakan privasi antara penghuni rumah yang satu dengan yang lainnya? Mari kita lihat sejenak, rumah terbagi atas 2 zona besar. Zona public (ruang keluarga,ruang makan,halaman dst). Zona ini sama sekali tidak membutuhkan privasi, justru keterbukaan akan meningkatkan keintiman. Zona privat (kamar). Apakah kamar anak membutuhkan sebuah pintu? Pintu hanya akan membuat anak tersebut dapat berbuat hal-hal yang dilarang oleh peraturan rumah tersebut. Dengan tidak adanya pintu, diharapkan seorang anak akan bertanggung jawab dalam melakukan segala sesuatunya di kamarnya dia sendiri. Sedangkan kamar orang tua? Ego orang tua membuat mereka lebih butuh privasi. Membuat kamar orang tua tanpa pintu tetaplah sebuah kemugkinan. Dengan meletakkan kamar orang tua di area dengan hirarki paling tinggi,privasi kamar tersebut akan terjaga. Dalam budaya Indonesia, seorang anak akan sangat sungkan masuk ke kamar orang tuanya, apalagi jika diletakkan di lokasi yang berbeda secara hirarki, terlepas ada pintu atau tidak.</p>
<p>Pemisahan zona (horizontal-vertikal), perletakan dinding dan pengaturan sirkulasi adalah cara paling alami untuk memisahkan antara ruang publik dan ruang privat. Jika sudah demikian, maka pintu tidak lagi terlalu diperlukan.</p>
<p>Bagaimana dengan keamanannya? Orang tua saya pernah berkata “jika kamu tidak pernah mencuri, maka kamu tidak usah takut dicuri”.</p>
<p>Rumah ini hanya perlu 1 pintu..</p>
<p><strong>5. “Paracity” &#8211; Kotak-kotak</strong></p>
<p><em>“Kami tak butuh pintu, karena tak lagi percaya perubahan akan menuju yang baik.</em><br />
<em> Kami tak butuh pintu, karena arah sudah tak terurai menjadi hal yang</em><br />
<em> terdefinisikan.</em><br />
<em> Kami tak butuh pintu, karena yang tak kami izinkan tak lagi mendengar</em><br />
<em> keinginan kami.&#8221;</em></p>
<p>Abstraksi :<br />
&#8220;Pintu (di luar fungsi fisiknya) merupakan sekumpulan simbol yang secara lazim membahasakan kepada masyarakat berpintu (dan berjendela) akan perubahan, memberitakan arah, mengawal yang tak boleh dijamah. Namun di tengah masyarakat berpintu yang tak lagi tenang meninggalkan gerak di antara arah yang tak lagi terberitakan atau kepemilikan yang tak jelas keterjamahannya, pintu kehilangan esensi simboliknya –dan dengan demikian memaksa fisiknya menjadi kemubadziran.</p>
<p>Kami tak butuh pintu, karena tak lagi percaya perubahan akan menuju yang baik.<br />
Kami tak butuh pintu, karena arah sudah tak terurai menjadi hal yang<br />
terdefinisikan.<br />
Kami tak butuh pintu, karena yang tak kami izinkan tak lagi mendengar<br />
keinginan kami.&#8221;</p>
<p>Tanpa pintu, pelingkup privasi manusia akan dikembalikan pada alam (yang bumi maupun yang terkontaminasi manusia). Ruang hidup kembali memeluk topografi dan guratan-guratan yang tertera sebelum manusia memutuskan untuk menetap. Yang lampau menjadi indung yang dilingkupi, diisi, dilengkapi. Gerak pada ruang yang tak mampu ditawar untuk tetap planar, membentuk dinamisme baru pemisah yang privat. Kesendirian dicapai melalui pembatasan gerak tubuh yang dipaksa merangkak, melongok, memanjat, menyusur. Solusi menjadi sekedar perangkum yang tersisa.</p>
<p>Lalu, kami menunggu yang banal terjadi kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kotakotak merupakan wadah kolektif kolaboratif yang berupaya mengolah rupa, gerak, suara, menjadi suatu bentuk inovasi media yang memadukan rangsang-rangsang terpisah menjadi suatu bentuk gubahan rangsang baru dengan memberi pengalaman lengkap akan dunia yang terbentuk dari kombinasi tanpa batas antar kosakata rangsang yang mampu diserap oleh indra.</p>
<p>Paskalis Khrisno Ayodyantoro, Rama Adhitya, Sukmaji Hanindyo Kumoro<br />
maket permukiman oleh : muhammad ali ridlo<br />
video hutan : Ronaldiaz Hartantyo</p>
<p><strong>6. “Rumah Kura-kura” &#8211; Indonesian Dreams</strong></p>
<p><em> rumah yang semua komponennya adalah pintu (sehingga tidak terdefinisikan lagi sebagai pintu), ruang dapat ditransformasikan menjadi ruang terbuka multifungsi dengan membuka dan menggeser hampir semua dindingnya. Transformasi yang fleksibel ini memungkinkan penghuni menciptakan bermacam bentuk ruang yang dibutuhkan.</em></p>
<p>Abstraksi :<br />
Dengan pertimbangan bahwa rumah tanpa pintu dapat diinterpretasikan sebagai rumah yang semua komponennya adalah pintu (sehingga tidak terdefinisikan lagi sebagai pintu), kedua rumah ini dirancang berupa ruang tertutup 4 m2 yang mewadahi kebutuhan hunian primer seperti tidur, makan, dan MCK, dan dapat ditransformasikan menjadi ruang terbuka multifungsi dengan membuka dan menggeser hampir semua dindingnya. Transformasi yang fleksibel ini memungkinkan penghuni menciptakan bermacam bentuk ruang yang dibutuhkan.<br />
Rumah pertama adalah kotak tertutup 2m x 2m dengan tinggi 2 m yang rata di semua sisinya. Hanya lantai, atap, dan satu dinding tegak yang dipasang mati; dengan mengangkat dan menjatuhkan daun-daun pada sisi lainnya, luas lantai bertambah hingga 4 kali lipat. Variasi buka-tutup dinding ini memungkinkan penghuni menciptakan beragam derajat keterbukaan, luas ruang, dan bentuk rumah. Namun, fitur utama rumah ini adalah furniture tersembunyi yang dapat dimunculkan ke luar dari lantai (ranjang) dan dinding belakang (rak).<br />
Rumah kedua adalah kotak tertutup 2m x 2m dengan tinggi 3 m. Dasar setinggi 1 m, dibuat dari material tahan-air, mewadahi gudang sepeda dan separo ketinggian kamar mandi. Unit hunian di atasnya setinggi 2 m tersusun atas sejumlah daun yang dapat dibuka-tutup secara horisontal dan vertikal, memunculkan teras beratap 1 m di ketiga sisinya; dilengkapi pula dengan furniture built-in seperti ranjang (tersimpan di gudang sepeda pada siang hari), lemari, wastafel, dan kompor. Oh, dan untuk memasuki kamar mandi, angkatlah separo lantai – yang langsung berubah menjadi separo dindingnya.</p>
<p><strong>7. “Ruang Jarak” &#8211; Heh Studio (Andesh Tomo, Ario Sasongko, Endy Ersal, Indra Sutopo Abstraksi poster )</strong><br />
<em>sebuah rumah yang terdiri dari kumpulan ruang-ruang abstrak yang dilahirkan dari keberagaman jarak, dan permainan solid void bidang yang menghasilkan keberagaman sudut pandang.</em><br />
Abstraksi :<br />
Kami merasa manusia selalu berusaha untuk membuat privasi, salah satunya melalui sebuah batasan-batasan visual, audio, juga fisik atau kombinasi dari ketiganya. Seperti kegiatan mandi yang tidak ingin dilihat, atau kegiatan diskusi yang tidak akan dilakukan beberapa orang dalam kondisi ruang yang berisik.</p>
<p>Hal ini dipengaruhi kuat atas informasi-informasi yang sudah terekam dalam masing-masing otak manusia, semakin banyak informasi yang di tangkap, semakin kompleks variabel-variabel pembatas tersebut. Ini menjelaskan mengapa anak kecil tidak malu melakukan kegiatan mandi dalam kondisi terlihat oleh orang banyak, hal ini jelas sangat berbeda pada orang dewasa.</p>
<p>Selain faktor informasi beberapa hal yang juga mempengaruhi manusia dalam mendefinisikan sebuah privasi adalah faktor lingkungan dan budaya. Pria arab sangat berdekatan ketika berbicara dengan pria arab lainnya bahkan mungkin akan merangkul dan mencium bahu kanannya, bahkan pria arab mungkin akan benar-benar memegang tangan teman pria-nya ketika berjalan. Tetapi pria dan wanita akan berdiri lebih jauh ketika berbicara di arab daripada di barat.</p>
<p>Sebelum adanya dinding dan pintu, sebelum adanya tipologi ruang yang kita kenal sekarang, sebelum adanya materi, hal pertama yang membuat batas fisik, batas visual maupun audio adalah rentang jarak. Hal ini dikarenakan manusia pasti memiliki batas kemampuan untuk mendengar atau melihat.</p>
<p>Karena itu kami mencoba membuat sebuah rumah yang terdiri dari kumpulan ruang-ruang abstrak yang dilahirkan dari keberagaman jarak, dan permainan solid void bidang yang menghasilkan keberagaman sudut pandang. Entitas pintu tidak lagi hadir dalam bentuk bidang solid yang dapat di gerakkan (putar, lipat, geser atau kombinasi ketiganya). Tidak ada elemen arsitektur yang dapat digerakkan semua merupakan bidang permanen.</p>
<p><strong>8. “Permeable Beads House” &#8211; SHAU</strong><br />
Florian Heinzelmann, Daliana Suryawinata, ass. Winbin Chew</p>
<p><em>Ruang hipotetis di daerah tropis. Tidak ada dinding, melainkan jutaan manik-manik semi transparan yang digantung vertikal, membentuk tirai tebal dan tipis yang mudah ditembus oleh penghuni kapan saja. Maka ‘pintu’ menjadi sebuah event temporer yang terjadi hanya bila dibutuhkan. Efek peekaboo.</em><br />
Abstraksi :<br />
Ruang hipotetis di daerah tropis. Tidak ada dinding, melainkan jutaan manik-manik semi transparan yang digantung vertikal, membentuk tirai tebal dan tipis yang mudah ditembus oleh penghuni kapan saja. Maka ‘pintu’ menjadi sebuah event temporer yang terjadi hanya bila dibutuhkan. Efek peekaboo. Tipis dan tebalnya tirai manik-manik bergantung dari program ruang. Untuk ruang yang paling intim, 5-6 layer; untuk ruang yang mudah diakses dari luar, 1-2 layer. Manik-manik terbuat dari bahan yang reflektif terhadap cahaya, mengizinkan sinar matahari yang sudah terefraksi dan terdifraksi 1,000,000 kali ke dalam ruangan. Penghawaan cross ventilation termaksimisasi. Bilamana serangkaian manik-manik bergerak, rangkaian manik-manik lainnya menyambut dengan alunan musik manik-manik yang mengantarkan penghuni pada suatu ruang yang sublim.</p>
<p>Denah persegi 18mx9m. Sebuah atap, sebuah platform dan manik-manik. Konsep ini mempertanyakan esensi arsitektur modern.</p>
<p><strong>9. “Flip Flap”- ILATAAJ</strong></p>
<p><em>Rumah tanpa pintu berpenampilan sebagai rumah banyak pintu. Pengaburan (bluring) antara elemen dinding, jendela, pintu membuat pembedaan menjadi sulit, serupa dengan teknik kamuflase. Pergerakan buka-tutup yang mirip dengan kepakan (flip flap)</em><br />
Abstraksi :<br />
Dengan berbagai kompleksitas kondisi urban, ILATAAJ ingin tetap merespon konteks keamanan di tempat kediaman dalam kota. Pintu merupakan elemen bangunan yang paling umum kita temui untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan mekanisme panel buka-tutup dan kunci. Mekanisme ini menjadi ide dasar untuk mewadahi aktivitas sehari-hari rumah.<br />
ILATAAJ mengembangkan sebuah sistem mekanisme dari organisasi panel. Sistem ini dibuat sebagai solusi flexibel untuk kegunaan facade dan partisi internal. Elemen vertikal terintegrasi yang meredefinisi kategorisasi dinding, jendela, dan pintu.<br />
Pengembangan mekanisme ini mengadopsi sistem struktur gunting yang banyak digunakan sebagai pintu harmonika di Indonesia. Sistem dikembangkan menjadi bidang- bidang vertikal yang bisa bertransformasi antara terlipat-lipat atau terexpansi.<br />
Produk ini didesain dengan teknik kit-of-parts di mana organisasi panel-panel dapat dibongkar ke elemen-elemen individual dan dirakit ulang sesuai kebutuhan subyektif pengguna menjadi entitas yang berbeda. Dengan fitur customisable ini, ada beberapa parameter yang berpotensi digunakan sebagai variabel; e.g. : ukuran panel, jumlah segmen, sekuens segmen, dll. Angka-angka tersebut juga dapat dirangkai secara merata, inkremental, atau acak (random); menghasilkan ragam variasi efek visual dan posibilitas penetrasi.<br />
Sesuai saran kuratorial, ILATAAJ mengaplikasikan sistem ini ke salah satu proyek yang sedang berjalan, sebuah rumah tinggal di bilangan Jakarta Barat. Dengan fitur transormable, sistem Flipflap menyediakan flexibilitas untuk terjadinya pergantian program ruang dalam keseharian aktivitas rumah. Rumah yang awalnya di-desain 4 lantai, sesuai kebutuhan keluarga dengan 4 anak di Jakarta, menyusut menjadi 2 lantai.<br />
Penerapan di atas menghasilkan sebuah penampilan rumah yang penuh dengan pintu. Rumah tanpa pintu berpenampilan sebagai rumah banyak pintu. Pengaburan (bluring) antara elemen dinding, jendela, pintu membuat pembedaan menjadi sulit, serupa dengan teknik kamuflase. Pergerakan buka-tutup yang mirip dengan kepakan (flip flap) menjadi keseharian khas rumah ini dan judul materi ILATAAJ untuk Pameran Rumah Tanpa Pintu.</p>
<p>Deliverables Pameran<br />
1. Flash Interface dengan kebutuhan:<br />
Komputer / Laptop Mouse Proyektor Meja / credenza utk proteksi selama pameran berlangsung<br />
2. Set maket dengan 3 varian konfigurasi*<br />
3. Prototipe 1:1 dengan 3 panel yang dapat digerakan*</p>
<p><strong>10. “Hinge and Height” &#8211; 12 Akitek</strong></p>
<p><em>instalasi dengan konsep “ Hinge and Height “ , dimana makna pintu menjadi blur dengan elemen arsitektur yang lain terkait dengan penggunaan engsel yang digunakan oleh seluruh elemen arsitektur tersebut. Kemudian setiap elemen dibuat dengan dimensi yang berbeda &#8211; beda dengan dimensi engsel yang berbeda pula.</em><br />
Abstraksi :<br />
Hinge and Height<br />
“A door is a movable structure used to close off an entrance, typically consisting of a panel that swings on hinges or that slides or rotates inside of a space.”[1]
<p>Pintu pada dasarnya adalah elemen arsitektur yang terdiri dari kusen, panel, pegangan, dan engsel putar atau geser. Secara dimensi kita dapat menjumpai pintu dari ukuran lebar rata – rata 625 mm sampai 2500 mm dan tinggi 1875 sampai 2500mm[2], tergantung dari fungsi yang dinaunginya. Selain fungsinya sebagai tempat masuk ke dalam ruangan, pintu juga dapat digunakan untuk menciptakan kesan monumental. Hal ini bisa kita lihat pada istana atau bangunan peribadatan dengan tinggi yang melebihi dimensi standard. Dalam kontras yang lain terdapat juga pintu berdimensi kecil untuk hewan peliharaan (pet door) yang biasanya di pasang pada pintu induknya yang lebih besar.<br />
Elemen yang membedakan pintu dengan elemen arsitektur lainnya adalah penggunaan engsel dan dimensi yang disesuaikan dengan apa yang di fasilitasi oleh pintu tersebut. Sebuah pintu yang daun pintu nya dibagi dua kemudian di beri engsel tambahan berubah menjadi pintu-jendela. Kemudian sebuah pintu yang diberi lagi engsel didalamnya kemudian diberi bukaan yang lebih kecil bisa disebut pet door[3]. Lalu seperti apakah engsel di masa mendatang? Apakah akan selalu terbuat dari metal yang terdiri dari dua pegangan yang interlocking satu sama lain sehingga bisa berputar. Ataukah bisa terbuat dari material elastis seperti plastik atau silicon yang memanfaatkan lenturnya bahan? Lalu apakah yang terjadi bila semua elemen arsitektur diberikan engsel? Seperti dinding , lantai dan atap yang bisa membuka dan menutup apakah bisa dinamakan pintu?<br />
Untuk pameran rumah tanpa pintu ini, kami berusaha menghadirkan instalasi dengan konsep “ Hinge and Height “ , dimana makna pintu menjadi blur dengan elemen arsitektur yang lain terkait dengan penggunaan engsel yang digunakan oleh seluruh elemen arsitektur tersebut. Kemudian setiap elemen dibuat dengan dimensi yang berbeda &#8211; beda dengan dimensi engsel yang berbeda pula. Instalasi tersebut adalah sebuah model studi detail bagian sirkulasi vertikal yang menghubungkan dua atau lebih lantai diatasnya sebagai bagian dari rumah tanpa pintu keseluruhan. Konsep instalasi tersebut kemudian diusahakan untuk berinteraksi dengan pengunjung (participatory) atau membuat pengunjung dapat berinteraksi dengan pengunjung lainnya dalam instalasi tersebut.<br />
Dimensi : 2m x 2m x 3-4 m<br />
Material : rotan, besi, plastik dan benang</p>
<p>[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Door<br />
[2] Ernst and Peter Neufert, Architects Data, p.185<br />
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Pet_door</p>
<p><strong>11. “Perancangan untuk Area ruang ketiga” &#8211; DOT WORKSHOP</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/09/06/rrtp-official-publication/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedah buku &#8220;Arsitektur Yang Lain&#8221; &#8211; Sebuah Kritik Arsitektur oleh Avianti Armand</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/07/23/bedah-buku-avianti-armand-arsitektur-yang-lain/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/07/23/bedah-buku-avianti-armand-arsitektur-yang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 03:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1461</guid>
		<description><![CDATA[Avianti Armand dan jongArsitek! mengundang anda dalam acara: Bedah buku &#8220;Arsitektur Yang Lain&#8221; &#8211; Sebuah Kritik Arsitektur oleh Avianti Armand Pembicara : Achmad D. Tardiyana, David Hutama, Sonny Sutanto* Moderator : Danny Wicaksono Kamis 28 Juli 2011 Galeri Dia.Lo.Gue Kemang Selatan no 99A, Jakarta Selatan 19.00-22.00 Gratis *dalam konfirmasi didukung oleh Gramedia Pustaka Utama, Galeri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Avianti Armand dan jongArsitek! mengundang anda dalam acara:</p>
<p>Bedah buku &#8220;Arsitektur Yang Lain&#8221; &#8211; Sebuah Kritik Arsitektur oleh Avianti Armand</p>
<p>Pembicara : Achmad D. Tardiyana, David Hutama, Sonny Sutanto*<br />
Moderator : Danny Wicaksono</p>
<p>Kamis 28 Juli 2011</p>
<p>Galeri Dia.Lo.Gue<br />
Kemang Selatan no 99A, Jakarta Selatan<br />
19.00-22.00</p>
<p>Gratis</p>
<p>*dalam konfirmasi<br />
didukung oleh Gramedia Pustaka Utama, Galeri Dia.Lo.Gue, jongArsitek!</p>
<p><a href="http://jongarsitek.com/2011/07/23/bedah-buku-avianti-armand-arsitektur-yang-lain/arsitektur-yg-lain_ok/" rel="attachment wp-att-1462"><img class="aligncenter size-full wp-image-1462" title="Arsitektur-yg-Lain_OK" src="http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/2011/07/Arsitektur-yg-Lain_OK.jpg" alt="" width="750" height="954" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/07/23/bedah-buku-avianti-armand-arsitektur-yang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jongJelajah! with SIA, Debate on : New Asian Architecture Beyond Catch Up (ketchup)</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/07/21/jongjelajah-debate-on-new-asian-architecture-beyond-catch-up-ketchup/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/07/21/jongjelajah-debate-on-new-asian-architecture-beyond-catch-up-ketchup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 07:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[We are Architects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[RUBANISM AND URBANISM: ARCHITECTURE’S CHALLENGE OF OUR TIME 30.1/11 Tay Kheng Soon I feel compelled to enter the discussion. While I appreciate the sentiments and good intentions some have expressed, I have to comment that there is a lot of conceptual confusion in architecture discourse to be cleared up not least because it is derived [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>RUBANISM AND URBANISM: ARCHITECTURE’S CHALLENGE OF OUR TIME</em></p>
<p>30.1/11</p>
<p><strong>Tay Kheng Soon</strong></p>
<p>I feel compelled to enter the discussion. While I appreciate the sentiments and good intentions some have expressed, I have to comment that there is a lot of conceptual confusion in architecture discourse to be cleared up not least because it is derived from certain blind spots due to our self-interest of being beneficiaries of the urban middle class economy we take to be our natural right and reality. Naturally, we tend to think from where we stand. Architecture is thus, for us, a matter of identity making; a matter of appropriate style; of being up-to-date. Architecture has become a consumable; a product like everything else, a style, a personal statement. I therefore urge a more introspective and wider perceptive in order to revitalize the discipline and indeed our life and our purpose.</p>
<p>Our profession has always had a conscience and this makes us vex over the plight of the poor, the disadvantaged and the degradation of environment. But we tend not to question the urban context wherein most of us practice. We believe that urbanism bestows modernity, cosmopolitan culture, intellectual and artistic stimulation and humanistic concerns. We thus equate urbanism with progress itself, civilization and modernity. We urge that through better planning, infrastructure development and social welfare and education for the less privileged believe that eventually everyone will be uplifted. We don’t see a paradigm shift. We find purpose in this for ourselves. And so meanwhile we are critical of the poor management, the corruption and inaptitude of politicians and the bureaucracy but we remain uncritical of the consumption model on which the current developmentalist model of urbanism and urbanity is based. We believe we can do better without changing the paradigm. But we are unconscious of the limits of our ‘criticality’. To be really critical we have to deconstruct urbanism itself. But this would undermine the very plank on which we the middle class are perched. It is thus not easy that is why it is not done.</p>
<p>True, Asia did not have the wealth derived from colonial exploitation when it embarked on the further urbanisation of our cities after the colonial powers left. Though they left politically, they left behind the conceptual and economic system of an urbanized world order based on middleclass consumption and compliance. The radical movements espoused by the communists also failed. Based on this, the “free world”in Asia our cities exploded in size as the poor drifted to the cities. The failure of the various experiments with economic and political autarky justified this. The countrysides were neglected. Their failure was inevitable. The poor flooded to the cities. Globalization was the great new force that became the new tool wielded by the great forces located in the financial capitals of the West. It made the megacity even bigger. Urbanism was touted as the tool to mobilize and coordinate power and trade globally. It benefited the middle classes. The current climate crises signals the moment when a new sustainable system cannot be derived that balances global finance and local environmental priorities. Until this is derived the urban mess and gross inequity that we see distressingly remain a blot on our conscience. Urban and rural unrest will be on the rise everywhere while planet earth reaches tipping point environmental crises. This is the reality. Architecture and human settlement planning has a never before such a slew of challenges. In this light, the obsessions with style and expression seem futile and down-right inmoral indeed.</p>
<p>The key issue that needs to be deconstructed today is therefore Urbanism, urbanisation and urbanity, concepts taken to be inevitable and undeniably desirable. Indeed, mainstream architecture is uncritically premised on these urbanist assumptions Complain as the middle classes will over the pollution, congestion and stress, they are driven by the forces of contemporary hyper urbanisation based on hyper production and hyper consumption. These forces inevitably find expression within the political and popular culture that generates the “politics of fear” ( fear among the middle classes of marginalization and dispossession) and the economics of desire (consumerism in aid of the ‘good-life’ and chic style).</p>
<p>The development model based on hyper urbanism and hyper consumption is therefore where any rethinking has to begin. The rural/urban dichotomy is the starting point of the necessary reconceptualisation. We need to rethink of the city and the as one space and not two. This is the starting point in addressing social, cultural and environmental justice.</p>
<p>Relevant architecture therefore cannot come out of old planning since old planning is premised on urbanism. No matter how innovative or aesthetically creative or even perversely provocative, architecture might be within the urban context today only serves to enhance or even exonerate the urbanist assumption. The reality is all around to see in every mega-city in Latin America, Africa and Asia in the form of the ring of surrounding slums. The phenomenon is the result of the rural to urban drift caused by the systemic failure of the countryside to provide viable life choices. Thus the &#8220;urban industrial complex&#8221; triumphs living off the cheap labour of the poor and the “Military Industrial Complex” that defends it. This is the unjust system that the rise of the urban middle classes legitimizes unwittingly. “Happy Cities” is the result of miserable countrysides!</p>
<p>My call “Rubanisation”, a term I had to invent is not a Pol Pot proposition at all, it is a call for balanced development; of viable rural settlements and slimmed-down mega-cities, both providing viable life choices for everyone. Rubanism or urbanism is not one or the other. It is both to different degrees where the economy and the politics is supportive of environments conducive for everyone to work, to live, to learn, to play, to farm and to heal. This is the prospect of a whole paradigm shift in perception, planning and therefore architecture.</p>
<p>A new model of how humans should live on planet Earth; living better with each other and with nature is the task of the 21st Century where social justice, cultural justice and environmental justice are attainable for all. It will be democratic because its life support systems are decentralized into Ruban settlements and yet centralised in the big cities where the highest levels of medical research and treatment, the highest levels of academic, scientific and artistic research, production and teaching, where the highest media production, where the highest levels of finance and strategy and the highest levels of technological prototyping and available product choices are all located. A value shift accompanies this change away from the toxic urbanist propositions we uncritically embrace as progress. All this rethink is predicated on the reconceptualisation of the entire physical landscape, the political landscape and the economic landscape all together.</p>
<p>It is clear that even if a zero carbon energy regime is achieved, the depletion of nature and the degradation of the environment cannot be halted without such a value shift towards new and deeper forms of human satisfaction linked to family, community and personal fulfillment and rapprochement with nature.</p>
<p>Asia can only lead in this new paradigmatic change rather than slavishly patterning after the defunct western industrial and consumption model of development and growth if its thought leaders have the courage to break out of the usual mould. This is the greatest task in the “Anthropocene” age we now fine ourselves in. Human actions have by now reached such a level of impact on nature that John Nash&#8217;s &#8220;game theory&#8221; operates. In game theory action and reaction has induced a necessary reaction against reaction. The environment created has now to be responded to. I will talk more about these basic ideas when we have the chance to meet. Meanwhile those of you interested can review the &#8220;www. rubanisation.org&#8221; website I set up. There is also a short entry on Rubanisation in Wikipedia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Result :</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<table width="978" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<p align="center"><strong>Proposal</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="498">
<p align="center"><strong>Criticism</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>Integrated industrial and agricultural prototype.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="498">Business plan must come first: business plan is critical to convince the developers or industrial owners to adopt the idea of integrating with agriculture</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>Job opportunities for rural people in the cities. Everyone can benefit</li>
</ol>
<p>Response: Private initiative is the way to proceed, not the government or authority – in Indonesia, government authority is absent so private initiative is a must.</p>
<p>-          To solve the problem ourselves.</p>
<p>-          In solving own problem we solve the world problem. Thinking small is also about thinking big</p>
<p>-          In other countries, developers are the one taking control over development.</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="498">Individual, community and family have the responsibility instead of authority?*in Singapore the model is authority based.</p>
<p>&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>We need to produce good ideas.</li>
</ol>
<p>Response: we have done it. One of the ideas is to support the rural development with cultural elements as the pride of the community. To develop the rural areas from cultural base – to construct their own pride. Development has to consider cultural element.</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="498">For business to be viable, funding is critical. Creative way of creating money out of nothing, must followed by funding. Must get people to be interested in the development through new technologies etc.&nbsp;</p>
<p>TKS* idea of Rubanisation: the next mode of economy is in rural and agriculture. Finding new techniques to produce. To convince financers about this new idea and way of development.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>How can an architect become a developer that has got noble ideas.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>Architects need power to affect development. Architects to get into politics.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="498">*HITLER (failed example of the proposal)&nbsp;</p>
<p>It is the nature of politics that you’ve to serve. Architects tend to solve problems architecturally?</p>
<p>&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>Jobs for different family members must be produced</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="498">Agreed but culture must evolve.<br />
Bad culture must be eliminated and good one should be preserved and evolved.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>The new definition of progress must respect renewability and nature: Sustainable progress.</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="498">Scientific relationship with culture has to be resolved. (to be further discussed)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480"></td>
<td valign="top" width="498"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<table width="978" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>How can an architect become a developer that has got noble ideas? How can you get power without getting corrupted?</li>
</ol>
<p>Response: Architectural education is important to educate potential architecturally educated developers and financers to becoming collaborators sharing the same vision and idea.</td>
<td valign="top" width="498">How can we collaborate if we don’t share the same vision/idea?The temperament of architect not necessarily equals the temperament of developers.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>If we are service providers, we have to take the opportunity to serve beyond money. Architects have to write the policy followed by design. Architects have to be involved in policy formation.</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="498">Sensitive architects are not policy makers. Architectural school should be the policy maker.Wrong people = wrong policy.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Problems in Architectural education and practice. </strong></p>
<table width="978" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>Root of the problem lies in architectural education. (technically competent, but not in thinking)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="498">Practitioners are not setting good example.Architectural schools are bad. Self training should be respected. Apprenticeship is the way. Or make new type of school (what type?)</p>
<p>&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">
<ol>
<li>Students seduced and influenced by media. Should have exposed to different perspectives to make them aware of different propositions in architecture.<br />
* Response: many great developments in China still done by architects from the west.</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="498">The real breakthrough in new thinking must come from Asia. The west is not the main driving force in Architecture.</p>
<ul>
<li>Must design by re-thinking of the current development paradigm: design for NEW development paradigm<br />
- social cultural and environmental justice for new development paradigm.<br />
- redefine what profit is: profit means creations of economic system that achieve social, cultural and environmental justice, not monetary justice.</li>
<li>To set up example/precedents for thinking of the new development paradigm.</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">Media/websites are dangerous: online architectural competitions are highly sought after for recognition of winning an international competition. End result: Dubai.World winning jobs: visually attractive but not intellectually – ‘pornography’ in architecture.</td>
<td valign="top" width="498">Avoid all competitions. Form groups collaborating with each others, bringing in financers and other professions from other disciplines etc to build new vision &amp; to publish it.Internalizing is a problem in western architectural education. New set of thinking and imagery for Asian architecture needed to be constructed, not borrowed from western architecture.</p>
<p>But online exhibition of new ideas should be encouraged (how is it then different from online competition?)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="480">Online architectural competition is a good platform to discuss ideas.</td>
<td valign="top" width="498">Judging component and competition to be separate entities.OR. Collaborative workshop would be better than competition – no judge involved, but open dialogue. No winning, reasoning behind the scheme would be shared for learning.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/07/21/jongjelajah-debate-on-new-asian-architecture-beyond-catch-up-ketchup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surprise Stove #6 &#8211; rumah rumah tanpa pintu exhibition with chef syafril, jongarsitek</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/07/19/surprise-stove-6-rumah-rumah-tanpa-pintu-exhibition-with-chef-syafril-jongarsitek/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/07/19/surprise-stove-6-rumah-rumah-tanpa-pintu-exhibition-with-chef-syafril-jongarsitek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 06:38:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[News and Updates]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1443</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/26446942?title=0&amp;byline=0&amp;portrait=0&amp;autoplay=0" width="750" height="425" frameborder="0"></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/07/19/surprise-stove-6-rumah-rumah-tanpa-pintu-exhibition-with-chef-syafril-jongarsitek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jongBerbagi! sharing dan presentasi di kota pemenang.</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/07/12/jongberbagi-sharing-dan-presentasi-di-kota-pemenang/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/07/12/jongberbagi-sharing-dan-presentasi-di-kota-pemenang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 06:07:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>
		<category><![CDATA[News and Updates]]></category>
		<category><![CDATA[We Proudly Present..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1430</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 25 Juli 2011 berlangsung acara diskusi arsitektur di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengenai kuliah umum Rem Koolhaas di Jakarta. Acara yang dihadiri Profesor Josef Prijotomo, dosen-dosen arsitektur ITS, alumni dan mahasiswa arsitektur ITS ini berlangsung hidup karena diisi dengan diskusi-diskusi dan perdebatan menarik . Acara ini di prakasai oleh Defry [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumat, 25 Juli 2011 berlangsung acara diskusi arsitektur di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengenai kuliah umum Rem Koolhaas di Jakarta. Acara yang dihadiri Profesor Josef Prijotomo, dosen-dosen arsitektur ITS, alumni dan mahasiswa arsitektur ITS ini berlangsung hidup karena diisi dengan diskusi-diskusi dan perdebatan menarik .</p>
<p>Acara ini di prakasai oleh Defry Agatha dan Endy Yudho Prasetyo dari studio Ordes yang juga menjadi staf pengajar di Jurusan Arsitektur ITS. Berangkat dari keprihatinan akan rendahnya atmosfir berarsitektur di kalangan mahasiswa arsitektur Surabaya itu sendiri. Mereka berdua kemudian, bersama Delta Perdana, mahasiswa arsitektur ITS, yang juga memiliki rasa keprihatinan yang sama, menggagas acara diskusi ini. Momen Euforia kedatangan Rem Koolhaas ke Jakarta dirasa tepat untuk memulai membangkitkan atmosfer berarsitektur ini. Kebetulan mereka bertiga baru saja mengikuti kuliah umum Rem Koolhaas di Jakarta dan ingin membagi pengalamannya ke sesama rekan arsitek dan mahasiswa arsitektur di Surabaya.</p>
<p>Acara berlangsung dua jam dimulai dari pemaparan mengenai Jong Arsitek sebagai salah satu komunitas arsitektur yang selama ini berhasil menghidupkan atmosfer arsitektur di Indonesia oleh Defry Agatha. Lalu Delta Perdana memaparkan tulisannya yang ia tulis untuk Jong Berbagi dan memaparkan isi kuliah umum Rem Koolhaas dan David Gianotten.</p>
<p>Jika mereview acara, Delta dan Defry lebih berperan sebagai korek penyulut ledakan karena satu setengah jam berikutnya diisi diskusi yang lebih menarik dari peserta yang datang. Wahyu Setiawan, akademisi, menceritakan kekagumannya akan sirkulasi yang diciptakan dalam bangunan Rem Koolhaas ketika ia berkunjung ke karya Rem Koolhaas. Tjahja Tribinuka, praktisi dan akademisi, mempertanyakan kembali konsep estetika dari OMA dan menantang para dosen di ITS untuk melakukan hal yang dilakukan oleh OMA dalam proses perancangannya untuk diajarkan ke murid­murid arsitektur ITS. Sepertinya membahas estetika dan programming ala Rem Koolhaas menjadi suatu pembahasan yang selalu menarik dan tak akan pernah ada habisnya. Akanselalu muncul perdebatan panjang mengenai metode terbaik dalam merancang. Rem Koolhaas sebagai salah satu arsitek berpengaruh di dunia abad ini bahkan tak selamanya diamini semua orang. Sempat muncul celetukan guyon dari Prof. Josef kalau dia lebih menyukai Frank Gehry dibandingkan Rem Koolhaas.</p>
<p>Dan dengan bijaknya, Ir Sugeng Gunadi, sebagai salah satu arsitek senior yang hadir menyimpulkan bahwa semuanya kembali lagi ke pribadi masing-masing. Dengan rendah hati dan inisiatif sendiri beliau mempresentasikan proyek terbarunya, museum Abdulrahman Wahid (kalau penulis tak salah ingat) disertai proses disain yang beliau yakini sebagai yang terbaik untuk beliau pribadi. Beliau bahagia dan berterima kasih karena masih ada generasi muda yang mau bangkit dan bersemangat dalam berarsitektur. Pemikiran-pemikiran dan usaha generasi muda seperti ini perlu ditanggapi serius. Regenerasi akan terus ada, Rem Koolhaas pun suatu saat akan berakhir masanya dan digantikan dengan yang lebih muda.</p>
<p>Defry berharap bahwa acara diskusi-diskusi seperti ini selayaknya perlu terus rutin dilakukan oleh kampus yang tentunya diikuti dengan semangat oleh setiap generasi, tak hanya dimonopoli generasi tua saja. Hal ini juga diamini oleh Endy Yudho dan Delta Perdana. Generasi masa depan adalah generasi kreatif. Siapa yang kreatif, dia yang maju.</p>
<p>&nbsp;<br />

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-35-1430">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://jongarsitek.com/2011/07/12/jongberbagi-sharing-dan-presentasi-di-kota-pemenang/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-1366" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/jb_oma_sby00.jpg" title=" " rel="lightbox[set_35]" >
								<img title="jb_oma_sby00" alt="jb_oma_sby00" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/thumbs/thumbs_jb_oma_sby00.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1367" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/jb_oma_sby01.jpg" title=" " rel="lightbox[set_35]" >
								<img title="jb_oma_sby01" alt="jb_oma_sby01" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/thumbs/thumbs_jb_oma_sby01.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1368" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/jb_oma_sby02.jpg" title=" " rel="lightbox[set_35]" >
								<img title="jb_oma_sby02" alt="jb_oma_sby02" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/thumbs/thumbs_jb_oma_sby02.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1369" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/jb_oma_sby03.jpg" title=" " rel="lightbox[set_35]" >
								<img title="jb_oma_sby03" alt="jb_oma_sby03" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/thumbs/thumbs_jb_oma_sby03.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1370" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/jb_oma_sby04.jpg" title=" " rel="lightbox[set_35]" >
								<img title="jb_oma_sby04" alt="jb_oma_sby04" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/thumbs/thumbs_jb_oma_sby04.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>

<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-36-1430">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://jongarsitek.com/2011/07/12/jongberbagi-sharing-dan-presentasi-di-kota-pemenang/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-1371" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/jb_oma_jogja00.JPG" title=" " rel="lightbox[set_36]" >
								<img title="jb_oma_jogja00" alt="jb_oma_jogja00" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/thumbs/thumbs_jb_oma_jogja00.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1372" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/jb_oma_jogja01.JPG" title=" " rel="lightbox[set_36]" >
								<img title="jb_oma_jogja01" alt="jb_oma_jogja01" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/thumbs/thumbs_jb_oma_jogja01.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1373" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/jb_oma_jogja02.JPG" title=" " rel="lightbox[set_36]" >
								<img title="jb_oma_jogja02" alt="jb_oma_jogja02" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/thumbs/thumbs_jb_oma_jogja02.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1374" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/jb_oma_jogja03.JPG" title=" " rel="lightbox[set_36]" >
								<img title="jb_oma_jogja03" alt="jb_oma_jogja03" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/thumbs/thumbs_jb_oma_jogja03.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1375" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/jb_oma_jogja04.JPG" title=" " rel="lightbox[set_36]" >
								<img title="jb_oma_jogja04" alt="jb_oma_jogja04" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/thumbs/thumbs_jb_oma_jogja04.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1376" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/jb_oma_jogja05.JPG" title=" " rel="lightbox[set_36]" >
								<img title="jb_oma_jogja05" alt="jb_oma_jogja05" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/thumbs/thumbs_jb_oma_jogja05.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-1377" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/jb_oma_jogja06.JPG" title=" " rel="lightbox[set_36]" >
								<img title="jb_oma_jogja06" alt="jb_oma_jogja06" src="http://jongarsitek.com/wp-content/gallery/jb/2/thumbs/thumbs_jb_oma_jogja06.JPG" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/07/12/jongberbagi-sharing-dan-presentasi-di-kota-pemenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jongBerbagi! : Rem Koolhaas dan Penjajakan Zaman di Arsitektur</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/07/06/jongberbagi-rem-koolhaas-dan-penjajakan-zaman-di-arsitektur/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/07/06/jongberbagi-rem-koolhaas-dan-penjajakan-zaman-di-arsitektur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 06:26:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1414</guid>
		<description><![CDATA[LESS IS MORE, LESS IS BORE, MORE IS MORE, MORE AND MORE! “Rem Koolhaas dan Penjajakan Zaman di Arsitektur” Faisal Zulkarnaen Lahir didalam masa penjajakan arsitektur yang terkotak-kotak dalam sebuah gagasan konseptual yang dianggap “sakral” pada masa nya. Betransformasi menuju hierarki lain sesuai dengan landasan di zaman tersebut. Ketika Mies Van der Rohe dan Le [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>LESS IS MORE, LESS IS BORE, MORE IS MORE, MORE AND MORE!</em><br />
“Rem Koolhaas dan Penjajakan Zaman di Arsitektur”<br />
Faisal Zulkarnaen</p>
<p>Lahir didalam masa penjajakan arsitektur yang terkotak-kotak dalam sebuah gagasan konseptual yang dianggap “sakral” pada masa nya. Betransformasi menuju hierarki lain sesuai dengan landasan di zaman tersebut. Ketika Mies Van der Rohe dan Le Corbusier yang merupakan founding fathers dari keberadaan Modern Architecture melahirkan konsep “<em>Less is More</em>”, revolusi arsitektur pun terjadi. Dengan konsistensinya dalam mengeliminasi ornamen¬ornamen yang tidak penting dan juga bentukan-bentukan yang menghasilkan <em>workspace</em> yang tidak fungsional, Van der Rohe mampu menciptakan tabula rasa dari konsep dan ruang yang terbentuk dengan munculmya modernisme dan minimalisme.</p>
<p>Disusul dengan munculnya Robert Venturi yang lahir dalam masa postmodern. Merupakan gebrakan dari kemonotonan yang terjadi pada arsitektur modern. “Less is Bore” menjadi kontra-revolusi terhadap modernism yang menawarkan kompleksitas dan kontradiksi daripada simplisitas dan kekonsistensian yang sudah terjadi selama masa Mies Van der Rohe.<span id="more-1414"></span></p>
<p>Rem Koolhaas, dikatakan sebagai “<em>dirty realism</em>” ketika publik melihat kebimbangannya mengenai akan seperti apa arsitektur selanjutnya ketika ia harus menempatkan dirinya sebagai <em>protagonist</em> terhadap semua hal yang didapat untuk menemukan seperti apa arsitektur yang sebenarnya. Arsitek sekaligus pendiri OMA dan AMO ini memiliki pandangan tersendiri mengenai bagaimana arsitek-arsitek saat ini menempatkan dirinya dalam menghasilkan konsep-konsep baru untuk mencapai tujuannya.</p>
<p>“<em>Architecs, for the first time in several decades, are being solicited for their power to physically articulate new visions</em>.”</p>
<p>Pragmatik arsitektur yang terjadi ialah, timbulnya banyak kesenjangan dan salah pengertian mengenai bagaimana konseptual arsitektur yang harusnya terjadi. Rem Koolhaas sangat menghindari intersepsi yang salah tentang bagimana sesuatu itu terwujud. Huruf “A” tetaplah huruf “A”, huruf “B” juga tetaplah huruf “B”, dan begitu seterusnya. Jadi ketika Van der Rohe mengatakan <em>Less is More</em>, Robert Venturi mengatakan <em>Less is Bore</em>, maka Rem Koolhaas tetap pada pendirianya bahwa suatu wujud akan memiliki makna itu sendiri, dan bukan merupakan makna yang bersifat multi-intepretatif. Begitu pula dengan sebuah konsep arsitektur, maka landasan konsep yang dinilai sangat sesuai oleh Rem Koolhaas untuk saat ini yaitu konsep arsitektur yang memiliki kekuatan nilai dalam bangunan itu sendiri. More is More.<br />
Lebih adalah lebih, yang selanjutnya ketika wujud dan nilai dari sebuah bangunan yang bersifat multivalensi tidak berakhir pada “<em>Junked space</em>” (ruang buangan dimana sesuatu tidak memiliki arti-apa-apa dan hanya merupakan sekedar ruang yang tak berarti), melainkan akan menjadi sebuah perwujudan dimensional yang bertahap secara konsisten menuju sesuatu yang bersifat lebih atraktif.<br />
Mengambil salah satu contoh karya Rem Koolhaas yang banyak dari kita sudah mengetahui nya yaitu CCTV HQ di China yang dibangun dan diselesaikan untuk menghadapi event besar Olimpiade Beijing lalu. Salah satu yang dapat kita pelajari dari bangunan ini ialah tentang bagaimana arsitektur bangunan ini menghadapi utopia yang terjadi, konteksnya terhadap nilai social dan nilai <em>pragmatic architecture,</em> serta bagaimana bangunan tersebut bermetafora dengan bentukan seperti itu yang mungkin dari kita masih mengetahuinya secara <em>black box</em>. Seperti apa sebuah bangunan itu akan terbentuk, tidak terlepas dari bagaimana seorang arsitek mampu menyampaikan ide dan gagasannya kepada klien, serta diterima dengan baik dan dapat dipahami seutuhnya oleh klien yang bersangkutan tersebut. Sehingga baik dan buruknya sebuah aristektur merupakan kesepakatan tak terbalas yang terjadi antara sang arsitek dan klien.</p>
<p>“<em>The client as chaos</em>”.</p>
<p>Rem Koolhaas menganggap klien-klien merupakan pengacau gagasan dan ide-ide brilian nya. Sejauh ia mengetahui bagaimana kesenjangan yang terjadi antara klien dan arsitek dan pengembangannya menuju pengertian awal siapa dan apa klien itu sebenarnya, maka serta merta ia akan <em>mereverse-back</em> bahwa klien adalah arsitektur, dan klien adalah kekacauan, sehingga baik secara langsung atau tidak langsung, setuju atau tidak setuju, pengertian yang didapat adalah: aristektur adalah kekacauan.<br />
Rem Koolhaas juga pernah berkata:</p>
<p>“<em>Chaos simply happens. You cannot aspire to chaos, u can only be an instrument of it</em>”.</p>
<p>Sehingga disini kita dapat mengetahui bahwa dalam membuat kekacauan yang terjadi, kita sebagai arsitek hanya bias menjadi sebagai instrument yang memegang kendali dari kekacauan tersebut. Dengan melihat kembali konsep <em>More is More</em>, sebuah arsitektur tidak akan berhenti tumbuh dan berkembang hingga mencapai sebuah entitas yang diharapkan. <em>More is More</em> yang ada pada diri Rem Koolhas selanjutnya beregenerasi menjadi <em>More and More</em>! Dan dari <em>More and More</em> inilah Rem Koolhas mampu menjadikan bahasa arsitektur menjadi sebuah bahasa utopia yang memberikan distraksi keberagaman atas kemonotonan didalam dunia arsitektur. Selanjutnya kita mengetahui seperti apa dunia arsitektur yang di maksud saat ini, Ya!<em> Orthodox</em> dan Paradigma Dekonstruktif.<br />
Kembali pada contoh CCTV HQ China diatas! Bentukan yang tak lazim tersebut menjadi sebuah bahasa arsitektur yang digemari banyak arsitek zaman sekarang. Kehebohan yang terjadi pada ke-dekonstruktif-an menjadi sebuah cara baru dalam memunculkan ide-ide kreatif demi bertahan dalam evolusi yang terjadi di dunia arsitektur. Meningkatkan nilai tambah dalam proses seleksi alam yang terjadi. Hal ini tidak terlepas dari teori Charles Darwin yang mengatakan bahwa:</p>
<p>“<em>It is not of the strongest of the species that survives, nor the most intelligent. It is the one that is the most adaptable to change</em>”</p>
<p>Mengetahui bahwa Rem Koolhaas merupakan salah satu arsitek yang mampu mengadaptasikan dirinya terhadap penjajakan zaman arsitektur yang ada, membuat kita mengetahui bahwa beradaptasi secara cepat seperti yang dilakukan Rem Kolhas dalam transisi masa Postmodern dan Dekonstrutivisme menjadikan seorang arsitek adaptable terhadap seleksi alam yang terjadi adalah merupakan sebuah keharusan yang dimiliki oleh tiap individu. Zaha Hadid, yang dulu pernah “berguru” pada Rem Koolhas kini sudah menemukan jalannya sendiri melalui bagaimana proses adaptasi dan seleksi alam yang sudah dialui oleh Rem Koolhaas. Menjadi sebuah pencetus bahasa arsitetktur baru yang kini disebut-sebut sebagai <em>Architecture Dekonstruktivisme</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/07/06/jongberbagi-rem-koolhaas-dan-penjajakan-zaman-di-arsitektur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jongBerbagi! : Rem Koolhaas dan Dunia Akademis Arsitektur Indonesia</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/07/06/jongberbagi-rem-koolhaas-dan-dunia-akdemis-arsitektur-indonesia/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/07/06/jongberbagi-rem-koolhaas-dan-dunia-akdemis-arsitektur-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 06:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1412</guid>
		<description><![CDATA[Rem Koolhaas dan Dunia Akademis Arsitektur Indonesia Delta Yogo Perdana Sekitar tiga setengah tahun lalu, ketika saya duduk ditahun pertama di sekolah arsitektur di Surabaya prinsip-prinsip order dari arsitektur klasik yang digunakan seperti unity, harmony, dan balance untuk menghasilkan produk yang estetis. Hal ini seolah menjadi pegangan utama dalam studio perancangan arsitektur. Masalah mulai timbul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rem Koolhaas dan Dunia Akademis Arsitektur Indonesia<br />
Delta Yogo Perdana</p>
<p>Sekitar tiga setengah tahun lalu, ketika saya duduk ditahun pertama di sekolah arsitektur di Surabaya prinsip-prinsip order dari arsitektur klasik yang digunakan seperti unity, harmony, dan balance untuk menghasilkan produk yang estetis. Hal ini seolah menjadi pegangan utama dalam studio perancangan arsitektur.</p>
<p>Masalah mulai timbul ketika mahasiswa mulai terjebak dengan pemahaman yang setengah-tengah. Keterbukaan arus informasi tak begitu dimanfaatkan untuk memperdalam prinsip-prinsip desain yang diajarkan. Keterbatasan kosa kata desain dan pemahaman makna estetika membuat kebanyakan mahasiswa hanya berkutat pada konsep desain yang terkesan dipaksakan, tanpa ada argumen yang kuat akan desainnya.<span id="more-1412"></span></p>
<p>Tidak jelas apakah saat ini terjadi ketidakserasian antara kuliah asas dan metodelogi perancangan yang diberikan di sekolah arsitektur saya dengan preseden yang diangkat mahasiswa di studio perancangan yang menghasilkan pemikiran-pemikiran mahasiswa yang tanggung. Kebanyakan mahasiswa, termasuk saya, pada akhirnya terjebak dalam mata rantai kebingungan. Asas dan metodelogi perancangan yang berjalan lambat dan tertinggal jaman disandingkan dengan preseden arsitektur-arsitektur top dunia yang selalu berkembang pesat. Mahasiswa berada pada perangkap keseragaman konsep yang terorganisir dengan aturan-aturan bakunya, berorientasi pasar, pengikut tren belaka dan pemaknaan-pemaknaan yang dipaksakan.</p>
<p>Rem Koolhaas dan OMA-nya, beserta beberapa jebolan OMA seperti Gigon Guyer, Bjarke Ingels, Sauerbruch &amp; Huton, Winy Maas dan Jacob van Rijs menjadi favorit di sekolah saya. Berawal dari kepopuleran nama OMA dan keterputusasaan saya di studio perancangan, saya mulai berkenalan lebih jauh dengan Rem Koolhaas melalui buku-buku perpustakaan dan internet.</p>
<p>Saya bukan mahasiswa cerdas yang mampu mencerna tulisan-tulisan Rem Koolhaas atau menghayati video-video ceramahnya diinternet dalam sekejap. Butuh proses yang sampai saat ini pun belum selesai untuk menghayatinya. Koolhas tak menempatkan estetika dalam prioritas utama ketika ia berasritektur. Tentu hal ini amat membingungkan saya. Ia seolah mencari kebenaran yang diolah melalui program dan konsep. Estetika diatasi melalui program dan konsep.</p>
<p>Saya kembali kepada tugas studio saya di sekolah arsitektur, menguraikan kembali kerangka-kerangka estetetika. Seakan merasa dunia tak adil bahwa karya arsitektur Rem Koolhaas yang jika ditilik dalam kerangka-kerangka arsitektur, tak bisa diterima oleh hukum estetika itu tadi. Tak adilnya Rem Koolhaas justru dikenal dan diakui dunia sebagai arsitektur top.</p>
<p>Untuk menikmati arsitektur Rem koolhaas sepertinya saya harus mengeluarkan seluruh isi otak saya ke atas meja, memilahnya dan membuang jauh-jauh konsep estetika lama yang diajarkan di sekolah saya dan mendekam terlalu lama diotak. Setelah otak saya kosong dari teori estetika itu, barulah indra saya boleh merasakan arsitektur Rem Koolhaas yang ternyata menakjubkan, entah itu karena proporsinya, materialnya atau bentuknya yang tak logis.<br />
Sampai sejauh ini mahasiswa terkesan menjauhi data-data, entah itu berupa diagram, grafik atau hal lainnya. Seharusnya dengan mengambil preseden karya-karya Rem Koolhaas, data dan diagram menjadi hal yang penting. Data dan diagram memberikan kesempatan kepada mahasiswa menjadikan arsitekturnya unik, karena memang sesungguhnya tak pernah ada arsitektur yanng identik sama. Teknik ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasikan konsepnya dan kegiatan studio menjadi lebih menarik (<em>process-oriented</em>). Hal ini seperti yang diyakini oleh Rem Koolhaas bahwa proses itu di atas segalanya bagi arsitek.</p>
<p>Diagram harusnya mampu membangkitakan ide dan menghasilkan inspirasi yang baik. Pendekatan seperti ini mungkin terdengar terlalu mekanik, tetapi mungkin mampu menghasilkan konsep yang lebih rasional dibandingkan metode metafora yang banyak dipakai mahasiswa.</p>
<p>Arsitektur Koolhaas dikatakan berhasil dengan menggunakan teropong konsep dan program, tentu tak lepas dari diagram-diagram. Aktivitas seharusnya diatur dan itu terjadi.</p>
<p>Kunsthal adalah karya Rem Koolhaas yang sederhana dan kurang populer di kalangan mahasiswa jika dibandingkan CCTV. Dibalik kesederhanaannya sarat akan program. Sebagai bangunan tempat pameran seni tak menjadikan Koolhaas membuatnya menjadi heboh seperti yang dilakukan Frank Gehry, Frank Lloyd dan arsitek-arsitek lainnya pada proyek bangunan seni. Ruang dan aktivitas terlihat tepat dengan pola pergerakan dari taman membelah bangunan melalui ramp dan menciptakan kantong-kantong aktivitas yang aktif pada bangunan itu sendiri. Selain konsep continous circuit, tentu signange-nya yang menarik perhatianlah yang menarik dari bangunan ini. Itu luar biasanya Koolhaas, detail yang sering terlupakan mahasiswa seperti signage pun diperhatikan. Dengan melihat apa yang Koolhaas lakukan pada Kunsthal seharusnya mampu memperkaya mahasiswa dalam proses desain.</p>
<p>Saya tak yakin dengan pernah tinggalnya Rem Koolhaas di Indonesia membawa pengaruh yang besar bagi pemikiran arsitekturnya. Rem Koolhaas jelas merupakan produk arsitektur barat dengan pola pikir baratnya, walaupun beberapa proyeknya dilakukan di Asia. Menjadi pertanyaan besar adalah pantaskah pemikiran Rem Koolhaas disebarkan begitu saja kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia.</p>
<p>Kita memiliki kekayaan arsitektur dari nenek moyang. Arsitektur nusantara namanya. Produk kita adalah arsitektur kayu, jauh berbeda dengan nenek moyang Rem Koolhaas yang memiliki produk arsitektur batu.</p>
<p>Di salah satu kuliah umumnya, Profesor Josef Prijotomo mengatakan bahwa arsitektur tradisional telah mati dan tak perlu dibangkitkan kembali. Kita hidup di jaman baru yang seharusnya tak mengkotak-kotakkan sesuatu menurut teritori polistis dan penamaan belaka. Tak ada yang melarang rumah Gadang di bangun di Papua dan rumah Bali di bangun di Madura. Tak ada yang melarang bahwa rumah Joglo diberi ukiran batik khas Dayak. Lalu kenapa kita harus takut jika pemikiran Rem Koolhaas masuk dan meracuni para mahasiswa arsitektur Indonesia. Ini sama seperti kenapa para mahasiswa arsitektur terlena dengan pemikiran Vitruvius padahal kalau mau kita memiliki Wastu Citra.<br />
Pada akhirnya kehadiran Rem Koolhaas patut disikapi serius di dunia akademis. Terlepas dari apakah yang dilakukan oleh Rem Koolhaas adalah yang terbaik bagi dunia arsitektur tak terlalu menjadi soal. Bukankah arsitektur itu sendiri sangat dinamis, dimana pembaruan akan selalu hadir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/07/06/jongberbagi-rem-koolhaas-dan-dunia-akdemis-arsitektur-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi Desain &#8211; IAI singapura</title>
		<link>http://jongarsitek.com/2011/06/15/presentasi-desain-iai-singapura/</link>
		<comments>http://jongarsitek.com/2011/06/15/presentasi-desain-iai-singapura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 01:20:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.khrisno.a</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architect Does!]]></category>
		<category><![CDATA[Brilliant!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jongarsitek.com/?p=1276</guid>
		<description><![CDATA[beberapa waktu lalu teman teman IAI singapura mengadakan presentasi arsitektur. Berikut beberapa video presentasi, desain menginspirasi. Temu Akrab Sesama Arsitek Indonesia by IAI Singapura from jongArsitek! on Vimeo. Temu Akrab Sesama Arsitek Indonesia by IAI Singapura (2) from jongArsitek! on Vimeo. video akan ditambahkan berkala setelah jeda..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>beberapa waktu lalu teman teman IAI singapura mengadakan presentasi arsitektur. Berikut beberapa video presentasi, desain menginspirasi.</p>
<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/23378415?title=0&amp;byline=0&amp;portrait=0" width="400" height="300" frameborder="0"></iframe>
<p><a href="http://vimeo.com/23378415">Temu Akrab Sesama Arsitek Indonesia by IAI Singapura</a> from <a href="http://vimeo.com/jongarsitek">jongArsitek!</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/25079670?title=0&amp;byline=0&amp;portrait=0" width="400" height="300" frameborder="0"></iframe>
<p><a href="http://vimeo.com/25079670">Temu Akrab Sesama Arsitek Indonesia by IAI Singapura (2)</a> from <a href="http://vimeo.com/jongarsitek">jongArsitek!</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p>video akan ditambahkan berkala setelah jeda..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jongarsitek.com/2011/06/15/presentasi-desain-iai-singapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

