Setelah semua dirangkum dan dituliskan dalam catatan kuratorial dengan sangat baik oleh Marco Kusumawijaya, saya tinggal menambahkan sedikit saja.
Tawaran untuk mengkuratori pameran ini datang pada saat saya sedang melakukan riset pribadi tentang “Arsitektur Indonesia”. Di jaman di mana tidak ada batas yang jelas, informasi bergerak lebih cepat dari barang dan manusia, rasanya tidak aneh jika kita bertanya: di mana kita berada?
Pertanyaan itu timbul karena jarang sekali kita menemukan publikasi tentang arsitektur maupun arsitek Indonesia di dalam publikasi dunia. Tapi lalu saya bertanya lagi, apa yang saya maksud dengan ‘dunia’? Marco menambahkan, “Apa pentingnya berada dalam percaturan arsitektur ‘dunia’ itu?” Sebuah pertanyaan yang sangat tajam yang saya tidak punya jawabnya.
System dunia atau World System Wallerstein tidak lagi bisa memetakan kita atau negara-negara berkembang lain sebagai yang di tepi (periphery) dan negara-negara maju sebagai ‘pusat’. Dan apakah tepi apakah pusat pada saat arus tidak lagi searah dan semua terjadi pada saat yang bersamaan?
Pertanyaan ini tidak ingin mencari batas yang kaku atau ‘identitas’ yang justru bisa menjadi penjara, tapi lebih sebagai sebuah refleksi.
Arsitektur lahir dari sebuah kebutuhan akan satu, atau lebih, solusi. Kita punya masalah yang berbeda dengan yang dihadapi oleh arsitek-arsitek lain di negara-negara lain. Karena itu lalu menjadi naïf, apabila kita berusaha bersaing dengan mereka dengan parameter yang bukan milik kita. Kita akan berjalan dengan peta yang salah jika kita berusaha bersaing dengan arsitek-arsitek Jepang (Sanaa, Junya, Sou, Suppose Design) dengan mencuri atau meminjam metode, teknologi, dan bentuk-bentuk mereka. Kita akan terjungkal jika mengikuti berbagai aliran yang saling bertumbukan di eropa dan amerika (klasisisme, modernisme, post modernisme, neo modernisme, dekonstruksi, dll) yang datang tidak beserta gejolak sosial tapi sekedar style yang kita tak paham betul apa makna dan gunanya untuk kita.
Sejarah memang telah memutuskan kita dari arsitektur tradisional kita dan mencangkokkan sesuatu yang lain yang hingga kini belum tuntas kita fahami – arsitektur dan hal-hal yang tak selesai – tapi juga bukan berarti kita harus membangkitkan romantisme masa lampau dengan memuja-muja arsitektur tradisional itu sebagai sesuatu yang mulia. Saya lebih setuju menjadikan mereka referensi dan khasanah yang bisa kita pelajari untuk menjawab masalah-masalah hari ini.
Hari ini. Saya rasa itu adalah kata kuncinya. Berada di dalam percaturan arsitektur dunia lalu memang tidak penting. Lebih penting untuk menjadi peka terhadap issu-issu yang mendasar dalam masyarakat kita – hari ini. Kita tidak sedang dalam perlombaan atau pertandingan dengan arsitek-arsitek lain, baik di sini maupun di luar sana. Dan pameran ini hanya akan menjadi berguna jika kita menjadikannya sebagai ajang saling belajar untuk menghasilkan arsitektur yang menjawab persoalan-persoalan kita hari ini. Sukses untuk Pameran Nasional Arsitek Muda 2010.


















