Logo
  • Diskusi Buku “Gerilya Urban”

    1 November 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Brilliant!, News and Updates
    Open publication – Free publishing – More tarumanegara

    Hidup di ruang publik kota Jakarta bagai berlaga di arena pertarungan. Penuh taktik, strategi, dan keberanian. Para mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara, yang mengikuti mata kuliah pilihan Perancangan Arsitektur Kontemporer pada 2010 ini, menawarkan beragam taktik dan strategi untuk ‘memenangkan’ kembali ruang publik yang terus-menerus tergerus di kota Jakarta ini dengan bergerilya. Mereka mengamati, meneliti, menelaah, dan menanggapi berbagai permasalahan warga dan ruang publiknya, serta membuat arsitektur kembali mempermasalahkan tata bina ruang dan perilaku manusia yang sejatinya tidak hanya mengenai bangunan. Dua belas karya mereka menjadi karya arsitektur yang memiliki pengertian luas, meliputi desain rompi, tas, alas belajar, naungan bermain, paviliun kecil, sampai sebuah situs interaktif tentang jalanan kota. – karbonjournal.org & Departemen Arsitektur Universitas Tarumanegara

    Diskusi Buku “Gerilya Urban” from jongArsitek! on Vimeo.

    {No comments}

    Peluncuran dan diskusi buku hasil karya mahasiswa : GERILYA URBAN

    11 October 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara & jongArsitek!
    mengundang Anda untuk menghadiri:

    Peluncuran dan diskusi buku hasil karya mahasiswa
    Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Tarumanagara

    GERILYA URBAN
    Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer 2010


    Selasa, 26 Oktober 2010, pukul 19.00 Wib
    ruangrupa

    JL. Tebet Timur Dalam Raya no. 6, Jakarta Selatan
    T/F: 021 8304220 | E: info@ruangrupa.org

    www.ruangrupa.org

    pembicara

    Iswanto Hartono (seniman, dosen Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer)

    Veronica Gandha (arsitek, dosen Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer)

    Ardi Yunanto (redaktur Karbonjournal.org, dosen tamu Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer 2010)

    Farid Rakun (redaktur Karbonjournal.org, dosen tamu Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer 2010)

    Agustinus Sutanto (arsitek, penggagas mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer)*dalam konfirmasi

    moderator: Danny Wicaksono (arsitek, pendiri jongArsitek!)

    dihadiri oleh seluruh mahasiswa Aditya Setiawan, Amelia, Andayani PW, Andy Wijaya, Antoni Winata, Antonius Wiradigdaya Kosasih, Archangela E. Natalia, Bernadette Adinadia, Chin Ronal Purnama Chandra, Denny Soedjito, Edwin Budiman, Fransiskus Ansis, Gabriela Velda, Gabriella Stella, Ingrid Anita Stacia Dharmawan, Irene Syona, Jacson Andika Santoso, Jose Mayson Mulia, Juanto Putratama, Kristanto Hadinata, Kurniadi Lim, Livia Louis, Meidy Himawan, Melita Felicia, Mickhael Florence, Phelia Felim, Ricky Goreta, Stacia Bernadette, Suci Sandra Dewi, Tania Permata Sari, Tony Sunardi, Wilie D. Atmaja, Willyanto Hinardi, Xena Levina Caesarea, Yoana Linda, Yotanaga Satria, Yulianti Chandra

    Hidup di ruang publik kota Jakarta bagai berlaga di arena pertarungan. Penuh taktik, strategi, dan keberanian. Para mahasiswa semester enam jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara, yang mengikuti mata kuliah pilihan Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer pada 2010 ini, menawarkan beragam taktik dan strategi untuk ‘memenangkan’ kembali ruang publik yang terus-menerus tergerus di kota Jakarta ini dengan bergerilya. Mereka mengamati, meneliti, menelaah, dan menanggapi berbagai permasalahan warga dan ruang publiknya, serta membuat arsitektur kembali mempermasalahkan tata bina ruang dan perilaku manusia yang sejatinya tidak hanya mengenai bangunan. Duabelas karya mereka menjadi karya arsitektur yang memiliki pengertian luas, meliputi desain rompi, tas alas belajar, naungan bermain, paviliun kampung, sampai sebuah situs interaktif tentang jalanan kota.

    Kumpulan karya para mahasiswa ini disertai berbagai foto dan gambar rancangan dalam halaman berwarna, diulas secara kritis, dan dilengkapi dengan esai-esai reflektif dari para pengajar yang terlibat. Buku ini merekam gerilya mereka, sekaligus menjadi catatan dari pencarian jawaban arsitektur dalam menanggapi permasalahan sehari-hari yang terus hidup berlaga secara nyata di Jakarta.

    Gerilya Urban: Studio Perancangan Arsitektur Kontemporer 2010

    Ardi Yunanto & Farid Rakun (ed). (Jakarta: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara, 2010)

    10,5 x 14,8 cm  |  132 halaman (80 warna, 52 hitam-putih)

    Acara ini terselenggara berkat kerjasama:

    Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara

    jongArsitek!

    ruangrupa

    {No comments}

    Rangkaian Festival Salihara : Sejarah Arsitek Indonesia

    21 September 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    jongArsitek! adalah komunitas arsitek muda Indonesia yang mengikrarkan arsitektur sebagai propaganda dan arsitek sebagai tonggak baru kepemimpinan dan kebangkitan Indonesia Baru. Jargonnya, “Untuk Boemi Putera!” Mereka menerbitkan situs dan buletin bulanan yang berisi ulasan tentang arsitektur dan dokumentasi karya arsitektur. Diedarkan secara gratis kepada para pihak yang membutuhkan.

    Dalam Festival Salihara 2010 JongArsitek! menggelar rangkaian ceramah bertema “Sejarah Arsitektur Indonesia”. Dasar pikirannya adalah bahwa sejarah bukanlah hal yang akrab bagi generasi muda masa kini, baik arsitek maupun praktisi bidang lainnya. Ia absen. Entah karena tertutupi arus globalisasi atau memang ia sengaja disembunyikan oleh generasi pendahulunya, atau lupa diceritakan kepada generasi berikutnya. Kealpaan ini membuat kita sering lupa akan pentingnya asal-usul dan latar belakang, bagi perkembangan budaya di masa depan.

    Ceramah sejarah arsitektur ini mencoba untuk menceritakan kembali perjalanan arsitektur modern di Indonesia, yang akan ditinjau dari beberapa aspek. Melihat perjalanannya selama ini, ditinjau dari hubungannya dengan tata kota, dan melihat kembali perjalanan sebuah kelompok arsitek muda, yang kini mendefinisikan arsitektur Indonesia.

    Sabtu, 25 September 2010, pukul 16:00 WIB
    Sejarah Arsitektur Modern Indonesia
    Pembicara: Setiadi Sopandi

    Banyak sekali pemikiran yang berkembang sepanjang perjalanan arsitektur modern Indonesia. Mulai dari Thomas Karsten, Henri Maclaine Pont, hingga Bianpoen, Han Awal, dan berlanjut hingga era Andra Matin, Adi Purnomo, dan SUB. Pemikiran-pemikiran ini, kemudian mewujud dan mendefinisi arsitektur Indonesia dengan ciri dan kekhususannya masing-masing.

    Bagaimanakah arsitektur modern Indonesia bergerak selama ini? Dengan banyaknya pemikiran-pemikiran yang telah lalu lalang selama ini, bagaimanakah kemudian kita harus bergerak ke depan? Paparan yang akan diberikan, memang sebaiknya tidak memberikan jawaban, tapi rasanya cukup layak untuk disimak sebagai pengingat akan apa-apa saja yang telah dilakukan di masa lalu.

    Program seni pertunjukan di malam harinya, yaitu pukul 20:00 WIB, adalah pementasan teater “On-Off” (Rumah Bolong) oleh Teater Kubur asal Jakarta, dengan sutradara Dindon WS.

    Sabtu, 2 Oktober 2010, pukul 16:00 WIB
    Arsitek Muda Dalam Sejarah Arsitektur Indonesia
    Pembicara: Avianti Armand

    Tidak ada yang akan menentang bahwa perubahan selalu dibawa oleh yang muda. Mereka yang bersemangat tinggi, dan memiliki banyak kegelisahan dan ketidak-puasan dalam melihat dunia dan hal-hal yang ada di sekeliling mereka. Dalam perjalanannya, arsitektur modern Indonesia, juga telah dibentuk oleh banyak sekali orang-orang muda.

    Apa sajakah pemikiran-pemikiran yang pernah diwacanakan oleh para arsitek muda baik di masa lalu? Adakah pemikiran-pemikiran itu pernah baru? Di seri ceramah ini, kita juga akan sama-sama melihat siapa-siapa sajakah pemuda arsitek yang memiliki peran merubah arah arsitektur Indonesia dan apa sajakah pemikiran-pemikiran mereka.

    Program seni pertunjukan di malam harinya, yaitu pukul 20:00 WIB, adalah pementasan perdana tari kontemporer “Selamat Datang dari Bawah” karya koreografer asal Yogyakarta, Fitri Setyaningsih.

    Sabtu, 9 Oktober 2010, pukul 16:00 WIB
    Sejarah Arsitektur Indonesia Ditinjau dari Sisi Urbanitas
    Pembicara: Marco Kusumawijaya (tba)

    Arsitektur tidak akan pernah lepas dari keterkaitanya dengan dengan perkembangan kota. Konteks yang diberikan kota, adalah salah satu faktor pembentuk paling kuat yang dapat diterima oleh seorang arsitek, ketika akan merancang. Dan kota pun kemudian akan terbentuk oleh imaji kolektif yang dihasilkan oleh arsitektur.

    Di seri ceramah ini, kita akan sama-sama meninjau kembali, apakah ada pengaruh yang telah diberikan oleh kota terhadap arsitektur? Atau malah mungkin sebaliknya? Kita akan sama-sama dengarkan, adakah kebijakan kota, masalah kota, atau arus kuat yang menarik pembangunan kota, juga ikut mempengaruhi arsitektur?

    Program seni pertunjukan di malam harinya, yaitu pukul 20:00 WIB, adalah pementasan tari multimedia “Glow” oleh kelompok tari terkemuka asal Melbourne-Australia, Chunky Move, dengan direktur artistik Gideon Obarzanek.

    Untuk pendaftaran dan keterangan lebih lanjut, silakan hubungi jongarsitek@gmail.com.

    Buku katalog program Festival Salihara 2010 bisa diunduh di www.salihara.org. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi dita@salihara.org atau melan@salihara.org.

    Sampai bertemu di Komunitas Salihara!

    Komunitas Salihara; Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520. Tel 021-789-1202. www.salihara.org

    {3 comments}

    Conference, Opening of the Exhibition and Film Festival : Open City Jakarta, 1 October 2010

    19 September 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    Dear Esteemed Guest,

    The Curators of Open City Jakarta, Stephen Cairns and Daliana Suryawinata, together with the 4th IABR Curator Kees Christiaanse, and Director of IABR George Brugmans, cordially invite you to the Conference, Opening of the Exhibition and Film Festival on:

    Friday, 1 October 2010
    Erasmus Huis
    Jl. H.R. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan, Jakarta 12950
    Indonesia

    Open City Jakarta is a continuation of selected exhibition materials from 4th International Architecture Biennale Rotterdam in 2009. The exhibition consists of twelve innovative research and design projects which offer distinct scenarios for Jakarta as a Recipro-City. The twelve scenarios are accompanied by a cast of twelve contemporary wayang characters by Eko Nugroho, and anthropological urban photographs by Erik Prasetya. The exhibition is accompanied by a film festival, showing recently awarded urban documentaries and dramas. The exhibition and film festival will run from 1 October until 1 December 2010.

    Program 1 October 2010:

    Conference: ‘Reciprocity as an Urban Strategy’
    08.30-09.00 Registration
    09.00-10.00 Curators and Organizers Statements
    10.00-12.30 Conference Session 1 and 2
    12.30-12.40 Reflection
    12.40-14.30 Lunch and Prayer Break
    14.30-17.00 Conference Session 3 and 4
    Exhibition Opening:
    17.00-17.30 Official Opening of the Exhibition
    17.30-19.00 Exhibition Premiere Viewing
    19.00-20.00 Dinner
    Film Festival Opening:
    20.00-21.00 Film Screening ‘Coming to the City’, directed by Eva de Breed, VPRO Television/ Metropolis, IABR 2008-9

    Speakers and moderators (to be confirmed):

    Suharso Monoarfa (Ministry of Housing), Paul Peters (Erasmus Huis), George Brugmans (IABR), Kees Christiaanse (KCAP, ETH), Stephen Cairns (ESALA, Edinburgh University), Daliana Suryawinata (SHAU, The Why Factory), Andrea Peresthu (Biomass Energy Center, TU Delft), Jo Santoso (Tarumanagara University), Ridwan Kamil (URBANE), Adi Purnomo (mamostudio), David Hutama (Pelita Harapan University) , Alex Buechi (Holcim), Abdoumaliq Simone (Goldsmiths College), Ayu Utami (Komunitas Utan Kayu), Budi Pradono (Budi Pradono Architects), Ahmad Djuhara (djuhara+djuhara), Gunawan Tjahjono (Universitas Indonesia), Tanja van der Laan (Plataan), Suryono Herlambang (Tarumanagara University), Andra Matin (andramatin).

    Sponsored by Erasmus Huis, International Architecture Biennale Rotterdam, the Netherlands Architecture Funds (Stimuleringsfonds voor Architectuur), Department of Urban Planning & Real Estate UNTAR, Holcim Jakarta, Edinburgh University, AHRC, KCAP, ETH Zürich, DEP, Gusto Sign, and SHAU.

    Erasmus Huis
    Jl. H.R. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan | Jakarta 12950 | Tel. 021 524 1069 | erasmushuis@minbuza.nl | www.mfa.nl/erasmushuis

    {No comments}

    Desert Pavilion – Expo 2015 Milan

    25 August 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Architect Does!

    Desert Pavilion – Expo 2015 Milan

    Rafael Arsono – Uros Stojadinovic – Guido Tesio

    Politecnico di Milano – Architecture and Urban Landscape 2010

    Professors: Remo Dorigati, Giancarlo Floridi


    Abstraksi

    Arsitektur yang berpuing.

    Gurun tidak berskala.

    Ukuran menjadi tidak relevan.

    Di Gurun tidak ada referensi arsitektural.

    Dalam ketidakpastian yang menyeluruh ini,

    arsitektur membenarkan dirinya hanya dalam aktivitas ritual,

    sebagai perluasan dari lansekap.

    Di Gurun, di tengah kesendirian,

    arsitektur langsung berdiri sebagai tengara,

    melebihi keabsahan fungsi itu sendiri.

    Di Gurun, arsitektur mau tidak mau muncul monumental.

    Di tengah Gurun, arsitektur berfungsi sebagai naungan,

    sebagai pelindung, dan sebagai ruang kosong,

    yang lantas mengingatkan pada ‘kehampaan’ Gurun.

    Sebagai naungan, arsitektur muncul karena kebutuhan keseharian.

    Arsitektur lantas menjadi ritual.

    Ritual tersebut merubah kehampaan menjadi ruang yang berarti.

    Dan akhir dari hidup arsitektur harus kembali ke kekosongan yang murni.

    Mitos yang bersiklus.

    Di tengah Gurun, arsitektur tidak memiliki ambisi untuk ‘berubah’.

    Karena Gurun adalah gurun, tidak pernah berubah.

    Gurun hanya bisa ‘berkembang’.

    Gurun sangat anti-modern.

    Bagi mitos modern dari “paviliun”,

    Ide ‘bongkar-pasang’ adalah ideal.

    Bagi kami, ide ‘berpuing’ adalah yang paling sesuai.

    Keduanya merupakan ide dari kesementaraan.

    Jika yang pertama cenderung ‘diluar konteks’,

    memaksakan ide memindahkan dari satu tempat ke tempat lain,

    yang kedua sangat mengakar dan spesifik pada lansekap.

    Puing adalah lansekap itu sendiri.

    Puing sangat kontekstual dan lokal.

    Arsitektur yang mampu bertahan melewati reruntuhan bentuknya.

    Paviliun ini adalah arsitektur yang berpuing.

    Merencanakan menjadi puing akan hidup dari ke-tidak digunakan-nya,

    melewati kesementaraan fungsinya.

    Sadar akan kesementaraannya, dan kegentingan hidupnya,

    arsitektur ini didominasi oleh perasaan ‘mati’ yang mendalam.

    Bentuk lebih tidak penting ketimbang puing yang tersisa.

    Arsitektur yang berpuing,

    akan menihilkan dirinya sendiri.

    Dia akan mati dengan sendirinya

    secara pasti dalam lingkup alamnya:

    Gurun. Read more

    {1 comment}

    CS8 Semarang : imagination

    8 August 2010 by Admin.
    Categories: News and Updates

    bersamaan dengan gempita kemerdekaan dan damainya bulan ramadhan marilah kita saling berbagi.
    berbagi imajinasi, berbagi ide, berbagi inspirasi, berbagi visi serta semangat juang, dan juga… berbagi kreatifitas.

    imag!nation : pameran karya desain dan arsitektur.
    16 – 22 Agustus 2010

    {No comments}

    bungus mentelah : Pemenang 1 sayembara Metamorfosa Arsitektur

    29 July 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Brilliant!, News and Updates

    Sayembara desain rumah hunian dengan tema penerapan unsur lokal dan modern

    Bungus mentelah sederhana ditafsirkan sebagai “atap untuk istirahat” atau juga dapat didefinisikan sebagai rumah tinggal. Desain ini merupakan kolaborasi antara rumah vernakular adat Lombok dengan arsitektur kontemporer. Desain rumah ini menganut paham bergaya modern tetapi dibalik desain itu mengacu dan memetik filosofi-filosofi kehidupan maupun filosofi-filosofi rumah adat Lombok.

    Selain itu, rumah adat yang kita kenal pada umumnya identik dengan pemakaian material alam, tetapi kenyataannya pemakaian material alam yang dipakai terus-menerus tanpa dilandasi dengan tanggung jawab akan semakin menimbulkan kerusakan lingkungan. Maka kami membuat suatu solusi yaitu dengan sebagian besar material yang kami gunakan adalah material sintetis.

    Metamorphosa 2010
    View more presentations from jong arsitek.

    lokasi tapak
    Lokasi tapak terletak di daerah grogol, pemilihan lokasi ini ditetapkan bedasarkan kondisi daerah grogol yang cukup padat dan merupakan daerah pemukiman yang “hommy” untuk rumah tinggal. Kondisi lingkungan di lokasi cukup berpolusi dan menggenang apabila pada musim hujan, maka desain yang kami tawarkan mengambil prinsip-prinsip yang dapat menjadi solusi dari permasalahan tadi.

    tanaman
    Tanaman yang digunakan sebagai atap adalah Monstera yang dapat menyerap polusi di udara, dan juga dapat menyerap air yang cukup banyak. Maka dapat menjadi buffer yang baik dalam memfilter udara dan cahaya matahari.
    Untuk tanaman rambat pada dinding, tanaman yang digunakan adalah ficus pumila, tanaman ini juga berfungsi sebagai penyerap polusi yang terdapat diudara.


    inovasi desain

    Pemakaian kaca nako sebagai dinding karena material ini adalah material yang praktis, jika udara panas dibuka dan jika udara dingin ditutup. Pemakaian nako ini juga mencerminkan dinding anyaman bamboo pada rumah adat yang fungsional.(gambar dinding nako)

    Pemakaian bantalan gempa sebagai pencegah terjadinya gaya horizontal maupun vertical yang ditimbulkan gempa. (gambar bantalan gempa)

    Secondary skin untuk meminimalisir masuknya cahaya dan bayangan yang dihasilkan merupakan nilai estetika. Dengan inovasi desain bamboo yang menambah estetika rumah tinggal ini. (gambar secondary skin)

    Lantai kaca untuk melihat kolam (gambar lantai kaca)

    filosofi
    Rumah dan kamar orang tua yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari bagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mandapat ridha Allah diantaranya melalui shalat.

    timur

    Area orang tua dan ruang kerja berada di lantai 3, area anak berada di lantai 2, area bersama (bale) berada di lantai 1. Orang tua berada di tingkat paling tinggi disusul anak yang berada di tingkat bawahnya. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa orang tua dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan anaknya.
    Angka “3” simbol daur hidup manusia yaitu, lahir, berkembang, dan mati. Pada desain kami terlihat dari 3 lantai dan 3 modular kubus.

    Berugak yang ada di depan rumah, disamping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat control bagi warga sekitar. Misalnya, kalau sampai pukul 9 pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja, mungkin dia sakit.

    Atap bangunan berupa gunungan karena gunung merupakan pencerminan kesucian dan kesempurnaan.
    Atap lumbung padi Lombok, dengan jarak 2 meter dari permukaan tanah dan relative tertutup.

    Rumah berbentuk panggung sekaligus memaksimalkan resapan air.

    Tamupun harus merunduk saat memasuki pintu rumah yang relative pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.

    Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan system geser. Pintu geser merupakan cirri khas dari pintu arsitektur adat Lombok.

    [Show as slideshow]
    rebungusmentelaah_22
    rebungusmentelaah_21
    rebungusmentelaah_20
    rebungusmentelaah_19
    rebungusmentelaah_18
    rebungusmentelaah_16
    rebungusmentelaah_15
    rebungusmentelaah_13
    rebungusmentelaah_14
    rebungusmentelaah_17
    rebungusmentelaah_12
    {2 comments}

    LABO | Pemenang 1 sayembara Penataan : Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung

    27 July 2010 by Admin.
    Categories: Brilliant!

    New Museum diangkat sebagai tema yang menumbuhkan semangat baru untuk menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari beragam kalangan. Museum
    selayaknya tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah namun juga harus menjadi tempat yang menarik, aksesibel untuk seluruh ragam komunitas dan menjadi tempat alternatif berkumpulnya masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi kotanya secara berkelanjutan.

    Membangun kembali ruh kompleks MKAA (Museum Konperensi Asia Afrika) tidak dapat terlepas dari upaya mengenang spirit kebangkitan yang lekat dengan peristiwa KAA itu sendiri. Peristiwa KAA bukan sekedar peristiwa berskala Kota Bandung, namun peristiwa yang mengharumkan nama Indonesia sebagai sebuah negara yang berpengaruh secara internasional terutama di dalam membangun kekuatan poros baru yang menggabungkan kekuatan Asia dan Afrika pada masanya. Membangkitkan kembali kawasan museum KAA menuntut kita berpijak pada sejarah gemilang tersebut untuk diwariskan dan terus terjaga hingga ke generasi mendatang.

    Tujuan dari perancangan kompleks kawasan ini adalah :
    1. Tersusunnya konsep perencanaan dan perancangan kompleks MKAA yang tanggap terhadap ‘konteks sejarah (heritage-context)’.
    2. Tersusunnya program aktifitas bagi kegiatan revitalisasi bangunan-bangunan penting dalam kawasan sesuai prinsip perancangan dalam kawasan cagar budaya. sedangkan Sasaran dari perencanaan antara lain :
    1. Rumusan masalah-masalah spesifik dalam tapak seperti polusi, intensitas kegiatan masyarakat, kepadatan lalu lintas, bantaran air sungai (Cikapundung), dan permasalahan lainnya.
    2. Rumusan konsep pengembangan Kompleks MKAA/ Gedung Merdeka dan sekitarnya
    3. Rancangan lingkungan yang memperhatikan tautan (linkages), koridor, ruang antar bangunan, dan atau ruang publik pada kawasan secara komprehensif

    Figure ground dari blok MKAA, warna merah adalah bangunan yang dikonservasi. Keberadaan sungai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari museum. Permasalahan dari kawasan ini antara lain :
    - matinya fungsi beberapa bangunan
    - kurangnya ruang terbuka hijau
    - munculnya lost space (ruang mati yg tidak dikelola)
    - masalah kemacetan dan parkir
    - kurangnya street furniture dan fasilitas umum
    - kualitas sungai cikapundung yang tidak terawat dengan baik.
    Ditengah penurunan vitalitas kawasan Braga, makna museum menghilang seiring dengan menghilangnya fungsifungsi penunjang museum di sekitarnya.

    Pada dasarnya blok MKAA yang dilalui sungai cikapundung memiliki potensi dalam menyediakan waterfront dan promenade bagi kawasan , ditambah dengan konteks historis di dalamnya serta bangunan-bangunan bersejarahnya,maka pengembangan museum yang lebih luas dan dinamis dapat dimaksimalkan.

    Konsep oase menjadi pilihan di saat kawasan kekurangan ruang terbuka hijau dan ruang publik yang memadai. Alun alun di sisi selatan kompleks MKAA yang dahulu merupakan ruang terbuka publik beralih fungsi menjadi halaman masjid dan ruang parkir. Kerinduan akan suasana kota Bandung yang sejuk dan rindang menjadi salah satu inspirasi pengembangan museum yang baru. Ketimbang membuat sebuah massa baru yang kontras dengan bangunan lama,desain museum baru dibuat menyerupai taman,dengan sekuen-sekuen yang terjaga.

    Museum baru dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar, multi entry, berinteraksi dengan masyarakat,sungai, jalur-jalur pedestrian, taman, dan memberi sekuen pengalaman diantara bangunan lama, bangunan baru, dan alam. Ia akan lebih terbuka, melebur dalam kehidupan kota sehari hari.

    Strategi pengembangan museum baru dan penataan kawasan antara lain :

    URBAN OASE
    Penciptaan sebuah plaza dengan bermacam vegetasi dan fasilitas selain sebagai area resapan juga berfungsi sebagai simpul jalur pedestrian dan pusat orientasi sekaligus generator aktifitas.

    PENATAAN TAMAN DAN SUNGAI
    Bantaran sungai Cikapundung akan difasilitasi dengan pengolahan sampah sederhana dan
    menjadi ruang hijau untuk mengembalikan keseimbangan ekologi dan menerus masuk ke
    dalam plasa, menyatu pada atap-atap hijau bangunan baru

    IMAGE BRANDING
    Feature street furniture yang khas akan menjadi brand image baru yang mengingatkan masyarakat
    tentang museum KAA

    PENATAAN FUNGSI BANGUNAN DAN LINKAGE
    Fungsi-fungsi bangunan pada kompleks Museum
    KAA akan diprioritaskan pada fungsi museum dan fungsi penunjangnya, dengan sebuah jalur yang
    saling terhubung sehingga menyediakan pilihanpilihan tujuan.

    PEMANFAATAN LORONG BAWAH TANAH DAN PENCIPTAAN BASEMENT
    Museum KAA akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung baru dan pemanfatan lorong bawah
    tanah sebagai bagian dari sekuen perjalanan museum.

    PERAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN
    Masyarakat dilibatkan dalam pengembangan museum yang dikemas dalam suatu event. (penanaman bunga,pohon,pengolahan sampah,

    MASSA BANGUNAN

    Beberapa massa bangunan eksisting dirobohkan untuk mendapatkan skyline kawasan yang terjaga dan persentase ruang terbuka yang lebih banyak. Massa-massa baru dibuat terpecah sesuai dengan kapling kapling eksisting sehingga proses pentahapan pembangunan lebih mudah. Ketinggian dibatasi hingga 3 lantai sehingga bangunan-bangunan sekitar masih dapat
    terlihat dari arah taman.Jarak antar massa disesuaikan untuk mendapatkan skala yang beragam. Sedangkan untuk daerah sungai tidak dibangun massa baru untuk memaksimalkan unsur alami di blok tersebut. Area sungai kemudian dihubungkan dengan area museum melalui sebuah taman terbuka yang sekaligus menjadi simpul kawasan serta, di sini pengunjung dapat memilih aktifitas dan tujuan sesuai keingunan.

    Penataan area sungai dilakukan dengan membuat fasilitas pengolahan sampah yang dioperasikan bersama masyarakat setempat.Di tepian sungai ditanam pohon-pohon peneduh untuk kenyamanan pejalan kaki dan mengembalikan ekosistem sungai. Area promenade menjadi ruang multifngsi sebagai bagian dari ekstensi museum.


    SIRKULASI

    Tidak ada akses jalan yang ditutup pada sirkulasi baru .Sirkulasi pejalan kaki diperbanyak dengan jalur-jalur baru dalam blok museum,jembatan penghubung,basemen,dan menerus menuju museum. Akses masuk museum di area taman terhubung dengan akses basemen. Blok dibuat lebih permeabel dengan menambah beberapa pintu masuk. Di setiap tepi massa terdapat selasar di dalam dan luar blok sehingga aktifitas window shopping dapat terjadi di kedua sisi bangunan.

    Sirkulasi kendaraan menuju parkir basemen diletakkan pada jalan Braga selatan,dengan memanfaatkan perbedaan kontur yang miring ke arah sungai ,maka pembuatan basemen dapat lebih mudah. Basemen dibuat pada sebagian lahan sehingga masih menyisakan area resapan dan pohon pohon yang besar. Keberadaan ruang bawah tanah eksisting dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai alternatif galeri dan sirkulasi pengunjung. Sebuah sunken gallery berbentuk lingkaran diletakkan di tengah taman,memberi komunikasi visual pada pengunjung diatas taman . Sirkulasi baru dibuat untuk menghubungkan fungsifungsi penunjang museum dan memberikan pilihan tujuan yang beragam pada pengunjung.

    SEKUEN KAWASAN

    Aktifitas awal yang sudah terbentuk akan memudahkan penciptaan sekuen visual kawasan. Dari arah braga,pengunjung dapat masuk melalui pintu masuk utara,menuju ke museum melewati taman dan pepohonan. Dari sisi barat dapat melalui jembatan penghubung,di sini bangunan lama dan baru terlihat kontras namun memiliki ketinggian yang sejajar. Bangunan perpustakaan menjadi fokus utama area belakang museum,dengan fasad transparan untuk memperlihatkan aktifitas di dalamnya.

    [Show as slideshow]
    mkaa_labo01
    mkaa_labo02
    mkaa_labo03
    mkaa_labo04
    mkaa_labo05
    mkaa_labo06
    mkaa_labo07
    mkaa_labo08
    mkaa_labo09
    mkaa_labo10
    mkaa_labo11
    mkaa_labo12
    {No comments}

    Aradnagna | Entry sayembara Penataan : Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung

    27 July 2010 by Admin.
    Categories: Brilliant!

    MKAA Expo oleh Aradnagna

    Ini adalah salah satu karya Sayembara Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) untuk merevitalisasi kompleks museum/Gedung Merdeka, Bandung, yang merupakan bagian dari rangkaian acara dua tahunan Arte-Polis. Sebuah sayembara gagasan bertema New Museum yang diangkat untuk menumbuhkan semangat baru dan menjadikan museum sebagai salah satu fasilitas publik yang terbuka bagi masyarakat dari beragam kalangan, aksesibel untuk seluruh ragam komunitas, dan menjadi tempat alternatif berkumpulnya masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi kotanya secara berkelanjutan.

    Tugas yang diberikan adalah mengusulkan konsep perencanaan dan perancangan yang tanggap terhadap konteks sejarah MKAA dan menyusun program aktifitas bagi kegiatan revitalisasi bangunan-bangunan penting dalam kompleks sesuai prinsip perancangan dalam kawasan cagar budaya.

    Skema dasar dari tema New Museum adalah menginterpretasikan kembali konsep museum yang ada agar tidak lagi dingin/angker sehingga identik dengan suasana formal/akademik dan terbatas bagi kalangan tertentu saja (siswa, peneliti, sejarawan), melainkan agar menjadi lebih dinamis dan selalu segar dengan membuka lebih banyak kesempatan pada karya-karya baru/kontemporer untuk masuk dan dipamerkan di dalam kompleks ini. Tidak hanya sebatas karya untuk dipamerkan, yang paling penting adalah untuk mampu menyerap masuk berbagai macam kegiatan yang berpotensi menghidupkan kompleks baik secara ragam kegiatan maupun secara ekonomi, sekaligus meningkatkan rasa kepemilikan warga terhadap kompleks museum ini karena telah berpartisipasi di dalamnya. Sebuah Expo; MKAA Expo.

    Strategi yang ditawarkan adalah bagaimana ‘menghidupkan kembali daya tarik kompleks MKAA/Gedung Merdeka yang pernah menjadi magnet di tahun 1955’ dengan proyeksi untuk menjadi sebuah icon dan simpul aktifitas bagi lingkungan di sekitarnya, pada khususnya bagi Jalan Braga. Sebuah alun-alun baru; Alun-Alun MKAA. Kemudian massa melayang terhubung dengan massa MKAA lama dengan menyuntikkan sebuah Galeri Penguhubung ke dalam MKAA lama yang berujung pada sebuah travelator yang membawa pengunjung ke atas ke galeri kontemporer baru tadi

    1. Langkah pertama adalah menyusun sebuah kalender acara tahunan yang dapat memfasilitasi acara-acara akbar berskala lokal/nasional/internasional untuk dilaksanakan pada tiap-tiap bulannya.
    2. Memperbesar galeri karya temporer yang kini ukurannya terlalu kecil untuk dapat menggelar acara pameran yang berdampak signifikan terhadap keseluruhan kompleks.
    3. Menyuntikkan program ruang yang dapat mendatangkan pemasukan seperti kafe, toko, ruang pertemuan/auditorium, dan hotel, sehingga secara ekonomi kompleks ini dapat memenuhi kebutuhannya sendiri (self-sustained).
    4. Menyerap aktifitas informal di sekitar kompleks yang kini kurang tertata agar menjadi lebih tertib, terutama masalah parkir.
    Langkah-langkah ini dilakukan dengan memaksimalkan kesempatan yang diberikan oleh pemberi tugas untuk mengganti seluruh bangunan non-konservasi yang tidak tertata dan tumbuh tanpa pertimbangan terhadap keseluruhan kompleks dengan infiltrasi bangunan baru yang lebih terintegrasi dengan konsep New Museum.

    Keadaan kompleks yang kini masih dipisahkan oleh Jalan Cikapundung Timur dipersatukan kembali dengan menutup jalan tersebut dari arus kendaraan publik menjadi salah satu fasilitas untuk agenda kegiatan tahunan. Pembebasan ini juga memungkinkan pengolahan bantaran sungai agar menjadi lebih menarik dan fungsional. Lalu-lintas yang kemudian dialihkan ke Jalan Cikapundung Barat menjauhkan sumber polusi disaat kemacetan keluar dari kompleks ini, dan dengan begitu Jalan Cikapundung Barat yang memiliki potensi ekonomi namun selama ini sepi akan menjadi lebih bergairah berkat limpahan lalu-lintas yang lebih ramai.

    Kebutuhan ruang yang terbentuk dari kalender acara tahunan pada lahan yang telah dibebaskan dari bangunan-bangunan non-konservasi kemudian dikelompokkan menjadi tiga zoning utama (secara vertikal), yaitu basement/semi-basement (parkir), lantai dasar terbuka yang ternaungi/tidak ternaungi (plaza/alun-alun), dan sebuah massa melayang yang menaungi sebagian plaza tadi (infiltrasi massa baru di dalam kompleks : auditorium, perpustakaan & kafe, galeri kontemporer). Bentukan massa baru mengisyaratkan sesuatu yang menjembatani dua potensi yang ada pada dan di sekitar site, yaitu badan air Sungai Cikapundung dan Jalan Braga. Plaza ternaungi yang terbentuk di bagian bawahnya dapat digunakan sepanjang waktu untuk kegiatan seperti bazaar dan sebagainya, dimana luasan massa yang menaungi adalah sama dengan KDB/luasan lantai dasar bangunan-bangunan yang digantikan. Seolah massa ini adalah kumpulan bangunan existing yang dikonfigurasikan ulang kemudian diangkat levelnya hingga menyisakan plaza multi-fungsi di bawahnya.
    Plaza yang tidak ternaungi oleh massa melayang terbentuk dari penambahan platform pada sebagian badan sungai yang menciptakan tempat dimana warga bisa berkumpul untuk menyaksikan panggung kesenian terbuka, konser musik, layar tancap, ataupun video-mapping. Sebuah platform yang merupakan miniatur dari alun-alun yang sebenarnya yang berada di sekitar kompleks ini.

    Platform tersebut berada pada level yang sama dengan lapis pertama area parkir yang berada pada level semi-basement terhadap Jalan Braga. Lahan parkir ini didesain untuk dapat memuat sebanyak 402 mobil dan 228 motor. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan parkir program ruang-program ruang baru, angka ini diharapkan dapat menyerap kebutuhan parkir yang selama ini kurang tertib dengan menggunakan bahu jalan sehingga menambah kemacetan pada Jalan Cikapundung dan sekitarnya.

    MKAA Expo dikonsep sebagai sebuah perwakilan dari jamannya, untuk memperkaya nilai historis kompleks ini dengan menampilkan semangat yang berlangsung pada saat bangunan ini dirancang. Tanpa berusaha mengimitasi langgam dari tahun-tahun yang telah berlalu diharapkan justru membuat kompleks ini menjadi lebih lengkap merekam perjalanan sejarah pada umumnya, dan sejarah arsitektur pada khususnya.

    Aradnagna Architects
    Juli 2010

    [Show as slideshow]
    aradnagna_malabar05
    aradnagna_malabar08
    aradnagna_malabar09
    aradnagna_malabar10
    aradnagna_malabar11
    {No comments}

    DEMAYA : Bedah karya Andyrahman Architect

    26 July 2010 by Admin.
    Categories: News and Updates

    DEMAYA mempersembahkan

    Bedah Karya Andyrahman Architect, Ira Residence @ SukoLilo Park Regency Blok F/7 Surabaya, turut pula presentasi karya tugas akhir terbaik dari Institut Teknologi Sepuluh November, Presentasi “Shop House at Kendang Sari” oleh ARA Studio, dan Karya d_Pavillion ole Edwin Nafarin

    [Show as slideshow]
    oh_demaya_ar_2010_02
    oh_demaya_ar_2010_03
    oh_demaya_ar_2010_04
    oh_demaya_ar_2010_05
    oh_demaya_ar_2010_06
    oh_demaya_ar_2010_07
    oh_demaya_ar_2010_08
    oh_demaya_ar_2010_09
    {No comments}
    Page 6 of 16First«...45678...»Last
    • Home
    • We are the Jongs!
    • jongIndonesia!
    • Grab a magz!
    • jongBincang!
    • Meet and Greet :)
    • Need to Contact Us?
    • Shop!
    • News and Updates
    • We Proudly Present..
      • We are Architects
      • Brilliant!
      • Architect Does!
    • digiMove
    • Follow Us On

    • Recent Posts

      • Diskusi “Ruang Alternatif anak dalam Berkreasi dan Belajar”
      • Open House Exhibition : AFAIR 2012 “Play with Your Surrounding”
      • ARCHWORX oleh Himpunan Arsitektur Bina Nusantara
    • Recent Comments

      • cung on jongJelajah! Singapura
      • frumensius rosman leku on vidour : Wae Rebo Series – Ngole Wae Rebo | Wae Rebo Journey
      • Benzz on Indonesian Dream_0357 (2nd winner of the 2010 Skyscraper Competition)
    • architerian-160-60-1
    • vidour
     
    Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
    Wordpress, theme design by Infochel. Hosting by Raxdata Networks.