Rumah itu berbeda dari deretan rumah yang lainnya, sosoknya temaram di tengah malam yang cukup gulita itu. Pemilik rumah sekaligus arsitek rumah ini, Achmad Tardiyana, membangun rumah ini dengan berawal dari keinginannya untuk membangun rumah murah. Rumah yang dikatakan murah belum tentu tidak estetik, ketika memasuki pekarangan rumah suasana yang terbangun dari kombinasi bentuk, material, dan keadaan lingkungan sekitar keunikan local yang baik.
Dari arah jalan, fasad rumah sangat mengundang, area bukaan mendominasi tampak depan rumah, menciptakan akses visual langsung ke bagian dalam rumah terutama lantai tingkat 1. Rak buku terjajar rapi di suatu sudut, sementara di sudut lainnya sebuah ampiteather mini memanfaatkan kemiringan lahan. Letak rumah yang bersebalahan dengan taman kanak-kanak memberikan dorongan kepada sang arsitek untuk membangun sebuah ruang yang dapat mewadahi kegiatan positif bagi warga sekitar
Hal yang menarik ketika memasuki lantai dua adalah akses langsung dari amphitheater menuju ruang keluarga menciptakan sebuah aliran pergerakan yang menerus dengan bantuan selasar belakang. Selasar belakang tampil seperti perpanjangan ruang keluarga, dengan bangku panjang yang digunakan juga sebagai pembatas. Terdapat juga akses utama yang menghubungkan tingkat 1 sampai dengan tingkat 3 yang berada di sisi lain amphiteather.
Lantai dua berisi kamar mandi, dapur, ruang makan dan ruang keluarga sedangkan lantai tiga bersifat lebih privat berisi ruang kerja dan ruang tidur. Dari lantai atas ini, semua ruang dapat dilihat, memberikan pemilik rumah untuk dapat mengawasi setiap ruangnya.
Konektivitas ruang yang terjadi di dalam bangunan sama seperti ketika kita melihat tampak muka bangunan, akses visual menerus dan hubungan ruang yang menerus, seakan mengundang kita untuk terus bergerak menjelajahi detail setiap ruangnya. Keindahan yang diciptakan bangunan ini adalah dari permainan detail setiap elemennya, sambungan satu material bahan ke material lain dan sambungan-sambungan kabel yang diekspose.
Open house tidak saja diisi dengan jalan-jalan malam di dalam bangunan rumah, kali ini bersamaan dengan launching buku seri rumah ide oleh Imelda Akmal dan presentasi beberapa proyek rumah yang masuk pada buku tersebut. Pada sesi akhir, diskusi juga membahas mengenai perlombaan desain rumah yang diadakan seri rumah ide. Diskusi malam itu berakhir dengan pesan, “Jangan lupa mengikuti perlombaan seri rumah ide. Tuangkan ide-ide segar dari para mahasiswa arsitektur, dan arsitek-arsitek muda sampaikan arsitektur kepada masyarakat.” Semuapun tersenyum simpul menikmati suasana diskusi yang berlangsung di area amphiteather yang terbuat dari papan kayu dan beton.
desain menginspirasi!
Putri Kusumawardhani
foto foto oleh Andhang Rakhmat Trihamdani













