Logo
  • ARCHITECTURE UI FAIR 2010

    2 July 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    Pada dasarnya, AFAIR 2010 merupakan ajang ‘unjuk gigi’ tahunan mahasiswa arsitektur UI kepada khalayak pemerhati arsitektur. Di tahun 2010, kegiatan ini ingin mengangkat hubungan antara arsitektur sebagai cabang ilmu teknik dengan proses kreasi seni, bagaimana perbedaan, korelasi, interaksi, serta kemampuan yang satu menginspirasi yang lain.

    Sebelum acara puncak ini (PART 2), sebelumnya telah diadakan AFAIR 2010 PART 1 di CiToS dan AFAIR 2010 PART 1 1/2 di Engineering Center, FTUI.

    Materi acara puncak dirancang sedemikian rupa menjadi sesuatu yang dapat dipahami oleh masyarakat awam namun tetap menarik bagi para pemerhati arsitektur. Dalam materi-materi yang diangkat, AFAIR 2010 memperbandingkan :

    - metode berpikir yang diterapkan dalam karya cipta arsitektur dengan metode berpikir yang digunakan dalam proses cipta dan kreasi karya seni.

    - apa yang dikerjakan oleh seorang ‘arsitek’ atau seseorang dengan background pendidikan ’arsitektur’ dengan mereka yang disebut atau menamakan diri ‘seniman’,

    - dengan kata lain membandingan arsitektur dengan artwork,

    - hubungan teori dan aplikasi ilmu arsitektur dengan ilmu seni yang terdiri dibagi ke dalam seni pertunjukkan (performing art), seni visual (visual art), dan seni ruang.

    A[rchitecture UI]FAIR 2010 highlights a r t as inseparable subject in discussing a r c h i t e c t u r e. With intention to question the correlation, difference, and how one affects the other, AFAIR 2010 serve ar(t)chitecture as the main course.

    Saturday, July 10th 2010’s menu will talk about how theories of architecture reflected in three major areas of arts; visual arts, performing arts, and spatial art. These three subjects will be presented in discussion and simulations that will interact, inspire thoughts, and raise questions.

    What distinguish these two matters?
    If both have the same scope of work, why is it named differently?

    —————————————————

    Schedule List

    Fri, July 09th

    18.30 – 21.00 Artwork Auction

    20.00 – 22.00 Alumni Gathering

    Sat, July 10th

    14.00 – 16.00 Visual Art of Our City

    (Ardi Yunanto, Herlily*, Sigit Kusumawijaya*)

    16.00 – 18.00 Architecture and My Music

    (Nivell Rayda, Yoso Bayudono*)

    18.40 – 20.00 The Secret Projects of Secret Agents*

    (The Secret Agents, Widyarko)

    20.00 – 22.00 The Ar(t)chitecture of Installation

    (Dewi Susanti, Iswanto Hermawan, Farid Rakun, Evawani Ellisa, Mahasiswa Arsitektur UI)

    22.00 – Selesai Closing Ceremony & Announcement of Winners

    {No comments}

    Nyangkruk Nang Surabaya

    1 July 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Brilliant!, News and Updates

    Seorang bapak sedang bermain dengan anaknya di pinggir taman di salah satu sudut kota, Tampak, walaupun kendaraan memadat dan berlalu kencang disekitarnya, taman taman rindang tetap di penuhi oleh penduduk untuk bercengkrama, ataupun bersama menikmati ruang kota tersebut sambil berjalan kecil, jogging, ataupun bersepeda. Read more

    {No comments}

    Pengantar Kurator : Pameran Nasional Arsitek Muda 2010

    27 June 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Architect Does!, Brilliant!, We are Architects, We Proudly Present..

    Pertanyaan yang hendak dicoba jawab oleh pameran ini adalah: Apakah generasi baru arsitek Indonesia, yang mengalami pendidikan di tahun-tahun terakhir sebelum 1998 dan mulai berkarya sesudah 1998, memang membawa kecenderungan berbeda dari yang sebelumnya?

    Tentu saja pertanyaan ini tidak mengabaikan bahwa kecenderungan baru atau lain bisa saja diusung justru oleh arsitek dari generasi yang lebih lama. Di masa arus informasi yang deras dan bebas, pembagian generasi memang tidak dapat dipertanggung-jawabkan dari perspektif keperluan di luar para arsitek itu sendiri. Pameran yang bersifat generasional memenuhi kebutuhan untuk membuka exposure dan wacana atas generasi itu sendiri, yang memiliki proses pembentukan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Terang bahwa konteks produksi yang mereka masuki juga berbeda dari masa sebelumnya, tetapi generasi sebelumnya juga memasuki konteks ini, hanya lebih dulu, entah dengan kesadaran yang berbeda atau tidak.

    Generasi yang mengalami proses pembentukan di seputar tahun 1998 mengalami setidaknya perubahan yang mendasar dalam teknologi informasi yang berdampak bukan saja pada jumlah (mungkin juga mutu) informasi yang mereka terima dan pertukarkan secara interaktif di antara rekan sejawat, tetapi juga pada cara-cara menyajikan gagasan, setidaknya secara visual. Pada saat bersamaan kelas menengah Indonesia menjadi makin besar[1] dengan identitas yang makin mantap, karena makin tidak-tergantung pada negara, dan mampu mengembangkan hubungan-hubungannya sendiri. Kini sudah menjadi lazim untuk berharap mendapatkan penugasan dari swasta dan keluarga kelas menengah. Dua puluh tahun yang lalu, generasi yang dikenal sebagai Arsitek Muda Indonesia (AMI) mulai mencicipi rasa pasar ini, dan kemudian secara sadar atau tidak menjadikannya basis berhimpun mereka dan melancarkan cara operasi baru. Sebelumnya, pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah pemberi tugas dominan. Kini, hampir tidak terpikirkan untuk mengharapkan penugasan dari negara untuk berkarya sehari-hari.

    Sayembara, yang diperjuangkan dengan sangat oleh generasi sebelumnya, sebagai konsekuensi dari keterbukaan yang diperjuangkan, kini juga telah menjadi sangat lazim, pada berbagai skala nasional maupun internasional, di daerah Jakarta maupun daerah-daerah lainnya. Swasta melihat keuntungan dari sistem sayembara ini. Pemerintah memaklumi pentingnya dan bahwa ia mewakili tuntutan akan good governance, tetapi peraturan yang ada belum sepenuhnya mendukung. Sebagian arsitek generasi pasca 1998 bahkan telah mengikuti sayembara internasional ketika masih berstatus mahasiswa.

    Bilamana generasi AMI mengetahui perkembangan internasional setidaknya 5 tahun terlambat, generasi pasca-1998 mengetahuinya dengan seketika. Generasi terdahulu itu berwacana dengan tatap-muka secara langsung, sambil sekali-sekali dengan susah payah secara kolektif membuat penerbitan[2], generasi sekarang memiliki majalah online.[3] Pertemuan-pertemuan AMI dilaksanakan di bangunan-bangunan (sebagian besar rumah-rumah) show-case karya mereka, dengan slides seluloid dalam suasana sangat informal, dengan semua orang saling kenal. Pertemuan-pertemuan Jongarsitek diselenggarakan di kafe, galeri, atau tempat gaya-hidup lainnya yang hingga sepuluh tahun lalu masih belum merupakan tempat berkumpul yang sungguh jamak. Sajian audio dan visual semuanya dijital. Pameran arsitektur menjadi jauh lebih kerap, lebih dari dua kali setahun, oleh organisasi yang berbeda. Majalah-majalah bertambah judul maupun eksemplar. Bahkan liputan TV juga.

    Kota? Apakah kota yang dihuni oleh generasi pasca-1998 ini berbeda dengan sebelumnya?

    ***

    Membaca arsitektur bagaimana pun juga memang berarti membaca kota secara langsung atau sebagai cerminan tidak langsung, sekalipun dan terutama kota bukan sebagai kumpulan bangunan gedung, dan arsitektur bukan hanya pada bangunan gedung.

    Hanya ada satu atau dua karya yang dipamerkan di sini yang konteksnya bukan kota.

    Selebihnya, hampir seluruhnya, bergulat dan bergelut dengan dan di dalam kota.

    Pada rumah-rumah kelas menengah yang dirancang oleh arsitek generasi pasca-1998 ini, kota hadir sebagai sesuatu yang dibelakangi, atau tidak diketahui, tidak terpetakan di dalam banyak produksi arsitektur. Ide-ide hadir dengan susah payah, putus asa, tetapi kota belum cukup terorganisasikan untuk menerima ide-ide ini menjadi kenyataan wujud yang padu. Sebagian ide-ide harus mundur karena keputusasaan. Orang perorang harus membalikkan tubuh, memperkuat dunia interiornya, karena kota tidak menjanjikan, malah menimbulkan kesulitan. Kolektivitas, kalau pun ditawarkan dalam kompleks-kompleks berukuran besar, terbatas pada menciptakan kolektivitas hanya di dalam dirinya sendiri, sementara hubungan dengan kota—yang nyata dan beriwayat panjang—sangat  terbatas. Hal ini sangat nyata misalnya pada proyek sayembara perumahan mahasiswa UI di Depok. Proyek seperti ini, karena tema dan lokasi serta faktor-faktor kontekstual lainnya, sebenarnya sangat strategis untuk mempengaruhi arah arsitektur dan watak kekotaan masa depan di Indonesia.

    Kesulitan arsitektur dalam menawarkan solusi progresif bagi kota-kota Indonesia muncul karena tidak ada mediasi atau fasilitasi yang tanggap serta cerdas atas banyak masalah ruang kota. Kota-kota, dalam makna arsitektur, tidak berkepemimpinan. Yang ada hanya otoritas dengan discretion power yang besar, dan sering korupsi.  Pada keributan soal penertiban pedagang kaki lima, kita menemukan hal yang sama ini: sementara kekotaan kita memang masih muda, ada banyak negosiasi yang tidak secara sadar dan taktis ditengahi untuk mencapai kematangan solusi.[4] Ketidak-hadiran kepemimpinan dengan kewewenangan publik yang menengahi proses untuk melahirkan kolektivitas yang sehat juga menyebabkan munculnya solusi-solusi individual yang introvert, menutup diri, kadang involutif, membelakangi kota-kota. Misalnya, meskipun sudah cukup lama ada –setidaknya lima tahun— kecenderungan meletakkan kamar pembantu beserta kamar mandi dan cucinya di bagian depan rumah, kadang dengan cara yang cerdik memanipulasi Garis Sempadan Bangunan, kini menjadi makin eksplisit dan tidak malu-malu, dianggap sebagai solusi pragmatis yang wajar saja—keadaannya begitu sih! Bersamaan dengan itu, seluruh muka rumah-rumah menjadi makin terutup, suram, bahkan cenderung cemberut terhadap jalan, terhadap kota.

    Solusi pragmatik ini mungkin sekedar menerjemahkan gejala perubahan sosial: pembantu rumah tangga telah berubah dari “orang rumah” menjadi “buruh” industrial, telah kehilangan hubungan-hubungan yang biasa di masa dua puluh tahun lalu, dan sekarang mungkin tinggal nostalgia pada generasi yang dilayani oleh para arsitek muda.

    Hal itu bukan karena tidak ada gagasan kreatif arsitektur yanng lebih progresif yang ditawarkan sepanjang sejarah arsitektur modern Indonesia. Gagasan tentang kampung susun yang sangat maju pada tahun 1983(?) telah dikemukakan sebagai tugas akhir dari Heri Muliono, mahasiswa di Universitas Katolik Parahyangan waktu itu. Tidak saja ia sangat jauh meneroka kemungkinan itu, tetapi juga sangat mendalam dan memperhitungan segala aspek secara realistis. Pada pameran ini kita akan melihat gagasan itu muncul kembali sebagai suatu keping utopis yang skematik. Gagasan tentang mewadahi pedagang kaki-lima di kaki-lima dan ruang khalayak lainnya, telah tanpa henti diajukan oleh arsitek Indonesia dalam empat puluh tahun terakhir. Terakhir, bulan lalu ada lokakarya, sayembara gagasan, dan diskusi penataan kaki lima di Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara. Bulan Juli nanti juga akan ada lokakarya dan diskusi hal yang serupa di Bandung, dalam rangka Temu Ilmiah Mahasiswa Arsitektur Indonesia ke-26 yang dinamai BDG26.

    Kota-kota juga makin sadar tentang kepadatan yang harus makin ditingkatkan dan secara sengaja dirancang dan dikelola dengan baik. Banyak ide ditumpahkan pada bagaimana memadatkan volume penduduk, serentangan infrastruktur dan program pada bagian-bagian kota. Tidak semua ide ini baru, atau secara keseluruhan serta fundamental lebih maju daripada generasi-generasi sebelumnya. Tetapi, gagasan-gagasan ini tetap berharga karena memaparkan dua gejala yang menunjukkan sekaligus harapan dan desakan yang kuat: kembalinya utopia, serta kemungkinan yang lebih besar untuk sekarang diwujudkan.

    Kota-kota di Indonesia juga sedang giat membangun infrastruktur baru dengan tuntutan langsung tumbuh dari masyarakat setempat dan kepentingan ekonomi pembangunan yang makin nyata. Ambisi proyek-proyek besar bukan lagi monopoli daerah khusus ibukota, tetapi juga daerah-daerah lain. Dampak desentralisasi dan otonomi daerah telah mulai menggigit.  Motif budaya, politik identitas, pertumbuhan ekonomi, bercampur baur.

    Di dalam kota demikian api globalisasi persaingan dan konsumtif mendapatkan minyak-nya. Benih-benihnya jatuh ke atas lahan bertanah subur, berhara tinggi. Suatu cakrawala kehidupan kota yang baru hadir dengan dengan kelas menengah yang makin besar dan makin beragam dan meragam. Kelas menengah Indonesia makin terbuka dan berwawasan luas.

    Terdapat rentang yang sangat besar dari yang dapat disebut “kelas menengah” di kota-kota Indonesia: mulai dari yang mampu memiliki tanah seluas 90 m2 dengan bangunan 75 m2, hingga yang mampu membeli tanah hingga ribuan meter persegi dengan bangunan hingga 500 m2, dengan nilai total property sebesar dua ratus juta rupiah hingga dua milyar rupiah atau lebih. Jumlah terbesar tentu saja berkisar pada kemampuan dua hingga sekitar lima ratus juta rupiah. Apakah yang mayoritas, dengan rentang kemampuan finansial yang sempit akan juga memiliki rentang pilihan rancangan yang juga sempit, dan sebaliknya yang kemampuan finansialnya makin besar akan memiliki rentang solusi kreatif yang lebih lebar? Apakah rumah kecil atau rumah besar mempengaruhi kreativitas arsitek?

    Yang kita lihat pada rancangan rumah-rumah tinggal—yang selalu merupakan indikator paling minimal dan penting bagi kreativitas arsitektur, seperti menu mendasar terjangkau yang paling disukai pada sebuah restoran—selain keragaman pada volume dan bahan, adalah keragaman pada program, dan pada keterbukaan terhadap ide-ide arsitektonik dalam hal susunan ruang serta bentuk-bentuk yang mengacu kepada lebih banyak sejarah, preseden, sebaran geografis dan budaya. Hal ini dapat dikatakan bahkan tidak mungkin dibayangkan duapuluh atau sepuluh tahun lampau.  Keragaman program serta keterbukaan terhadap ide arsitektonik menunjukkan keragaman gaya-hidup, yang kira-kira terbentuk dari campuran profesi, latar belakang pendidikan, warisan budaya, selera konsumsi, dan barangkali banyak hal lain. Tentu saja, mereka tidak terlepas dari apa yang ditawarkan oleh para arsitek. Para arsitek sendiri adalah representasi kelas menengah yang pertama-tama nampak hadir pada rumah-rumah ini.[5] Apakah ada pemikiran kritis yang progresif pada karya-karya ini? Apakah arsitek dapat menawarkan yang kritis pada ruang yang dihuni secara nyata oleh orang yang nyata pula? Jawabannya, seperti terpampang pada pameran ini, adalah berupa rentang kemungkinan.

    ***

    Makin banyak arsitek Indonesia bekerja untuk proyek di luar negeri, memasuki arena globalisasi persaingan. Pada saat sama hubungan kolegial yang menghasilkan solidaritas dan produksi pengetahuan bersama juga terjadi di antara sesama arsitek muda di tataran internasional maupun nasional. Kunjung mengunjung di tingkat nasional dan internasional makin kerap dan mudah. Pertukaran ide, pinjam meminjam, curi-mencuri gagasan menjadi berskala global pula. “Penyair yang matang mencuri, penyair yang mentah meniru,” kata T.S. Elliot.[6] Di pameran ini kita juga akan menyaksikan rentang dari peniruan mentah hingga pencurian lihai itu.

    Sayembara, yang pada dua (atau tiga) generasi AMI sebelumnya masih diperjuangkan dengan susah payah[7] kini telah menjadi kelajiman. Dengan teknologi, para arsitek muda mudah pula serta dalam sayembara internasional. Banyak yang memenangkan sayaembara, meskipun tidak selalu juara pertama. Lebih dari itu, sayembara telah dapat dikatakan produktif dalam arti ia telah menghasilkan ide-ide dan wacana ke dalam ruang publik. Atas dasar ini pula, makin tumbuh prakarsa sukarela—tanpa undangan atau sayembara—para arsitek muda untuk melakukan “intervensi”, yaitu mngusulkan gagasan-gagasan arsitektur kepada berbagai soal atau tempat di kota-kota. Namun, sayembara bukan tanpa resiko. Ancaman terbesar bagi arsitek oleh sayembara tidak kurang dari kemungkinan menggerus integritas arsitek itu sendiri, ialah ketika ia berupaya membayangkan keinginan, minimal apa yang dapat diterima, atau yang dapat dimengerti oleh para juri—bukan client—nun jauh di sana.

    Apa yang dianggap baik oleh juri pertama-tama haruslah dapat dimengerti oleh nya. Berupaya membuat diri dimengerti oleh juri sama dengan berupaya menjadi bagian dari sistem nilainya. Dengan begitu saja, peserta sudah pertama-tama kalah. Kalau pun dia memenangkan sayembara—yang saya maksud terutama adalah sayembara yang konteksnya spesifik berada di luar ruang budaya peserta dan sayembara yang dibuat sangat universal (berupa tema generik)—maka ia mungkin telah takluk karena dinilai melalui sistem nilai yang belum tentu dianutnya. Ada perbedaan pada karya-karya yang dihargai setelah selesai dibangun, karena dibuat tanpa antisipasi menghadapi juri. Di sini ada integritas (relatif) penciptaan. Sebaliknya, sayembara mengandung kelebihan berupa kemungkinan bagi pencipta membebaskan diri dari batas-batas pesanan, andai saja dia berani membebaskan diri dari spekulasi tentang juri.

    Kemampuan komunikasi visual lalu menjadi penting, dan dibantu oleh ketersediaan teknologi kontemporer. Pada sisi positif, tentu saja sayembara dapat memeras arsitektur menjadi pemikiran, ketimbang sekedar proyek perancangan, terutama ketika jarak antara juri dan arsitek peserta sayembara, dan antara konteks nyata dengan yang tertera di dalam Kerangka Acuan, menjadi makin besar. Kemampuan teknologi memungkinkan arsitek memvisualisasikan lebih realistis rancangannya, sekaligus juga lebih dapat membuatnya lebih palsu dengan lebih meyakinkan. Bahaya lain adalah penekanan berlebihan pada “yang nampak”, bukan “yang terasa” atau “yang teralami”.

    Bagaimana pun juga ada sebersit kebebasan yang nampak pada imajinasi bentuk-bentuk yang ditawarkan oleh generasi ini, meskipun karena abstraksi dan formalisme yang dipinjam dan dicuri itu yang, syukurlah, masih sehat, bahkan ketika atap vernakular Indonesia digunakan seperti pada rumah-kantor di Kendangsari, Surabaya. Abstraksi dan formalisme ini sehat karena metodis, ada maksud, dan sebenarnya secara puitis mengingatkan kembali bahwa, pada arsitektur, akhirnya bentuklah yang berbicara.

    Kemudahan “bermain-main dengan bentuk” ini mungkin sekali terbantu oleh teknologi yang sangat memudahkan mengendalikan bentuk-bentuk geometris secara tiga dimensional seketika. Tentu saja, tetap saja sangat diharapkan otentisitas—kalau bukan orijinalitas—akan makin kental di masa datang, melalui metoda-metoda yang dapat dijelaskan maupun melalui proses kotak-hitam di dalam proses perancangan arsitektur. Meskipun percaya bahwa arsitektur adalah produk dari segala sesuatu yang terjadi saat ini kita percaya selalu ada celah untuk terobosan, untuk pembaruan, sebagaimana telah selalu terjadi dalam sejarah. Sejarah, selain ditulis oleh yang menang, juga dibentuk oleh yang tidak mau tunduk kepada pembatasan oleh keadaan terberikan.

    Untuk keperluan itu, mau tidak mau, pemikiran harus menyertai perancangan sebagai teman sejalan yang dialektis. Sebab, seperti dikatakan oleh  Louis I. Kahn pada tahun 1957: “Arsitektur berarti menciptakan ruang dengan cara yang benar-benar direncanakan dan dipikirkan….Pembaharuan arsitektur yang berlangsung terus menerus sebenarnya berakar dari pengubahan konsep-konsep ruang.”

    Memang “baru” itu relatif dan terikat konteks. Tetapi, bagaimana pun juga sesuatu yang “baru” dapat dikenali karena memiliki kejutan dan energi untuk menggugah, mempengaruhi pemikiran, mengubah cara pandang. Adolf Loos bukan hanya anti-ornamen; dia menciptakan hubungan dan susunan ruang baru. Meskipun bentuk massanya bagi banyak orang sulit dipahami, bentuk ruangnya sangat kuat berbicara khas. Demikian juga Le Corbusier pada masanya. Karya-karya Koolhaas, setidaknya hingga lima belas tahun lampau, menghadirkan susunan ruang yang sangat mengejutkan. Bentuk massa yang mengesankan muncul dari bentuk ruang yang khas.  Arsitek muda Jepang, Sou Fujimoto, mencoba mengabaikan kolom-kolom biasa, slab-slab beton, tangga-tangga, dan elemen lain untuk menyusun arsitekturnya. Alih-alih, ia menggantinya dengan elemen multi guna yang bisa menggantikan semua fungsi di atas. “Primitive Future House” sepenuhnya tersusun dari balok-balok kayu yang bisa berfungsi sebagai tangga, struktur, bahkan furniture. Ia ingin mengingatkan kita, juga tubuh kita, untuk beradaptasi pada ruang – bentukan maupun alami, seperti dulu ketika kita masih tinggal di gua-gua. Junya Ishigami meniadakan dinding. Tetapi, berbeda dengan ruang Mies, bangunannya tidak kosong atau seperti tak berpenghuni. Kita dapat merasakan kehadiran dan adanya perubahan jarak yang terus menerus karena perbedaan kepadatan dan orientasi dari kolom-kolom.

    Setelah belajar meniru, memperdalam dan memperhalus, arsitek kita perlu membat terobosan, yang “baru” tersebut, serelatif apapun artinya. Ada tiga wilayah yang perlu diarahkan kembali, yang syukurlah mulai nampak sebagai kuncup yang sedang mau mekar pada arsitek generasi pasca-1998 ini. Pada pendidikan, perlu ada dorongan untuk berpikir kritis dengan wawasan yang diperluas melalui membaca atau akses informasi lain yang tidak terbatas. Arsitek muda kita nampaknya juga perlu jernih membedakan pembaharuan pada (karya) arsitektur dari pembaharuan dalam menjalankan praktik arsitektur. Ketiga, praktik berwacana perlu mendalami pemikiran di balik karya-karya secara radikal. Berwacana harus melampaui dikusi tentang bagaimana “proyek” arsitektur ini terjadi dan berlangsung, tentang manajemen proyek itu. Berwacana harus radikal bertanya—bahkan mempertanyakan—tanpa basa-basi. Radikalitas berbeda dengan ekstrimitas. Radikalitas mencari akar, esensi, baik pada suatu preseden maupun pada suatu masalah. Ia merupakan metoda untuk sampai kepada loncatan kreatif. Ekstrimitas hanya pergi sejauh mungkin yang sering kali reaktif seperti gerak pendulum, tetapi tidak sedalam mungkin. Ia bisa melanjutkan radikalitas, tetapi sebaiknya tidak mendahuluinya.  Hal ini penting diingat ketika kita melihat munculnya kembali wacana tentang “arsitektur nusantara”. Hanya dengan kedalaman kita dapat lebih maju dari posisi tahun 1983.[8]

    Ada momen-momen dalam arsitektur Indonesia ketika kita merasakan pencapaian yang demikian menyerupai ideal di atas itu, ialah misalnya momen Mangunwijaya. Momen ini terjadi bukan karena Mangunwijaya membayangkan juri internasional akan memahaminya, bukan karena ia punya agenda memajukan arsitektur nusantara, bukan karena ia ingin menghubungkan dirinya dengan wacana arsitektur modern Eropa dan mendapatkan pengakuan dalam sistemnya, meskipun beliau belajar dalam tradisi Bauhaus yang kuat. Momen Mangunwijaya terjadi karena ia berupaya semaksimal kemampuannya menjawab soal di depan matanya secara radikal dengan penuh integritas, dengan memanfaatkan semua pengetahuannya yang diarahkan untuk keperluan itu.  Mangunwijaya jelas melakukan radikalisasi—yang tidak sama dengan asal aneh—pada penggunaan kriya, pada bentuk atap nusantara, pada tekstur dan susunan material, pada sususnan ruang yang sederhana.

    Kita bukannya perlu menarik perhatian ke kita yang merasa di “pinggiran”, dengan menggambar-gambarkan diri dengan bahasa orang lain. Tetapi kita perlu menghasilkan yang terbaik untuk menjawab soal-soal yang justru merupakan “kesempatan” kita  di hadapan kita, sedemikian baik pertama-tama untuk diri kita sendiri, sehingga dapat ditawarkan kepada siapa saja sebagai “yang dapat di-universal-kan”.[9] Kita perlu bersikap khidmat terhadap setiap kesempatan di hadapan kita, dan memusatkan semua perhatian dan upaya seperti “ini hanya sekali seumur hidup.”[10]

    Kita juga berharap akan lebih besar kepekaan para arsitek yang sedang tumbuh ini terhadap soal-soal kelestarian dan proses-proses sosial, seperti keterlibatan warga dalam penyelenggaraan proyek-proyek publik. Ada banyak  karya yang menyebut alam, yang menyatakan bermaksud ramah-lingkungan dalam berbagai hal: ventilsai silang horisontal dan vertikal, orientasi memanfaatkan cahaya alam, AC minimum, bahwa pohon-pohon alami lebih penting daripada posisi instrumentalnya sebagai “scupture in the park” dan seterusnya. Tetapi, radikalisasi masih sangat diperlukan di sini untuk membawa kita melampaui aplikasi yang sporadis dan asal ada, untuk sampai pada konsekuensi wujud bentuk yang “baru”.

    Jakarta, 26 Juni 2010

    Marco Kusumawijaya, Suryono Herlambang, Avianti Armand.


    [1] Belum diperoleh analisis yang penting tentang seberapa besar dan signifikannya kelas menengah Indonesia saat ini.

    [2] Banyak “anggota” yang kemudian melanjutkan penerbitan secara sendiri-sendiri, tentang dirinya sendiri, ketika tingkat penghasilannya memungkinkan hal itu sebagai kebutuhan dokumentasi, pemasaran, dan ideologi (sebagai manifesto!).

    [3] http://jongarsitek.com/ sejak Februari 2008.

    [4] Khusus untuk perdagangan kaki-lima, beberapa solusi yang diperoleh melalui proses negosiasi yang sehat mulai nampak di kota Solo dan sebagian kota Jakarta.

    [5] Sebagian dari rumah-rumah dalam pameran ini dirancang oleh arsitek untuk dirinya sendiri dan/atau keluarganya.

    [6] “Immature poets imitate; mature poets steal.”  Thomas Stearn Eliot (1888-1965), dikutip melalui Sri Wresti Avianti, yang mendapatkannya di Facebook.

    [7] Generasi AMI merintis dengan banyak benturan dan konflik dengan korban hingga anggota majelis etik IAI, dan generasi 1990-2000an memantapkannya.

    [8] Pada tahun 1983 Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyelenggarakan kongres dengan tema tentang identitas “Arsitektur Indonesia” yang banyak sekali acuan pada penggalian arsitektur nusantara.

    [9] Meminjam istilah Mohamed Arkoun: universalizable.

    [10] Meminjam cara minum teh Jepang “Ichigo, ichi’ye” (Hanya di saat ini, di tempat ini)

    {6 comments}

    Avianti Armand : CATATAN TAMBAHAN UNTUK PNAM 2010

    26 June 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Architect Does!

    Setelah semua dirangkum dan dituliskan dalam catatan kuratorial dengan sangat baik oleh Marco Kusumawijaya, saya tinggal menambahkan sedikit saja.

    Tawaran untuk mengkuratori pameran ini datang pada saat saya sedang melakukan riset pribadi tentang “Arsitektur Indonesia”. Di jaman di mana tidak ada batas yang jelas, informasi bergerak lebih cepat dari barang dan manusia, rasanya tidak aneh jika kita bertanya: di mana kita berada?

    Pertanyaan itu timbul karena jarang sekali kita menemukan publikasi tentang arsitektur maupun arsitek Indonesia di dalam publikasi dunia. Tapi lalu saya bertanya lagi, apa yang saya maksud dengan ‘dunia’? Marco menambahkan, “Apa pentingnya berada dalam percaturan arsitektur ‘dunia’ itu?” Sebuah pertanyaan yang sangat tajam yang saya tidak punya jawabnya.

    System dunia atau World System Wallerstein tidak lagi bisa memetakan kita atau negara-negara berkembang lain sebagai yang di tepi (periphery) dan negara-negara maju sebagai ‘pusat’. Dan apakah tepi apakah pusat pada saat arus tidak lagi searah dan semua terjadi pada saat yang bersamaan?

    Pertanyaan ini tidak ingin mencari batas yang kaku atau ‘identitas’ yang justru bisa menjadi penjara, tapi lebih sebagai sebuah refleksi.

    Arsitektur lahir dari sebuah kebutuhan akan satu, atau lebih, solusi. Kita punya masalah yang berbeda dengan yang dihadapi oleh arsitek-arsitek lain di negara-negara lain. Karena itu lalu menjadi naïf, apabila kita berusaha bersaing dengan mereka dengan parameter yang bukan milik kita. Kita akan berjalan dengan peta yang salah jika kita berusaha bersaing dengan arsitek-arsitek Jepang (Sanaa, Junya, Sou, Suppose Design) dengan mencuri atau meminjam metode, teknologi, dan bentuk-bentuk mereka. Kita akan terjungkal jika mengikuti berbagai aliran yang saling bertumbukan di eropa dan amerika (klasisisme, modernisme, post modernisme, neo modernisme, dekonstruksi, dll) yang datang tidak beserta gejolak sosial tapi sekedar style yang kita tak paham betul apa makna dan gunanya untuk kita.

    Sejarah memang telah memutuskan kita dari arsitektur tradisional kita dan mencangkokkan sesuatu yang lain yang hingga kini belum tuntas kita fahami – arsitektur dan hal-hal yang tak selesai – tapi juga bukan berarti kita harus membangkitkan romantisme masa lampau dengan memuja-muja arsitektur tradisional itu sebagai sesuatu yang mulia. Saya lebih setuju menjadikan mereka referensi dan khasanah yang bisa kita pelajari untuk menjawab masalah-masalah hari ini.

    Hari ini. Saya rasa itu adalah kata kuncinya. Berada di dalam percaturan arsitektur dunia lalu memang tidak penting. Lebih penting untuk menjadi peka terhadap issu-issu yang mendasar dalam masyarakat kita – hari ini. Kita tidak sedang dalam perlombaan atau pertandingan dengan arsitek-arsitek lain, baik di sini maupun di luar sana. Dan pameran ini hanya akan menjadi berguna jika kita menjadikannya sebagai ajang saling belajar untuk menghasilkan arsitektur yang menjawab persoalan-persoalan kita hari ini. Sukses untuk Pameran Nasional Arsitek Muda 2010.

    {No comments}

    Pameran Nasional Arsitek Muda 26 Juni – 3 Juli 2010

    22 June 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    PAMERAN NASIONAL ARSITEK MUDA 2010
    Setelah proses yang panjang, telah terpilih 31 karya dari 22 orang arsitek muda. Karya-karya ini dipilih melalui proses kurasi ketat yang, melibatkan 130 karya dari lebih 50 arsitek muda yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.

    Dengan mengucap syukur dan segala kerendahan hati, jongArsitek! Mengundang seluruh rekan-rekan untuk menghadiri pembukaan:

    PAMERAN NASIONAL ARSITEK MUDA 2010
    Galeri Salihara, Sabtu 26 Juni 2010, Jam 19.00-Selesai

    Acara:
    Pembukaan PNAM2010 oleh: Ir. Endi Subijono (Ketua IAI-Nasional)
    Peluncuran buku: “8X11: Kumpulan Sudut Pandang Muda”
    Dimeriahkan oleh: Farr, Tulus, dan Killtheafternoon

    Rangkaian acara terkait dengan pameran:

    Minggu 27 Juni 2010; Serambi Salihara, jam 15.00 – 18.00
    Diskusi: Arsitek muda setelah 1998
    Pembicara: Goenawan Tjahjono, Ahmad Djuhara, Yori Antar
    Moderator: Danny Wicaksono

    Sabtu 3 Juli 2010; Serambi Salihara, jam 15.00 – 18.00
    Diskusi: Peran Lintas Komunitas Dalam Budaya Kreatif
    Pembicara: Ridwan Kamil (salah satu pendiri
    Bandung Creative City Forum),
    Komunitas: Architerian, Bandung Affairs, Fold Magazine, jongArsitek!, Orders Schmorders
    Moderator: Jessica Patria

    Acara ini didukung oleh :
    Movement Architecture, Komunitas Salihara, AOD Artspace,

    Printing Oleh :
    Widji

    Media Partner :
    A-types
    Archicentrum
    architerian
    bandung affairs
    dailywhatnot
    fold
    FIMA Jabar
    futureArc
    IAI Jakarta
    IAI Nasional
    karbon journal
    livingetc
    orders schmorders
    s.c.a.n.d.a.l
    simpang maya
    textureculture
    Urbanesia
    whiteboard journal

    Semua acara tidak dipungut biaya, dan bebas untuk mengajak teman sebanyak-banyaknya.
    Silahkan datang dan mengapresiasi!

    Sampai jumpa di Salihara..

    {1 comment}

    A-types #3: Unlimited Ride feat. Letsride

    21 June 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    A-types kembali digelar untuk ketiga kalinya! Masih bertempat di Dapur Eyang, Jln. Teuku Umar 3, pertemuan kali ini diberi nama “A-types #3: Unlimited Ride”.

    Yup, seperti yang sudah tersirat pada nama tersebut, A-types sekarang kedatangan tamu istimewa yaitu LETSRIDE. Sebuah komunitas berbasis kota bandung yang menyukai berbagai macam sepeda dari BMX, mountain bike, cruiser, fixed gear, racing bike, track bike, lowrider, atau bahkan one/tri wheel bike.

    Tak ketinggalan pula kami turut mengundang pemenang a.k.a Juara 1 dari Sayembara MKAA (sebuah sayembara untuk merevitalisasi kompleks museum KAA dan gedung Merdeka Bandung yang konon diikuti oleh ratusan tim dari berbagai negara) untuk berpartisipasi menunjukan hasil karyanya.

    Jadi, apabila kawan-kawan merasa masih muda, mempunyai waktu senggang sebelum menonton pertandingan Brazil vs Portugal, dan siap membawa bahan presentasi sendiri, ditunggu untuk segera datang ke acara kami, A-types #3: Unlimited Ride featuring Letsride pada tanggal 25 Juni 2010 jam 6 sore ngaret.

    Sampai bertemu disana. :)

    {No comments}

    Kurasi: Catatan Ekstra Kuratorial Pameran Nasional Arsitek Muda 2010

    20 June 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: Brilliant!, We Proudly Present..

    Oleh Setiadi Sopandi

    Kurasi 1: Pameran

    Entah sahih atau tidak apabila sebagai salah seorang calon peserta pameran turut berkomentar soal proses dan materi kurasi, namun selama masih buah pikir dan blog rasanya hal ini sah dan justru menggarisbawahi apa yang hendak dinyatakan secara publik dalam pameran ini. Read more

    {No comments}

    BDG26! Forum TKI-MAI #26, Bandung 12-15 Juli 2010

    17 June 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    {No comments}

    Pameran Foto dan Peluncuran Buku “Pesan Dari Wae Rebo”

    16 June 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    Read more

    {No comments}

    A-types #2: The Saga Begin

    9 June 2010 by p.khrisno.a.
    Categories: News and Updates

    Oke, kembali lagi di A-types. Pertemuan berikutnya yang masih berlokasi di Dapur Eyang, Jln. Teuku Umar 3 ini diberi judul “A-types #2: The Saga Begin”.

    Dengan waktu yang kurang lebih sama dengan pertemuan sebelumnya, A-types kali ini diharapkan akan mempunyai jumlah peserta yang lebih banyak lagi dan presentasi-presentasi yang lebih menakjubkan dari para peserta yang datang.

    Jadi, yang merasa punya jiwa kreatif di dalam tubuh – terutama arsitek tentunya – datang aja ya. Oia, jangan lupa untuk membawa bahan presentasinya masing-masing. Karena ingat, ini forum untuk sharing, bukan acara menonton orang terkenal. :)

    Okey? See you there.

    A-types

    {1 comment}
    Page 8 of 16First«...678910...»Last
    • Home
    • We are the Jongs!
    • jongIndonesia!
    • Grab a magz!
    • jongBincang!
    • Meet and Greet :)
    • Need to Contact Us?
    • Shop!
    • News and Updates
    • We Proudly Present..
      • We are Architects
      • Brilliant!
      • Architect Does!
    • digiMove
    • Follow Us On

    • Recent Posts

      • Diskusi “Ruang Alternatif anak dalam Berkreasi dan Belajar”
      • Open House Exhibition : AFAIR 2012 “Play with Your Surrounding”
      • ARCHWORX oleh Himpunan Arsitektur Bina Nusantara
    • Recent Comments

      • cung on jongJelajah! Singapura
      • frumensius rosman leku on vidour : Wae Rebo Series – Ngole Wae Rebo | Wae Rebo Journey
      • Benzz on Indonesian Dream_0357 (2nd winner of the 2010 Skyscraper Competition)
    • architerian-160-60-1
    • vidour
     
    Copyright © 2009 JongArsitek!.com. All rights reserved.
    Wordpress, theme design by Infochel. Hosting by Raxdata Networks.